(30) NURUL 'A'YUN

43 Karya Tulis/Lagu Nur Amin Bin Abdurrahman:
(1) Kitab Tawassulan Washolatan, (2) Kitab Fawaidurratib Alhaddad, (3) Kitab Wasilatul Fudlola', (4) Kitab Nurul Widad, (5) Kitab Ru'yah Ilal Habib Luthfi bin Yahya, (6) Kitab Manaqib Assayyid Thoyyib Thohir, (7) Kitab Manaqib Assyaikh KH.Syamsuri Menagon, (8) Kitab Sholawat Qur'aniyyah “Annurul Amin”, (9) Kitab al Adillatul Athhar wal Ahyar, (10) Kitab Allu'lu'ul Maknun, (11) Kitab Assirojul Amani, (12) Kitab Nurun Washul, (13) Kitab al Anwarullathifah, (14) Kitab Syajarotul Ashlin Nuroniyyah, (15) Kitab Atthoyyibun Nuroni, (16) Kitab al 'Umdatul Usaro majmu' kitab nikah wal warotsah, (17) Kitab Afdlolul Kholiqotil Insaniyyahala silsilatis sadatil alawiyyah, (18) Kitab al Anwarussathi'ahala silsilatin nasabiyyah, (19) Kitab Nurul Alam ala aqidatil awam (20) Kitab Nurul Muqtafafi washiyyatil musthofa.(21) KITAB QA'IDUL GHURRIL MUCHAJJALIN FI TASHAWWUFIS SHOLIHIN,(22) SHOLAWAT TARBIYAH,(23) TARJAMAH SHOLAWAT ASNAWIYYAH,(24) SYA'IR USTADZ J.ABDURRAHMAN,(25) KITAB NURUSSYAWA'IR(26) KITAB AL IDHOFIYYAH FI TAKALLUMIL ARABIYYAH(27) PENGOBATAN ALTERNATIF(28) KITAB TASHDIRUL MUROD ILAL MURID FI JAUHARUTITTAUHID (29) KITAB NURUL ALIM FI ADABIL ALIM WAL MUTAALLIM (30) NURUL 'A'YUN ALA QURRATIL UYUN (31) NURUL MUQODDAS FI RATIBIL ATTAS (32) INTISARI & HIKMAH RATIB ATTAS (33) NURUL MUMAJJAD fimanaqibi Al Habib Ahmad Al Kaff. (34) MAMLAKAH 1-25 (35) TOMBO TEKO LORO LUNGO. (36) GARAP SARI (37) ALAM GHAIB ( 38 ) PENAGON Menjaga Tradisi Nusantara Menulusuri Ragam Arsitektur Peninggalan Leluhur, Dukuh, Makam AS SAYYID THOYYIB THOHIR Cikal Bakal Dukuh Penagon Nalumsari Penagon (39 ) AS SYIHABUL ALY FI Manaqib Mbah KH. Ma'ruf Asnawi Al Qudusy (40) MACAM-MACAM LAGU SHOLAWAT ASNAWIYYAH (bahar Kamil Majzu' ) ( 41 ) MACAM-MACAM LAGU BAHAR BASITH ( 42 ) KHUTBAH JUM'AT 1998-2016 ( 43 ) Al Jawahirun Naqiyyah Fi Tarjamatil Faroidus Saniyyah Wadduroril Bahiyyah Lis Syaikh M. Sya'roni Ahmadi Al Qudusy.

Rabu, 27 Agustus 2014

PERTAMA TAHUN HIJRIYYAH

Pertamakali hitungan tahun hijriyyah di mulai Terdapat ayat inspiratif dalam Al Qur'an yang bisa dijadikan bahan evaluasi diri (muhasabah) transendental guna memperbaiki diri dalam setiap langkah kehidupan yang sementara ini:“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Hasyr: 18) Sejarah pergantian tahun dan hitungan tahun dalam Islam merupakan rangkaian sejarah penyebaran agama Islam dan perjuangan kaum muslimin. Kalender hijriyah adalah kalender Islam. Penanggalan yang juga dipakai standar dalam penentuan waktu-waktu ibadah dalam Islam. Puasa diwajibkan pada bulan Ramadhan, haji pada bulan Dzulhijjah, dan lain sebagainya. Sebenarnya, nama-nama bulan ini telah dipakai di zaman Rasulullah SAW. Maka kita pun mendapati firman Allah SWT terkait dengan perhitungan waktu dalam hijriyah ini: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS : At-Taubah : 36) Permasalahan muncul pada zaman kekhilafahan Umar bin Khatab. Saat itu Abu Musa Al-Asy.ri sebagai salah seorang gubernur menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Mendapatkan masukan ini, khalifah Umar bin Khatab menggelar syura (musyawarah). Maka dikumpulkanlah beberapa sahabat senior waktu itu. Diantaranya adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhan bin Ubaidillah. Dalam musyawarah itu muncullah beberapa usulan dimulainya tahun Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad (kelahiran) Rasulullah SAW. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad SAW menjadi Rasul. Dan ada pula yang mengusulkan berdasarkan hijrah Rasulullah SAW. Usul terkahir ini datang dari Ali bin Abi Thalib, dan usul inilah yang kemudian disepakati. Maka ditetapkanlah tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah SAW. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku di masa itu di bangsa Arab selama ini. Betapa luar biasanya para pendahulu kita dari kalangan sahabat radhiyallaahu ‘anhum. Mereka menyepakati bahwa kalender hijriyah dimulai dari masa hijrah ke Madinah. Bukan dari waktu kelahiran Rasulullah, bukan dari diangkatnya Muhammad sebagai Rasulullah, bukan pula dari peristiwa lainnya. Sesungguhnya, dalam penentuan awal kalender Islam ini terkandung hikmah besar. Jika kelahiran Rasulullah, itu adalah skenario dari Allah. Demikian pula diangkatnya Muhammad sebagai Rasulullah, itu adalah kehendak Allah yang sulit bagi kita untuk mengambil keteladanan dari peristiwa tersebut. Itu karunia, itu rahmat. Bukan pelibatan ikhtiar dalam kapasitas yang besar. Namun hijrah. Subhaanallah... betapapun ia adalah skenario Allah, ia tetap saja sebuah proses manusiawi yang penuh dengan nilai perjuangan dan semangat untuk diteladani generasi berikutnya. Kita tahu, bahwa dakwah Rasulullah selama 13 tahun di Makkah tidak membuat negeri itu menjadi negeri Islam. Bahkan yang terjadi, meskipun semakin banyak orang yang masuk Islam, orang-orang kafir Quraisy makin gencar menghalangi dakwah. Berbagai bentuk celaan dalam ribuan variannya telah dilancarkan. Siksaan kepada kaum muslimin yang lemah juga dilakukan. Berbagai negosiasi dan tawaran ditempuh agar dakwah berhenti. Sampai pemboikotan kaum muslimin hingga mereka terpaksa memakan daun-daunan. Semuanya tidak menghentikan dakwah. Hingga kafir Quraisy pun berencana membunuh Rasulullah. Sementara itu, dari arah Yatsrib datang dukungan dakwah. Allah memberikan pertolongan dari jalan yang lain, ternyata. Setelah baiat Aqabah I, Rasulullah mengutus dai Islam Mush'ab bin Umair untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, mengajarkan Islam kepada mereka. Hasilnya, penduduk Yatsrib berbondong-bondong masuk Islam. Mereka bahkan berbaiat melindungi Rasulullah melalui baiat Aqabah II. Mereka juga mengabarkan bahwa Yatsrib telah menjadi basis sosial yang siap ditempati kaum muslimin. Maka, dua bulan lebih beberapa hari setelah Baiat Aqabah II itu, kaum muslimin Makkah yang kemudian dikenal dengan nama Muhajirin telah hijrah ke Yatsrib. Yang kemudian dinamakan Rasulullah sebagai Madinah. Kini tinggal Rasulullah dan Abu Bakar yang masih berada di Makkah. Sampai kemudian datang perintah Allah kepada keduanya untuk hijrah, tepat ketika mereka hendak membunuh Rasulullah dengan mengepung rumah beliau. Hijrah bukanlah perjuangan ringan. Bayangkanlah orang-orang yang telah disiksa di kampung halamannya harus berpindah ke negeri lain yang tidak dikenal. Yang belum jelas. Yang masih samar masa depan di sana. Di saat yang sama ia harus meninggalkan rumah dan harta benda yang tidak mungkin dibawa. Seakan-akan mereka terusir. Terusir dari kampung halaman tanpa bekal dan tanpa kejelasan masa depan. Namun karena iman, mereka menempuh perjuangan sulit dan melelahkan itu. Demikianlah, para sahabat rela meninggalkan kampung halaman dan semua harta benda mereka. Bahkan rela mengambil resiko nyawa karena tidak ada jaminan bahwa hijrah itu berjalan mulus tanpa halangan kafir Quraisy hingga bisa dengan selamat di Madinah. Misalnya Ayash bin Abi Rabi'ah yang akhirnya ditangkap oleh orang Quraisy, diikat dan dibawa kembali ke Makkah. Terlebih hijrahnya Rasulullah dan Abu Bakar yang langsung diburu oleh kafir Quraisy. Dan disayembarakan dengan hadiah besar bagi siapa yang bisa mendapatkan Rasulullah hidup atau mati. Tidak heran jika kaum muhajirin dipuji oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an dan dipersaksikan para shaadiquun: “Bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. mereka Itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hasyr: 8). Hijrah secara bahasa berarti "tarku" (meninggalkan). Dikatakan: hijrah ila syai' berarti "intiqal ilaihi 'an ghairihi" (berpindah kepada sesuatu dari sesuatu). Sedangkan secara istilah hijrah berarti "tarku man nahallaahu 'anhu": meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah”. (HR. Bukhari) hikmah yang terkandung dibalik ditetapkannya peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah sebagai awal perhitungan tahun Hijriyah ini. Tahun baru hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama “ Tahun Muhammad ” atau “ Tahun Umar ”. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi. Tidak seperti tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa a.s., Al – Masih ( Arab ) atau Messiah ( Ibrani ) Tidak juga seperti penanggalan Bangsa Jepang, Tahun Samura, yang mengandung unsure pemujaan terhadap Amaterasu O Mi Kami ( dewa matahari ) yang diproklamasikan berlakunya untuk mengabadikan kaisar pertama yang dianggap keturunan dewa matahari, yakni Jimmu Tenno ( naik tahta 11 februari 660 M yang dijadikan awal tahun perhitungan Tahun Samura ) Atau penanggalan Tahun Saka bagi suku Jawa yang berasal dari Raja Aji Saka. Menurut dongeng dan mitos, Aji Saka diyakini sebagai raja keturunan dewa yang datang dari India untuk menetap di tanah Jawa. Penetapan nama Tahun Hijriyah ( al – Sanah al – Hijriyah ) merupakan kebijaksanaan Khalifah Umar. Seandainya beliau berambisi untuk mengabadikan namanya dengan menamakan penanggalan itu dengan Tahun Umar, sangatlah mudah baginya melakukannya. Umar tidak mementingkan keharuman namanya atau membanggakan dirinya sebagai pencetus ide sistem penanggalan Islam itu. Beliau malah menjadikan penanggalan itu sebagai jaman baru pengembangan Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Dengan demikian, hijrah secara maknawi terus relevan sampai kapan pun. Bahwa nilai dan semangat hijrah harus kita bawa dalam kehidupan modern ini. Kita berhijrah dari kejahiliyahan menuju Islam. Hijrah dari kekufuran menuju Iman. Hijrah dari kesyirikan menuju tauhid. Hijrah dari kebathilan menuju al-haq. Hijrah dari nifaq menuju istiqamah. Hijrah dari maksiat menuju tha'at. Dan hijrah dari tahun lalu menuju tahun depan yang lebih baik. Dari berbagai sumber dan semoga bermanfaat. Kritik dan saran kami persilahkan di kolom komentar. TAHUN HIJRIYYAH (Sunnah Hilang Bid’ah Berkembang) Posted by Editorial Team on 16.28 in FIQIH “Sesunggunya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan langit dabn bumi diantaranya empat bulan haram”. (Q.S. At-Taubah 9: 37) Pengertian tahun, ditinjau dari segi “lorong waktu” merupakan sesuatu yang lumrah, karena tahun yang sekarang bukan tahun yang kemarin begitu juga bukan tahun yang akan datang, bahkan peralihan taun ini, menjadi suatu kemestian dan perguliran siang dan malam sesuai sunnatuloh. Sebagaimana sabda Rasululah SAW melewati sahabat Abu Bakroh: “Sesungguhnya jaman/waktu itu bergulir seperti keadaan Allah saat menciptakan langit dan bumi, satu tahun itu dua belas bulan, diantaranya empat bulan haram, tiga berturut-turut; Dzulqo’dah, Dzulhjjah, Muharram dan Rajab Mudhor, yang ada di antara Jumadi dan Sya’ban”. Bagi sebagian orang, pergantian tahun ini dijadikan ajang untuk mengadakan acara-acara. Padahal dalam Islam ada syariat yang terkait boleh dan tidaknya untuk dilakukan. Maka kami perlu memperjelas perihal sejarah penetapan tahun hijriyyah, sunnah apa yang harus dilakukan begitu juga bid’ah apa saja yang harus ditinggakan seputar tahun tersebut. SEJARAH PENETAPAN TAHUN HIJRIYYAH Pada masa khalifah Abu Bakar, yang mana umat Islam pada saat itu belum mempunyai catatan yang dijadikan patokan untuk penanggalan kalender Islam. Maka dari itu ada diantara mereka yang memakai tahun Gajah (‘Amul Fiil) sebagai penetapan kalender, adapula yang mendasarkan pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di jaman mereka. Misalnya hijrahnya Nabi SAW dari Makkah ke Madinah. Maka tatkala Ya’la bin Umayah menjadi gubernur di Yaman ia mengemukakan gagasannya kepada khalifah Abu Bakar tentang perlunya kalender Islam yang akan dipakai sebagi rujukan penanggalan. Akan tetapi, realisasi tentang penetapan penanggalan yang dipakai oleh ummat Islam barulah terjadi di masa khalifah Umar bin Khattab, yang mana pada saat itu khalifah Umar mengadakan musyawarah dengan semua ulama. Dalam pertemuan itu ada empat usulan yang dikemukakan, yaitu : 1. Dihitung dari kelahiran Nabi Muhamad SAW 2. Dihitung dari wafatnya Rasulullah 3. Dihitung dari hari Rasulullah menerima wahyu pertama di gua Hira yang merupakan awal tugas kenabian 4. Dihitung dari mulai hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah Tetapi, baik kelahiran maupun risalah kenabian tidak diambil sebagai awal penanggalan Islam, karena peristiwa-peristiwa tersebut menimbulkan kontrovensi mengenai waktu dan kejadianya. Begitu juga hari wafatnya, karena dikhawatirkan akan menimbulkan perasaan sedih dan pilu di hati kaum mislimin. Akhirnya disepakatilah penanggalan Islam itu ditetapkan berdasarkan hijrahnya Rasulullah. Namun, ternyata permasalahannya kembali datang terkait buan apa yang akan dijadikan sebagai bulan pertama, ada yang mengusulkan Rabi’ul Awwal (sebagai bulan hijrahnya Nabi ke Madinah), adapula yang menyebutkan bulan Muharram. Namun akhirnya sahabat Umar memutuskan bahwa bulan pertama dari tahun Hijriyah adalah Muharram. Dengan demikian dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Penetapan bulan Muharram oleh Umar bin Khattab sebagai permulaan tahun hijriyyah tdak didasarkan atas pengagungan dan peringatan peristiwa hijrah Nabi. Buktinya beliau tidak menetapkan bulan Robi’ul Awwal (bulan hijranya Nabi ke Madinah) sebagai permulaan bulan pada kalender hijriyyah. Lebih jauh dari itu, beliau tidak pernah mengadakan peringatan tahun baru hijriyyah, baik di bulan Muharram atau di bulan Rabi’ul Awwal 2. Peringatan tahun baru hijriyyah pada bulan muharram dengan alasan memperingati hijrah Nabi ke Madinah merupakan kesalaan yang sangat patal, karena Nabi hijrah pada bulan Robi’ul Awwal bukan pada bulan Muharram 3. Menyelenggarakan berbagai bentuk acara dan upacara untuk menyambut tahun baru hijriyyah adalahbid’ah dolalah (sesat dan menyesatkan) Media Informasi Dan Berbagi Cerita Menu utama Langsung ke isi • Beranda • Profil • Salam Sapa • Etalase Award Arsip Tag: tahun saka Nov 25 2011 Kalender Hijriyah Dan Kalender Jawa Kalender Hijriyah Kalender Hijriyah dikenal pula sebagai kalender Islam. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, pada tahun ketiga pemerintahannya yang menyadari akan pentingnya kalkulasi ulang terhadap perhitungan masa yang sudah ada karena bulan-bulan tersebut belum ada tahunnya. Dengan demikian maka timbul pertanyaan, misalnya pada bulan Ramadhan itu bulan Ramadhan tahun lalu ataukah sebelumnya? Akhirnya Khalifah Umar mengundang tokoh-tokoh dalam bidang tersebut. Kemudian disepakati bersama bahwa awal tahun (tahun 1 Hijriyah) adalah pada saat hijrahnya Nabi dari mekkah ke Madinah bersama umat beliau. Tanggal dan bulannya tatap dan tak berubah, yaitu saat hijrah nabi adalah pada pada tanggal 2 Rabi’ul Awal dengan tahun yang telah disepakati yaitu tahun pertama hijriyah. Jadi hijrah Rasulullah SAW adalah tanggal 2 Rabi’ul Awal 01 H. Tahun hijriyah perhitungannya berdasarkan peredaran bulan. Bulan saat mulai kelihatan hingga habisnya adalah 29 hari 8 jam 43 menit. Setahun dihitung 354 hari untuk tahun biasa (non kabisat) dan 355 hari untuk tahun kabisat. Kalau untuk kalender masehi satu siklus adalah 4 tahun (siklus kecil) maka untuk kalender Islam siklusnya adalah 30 tahun dengan ketentuan bahwa tiap-tiap 30 tahun ada 11 tahun kabisat dan 19 tahun biasa. Tahun hijriyah tak mengenal siklus besar. Asal mula perhitungan untuk satu siklus adalah 354 11/30 hari. Jumlah hari untuk satu siklus adalah (30 X 354) + 11 = 10631 hari. Untuk mengetahui bahwa suatu tahun adalah tahun kabisat atau bukan adalah angka tahun dibagi 30, apabila ada sisa 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan 29 adalah tahun kabisat sedangkan selain itu dianggap sebagai tahun biasa. Pada tahun biasa umur bulan Dzulhijjah (bulan ke-12) adalah 29 hari sedangkan pada tahun kabisat umurnya 30 hari. Kalender Masehi perhitungannya berdasarkan peredaran matahari, maka dari itu pada tanggal dan bulan yang sama posisi matahari adalah sama sehingga jadwal waktu sholat yang disusun berdasarkan tanggal dan bulan Masehi berlaku abadi. Tanggal 01 Muharram 01 H berdasarkan yang telah disepakati oleh ahli hisab bertepatan dengan tanggal 15 Juli 622 M. Adapun nama-nama bulan pada tahun hijriyah itu adalah : Muharam, Shafar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah. Kalender Jawa Tahun Jawa disebut juga tahun Saka memberlakukan perhitungan berdasarkan peredaran bulan sebagaimana kalender Hijriyah. Dalam kalender Jawa ini terdapat perputaran waktu khusus (siklus) yaitu Windu, Pasaran, Selapan dan Wuku. Setelah Islam masuk maka banyak istilah yang diubah menjadi istilah Islam. Nama hari pada kalender umum di Indonesia hari Ahad sampai Sabtu juga istilah dari Islam. Pada Jaman Kerajaan Mataram, kalender Jawa Islam dibuat yang merupakan sebuah kalender perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Budha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Kalender ini dikenal pula dengan Kalender Jawa Sultan Agungan. Pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung menyebarluasakan agama Islam di pulau Jawa dalam suatu wadah negara Mataram memprakarsai untuk mengubah penanggalan saka. Ada analisis, agar penyebaran Agama Islam itu tidak memunculkan konflik, maka lewat budayalah penyebaran itu dilakukan. Hal itu sudah dimulai oleh para wali sejak pemerintah Kasultanan Demak pada beberapa dekade sebelumnya. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender komariah atau lunar yaitu perhitungan penanggalan berdasarkan peredaran bulan, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan yang dilakukan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun yang dipakai saat itu tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa. Satu Windu = 8 tahun, sedangkan nama-nama tahun pada satu Windu adalah tahun pertama disebut Wawu, kedua (Jimakir), ketiga (Alip), keempat (Ehe), kelima (Jimawal), keenam (Je), ketujuh (Dal) dan kedelapan (Be). Satu siklus pasaran ada 5 hari. Lima pasaran itu adalah 1 (legi), 2 (pahing), 3 (pon), 4 (wage), 5 (kliwon). Untuk selapanan, satu selapan adalah 7 siklus pasaran tersebut yaitu dari 7 X 5 = 35 hari. Misalnya tanggal 1 Januari 2000 untuk hari pasarannya adalah Sabtu Legi, selapannya adalah 35 hari lagi yaitu 5 Februari 2000 yang hari pasarannya adalah sama yaitu Sabtu Legi. Satu wuku = satu minggu berjumlah 30 wuku, jadi dalam satu siklus wuku adalah selama 30 minggu. Dalam Kalender Jawa Sultan Agungan, nama-nama bulan mengadopsi dari nama bulan pada kalender Hijriyah sehingga ada kesesuaian dengan kondisi masyarakat Jawa Islam pada waktu itu. Nama-nama bulan tersebut adalah : Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, Besar. Pembuatan Kalender Jawa Islam itu sekaligus juga untuk merangkul seluruh rakyat Jawa untuk menyatu di bawah kekuasaan Mataram. Dan pada gilirannya kemudian dijadikan sebuah momentum politik menggalang kekuatan untuk menyerbu Belanda dengan VOC-nya di Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Pada prinsipnya antara Kalender Jawa dan Kalender Jawa Sultan Agungan tidak ada perbedaan. Sebab Kalender Jawa versi Sultan Agung juga tetap menggunakan apa yang sudah ada pada kelender Jawa bertahun Saka dengan beberapa penyesuaian dari kalender Hijriyah. By Muhammad Mufti • Posted in Informasi & Peng. Umum, Sejarah, budaya, tradisi • Tagged 1 sura, almanak jawa, Asal mula kalender, asal mula kalender hijriyah, asal mula kalender jawa, bulan tahun hijriyah, bulan tahun jawa, kalender hijriyah, kalender islam, kalender jawa, kalender komariah, kalender sultan agung, kalender syamsiah, nama bulan hijriyah, nama bulan jawa, nama bulan tahun jawa, nama tahun jawa, penanggalan hijriyah, penanggalan tahun hijriyah, penanggalan tahun jawa, pencipta kalender hijriyah, pencipta kalender jawa, sistem penanggalan internasional, system penanggalan bulan jawa, tahun baru hijriyah, tahun baru islam, tahun baru jawa, tahun saka 55 Tahun Baru Saka Dalam Keheningan Nyepi Setiap tahunnya pada akhir bulan Maret atau awal bilan April, umat Hindu di Indonesia merayakan sebuah pergantian tahun seperti halnya umat-umat agama lain di Indonesia yang juga memiliki pergantian tahun yang mereka pergunakan. Umat Hindu Indonesia menggunakan tahun Saka sebagai acuan kalender mereka, seperti halnya di India dengan berbagai modifikasi penyesuaian budaya perhitungan waktu yang sudah dimiliki oleh masing-masing daerah di Indonesia (seperti kalender Jawa dan kalender Bali). Di Indonesia, pergantian tahun Saka dikenal dengan nama hari raya Nyepi. Hari raya Nyepi adalah perayaan hari tahun baru saka yang jatuh pada penanggal apisan sasih Kadasa (eka sukla paksa Waisak), sehari setelah tilem Kesanga (panca dasi Krsna Paksa Caitra) 1. Sejarah Tahun Saka Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/ Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. Karena mantra-mantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindrakan langsung oleh manusia), ada yang bersifat adhyatmika, membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa, yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaweda, Wedangga, Itihasa dan Purana. Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin). Salah satu unsur dari kelompok kitab Wedangga adalah Jyotisha. Kitab ini disusun kira-kira 12.000 tahun sebelum masehi yang merupakan periode modern Astronomi Hindu (India). Dalam periode ini dibahas dalam lima kitab yang lebih sistematis dan ilmiah yang disebut kitab Panca Siddhanta yaitu: Surya Siddhanta, Paitamaha Siddhanta, Wasista Siddhanta, Paulisa Siddhanta dan Romaka Siddhanta. Dari Penjelasan ringkas ini kita mendapat gambaran bahwa astronomi Hindu sudah dikenal dalam kurun waktu yang cukup tua bahkan berkembang serta mempengaruhi sistem astronomi Barat dan Timur. Prof. Flunkett dalam bukunya Ancient Calenders and Constellations (1903) menulis bahwa Rsi Garga memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani tentang astronomi di abad pertama sebelum masehi. Lahirnya Tahun Saka di India jelas merupakan perwujudan dari sistem astronomi Hindu tersebut di atas. Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. Ada 2 versi yang menyebutkan tentang awal mula sejarah tahun Saka di India. Versi pertama menyebutkan, bahwa tersebutlah tahun 125 SM ada seorang raja di India yang bernama Kaniska I. Dia adalah penguasa dari dinasti Kushana. Tapi, wilayah kerajaannya selalu terganggu oleh konflik antara Kusana dan Saka. Dinasti Saka tidak pernah berhenti melakukan pemberontakan-pemberontakan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Kaniska. Si raja pun berpikir, apa gunanya kekuasaan kalau tidak ada perdamaian. Maka, Kaniska I berusaha menghentikan pertikaian dengan sebuah jalan diplomasi budaya. Tampaknya, dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu. Kekuasaan yang dipegangnya bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya, namun kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada di India dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi kebudayaan kerajaan (negara). Pada hari Minggu, 21 Maret 78 Masehi, Kaniska I menetapkan sebagai hari pertama kalender dengan sistem Saka yang berlaku tidak hanya untuk Dinasti Saka, tapi untuk seluruh wilayah kerajaan. Dinasti Saka sangat menghargai pengakuan Kaniska I atas sistem penanggalan Saka yang berlaku untuk seluruh wilayah kerajaan. Maka di hari itu, kedua dinasti sepakat tidak ada lagi pertikaian atau perang. Pada tahun 79 Masehi, Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yueh Chi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Semenjak itu, bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). Akibat toleransi dan persatuan itu, sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu. Sedangkan versi kedua menyebutkan bahwa pada sekitar tahun 70-an Masehi itu, India ndak pernah lepas dari konflik dan perang antara Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya. Perang tidak ada habisnya, sampai akhirnya Suku Saka memenangkan pertikaian di bawah kepemimpinan raja Kaniskha I. Sejak itu, diberlakukan sistem penanggalan Saka sebagai penanggalan resmi yang berlaku di wilayah itu, yaitu tanggal 1 (sehari setelah bulan mati kesembilan) bulan 1 (Caitramasa) tahun Saka. Sistem ini diterima oleh semua suku yang dulu bertikai. Menurut versi ini, hari pertama tahun Saka adalah hari perdamaian, kerukunan, kebersamaan, juga kebangkitan dan pembaharuan. Disebut hari perdamaian karena pada hari itu, semua suku menghentikan pertikaian. Sementara disebut sebagai hari kebangkitan dan pembaharuan, karena sejak hari itu semua aspek kehidupan beragama dan bermasyarakat di India ditata ulang supaya tidak ada lagi konflik antar kepercayaan dan keyakinan. Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda. Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang. Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampal ke Dwipantara (Indonesia). Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia, sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456 Masehi. Dinyatakan Sang Aji Saka disamping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, jüga dan peristiwa yang dialami dua orang punakawan/ pengiring atau caraka beliau diriwayatkan lahirnya aksara Jawa. Karena Aji Saka diiringi dua orang punakawan yang sama-sama setia, sama-sama sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi pengabdiannya kepada Sang Pandita Aji Saka. Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. Pada zaman Majapahit, Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret), Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Di alun-alun Majapahit, berkumpul seluruh kepala desa, prajurit, para sarjana, Pendeta dan Sri Baginda Raja. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat. Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII, XII, LXXXV, LXXXVI - XCII. Di Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April. Beberapa hari sebelum Nyepi, diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem Kesanga. Keesokan harinya, pada penanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. Setelah Nyepi, dilangsungkan Ngembak Gni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi. 2. Kalender Saka Kalender Saka adalah sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiah-komariah (candra-surya) atau kalender luni-solar. Era Saka dimulai pada tahun 78 Masehi. Sebuah tahun Saka dibagi menjadi dua belas bulan. Berikut nama bulan-bulan dalam penanggalan Kalender Saka tersebut: No Penanggalan Jawa Awal Akhir 1 Srawanamasa Juli Agustus 2 Bhadrawadamasa Agustus September 3 Asujimasa September Oktober 4 Kartikamasa Oktober November 5 Margasiramasa November Desember 6 Posyamasa Desember Januari 7 Maghamasa Januari Februari 8 Phalgunamasa Februari Maret 9 Cetramasa Maret April 10 Wesakhamasa April Mei 11 Jyesthamasa Mei Juni 12 Asadhamasa Juni Juli a. Pengertian Kalender Bali Kalender adalah susunan hari dan tanggal yang digunakan sebagai pedoman manusia melakukan aktivitas kehidupan secara periodik. Kelompok susunan hari terdiri dari : Hari, sebagai kelompok susunan jam; Minggu, sebagai kelompok susunan hari; Bulan, sebagai kelompok susunan minggu; Tahun, sebagai kelompok susunan bulan. Kelompok susunan tanggal berkaitan dengan perhitungan bulan. Sistem kalender Hindu di Bali menggunakan aturan yang disebut sebagai "Kalender Saka-Bali" Dalam sistem ini digunakan pedoman-pedoman sebagai berikut : Satu hari adalah dua puluh empat jam dimana pergantian hari terjadi pada saat matahari terbit. Satu minggu terdiri dari tujuh hari dimana pergantian minggu dimulai pada Redite (Minggu) dengan nama- nama hari : Redite, Coma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, Saniscara. Satu bulan terdiri dari lima minggu dimana pergantian bulan dimulai setelah "tilem" (bulan gelap) yang disebut "penanggal ping pisan". Nama-nama minggu mengambil sistem "Wuku" yaitu : Sinta, Landep, Ukir, Kulantir, Toulu, Gumbreg, Wariga, Warigadean, Julungwangi, Sungsang, Dungulan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut, Paang, Krulut, Merakih, Tambir, Medangkungan, Matal, Uye, Menail, Prangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Kulawu, Dukut, Watugunung. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan dimana pergantian tahun adalah pada tahun baru Saka yaitu tanggal satu Waisakha atau penanggal ping pisan sasih kadasa. Nama-nama bulan adalah : Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kaulu, Kasanga, Kadasa, Jyesta, Sada. Perhitungan hari dalam setahun oleh "masyarakat dunia" ada dua jenis yaitu perhitungan hari menurut peredaran bumi mengelilingi matahari disebut "Solar system", dan perhitungan hari menurut peredaran bulan mengelilingi bumi disebut "Lunar system". Dalam solar system umur tahun adalah 365 hari, 48 menit, 46 detik atau dibulatkan : 365 hari. Dalam lunar system umur tahun adalah 354 hari, 48 menit, 36 detik atau dibulatkan 355 hari. Ditinjau dari sistem ini, kalender Hindu di Bali menggunakan kombinasi keduanya, yang disebut sebagai "Luni-Solar system". Sebabnya : • Sistem kalender Hindu di Bali berpedoman pada terbitnya matahari sebagai pergantian hari selama 24 jam (Solar system). • Sistem kalender Hindu di Bali berpedoman pula pada tibanya "tilem" sebagai pergantian "sasih" atau bulan (Lunar system). Disamping itu di Bali dikenal adanya sistem "Wuku" yaitu sistem kalender berdasarkan iklim dan "ala-ayu dewasa". Seperti diuraikan di atas, jumlah hari dalam satu wuku adalah tujuh, dan jumlah wuku adalah 30, maka jumlah hari dalam satu peredaran wuku dari Sinta sampai Watugunung adalah 30 x 7 = 210 hari. Jumlah hari pada sistem wuku tidak sesuai dengan jumlah hari pada Solar system maupun Lunar system. Oleh karena itu maka dalam satu tahun solar dan lunar system ditemukan dua kali peredaran wuku, namun nama wuku tertentu tidak selalu jatuh pada nama sasih tertentu. Misalnya untuk tahun saka 1926, wuku Sinta jatuh pada sasih Sada (30 Mei 2004), dan sasih Kanem (26 Desember 2004), sedangkan pada tahun saka 1925, wuku Sinta jatuh pada sasih Kadasa (6 April 2003), dan sasih Kalima (2 Nopember 2003). Hal ini disebabkan karena jumlah hari dalam satu tahun saka adalah 365, sedangkan jumlah hari dalam satu sasih adalah 29/30 atau dalam setahun (12 sasih) = 348/360. Oleh karena masyarakat Hindu di Bali mengaitkan aktivitas kehidupannya pada peredaran : matahari, bulan dan musim, maka sistem kalender Hindu di Bali dinamakan : LUNI-SOLAR-WUKU SYSTEM, atau di Bali, sistem ini disebut : "Surya-Candra Premana". b. Pengalantaka Pengalantaka adalah sistem penyesuaian tibanya tilem dan purnama menurut perhitungan matematis dengan kenyataan posisi bulan terhadap matahari dan bumi. Sistem pengalantaka menyebabkan umur bulan tidak selamanya 30 hari, tetapi bisa 29 hari. Pengurangaan itu bisa saja terjadi pada hari-hari dari tilem ke purnama yang disebut "penanggal" atau pada hari-hari dari purnama ke tilem yang disebut "panglong". Jadi jumlah hari-hari penanggal dan panglong tidak selamanya 15, tetapi bisa juga 14. Jika tidak diadakan penyesuaian yang disebut pengalantaka maka suatu saat akan terjadi tanda di kalender tilem, padahal kenyataannya posisi bulan belum sepenuhnya tilem karena masih nampak bulan sabit di langit. Menurut perhitungan para leluhur di Bali, pengalantaka dilaksanakan pada setiap 9 wuku (63 hari) yaitu pada wuku-wuku : Sungsang, Tambir, Kulawu, Wariga, Paang, Bala. c. Nampih Sasih Nampih sasih adalah sistem penyesuaian ketiga sistem yaitu : solar, lunar dan wuku agar tahun baru saka tepat tiba pada penanggal ping pisan sasih kadasa. Alasan-alasan nampih sasih adalah : Adanya selisih hari dalam setahun antara solar dan lunar system yaitu 365 - 355 = 10 hari. Jumlah selisih itu dalam 3 tahun mencapai 30 hari atau satu bulan. Umat Hindu di Bali menggunakan perhitungan tahun Saka yang bersumber di India. Tahun baru saka di India jatuh pada tanggal 1 Waisakha. Umat Hindu di Bali percaya pada "ala-ayuning dewasa" antara lain kepercayaan bahwa angka tertinggi adalah sembilan (sanga). Oleh karena itu maka "sasih kesanga" adalah bulan terakhir/tertinggi; maka tahun baru harus tiba pada sasih yang ke-nol atau (kadasa). Dasa = 10 dimana angka yang desimal itu terdiri dari angka 1 (satu) dan 0 (nol), jadi tetap saja angka sembilan-lah yang tertinggi sebagai puncak dan akhir. Oleh karena itu maka susunan nama-nama bulan menurut tahun Saka di India kemudian disesuaikan dengan nama-nama sasih di Bali mulai bulan pertama sebagai berikut : Waisakha = Kadasa, Jyesta = Jyesta, Ashadha = Sada, Srwana = Kasa, Badrapada = Karo, Aswina = Katiga, Kartika = Kapat, Margasira = Kalima, Pausha = Kanem, Magha = Kapitu, Phalguna = Kaulu dan bulan ke dua belas adalah Chaitra = Kasanga. Tahun baru saka di Bali dirayakan dengan rangkaian upacara Nyepi, dimana "Tawur atau Caru" tiba pada akhir bulan Chaitra atau Sasih Kasanga, dan keesokan harinya "Sipeng" tiba pada awal bulan Waisakha atau Sasih Kadasa. Sistem kalender Saka di India menggunakan solar system. Maka untuk penyesuaian di Bali, diadakanlah "bulan ke-tiga belas" namun tidak dengan memberikan nama baru bagi bulan ke tiga belas itu. Nama bulan ketiga belas itu adalah "Nampih sasih ..........." d. Cara Nampih Sasih Ada berbagai cara nampih sasih, namun yang diulas pada kesempatan ini adalah cara yang disebut "Nampih Sasih Berkeseimbangan" suatu cara nampih sasih yang diakui keakuratannya oleh sebagian besar penyusun kalender Hindu di Bali dan yang disahkan oleh PHDI dalam Keputusan Mahasabha ke-VI tahun 1991. Rumus nampih sasih berkeseimbangan adalah : Tahun Saka dibagi 19 secara manual (tidak menggunakan kalkulator). Perhatikan angka sisa setelah pembagian. Jika bersisa 2 nampih sasih pada Jyesta, bersisa 4 nampih sasih pada Katiga, bersisa 7 nampih sasih pada Kasa, bersisa 10 nampih sasih pada Jyesta, bersisa 13 nampih sasih pada Kadasa, bersisa 15 nampih sasih pada Karo, dan bersisa 18 nampih sasih pada Sada. Keputusan Mahasabha PHDI ke - VI tahun 1991 mengikat seluruh pembuat kalender Hindu di Bali, termasuk organisasi yang bernama Ikatan Penyusun Kalender Bali untuk dilaksanakan dalam membuat kalender. 4. Rangkaian Pelaksanaan Tahun Baru Saka di Indonesia Peringatan tahun Saka di Indonesia dilakukan dengan cara Nyepi (Sipeng) selama 24 jam dan ada rangkaian acaranya antara lain : 1) Melasti/ Mekiyis/ Melis Upacara melasti, mekiyis dan melis. Intinya adalah penyucian bhuana alit (diri kita masing-masing) dan bhuana Agung atau alam semesta ini. Dilakukan di sumber air suci kelebutan, campuan, patirtan dan segara. Tapi yang paling banyak dilakukan adalah di segara karena sekalian untuk nunas tirtha amerta (tirtha yang memberi kehidupan). “Ngamet sarining amerta ring telenging segara”. Dalam Rg Weda II. 35.3 dinyatakan “Apam napatam paritasthur apah” (Air yang murni baik dan mata air maupun dan laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan). Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: "....manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata." Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas, tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu, dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan. Pesan moral yang disampaikan oleh upacara ini adalah hendaknya setiap orang dapat menata diri membangun kesadaran untuk tidak ikut memberi kontribusi timbulnya penyakit masyarakat, mengotori dan merusak lingkungan, termasuk laut. Sebab, laut merupakan sumber kehidupan sebagian umat manusia, kalau laut tercemar bukan saja dapat mengurangi bahkan melenyapkan semua potensinya. Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India. Dalam upacara Melasti, pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara, diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa. Sedang upacara Nagasankirtan di India, umat Hindu berkeliling desa, mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya 2) Persembahyangan Menghaturkan bhakti/pemujaan di Balai Agung atau Pura Desa di setiap desa pakraman, setelah kembali dari mekiyis. 3) Tawur Agung Kesanga Tawur Agung/mecaru di setiap catus pata (perempatan) desa/pemukiman, lambang menjaga keseimbangan. Keseimbangan buana alit, buana agung, keseimbangan Dewa, manusia Bhuta, sekaligus merubah kekuatan bhuta menjadi div/dewa (nyomiang bhuta) yang diharapkan dapat memberi kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan jagat (bhuana agung bhuana alit). Dalam rangkaian Nyepi di Bali, upacara yang dilakukan berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilakukan upacara Tawur. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata. Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Di masing-masing rumah umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding, segehan nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah, dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan, tumpeng ketan sesayut, penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak tuak. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh, segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak, berem, tuak dan air tawar. Setelah usai menghaturkan pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi, melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah. Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 - 12.00 (kala tepet). Sedangkan di tingkat desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). Upacara di tingkat rumah tangga, yaitu melakukan upacara mecaru. Setelah mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala, lalu mengelilingi rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar, umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Sejak tahun 1980-an, umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh ini merupakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur kekuatan jahat. Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bam-bu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala. Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu. 4) Nyepi Nyepi (Sipeng) dilakukan dengan melaksanakan catur brata penyepian (amati karya, amati geni, amati lelungan dan amati lelanguan). Sebagaimana telah dikemukakan, brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu: - Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa). - Amati karya (tidak bekerja), menyepikan indria. - Amati lelungan (tidak bepergian). - Amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu. Yang terpenting, Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma. Untuk melak-sanakan Nyepi yang benar-benar spritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana. Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sansekerta artinya kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan. 5) Ngembak Gni Ngembak Gni. Mulai dengan aktivitas baru yang didahului dengan mesima krama di lingkungan keluarga, warga terdekat (tetangga) dan dalam ruang yang lebih luas diadakan acara Dharma Santi seperti saat ini. Yadnya dilaksanakan karena kita ingin mencapai kebenaran. Dalam Yajur Weda XIX. 30 dinyatakan : “Pratena diksam apnoti, diksaya apnoti daksina. Daksina sradham apnoti, sraddhaya satyam apyate”. Artinya : Melalui pengabdian/ yadnya kita memperoleh kesucian, dengan kesucian kita mendapat kemuliaan. Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan, dan dengan kehormatan kita memperoleh kebenaran. Sesungguhnya seluruh rangkaian Nyepi dalam rangka memperingati pergantian tahun baru saka itu adalah sebuah dialog spiritual yang dilakukan oleh umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis serta sejahtera dan damai. Mekiyis dan nyejer/ngaturang bakti di Balai Agung adalah dialog spiritual manusia dengan alam dan Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala manifestasi-Nya serta para leluhur yang telah disucikan. Tawur Agung dengan segala rangkaiannya adalah dialog spiritual manusia dengan alam sekitar para bhuta demi keseimbangan bhuana agung bhuana alit. Pelaksanaan catur brata penyepian merupakan dialog spiritual antara diri sejati (Sang Atma) seseorang umat dengan sang pencipta (Paramatma) Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam diri manusia ada sang diri /atma (si Dia) yang bersumber dan sang Pencipta Paramatma (Beliau Tuhan Yang Maha Esa). Simakrama atau dharma Santi adalah dialog antar sesama tentang apa dan bagaimana yang sudah, dan yang sekarang serta yang akan datang. Bagaimana kita dapat meningkatkan kehidupan lahir batin kita ke depan dengan berpijak pada pengalaman selama ini. Maka dengan peringatan pergantian tahun baru saka (Nyepi) umat telah melakukan dialog spiritual kepada semua pihak dengan Tuhan yang dipuja, para leluhur, dengan para bhuta, dengan diri sendiri dan sesama manusia demi keseimbangan, keharmonisan, kesejahteraan, dan kedamaian bersama. Namun patut juga diakui bahwa setiap hari suci keagamaan seperti Nyepi tahun ini, ada saja godaannya. Baik karena sisa-sisa bhuta kalanya, sisa mabuknya, dijadikan kesempatan memunculkan dendam lama atau tindakan yang lain. Dunia nyata ini memang dikuasai oleh hukum Rwa Bhineda. Baik-buruk, menang-kalah, kaya-miskin, sengsara-bahagia, dst. Manusia berada di antara itu dan manusia diuji untuk mengendalikan diri di antara dua hal yang saling berbeda bahkan saling berlawanan. Dharma Santi Adapun Dharma Santi sebagai rangkaian akhir Nyepi merupakan hal yang wajib dilaksanakan, baik di lingkungan keluarga, warga dekat maupun warga bangsa. Dengan Dharma Santi kita dapat saling memaafkan jika ada kesalahan atau kekeliruan yang pernah terjadi setidak-tidaknya dalam jangka waktu satu tahun sebelumnya. Di samping itu juga untuk berbincang-bincang perihal kehidupan bersama kita ke depan karena kondisi yang dihadapi akan semakin sulit dan semakin komplek, serba multi; multi etnis, multi dimensi, multi kepentingan, multi karakter dan multi kultural. Oleh karena itu dharma Santi dapat dilaksanakan dimana saja dan kapan saja setelah Nyepi asal tidak lewat dari waktu kurang lebih sebulan sesudah Nyepi. Sangat baik kalau setiap habis hari raya keagamaan (bukan hanya pada Nyepi saja) diikuti dengan dharma Santi atau simakrama, atau secara spiritual sering juga dilakukan jika ada upacara piodalan di Pura dengan “meprani”. Mesimakrama, meprani atau dharma Santi merupakan ajang berdialog antar sesama tentang berbagai aspek kehidupan. Karena Weda menyatakan “Wasudewa kutumbakan” (seluruh dunia adalah bersaudana). Atau sarwa asa mama mitram bhawantu (Jadikanlah seluruh penjuru dunia sebagai sahabat kami). Untuk lingkup Bali, hal ini analog dengan konsep menyama braya yang perlu dimantapkan melalui dharma Santi. Jadi pergantian Tahun Saka adalah peringatan dari kebangkitan dan pembaharuan. Nyepi adalah renungan kesadaran untuk pengendalian diri. Dharma santi adalah dialog sesama demi keseimbangan hidup lahir bathin. Sedangan rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya, pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya, jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. Kalau di Bali, tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus), namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan. 5. Tujuan Pelaksanaan Tahun Baru Saka di Indonesia Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksa merupakan tujuan agama Hindu. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, umat Hindu wajib mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga yaitu dharma, artha, kama dan moksha. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam Brahma Sutra, 228, 45 dan Sarasamuscaya 135. Menurut agama, tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. Tuhan (Prajapati), manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang selalu berhubungan berdasarkan yajña. Hal ini tersirat dalam makna Bhagavadgita III, 10: manusia harus beryajña kepada Tuhan, kepada alam lingkungan dan beryajña kepada sesama. Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sanghyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña. Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan, untuk mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita). "Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani." Artinya: Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk. "Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mâng dharma, artha kama moksha." Artinya: Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha. Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb: "Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan." Dalam Bhagavadgita III, 14 disebutkan, karena makanan, makhluk hidup menjelma, karena hujan tumbuhlah makanan, karena persembahan (yajña) turunlah hujan, dan yajña lahir karena kerja. Dalam kenyataannya, kita bisa melihat sendiri, binatang hidup dari tumbuh-tumbuhan, manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dengan demikian jelaslah, tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup, yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. Upacara Butha Yajña pada tilem kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam lingkungan. Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan, Brahma berputra tiga orang yaitu: Sang Siwa, Sang Budha dan Sang Bhujangga. Ketiga putra beliau ini diberi tugas untuk amrtista akasa, pawana, dan sarwaprani. Oleh karena itu, pada saat upacara Tawur Kesanga, upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang disebut Tri Sadaka. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur Loka, Bhuwah Loka dan Swah Loka. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga, dilangsungkanlah upacara Melasti atau Melis. Tujuan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut: Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana. Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara. Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengah-tengah samudra. Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudra kehi-dupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan dunia. Pada tanggal satu sasih kadasa, dilaksanakanlah brata penyepian. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut: "....enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan." Artinya: "....besoknya, Nyepi, tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh, karenanya orang yang tahu hakikat agama melaksanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian." Jadi, brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya, tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. Sedangkan bagi mereka yang sudah tinggi rohaninya, melakukan yoga tapa dan samadhi. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian untuk umat pada umumnya yaitu: amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada umumnya. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan yang menjurus pada kerohanian, pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa, yoga, samadhi. Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri, menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma, artha, kama dan moksha. Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan. Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi keseimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka Menyimak sejarah lahirnya, dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Umat Hindu dalam zaman modern sekarang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah meng-khususkan diri dalam bidang kerohanian. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu. 6. Tahun Baru Saka Di India Bagaimana Tahun Baru Saka di tempat asalnya, India? Menurut pemuka agama Hindu I Made Titib, Tahun Baru Saka di India selalu ditetapkan atau jatuh pada tanggal 20, 21, atau 22 Maret. Tahun Saka di India, yang dikembangkan sejak pemerintahan Raja Kaniska I pada tahun 79 Masehi, memang menggunakan perhitungan matahari. Di Indonesia, agama Hindu mulai berkembang pada abad keempat Masehi. Sistem penanggalan Saka pun dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456 Masehi. Namun dalam perkembangannya, Tahun Saka di Nusantara mengalami perkawinan dengan budaya lokal. Dan penetapan Tahun Baru Saka tidak hanya menggunakan tarikh matahari sebagaimana di India, tapi juga perhitungan bulan. Selanjutnya Tahun Baru Saka dikaitkan pula dengan Hari Raya Nyepi, yang memang menggunakan perhitungan bulan. Dan umat Hindu di India tidak merayakan Tahun Baru Saka secara keagamaan. Pemerintah India memang telah menetapkan Tahun Baru Saka sebagai hari nasional sejak 1958. Made Titib menduga hal ini sebagai akibat di India tidak hanya menggunakan Tahun Saka, umat di sana juga mengenal Tahun Vikramaditya atau Vikrama Samvat, Tahun Harsa, Malalayam dan lain-lain. Selain itu, kata Titib, di bulan Maret umat Hindu di India merayakan upacara Holi, yang merupakan peringatan terhadap terbunuhnya raksasi Holika. Upacara ini mirip dengan upacara tawur agung di Bali. Pada bulan April umat Hindu di India mandi suci di Sungai Gangga atau sungai lain di dekat asrama para sadhu atau yogi (orang suci). Ini mirip dengan upacara melis atau melasti di Indonesia. Namun demikian, perbedaan "kemasan" atau budaya tadi tidak membedakan makna yang terkandung dalam tahun baru: suatu momentum untuk mawas diri, meningkatkan dhrama bakti di tahun mendatang sehingga terwujud masyarakat harmonis, damai dan sejahtera. 7. Ogoh-Ogoh Di India Dalam rangkaian perayaan Nyepi di Bali, ada namanya upacara pengerupukan yang bertujuan menetralisir kekuatan Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar dimana biasanya ada pawai ogoh-ogoh yang diarak keliling lingkungan dan akhirnya dibakar. Di India juga ada ogoh-ogoh, tapi tidak diarak saat perayaan tahun baru saka, melainkan pada Festival Dussehra. Dussehra dirayakan untuk menghormati Prabu Rama yang telah menang melawan Rahwana saat merebut kembali Dewi Sinta. Dimana saat itu Sinta diculik oleh Rahwana. Perayaan ini dimulai ketika memasuki bulan Aswin, salah satu bulan dalam kalender India dalam tahun Saka. Biasanya bulan Aswin ini jatuh pada bulan September atau Oktober di tahun masehi. Dan hari inilah tepatnya perayaan itu. Pada hari pertama bulan Aswin mereka berpuasa hingga hari ke-9. Puasanya berbeda dengan puasa umat Islam. Puasa disini mereka tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari biji-bijian. Tetapi boleh mengkonsumsi sayur-sayuran dan tentu saja diperbolehkan untuk minum, tetapi bukan minuman keras atau yang beralkohol. Pada hari kesepuluhlah mereka merayakan Dussehra. Pada perayaan ini mereka membuat patung-patung. Ada patung Dewi Durga, Prabu Rama dan Rahwana. Mereka juga memakai kostum seperti Prabu Rama dan Dewi Shinta. Kenapa ada patung Dewi Durga? Karena dari Dewi Durga-lah Prabu Rama mendapatkan rahasia bagaimana caranya mengalahkan Rahwana. Patung-patung itu diarak, dan patung Dewi Durga dilarung ke laut ataupun sungai, sedangkan patung Rahwana dibakar. Pada hari itu juga, pabrik-pabrik menghias kendaraan dan mesin-mesin pabrik yang ada untuk ikut merayakannya. Hari itu juga diperingati sebagai Hari Buruh Nasional di India. Rangkaian peringatan ini juga termasuk Diwali. Mungkin jika anda penggemar film-film Bollywood sedikit banyak mengetahuinya. Perayaan Diwali ini mengikuti perayaan Dussehra ini, diadakan setelah 19-20 hari setelah perayaan Dussehra. Perayaan ini dilakukan dalam rangka memperingati kembalinya Rama dan Shinta ke Ayodya. Mulai hari ini hingga perayaan Diwali, masyarakat biasa membunyikan petasan, memasang lampu-lampu. Pada puncak Diwali, lampu-lampu akan menyala menerangi seluruh pelosok India. Diwali biasanya dirayakan pada hari yang berbeda. Di Chennai biasa dilaksanakan 1 hari sebelum daerah di India lainnya. Ternyata festival Dussehra ini hampir sama dengan yang ada di Bali. Intinya sama, bahwa si Baik akan mengalahkan si Jahat. Tetapi waktunya yang berbeda. Jika di Bali kita mengenalnya dengan arakan ogoh-ogoh. Dimana diselenggarakan menjelang Hari Raya Nyepi. Sejarah singkat Tahun Baru Saka (Nyepi) Suasana Nyepi Kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan. Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini. Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi. Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda. Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang. Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampal ke Indonesia. Kehadiran Sang Pendeta Saka bergelar Aji Saka tiba di Jawa di Desa Waru Rembang Jawa Tengah tahun 456 Masehi, dimana pengaruh Hindu di Nusantara saat itu telah berumur 4,5 abad. Dinyatakan Sang Aji Saka disamping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, jüga dan peristiwa yang dialami dua orang punakawan! pengiring atau caraka beliau diriwayatkan lahirnya aksara Jawa onocoroko doto sowolo mogobongo padojoyonyo. Karena Aji Saka diiringi dua orang punakawan yang sama-sama setia, samasama sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi pengabdiannya kepada Sang Pandita Aji Saka. Rangkaian peringatan Pergantian Tahun Saka Melasti Peringatan tahun Saka di Indonesia dilakukan dengan cara Nyepi (Sipeng) selama 24 jam dan ada rangkaian acaranya antara lain : 1. Upacara melasti, mekiyis dan melis. Intinya adalah penyucian bhuana alit (diri kita masing-masing) dan bhuana Agung atau alam semesta ini. Dilakukan di sumber air suci kelebutan, campuan, patirtan dan segara. Tapi yang paling banyak dilakukan adalah di segara karena.sekalian untuk nunas tirtha amerta (tirtha yang memberi kehidupan) ngamet sarining amerta ring telenging segara. Dalam Rg Weda II. 35.3 dinyatakan Apam napatam paritasthur apah (Air yang murni baik dan mata air maupun dan laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan). 2. Menghaturkan bhakti/pemujaan di Balai Agung atau Pura Desa di setiap desa pakraman, setelah kembali dari mekiyis. 3. Tawur Agung/mecaru di setiap catus pata (perempatan) desa/pemukiman, lambang menjaga keseimbangan. Keseimbangan buana alit, buana agung, keseimbangan Dewa, manusia Bhuta, sekaligus merubah kekuatan bhuta menjadi div/dewa (nyomiang bhuta) yang diharapkan dapat memberi kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan jagat (bhuana agung bhuana alit). Dilanjutkan pula dengan acara ngerupuk/mebuu-buu di setiap rumah tangga, guna membersihkan lingkungan dari pengaruh bhutakala. Belakangan acara ngerupuk disertai juga dengan ogoh-ogoh (symbol bhutakala) sebagai kreativitas seni dan gelar budaya serta simbolisasi bhutakala yang akan disomyakan. (Namun terkadang sifat bhutanya masih tersisa pada orangnya). 4. Nyepi (Sipeng) dilakukan dengan melaksanakan catur brata penyepian (amati karya, amati geni, amati lelungan dan amati lelanguan). 5. Ngembak Geni. Mulai dengan aktivitas baru yang didahului dengan mesima krama di lingkungan keluarga, warga terdekat (tetangga) dan dalam ruang yang lebih luas diadakan acara Dharma Santi seperti saat ini. Melasti Yadnya dilaksanakan karena kita ingin mencapai kebenaran. Dalam Yajur Weda XIX. 30 dinyatakan : Pratena diksam apnoti, diksaya apnoti daksina. Daksina sradham apnoti, sraddhaya satyam apyate. Artinya : Melalui pengabdian/yadnya kita memperoleh kesucian, dengan kesucian kita mendapat kemuliaan. Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan, dan dengan kehormatan kita memperoleh kebenaran. Sesungguhnya seluruh rangkaian Nyepi dalam rangka memperingati pergantian tahun baru saka itu adalah sebuah dialog spiritual yang dilakukan oleh umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis serta sejahtera dan damai. Mekiyis dan nyejer/ngaturang bakti di Balai Agung adalah dialog spiritual manusia dengan alam dan Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala manifetasi-Nya serta para leluhur yang telah disucikan. Tawur Agung dengan segala rangkaiannya adalah dialog spiritual manusia dengan alam sekitar para bhuta demi keseimbangan bhuana agung bhuana alit. Pelaksanaan catur brata penyepian merupakan dialog spiritual antara din sejati (Sang Atma) seseorang umat dengan sang pendipta (Paramatma) Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam din manusia ada sang din /atrnn (si Dia) yang bersumber dan sang Pencipta Paramatma (Beliau Tuhan Yang Maha Esa). Sima krama atau dharma Santi adalah dialog antar sesama tentang apa dan bagaimana yang sudah, dan yang sekarang serta yang akan datang. Bagaimana kita dapat meningkatkan kehidupan lahir batin kita ke depan dengan berpijak pada pengalaman selama ini. Maka dengan peringatan pergantian tahun baru saka (Nyepi) umat telah melakukan dialog spiritual kepada semua pihak dengan Tuhan yang dipuja, para leluhur, dengan para bhuta, dengan diri sendiri dan sesama manusia demi keseimbangan, keharmonisan, kesejahteraan, dan kedamaian bersama. Namun patut juga diakui bahwa setiap hari suci keagamaan seperti Nyepi, ada saja godaannya. Baik karena sisa-sisa bhutakalanya, sisa mabuknya, dijadikan kesempatan memunculkan dendam lama atau tindakan yang lain. Dunia nyata ini memang dikuasai oleh hukum Rwa Bhineda. Baik-buruk, menang-kalah, kaya-miskin, sengsara-bahagia dst. Manusia berada di antara itu dan manusia diuji untuk mengendalikan diri di antara dua hal yang saling berbeda bahkan saling berlawanan. Kalau dituang dalam sebuah pantun boleh jadi sbb.: Dengan bunga membuat yadnya, melasti bersama pergi ke pantai. Jika agama hanya wacana, kondisi sejahtera - aman damai susah dicapai. Maka agama harus dimengerti, dipahami, dilaksanakan atau diamalkan dengan baik dan benar. Dharma Santi Adapun Dharma Santi sebagai rangkaian akhir Nyepi merupakan hal yang wajib dilaksanakan, baik di lingkungan keluarga, warga dekat maupun warga bangsa. Dengan Dharma Santi kita dapat saling memaafkan jika ada kesalahan atau kekeliruan yang pernah terjadi setidak-tidaknya dalam jangka waktu satu tahun sebelumnya. Di samping itu juga untuk berbincang-bincang perihal kehidupan bersama kita ke depan karena kondisi yang dihadapi akan semakin sulit dan semakin komplek, serba multi; multi etnis, multi dimensi, multi kepentingan, multi karakter dan multi kultural. Oleh karena itu dharma Santi dapat dilaksanakan dimana saja dan kapan saja setelah Nyepi asal tidak lewat dari waktu kurang lebih sebulan sesudah Nyepi. Sangat baik kalau setiap habis hari raya keagamaan (bukan hanya pada Nyepi saja) diikuti dengan dharma Santi atau sima krama, atau secara spiritual sering juga dilakukan jika ada upacara piodalan di Pura dengan “meprani”. Mesima krama, meprani atau dharma Santi merupakan ajang berdialog antar sesama tentang berbagai aspek kehidupan. Karena Weda menyatakan “Wasudewa kutumbakan” (seluruh dunia adalah bersaudana). Atau sarwa asa mama mitram bhawantu (Jadikanlah seluruh penjuru dunia sebagai sahabat kami). Untuk skup Bali, hal ini analog dengan konsep menyama braya yang perlu dimantapkan melalui dharma Santi. Jadi pergantian Tahun Saka adalah peringatan dari kebangkitan dan pembaharuan. Nyepi adalah renungan kesadaran untuk pengendalian diri. Dharma santi adalah dialog sesama demi keseimbangan hidup lahir bathin. Demikian yang dapat disampaikan, semoga ada manfaatnya. Mohon maaf atas kekuragannya. “Selamat Hari Raya Nyepi tahun Baru saka 1931, “Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa Asung kerta Wara nugraha kepada kita sekalian agar kita Santi, dapat meningkatkan bhakti sadana menuju Jagadhita yaitu dunia sejahtera. Om Ano bhadrah kratawo yantu wiswatah (semoga semua pikiran yang baik datang dari segala arah penjuru). (Oleh : Drs. I Gusti Made Ngurah, M.Si., IHDN – Denpasar ) sumber : http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1097&Itemid=71 Sumber lainnya mengatakan : Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka tarian Ogoh-Ogoh juga ditampilkan dalam upacara Tawur Agung Kesanga Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1932 di Candi Prambanan, (foto : Jogja News.Com) Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. Karena mantra-mantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia), ada yang bersifat adhyatmika, membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa, yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda, Vedangga, Itihasa dan Purana. Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin). Salah satu unsur dari kelompok kitab Vedangga adalah Jyotesha. Kitab ini disusun kira-kira 12.000 tahun sebelum masehi yang merupakan periode modern Astronomi Hindu (India). Dalam periode ini dibahas dalam lima kitab yang lebih sistimatis dan ilmiah yang disebut kitab Panca Siddhanta yaitu: Surya Siddhanta, Paitamaha Siddhanta, Wasista Siddhanta, Paulisa Siddhanta dan Romaka Siddhanta. Dari Penjelasan ringkas ini kita mendapat gambaran bahwa astronomi Hindu sudah dikenal dalam kurun waktu yang cukup tua bahkan berkembang serta mempengaruhi sistem astronomi Barat dan Timur. Prof. Flunkett dalam bukunya Ancient Calenders and Constellations (1903) menulis bahwa Rsi Garga memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani tentang astronomi di abad pertama sebelum masehi. Lahirnya Tahun Saka di India jelas merupakan perwujudan dari sistem astronomi Hindu tersebut di atas. Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. Sebelum lahirnya Tahun Saka, suku bangsa di India dilanda permusuhan yang berkepanjangan. Adapun suku-suku bangsa tersebut antara lain: Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa dan Saka. Suku-suku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain. Suku bangsa Saka benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. Arah perjuangannya kemudian dialihkan, dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan. Karena perjuangannya itu cukup berhasil, maka suku Bangsa Saka dan kebudayaannya benar-benar memasyarakat. Tahun 125 SM dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk kekuasaan di India. Tampaknya, dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu. Kekuasaan yang dipegangnya bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya, namun kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada di India dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi kebudayaan kerajaan (negara). Pada tahun 79 Masehi, Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Semenjak itu, bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). Akibat toleransi dan persatuan itu, sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu. Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia Sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456 Masehi. Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. Pada zaman Majapahit, Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret), Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Di alun-alun Majapahit, berkumpu seluruh kepala desa, prajurit, para sarjana, Pendeta Siwa, Budha dan Sri Baginda Raja. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat. Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII, XII, LXXXV, LXXXVI - XCII. Di Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April. Beberapa hari sebelum Nyepi, diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga. Keesokan harinya, pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. Setelah Nyepi, dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi. Tujuan Hidup Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksha merupakan tujuan agama Hindu. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, umat Hindu wajib mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga yaitu dharma, artha, kama dan moksha. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam Brahma Sutra, 228, 45 dan Sarasamuscaya 135. Menurut agama, tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. Tuhan (Prajapati), manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang selalu berhubungan berdasarkan yajña. Hal ini tersirat dalam makna Bhagavadgita III, 10: manusia harus beryajña kepada Tuhan, kepada alam lingkungan dan beryajña kepada sesama. Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang-hyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña. Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan, untuk mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita). "Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani." Artinya: Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk. "Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mâng dharma, artha kama moksha." Artinya: Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha. Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb: "Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan." Dalam Bhagavadgita III, 14 disebutkan, karena makanan, makhluk hidup menjelma, karena hujan tumbuhlah makanan, karena persembahan (yajña) turunlah hujan, dan yajña lahir karena kerja. Dalam kenyataannya, kita bisa melihat sendiri, binatang hidup dari tumbuh-tumbuhan, manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dengan demikian jelaslah, tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup, yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. Upacara Butha Yajña pada tilem kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam lingkungan. Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan, Brahma berputra tiga orang yaitu: Sang Siwa, Sang Budha dan Sang Bujangga. Ketiga putra beliau ini diberi tugas untuk amrtista akasa, pawana, dan sarwaprani. Oleh karena itu, pada saat upacara Tawur Kesanga, upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang disebut Tri Sadaka. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur Loka, Bhuwah Loka dan Swah Loka. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga, dilangsungkanlah upacara Melasti atau Melis. Tujuan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut: Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana. Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara. Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengah-tengah samudra. Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudra kehi-dupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan dunia. Pada tanggal satu sasih kadasa, dilaksanakanlah brata penye-pian. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut: "....enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan." Artinya: "....besoknya, Nyepi, tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh, karenanya orang yang tahu hakikat agama melak-sanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian." Jadi, brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya, tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. Sedangkan bagi mereka yang sudah tinggi rohaninya, melakukan yoga tapa dan samadhi. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian untuk umat pada umumnya yaitu: amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada umumnya. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan yang menjurus pada kerohanian, pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa, yoga, samadhi. Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri, menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma, artha, kama dan moksha. Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan. Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka Menyimak sejarah lahirnya, dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Umat Hindu dalam zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah meng-khususkan diri dalam bidang kerohanian. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu. Pelaksanaan Upacara Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: "....manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata." Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas, tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu, dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan. Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India. Dalam upacara Melasti, pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara, diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa. Sedang upacara Nagasankirtan di India, umat Hindu berkeliling desa, mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya. Dalam rangkaian Nyepi di Bali, upacara yang dilakukan berda-sarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata. Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding, segehan nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah, dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan, tumpeng ketan sesayut, penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak tuak. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh, segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak, berem, tuak dan air tawar. Setelah usai menghaturkan pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi, melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah. Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 - 12.00 (kala tepet). Sedangkan di tingkat desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). Upacara di tingkat rumah tangga, yaitu melakukan upacara mecaru. Setelah mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala, lalu mengelilingi rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar, umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Sejak tahun 1980-an, umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur kekuatan jahat. Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bam-bu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala. Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu. Nah, lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya, pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya, jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. Kalau di Bali, tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus), namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan. Sebagaimana telah dikemukakan, brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu: -Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa). - Amati karya (tidak bekerja), menyepikan indria. - Amati lelungan (tidak bepergian). - Amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu. Yang terpenting, Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma. Untuk melak-sanakan Nyepi yang benar-benar spritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana. Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan. sumber : Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=803&Itemid=100 You might also like: Sejarah Bali Sejarah Agama Hindu Sejarah Agama Budha di Indonesia dan Bali Pura Goa Gajah Sejarah Hari Raya Galungan TAHUN Tahun Jawa Berdirinya kerajaan Mataram Islam memberi warna baru dalam sejarah penanggalan di Jawa. Tepatnya ketika pemerintahan Sri Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma, ditetapkanlah pemberlakuan Tahun Jawa. Adapun sistem penanggalan Tahun Jawa adalah mengikuti penanggalan Hijriah, yaitu berdasarkan perputaran bulan, atau disebut Komariah. Sistem penanggalan ini disepakati berlaku di seluruh wilayah Mataram, yaitu pulau Madura dan seluruh Jawa (kecuali Banten yang bukan kekuasaan Mataram). Hari itu Jum’at Legi tanggal 1 Muharram 1043 Hijriah bertepatan dengan tahun Saka 1555, dan tahun 1633 Masehi, ditetapkan sebagai awal Tahun Jawa 1555 (melestarikan peninggalan penanggalan Saka). Ada tiga hal penting dalam pemberlakuan Tahun Jawa: 1. Mempertahankan kebudayaan asli Jawa dengan mewadahi Pawukon dan sebangsanya yang diperlukan dalam memperingati hari kelahiran orang Jawa, mengerti watak dasar manusia dan prediksi peruntungan menurut Primbon Jawa. 2. Melestarikan kebudayaan Hindu yang kaya akan kesusasteraan, kesenian, arsitektur candi dan agama. Hal ini sangat penting karena kebudayaan Hindu telah berhasil menghiasi dan memperindah budaya Jawa selama berabad-abad sebelumnya. 3. Menyelaraskan kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Arab. Sistem penanggalan Tahun Jawa yang serupa dengan penanggalan Hijriah yaitu Komariah, akan memudahkan masyarakat Islam di Jawa untuk menjalankan ibadahnya berkaitan dengan hari-hari suci/besar Islam. Dengan begitu, penanggalan Tahun Jawa mampu mengakomodasi tiga golongan utama masyarakat Jawa ketika itu, yaitu golongan orang Jawa kuno (asli), golongan masyarakat Hindu, dan golongan umat Islam. Tahun Jawa yang berlaku sekarang ini menurut perhitungan tahun Saka, ialah tahun ketika raja Saliwahana (Adji Saka) di Hindustan naik tahta kerajaan. Tahun kenaikan raja itu diperingati tahun 1. Ketika itu tahun masehi kebetulan tahun 78. Ketika tahun masehi 1633, perhitungan tahun Saka disesuaikan dengan tahun Hijriyah (tahun Arab), hanya angka tahun yang masih tetap, ialah tahun 1555. Cara menyesuaikan itu tidak seluruhnya, masih banyak hal-hal yang terus dipakai hingga sekarang. Nama hari dan bulan meniru nama Arab hanya ucapannya yang berubah. Tahun Jawa itu dibagi menjadi kelompok-kelompok. Tiap-tiap kelompok umurnya 8 tahun. Tiap-tiap 8 tahun dinamakan 1 windu. Windu Windu itu ada 4. Satu windu dinamakan: tumbuk satu kali. Empat windu adalah tumbuk 4 kali (32 tahun). Demikian seterusnya. Tumbuk ini biasanya untuk memperingati umur orang. Umpamanya: lahir pada hari Sabtu Pahing tanggal 25 Rajab 1878. Delapan tahun kemudian ialah pada tahun 1886 pada bulan Rajab tanggal 25 tepat pada hari Sabtu Pahing, ialah hari kelahirannya. Windu empat itu mempunyai arti dan watak sendiri-sendiri ialah: 1. Windu Adi = utama (banyak tingkah laku baru). 2. Kunthara = kelakuan (banyak tingkah laku baru). 3. Sengara = banjir (banyak air, sungai banjir). 4. Sanjaya = kekumpulan (banyak teman biasa menjadi teman karib). Nama Tahun Tahun Jawa dalam 1 windu itu ada namanya sendiri-sendiri ialah Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Dalam 1 windu (8 tahun) ada tahunnya Kabisat 3 ialah pada tahun ke 2 (Ehe), ke 4 (Je) dan ke 8 (Jimakir). Oleh karena menurut perhitungan tahun Jawa dalam 1 windu ada tahunya Kabisat 3, dalam 120 tahun (15 x 8 tahun), tahunnya Kabisat ada 15 x 3 = 45. Sedang menurut perhitungan tahun Arab tiap-tiap 30 tahun, tahunnya Kabisat ada 11. Dalam 120 tahun, tahunnya Kabisat ada 11 x 4 = 44. Jadi perhitungan tahun Jawa dalam 120 tahun, tahunnya Kabisat lebih satu dari pada tahun Arab. Agar perhitungan tahun Jawa sama dengan perhitungan tahun Arab, tiap-tiap 15 windu (120 tahun), ada tahunnya kabisat Jawa 1 yang dihilangkan. Hilangnya tahun kabisat 1 itu menyebabkan gantinya huruf, ialah hari pertama pada windu. Jadi huruf itu gantinya tiap-tiap 120 tahun. Perhitungan tahun Jawa 120 tahun itu rupa-rupanya tidak begitu ditaati. Buktinya dalam tahun 1674 (tahun masehi 1748/49) tahun Jawa telah disesuaikan lagi dengan tahun Arab, ialah dengan membuang tahun kabisat 1. Pada tahun 1748 (tahun masehi 1820/210), jadi belum 120 tahun, telah disesuaikan lagi dengan membuang satu hari lagi (hari mulai windu-churup). Pada waktu itu yang berlaku ialah churup Jamngiah. Pada tanggal 11 Desember 1749 churup itu dijadikan churup Kamsiah dan pada tanggal 28 September 1821 disesuaikan lagi jadi churup Arbangiah. Walaupun tahun Jawa telah disesuaikan dengan tahun Arab tiap-tiap 120 tahun sekali, akan tetapi tanggalnya tidak tentu berbarengan. Karena, kecuali beda kelompoknya, tahun Kabisat Jawa itu jalannya tidak berbarengan dengan tahun Kabisat Arab. Lain dari pada itu ada pula yang harus kita ingatkan, ialah umur bulan dalam tahun Je dan Dal. Mulai tahun 1547 (churup Jamngiah) hingga tahun 1674 (akan ganti churup Kamsiah), tahun Je belim dijadikan tahun Kabisat, masih jadi tahun wastu. Umurnya bulan tidak berganti-ganti 30 dengan 29 hari, akan tetapi: 30, 30, 29, 29, 29, 29, 30, 29, 30, 29, 30, 30 hari. Sejak churup Kamsiah, tahun Je baru dijadikan tahun Kabisat. Sebab demikian, agar tanggal 12 Mulud dalam tahun Dal (grebeg Mulud) jatuh pada hari Senin Pon. Adapun tahun Dal dalam churup Jamngiah (1547-1674) dijadikan tahun Kabisat. Akan tetapi mulai churup Kamsiah (1677-1748) tahun Dal lalu dijadikan tahun Wastu. Mulai churup Arbangiah (1749) umur bulan dalam tahun itu dirobah lagi, tidak berganti-ganti 30 dengan 29 hari, akan tetapi: 30, 30, 29, 29, 29, 29, 30, 29, 30, 29, 30, 30 hari. Mulai churup Salasiah (1867), menurut perhitungan, tanggal 12 Mulud dalam tahun Dal sudah tidak jatuh pada hari Senin Pon. Nama tahun Jawa itu kecuali seperti yang tersebut di atas, masih ada namanya lain. Nama tahun seperti yang tersebut dibawah ini adalah untuk mengetahui banyak sedikitnya hujan dalam tahun itu. Untuk mengetahui nama tahun itu, ialah jika tanggal 1 Sura jatuh pada hari: • Jumat, dinamakan tahun Sukraminangkara (tahun udang). Wataknya: sedikit hujan. • Sabtu, dinamakan tahun Tumpak-maenda (tahun kambing). Wataknya: sedikit hujan. • Ahad, dinamakan tahun Ditekalaba (tahun kalabang). Wataknya: sedikit hujan. • Senin, dinamakan tahun Somawertija (tahun cacing). Wataknya: sedikit hujan. • Selasa, dinamakan Anggarawrestija (tahun kodok). Wataknya: banyak hujan. • Rabu, dinamakan Buda-wiseba (tahun kerbau). Wataknya: banyak hujan. • Kamis, dinamakan Respati-mituna (tahun mimi). Wataknya: banyak hujan. Bulan/Mangsa Tarikh Jawa Versi 1 Tarikh Jawa Versi 2 Jawa Saka Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Srawana Bhadrapada Aswina Kartika Margasira Pusya Mukha Phalguna Caitra Waishaka Jyestha Asadha Suro Sapar Mulud Bakdo Mulud Jumadil Awal Jumadil Akhir Rejeb Ruwah Puasa Sawal Hapit Besar Kaso Karo Katigo Kapat Kalimo Kanem Kaptu Kawolu Kasongo Kasadaso Dhestho Sodho Kasa Karo Katiga Kapat Kalima Kanem Kapitu Kawolu Kasanga Kadasa Jesta Sada Tahun Masehi Tahun Masehi dimulai dari lahirnya nabi Yesus Kristus. Perhitungan tahun ini menurut jalannya matahari. Umurnya 365 atau 366 hati. Tahun yang berumur 365 hari dinamakan tahun Wastu (tahun pendek). Bulan Februari umurnya hanya 28 hari. Tahun yang berumur 366 hari dinamakan tahun Wuntu (tahun kabisat). Bulan Februari umurnya 29 hari. Tahun Masehi itu tiap-tiap 4 tahun ada tahunnya kabisat satu. Untuk mengetahui hal ini : jika angka tahun ini ceples dibagi empat, umpamanya tahun 1904, 1908, 1912, dsb. Akan tetapi jika angka satuan dan puluhan berwujud 0, umpamanya tahun 1700, 1800, 1900, dsb, walaupun angka tahun itu ceples dibagi empat, bukan tahun kabisat, akan tetapi tahun Wastu. Tahun Arab Pengaruh kebudayaan Hindu yang sangat kuat di tanah Jawa akhirnya mendapat saingan dengan datangnya kebudayaan Islam. Pengaruh Islam semakin kuat sampai akhirnya pada abad ke-16 masehi Kerajaan Jawa mulai menggunakan sistem penanggalan Arab yang disebut Tahun Hijriah. Sistem penanggalan ini secara resmi digunakan oleh kerajaan Jawa Islam, tetapi sebagian masyarakat masih tetap menggunakan perhitungan Saka. Tahun Hijriah adalah termasuk tahun Komariah, yaitu mengikuti perputaran bulan. Dalam satu tahun Hijriah berarti bulan mengitari bumi sebanyak 12 kali. Jumlah hari dalam sebulan pada tahun Hijriah berjumlah 29 dan 30 hari. Sehingga satu tahun Hijriah berjumlah 354 atau 355 hari (bulan Zulhijjah berumur 29 atau 30 hari). Tahun Hijriah perlu diberlakukan di Jawa pada masa itu karena kerajaan-kerajaan Islam harus menyamakan kalender kerajaan dengan peringatan-peringatan penting dalam agama Islam. Pada masa itu, hari-hari besar Islam diperingati sebagai acara resmi kerajaan, misalnya Idul Fitri setiap tanggal 1 Syawal, Idul Adha setiap tanggal 10 Zulhijjah, dan Mauludan setiap 12 Rabi’ul Awal yang sampai saat ini selalu diperingati secara besar-besaran dalam acara Sekaten. Tahun Arab (Hidjrah) dimulai dari tahun Masehi 622 ialah hijrahnya Nabi Muhammad S.A.W. dari Mekah ke Madinah. Perhitungan tahun Arab itu menurut jalannya bulan. Tahun Wastu umurnya 354 hati. Tahun Kabisat umurnya 355 hari. Tahun Arab itu berkelompok 30 tahun. Tiap-tiap 30 tahun ada tahunnya Kabisat 11, ialah tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29. Bagi hari yang perlu dirayakan, umpamanya hari mulai bulan puasa dan hari Idul Fitri, sering tidak cocok dengan penanggalan, hal ini sering terjadi perbedaan rukjat. Tahun Saka Sejak abad ke-8 masehi, di Jawa sudah ada Kerajaan Hindu-Jawa yang menggunakan perhitungan waktu berdasarkan sistem kebudayaan asli, kebudayaan Hindu, dan kebudayaan baru. Perhitungan waktu pada masa itu telah menggunakan sistem angka tahun menurut Saka, terpengaruh kebudayaan Hindu. Tahun Saka dihitung menurut perputaran matahari. Jumlah hari dalam sebulan pada tahun Saka berjumlah 30, 31, dan 32 atau 33 hari pada bulan terakhir, yaitu bulan Saddha. Sehingga setahun berjumlah 365 dan 366 hari, terbagi dalam 12 bulan. • Home • Posts RSS • Comments RSS • Advertise Tahun Baru Saka (Hindu): Pengertian dan Sejarah paankbilang.blogspot, Kalender Saka adalah sebuah kalender yang berasal dari India dan merupakan sebuah Penanggalan luni-solar (berdasar pada peredaran bulan dan matahari). Bulan-bulan dalam kalender Saka hanya terdiri dari 30 hari. Karena hal ini, maka tahun baru harus disesuaikan setiap tahunnya untuk mengiringi daur perputaran matahari. Sejarah Kalender Saka Ketika agama Hindu masuk ke nusantara, kalender Saka turut menjadi bagian kultural yang menyertai perikehidupan masyarakat Hindu Nusantara. Saat itu agama Hindu dipeluk oleh sebagian besar masyarakat di pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok. Saat ini kalender Saka telah mengalami “modifikasi” dengan penambahan beberapa “muatan lokal”. Adapun kalender Saka yang berlaku di Indonesia hingga saat ini adalah kalender Saka versi Bali. Nama-nama bulan dalam kalender ini antara lain: Kadasa, Jiyestha, Sadha, Kasa, Karo, Ketiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, dan Kasanga. Kalender Saka berawal pada tahun 78 Masehi. Kalender ini juga sering disebut sebagai kalender Sâlivâhana (Saliwahana). Sâlivâhana sendiri adalah seorang raja ternama dari India bagian selatan. Pada tahun 78 Masehi ia berhasil mengalahkan kaum Saka yang kemudian digunakan sebagai tonggak baru untuk memulai kalender yang diberi nama “Saka”. Sumber lain menyebutkan bahwa suku Saka dikalahkan oleh Vikramâditya (Wikramaditya), bukan oleh Sâlivâhana. Vikramâditya adalah rival Sâlivâhana yang berasal dari India bagian utara. Lalu siapakah kaum Saka? Ada yang menyebut bahwa mereka termasuk suku bangsa Turki atau Tatar. Namun ada juga yang menyebut bahwa mereka termasuk kaum Arya dari suku Scythia. Ada juga sumber lain yang menyebut bahwa kaum Saka sebenarnya adalah orang-orang Yunani (dalam bahasa Sansekerta disebut Yavana) yang berkuasa di Baktria (sekarang Afganistan). Yang mana yang benar? Mari kita Tanya pada rumput yang bergoyang :). Perhitungan dalam Kalender Saka Dalam satu bulan atau Sasih, disepakati ada 30 hari yang terdiri dari 15 hari menjelang purnama (disebut Penanggal atau Suklapaksa) dan 15 hari menjelang bulan baru/tilem (disebut Panglong atau Kresnakapsa). Penanggal dimulai pada tanggal 1 pada bulan baru sampai tanggal 15 (purnama). Pada masa ini biasanya dicetak merah pada kalender. Setelah purnama, perhitungan kalender kembali diulang ke angka 1 (satu) tetapi dicetak dengan warna hitam. Dalam perhitungan matematis kalender modern, untuk membedakan warna sering dipakai Titi. Titi adalah angka urut dari 1 (bulan baru) sampai 30 (bulan mati). Angka 1 sampai 15 mewakili angka merah Penanggal, 16 sampai 30 mewakili angka 1 sampai 15 Panglong. Panjang bulan Surya berbeda dengan bulan Sasih (bulan Candra). Sasih panjangnya berfluktuasi tergantung pada jarak bulan dengan bumi. Sehingga kurun tahun Surya kira-kira 11 hari lebih panjang dari tahun Sasih. Untuk menyelaraskan itu, setiap kira-kira 3 tahun Sasih disisipkan satu bulan tambahan yang merupakan bulan kabisat. Penambahan bulan ini masih agak rancu peletakannya. Inilah tantangan bagi dunia aritmatika. Idealnya awal tahun Surya jatuh pada paruh-akhir Sasih keenam (Kanem) atau paruh-awal Sasih ketujuh (Kapitu) sehingga tahun baru Saka Bali (hari Raya Nyepi) selalu jatuh disekitar bulan Maret hingga April. Tahun baru ini bukan jatuh pada bulan/Sasih pertama (Kasa), tetapi pada Sasih kesepuluh (Kadasa). Idealnya pada Penanggal 1, yaitu 1 hari setelah bulan mati (tilem). Misalnya pada tahun baru Saka 1933 tahun ini jatuh pada Penanggal 2 (diundur 1 hari). Hal ini karena Penanggal 1 bertepatan dengan Pangunalatri (dengan Panglong 15 Sasih) bulan Kasanga. Sekali lagi, kompromi diperlukan dalam perhitungan ini. Uniknya, sejak hari raya Nyepi (tahun baru), angka tahun Saka akan bertambah 1 menjadi angka tahun Masehi dikurangi 78. Kok unik? Kan biasa to, kalo abis tahun baru angka tahunnya bertambah? Karena angka tahun bulan kesembilan (Kasanga) berbeda dengan angka tahun bulan kesepuluh (Kadasa). Kalau diibaratkan dalam kalender Masehi, setelah tanggal 30 September 2010 adalah tanggal 1 Oktober 2011. Unik to? Di tahun 2011 Masehi (tahun ini), tahun baru Saka (Hari Raya Nyepi) kira-kira akan jatuh pada tanggal 5 Maret. Tahun Baru Jawa, Esensi dan Awal Mulanya 'Bulan SURO' Umumnya masyarakat menjelang tahun baru, misalnya Tahun Baru Masehi,banyak melakukan kegiatan untuk menyambutnya. Kegiatan tersebut biasanya tidak terlepas dari upaya introspeksi dan harapan-harapan. Begitu juga ketika menjelang Tahun Baru Jawa yang jatuh pada bulan Suro, tentunya masyarakat Jawa pun ingin mempunyai harapan-harapan yang lebih baik di tahun baru dan tentunya juga melakukan introspeksi terhadap tindakan di masa lalu. Esensi Bulan Suro pada Masyarakat Jawa Bulan Suro sebagai awal tahun, bagi masyarakat Jawa dianggap bulan yang sakral, karena dianggap bulan yang suci, bulan untuk melakukan perenungan, bertafakur, berintrospeksi, mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Cara yang dilakukan biasanya disebut dengan laku, yaitu mengendalikan hawa nafsu dengan hati yang ikhlas untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Namun kalau dicermati, esensi tradisi di bulan Suro yang dilakukan oleh masyarakat Jawa adalah sebagai upaya untuk menemukan jati dirinya agar selalu tetap eling lan waspada. Eling artinya harus tetap ingat siapa dirinya dan dari mana sangkan paraning dumadi 'asal mulanya', kedudukannya sebagai makhluk Tuhan, tugasnya sebagai khalifah manusia di bumi baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Waspada, artinya harus tetap cermat, terjaga, dan waspada terhadap segala godaan yang sifatnya menyesatkan. Karena sebenarnya godaan itu bisa menjauhkan diri dari sang Pencipta, sehingga dapat menjauhkan diri mencapai manunggaling kawula gusti 'bersatunya makhluk dan Khalik'. Keyakinan semacam ini masih banyak diyakini dan dianut oleh sebagian masyarakat Jawa. Namun masyarakat modern sering memandang secara negatif. Suro dikaitkan dengan paham syirik dan kemusrikan. Anggapan seperti itu timbul karena disebabkan kurangnya pemahaman sebagian masyarakat akan makna yang mendalam di baliknya. Memang menjadi persoalan ketika melihat manifestasi dari perbuatan. Pada bulan Sura banyak orang melakukan ritual-ritual tertentu sebagai media introspeksi biasanya banyak caranya. Ada yang melakukan laku dengan cara nenepi 'meditasi untuk merenung diri' di tempat-tempat sakral seperti di puncak gunung, tepi laut, makam, gua, pohon tua, dan ada juga yang melakukan dengan cara lek-lekan 'berjaga hingga pagi hari'. Dari sudut pandang agama, ritual ini jelas sebentuk sinkretisme. Namun, apakah kita pernah melihat ritual-ritual ini dalam makna yang terkandung di dalamnya? Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos. Dalam kesadaran ini diamini bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadag) maupun metafisik (gaib). Kedua dunia ini saling berinteraksi. Interaksi antara dimensi alam fisik dengan dimensi metafisik merupakan interaksi yang saling mengisi mewujudkan keselarasan dan keharmonisan alam semesta. Selain kesadaran makrokosmos ada kesadaran lain, yaitu kesadaran mikrokosmos. Manusia merupakan bagian dari mikrokosmos itu. Manusia sebagai bagian dari mikrokosmos memiliki peranan besar dalam menjaga keseimbangan makrokosmos karena manusia dikarunia akal budi. Kesadaran akan makrokosmos membawa kesadaran lain bahwa manusia bukanlah segalanya di hadapan Yang Maha Tinggi, dan dibanding mahluk lainnya. Manusia tidak seyogyanya mentang-mentang mengklaim dirinya sendiri sebagai mahluk paling sempurna dan mulia, hanya karena akal-budinya. Akal budi adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, manusia dapat mencapai kepenuhan karena akal budinya. Di sisi lain, manusia bisa tersesat juga karena akal budinya. Berdasarkan dua dimensi kesadaran itu, tradisi Jawa memiliki prinsip hidup yakni pentingnya untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta agar supaya kelestarian alam tetap terjaga sepanjang masa. Menjaga kelestarian alam merupakan perwujudan syukur tertinggi umat manusia kepada Sang Hyang Murbeng Dumadi. Cara pandang tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebagai bagian makrokosmos, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan kosmos. Keseimbangan kosmos itu tidak hanya sebatas apa yang dapat dilihat dilihat menurut mata telanjang manusia. Kosmos memiliki dua dimensi, yakni fana/wadag atau fisik, dan lingkungan dimensi gaib atau metafisik. Kepekaan batin adalah kunci untuk mengerti dan memahami dimensi metafisik. Harmoni alam merupakan cita-cita manusia. Untuk menggapai harmoni alam itulah, sebagian masyarakat Jawa melakukan ritual-ritual tertentu. Seringkali orang salah memberikan penilaian karena hanya melihat sebatas yang terlihat dan memberikan penilaian seturut norma atau nilai yang dianutnya. Padahal jika kita mau masuk ke dalamnya, kita akan menemukan nilai yang melebihi dan melampaui keimanan kita sendiri. Ritual yang dibuat merupakan kristalisasi dari kesadaran manusia akan keseimbangan kosmos. Dalam ritual-ritual yang dibuat, terkandung nilai-nilai yang luar biasa mendalam. Pertama, keyakinan dasar akan Sang Hyang Murbeng Jagad. Dalam melaksanakan ritual, hati manusia tetap teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal, dan tetap mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa menjadi satu-satunya penentu kodrat. Masyarakat Jawa kuno yang mewariskan nilai-nilai itu hingga sekarang tentu memiliki kosakata tersendiri untuk menyebut Tuhan. Meskipun masyarakat Jawa kuno tidak memiliki kata Tuhan, namun mereka memiliki keyakinan akan kekuatan dari luar diri mereka yang memiliki kuasa mutlak atas hidup manusia. Kedua, nilai filosofi. Ritual-ritual yang dibuat selama bulan Sura merupakan simbol kesadaran makrokosmos yang bersifat horisontal, yakni penghargaan manusia terhadap alam. Disadari bahwa alam semesta merupakan sumber penghidupan manusia. Oleh karena itu, kosmos harus dijaga demi kelangsungan kehidupan generasi penerus atau anak turun kita. Kelestarian alam merupakan warisan paling berharga untuk generasi penerus. Nilai inilah yang makin hari makin luntur. Alam dieksploitasi sedemikian rupa sehingga kesimbangan alam terganggu: banjir bandang, tanah longsor, dan aneka peristiwa alam yang menunjukkan terganggunya harmoni kosmos. Aneka ritual bulan Sura merupakan bentuk interaksi harmonis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta. Disadari pula bahwa manusia hidup di dunia berada di tengah-tengah lingkungan jagad fisik maupun jagad metafisik. Kedua dimensi jagad tersebut saling bertetanggaan, dan keadaannya pun sangat kompleks. Manusia dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan seyogyanya menjaga keharmonisan dalam bertetangga, sama-sama menjalani kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebaliknya, bilamana dalam hubungan bertetangga (dengan alam) tidak harmonis, akan mengakibatkan situasi dan kondisi yang destruktif dan merugikan semua pihak. Maka seyogyanya jalinan keharmonisan sampai kapanpun tetap harus dijaga. Ada nilai luhur dan agung dalam aneka bentuk ritual yang dibuat selama bulan Sura. Tahun baru Jawa mengajak kita bermenung tentang peran manusia mengemban titah Sang Hyang Murbeng Jagad untuk menjaga keseimbangan alam. Tatanan alam perlu dijaga demi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Asal Mula Tahun Baru 1 Suro Tahun Jawa memiliki kesamaan dengan Tahun Hijriyah terutama mengawali tanggal dan bulannya. Perbedaannya terletak pada istilah penyebutan nama bulan. Tahun Hijriyah menyebut bulan Muharram atau Asyuro, sementara Tahun Jawa menyebut bulan Suro. Kesamaan keduanya ternyata dapat ditelusuri dari sejarah kerajaan Mataram Islam di bawah kekuasaan pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi). Ketika itu di masyarakat Jawa, tahun yang menjadi pegangan masyarakat pada zamannya adalah Tahun Saka yang berdasarkan peredaran matahari. Sementara bagi umat Islam sendiri menggunakan Tahun Hijriyah. Pada waktu Sultan Agung berkuasa, Islam telah diakui menjadi agama di lingkungan istana Mataram Islam. Maka untuk tetap meneruskan penanggalan Tahun Saka yang berasal dari leluhurnya, dan ingin mengikuti penanggalan Tahun Hijriyah, maka Sultan Agung membuat kebijakan mengubah Tahun Saka menjadi Tahun Jawa. Maka ketika tahun 1555 Saka, oleh Sultan Agung diganti menjadi tahun 1555 Jawa dan berlaku untuk masyarakat pengikutnya. Sementara penetapan tanggal dan bulannya disamakan dengan tanggal dan bulan Tahun Hijriyah. Berarti tanggal 1 Suro 1555 Tahun Jawa sama dengan tanggal 1 Muharram 1043 Hijriyah dan bertepatan pula dengan tanggal 8 Juli 1633 Masehi. Nama-nama bulan pada Tahun Jawa pun dibuat lain dan berbeda dengan nama-nama Tahun Hijriyah. Tentu saja disesuaikan dengan ucapan masyarakat Jawa. Seperti bulan Muharram (Tahun Hijriyah) = bulan Suro (Tahun Jawa), bulan Shafar = Sapar, bulan Rabi'ul Awal = Maulud, bulan Rabi'ul Tsani = Bakda Maulud, bulan Jumadil Ula = Jumadil Awal, bulan Jumadil Tsaniyah = Jumadil Akir, bulan Rajab = Rejeb, bulan Sya'ban = Ruwah, bulan Ramadhan = Pasa, bulan Syawwal = Sawal, bulan Dzulqa'dah = Dulkaidah, dan bulan Dzulhijjah = Besar. Bulan Sepi Hajatan Pernikahan Ternyata kesakralan bulan Suro membuat masyarakat Jawa sendiri enggan untuk melakukan kegiatan yang bersifat sakral, misalnya hajatan pernikahan. Hajatan pernikahan di bulan Suro sangat mereka hindari. Entah kepercayaan ini muncul sejak kapan, kita tidak tahu. Namun yang jelas, sampai sekarang pun mayoritas masyarakat Jawa tidak berani menikahkan anak di bulan Suro. Ada sebagian masyarakat Jawa yang percaya dengan cerita Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan (Samodra Hindia). Konon, ceritanya, setiap bulan Suro, Nyi Roro Kidul selalu punya hajatan atau mungkin menikahkan anaknya. Setiap masyarakat Jawa yang punya gawe di bulan Suro ini, diyakini penganten atau keluarganya tidak akan mengalami kebahagiaan atau selalu mengalami kesengsaraan, baik tragedi cerai, gantung diri, meninggal, mengalami kecelakaan, atau lainnya. Entah kebenaran itu ada atau tidak, yang jelas masyarakat Jawa secara turun-temurun menghindari bulan Suro untuk menikahkan anak.(dari berbgai sumber/fri) taken from. http://www.himpalaunas.com/artikel/budaya/2011/11/25/bulan-suro-tahun-baru-jawa-esensi-dan-awal-mulanya Ditulis Oleh : Dimas Yudha Hari: 12:06 PM Kategori: SENI DAN BUDAYA Tahun Jawa Berdirinya kerajaan Mataram Islam memberi warna baru dalam sejarah penanggalan di Jawa. Tepatnya ketika pemerintahan Sri Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma, ditetapkanlah pemberlakuan Tahun Jawa. Adapun sistem penanggalan Tahun Jawa adalah mengikuti penanggalan Hijriah, yaitu berdasarkan perputaran bulan, atau disebut Komariah. Sistem penanggalan ini disepakati berlaku di seluruh wilayah Mataram, yaitu pulau Madura dan seluruh Jawa (kecuali Banten yang bukan kekuasaan Mataram). Hari itu Jum’at Legi tanggal 1 Muharram 1043 Hijriah bertepatan dengan tahun Saka 1555, dan tahun 1633 Masehi, ditetapkan sebagai awal Tahun Jawa 1555 (melestarikan peninggalan penanggalan Saka). Ada tiga hal penting dalam pemberlakuan Tahun Jawa: 1. Mempertahankan kebudayaan asli Jawa dengan mewadahi Pawukon dan sebangsanya yang diperlukan dalam memperingati hari kelahiran orang Jawa, mengerti watak dasar manusia dan prediksi peruntungan menurut Primbon Jawa. 2. Melestarikan kebudayaan Hindu yang kaya akan kesusasteraan, kesenian, arsitektur candi dan agama. Hal ini sangat penting karena kebudayaan Hindu telah berhasil menghiasi dan memperindah budaya Jawa selama berabad-abad sebelumnya. 3. Menyelaraskan kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Arab. Sistem penanggalan Tahun Jawa yang serupa dengan penanggalan Hijriah yaitu Komariah, akan memudahkan masyarakat Islam di Jawa untuk menjalankan ibadahnya berkaitan dengan hari-hari suci/besar Islam. Dengan begitu, penanggalan Tahun Jawa mampu mengakomodasi tiga golongan utama masyarakat Jawa ketika itu, yaitu golongan orang Jawa kuno (asli), golongan masyarakat Hindu, dan golongan umat Islam. Tahun Jawa yang berlaku sekarang ini menurut perhitungan tahun Saka, ialah tahun ketika raja Saliwahana (Adji Saka) di Hindustan naik tahta kerajaan. Tahun kenaikan raja itu diperingati tahun 1. Ketika itu tahun masehi kebetulan tahun 78. Ketika tahun masehi 1633, perhitungan tahun Saka disesuaikan dengan tahun Hijriyah (tahun Arab), hanya angka tahun yang masih tetap, ialah tahun 1555. Cara menyesuaikan itu tidak seluruhnya, masih banyak hal-hal yang terus dipakai hingga sekarang. Nama hari dan bulan meniru nama Arab hanya ucapannya yang berubah. Tahun Jawa itu dibagi menjadi kelompok-kelompok. Tiap-tiap kelompok umurnya 8 tahun. Tiap-tiap 8 tahun dinamakan 1 windu. Windu Windu itu ada 4. Satu windu dinamakan: tumbuk satu kali. Empat windu adalah tumbuk 4 kali (32 tahun). Demikian seterusnya. Tumbuk ini biasanya untuk memperingati umur orang. Umpamanya: lahir pada hari Sabtu Pahing tanggal 25 Rajab 1878. Delapan tahun kemudian ialah pada tahun 1886 pada bulan Rajab tanggal 25 tepat pada hari Sabtu Pahing, ialah hari kelahirannya. Windu empat itu mempunyai arti dan watak sendiri-sendiri ialah: 1. Windu Adi = utama (banyak tingkah laku baru). 2. Kunthara = kelakuan (banyak tingkah laku baru). 3. Sengara = banjir (banyak air, sungai banjir). 4. Sanjaya = kekumpulan (banyak teman biasa menjadi teman karib). Nama Tahun Tahun Jawa dalam 1 windu itu ada namanya sendiri-sendiri ialah Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Dalam 1 windu (8 tahun) ada tahunnya Kabisat 3 ialah pada tahun ke 2 (Ehe), ke 4 (Je) dan ke 8 (Jimakir). Oleh karena menurut perhitungan tahun Jawa dalam 1 windu ada tahunya Kabisat 3, dalam 120 tahun (15 x 8 tahun), tahunnya Kabisat ada 15 x 3 = 45. Sedang menurut perhitungan tahun Arab tiap-tiap 30 tahun, tahunnya Kabisat ada 11. Dalam 120 tahun, tahunnya Kabisat ada 11 x 4 = 44. Jadi perhitungan tahun Jawa dalam 120 tahun, tahunnya Kabisat lebih satu dari pada tahun Arab. Agar perhitungan tahun Jawa sama dengan perhitungan tahun Arab, tiap-tiap 15 windu (120 tahun), ada tahunnya kabisat Jawa 1 yang dihilangkan. Hilangnya tahun kabisat 1 itu menyebabkan gantinya huruf, ialah hari pertama pada windu. Jadi huruf itu gantinya tiap-tiap 120 tahun. Perhitungan tahun Jawa 120 tahun itu rupa-rupanya tidak begitu ditaati. Buktinya dalam tahun 1674 (tahun masehi 1748/49) tahun Jawa telah disesuaikan lagi dengan tahun Arab, ialah dengan membuang tahun kabisat 1. Pada tahun 1748 (tahun masehi 1820/210), jadi belum 120 tahun, telah disesuaikan lagi dengan membuang satu hari lagi (hari mulai windu-churup). Pada waktu itu yang berlaku ialah churup Jamngiah. Pada tanggal 11 Desember 1749 churup itu dijadikan churup Kamsiah dan pada tanggal 28 September 1821 disesuaikan lagi jadi churup Arbangiah. Walaupun tahun Jawa telah disesuaikan dengan tahun Arab tiap-tiap 120 tahun sekali, akan tetapi tanggalnya tidak tentu berbarengan. Karena, kecuali beda kelompoknya, tahun Kabisat Jawa itu jalannya tidak berbarengan dengan tahun Kabisat Arab. Lain dari pada itu ada pula yang harus kita ingatkan, ialah umur bulan dalam tahun Je dan Dal. Mulai tahun 1547 (churup Jamngiah) hingga tahun 1674 (akan ganti churup Kamsiah), tahun Je belim dijadikan tahun Kabisat, masih jadi tahun wastu. Umurnya bulan tidak berganti-ganti 30 dengan 29 hari, akan tetapi: 30, 30, 29, 29, 29, 29, 30, 29, 30, 29, 30, 30 hari. Sejak churup Kamsiah, tahun Je baru dijadikan tahun Kabisat. Sebab demikian, agar tanggal 12 Mulud dalam tahun Dal (grebeg Mulud) jatuh pada hari Senin Pon. Adapun tahun Dal dalam churup Jamngiah (1547-1674) dijadikan tahun Kabisat. Akan tetapi mulai churup Kamsiah (1677-1748) tahun Dal lalu dijadikan tahun Wastu. Mulai churup Arbangiah (1749) umur bulan dalam tahun itu dirobah lagi, tidak berganti-ganti 30 dengan 29 hari, akan tetapi: 30, 30, 29, 29, 29, 29, 30, 29, 30, 29, 30, 30 hari. Mulai churup Salasiah (1867), menurut perhitungan, tanggal 12 Mulud dalam tahun Dal sudah tidak jatuh pada hari Senin Pon. Nama tahun Jawa itu kecuali seperti yang tersebut di atas, masih ada namanya lain. Nama tahun seperti yang tersebut dibawah ini adalah untuk mengetahui banyak sedikitnya hujan dalam tahun itu. Untuk mengetahui nama tahun itu, ialah jika tanggal 1 Sura jatuh pada hari: Jumat, dinamakan tahun Sukraminangkara (tahun udang). Wataknya: sedikit hujan. Sabtu, dinamakan tahun Tumpak-maenda (tahun kambing). Wataknya: sedikit hujan. Ahad, dinamakan tahun Ditekalaba (tahun kalabang). Wataknya: sedikit hujan. Senin, dinamakan tahun Somawertija (tahun cacing). Wataknya: sedikit hujan. Selasa, dinamakan Anggarawrestija (tahun kodok). Wataknya: banyak hujan. Rabu, dinamakan Buda-wiseba (tahun kerbau). Wataknya: banyak hujan. Kamis, dinamakan Respati-mituna (tahun mimi). Wataknya: banyak hujan. Bulan/Mangsa Tarikh Jawa Versi 1 Tarikh Jawa Versi 2 Jawa Saka Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Srawana Bhadrapada Aswina Kartika Margasira Pusya Mukha Phalguna Caitra Waishaka Jyestha Asadha Suro Sapar Mulud Bakdo Mulud Jumadil Awal Jumadil Akhir Rejeb Ruwah Puasa Sawal Hapit Besar Kaso Karo Katigo Kapat Kalimo Kanem Kaptu Kawolu Kasongo Kasadaso Dhestho Sodho Kasa Karo Katiga Kapat Kalima Kanem Kapitu Kawolu Kasanga Kadasa Jesta Sada Nara sumber semarasanta.wordpress dot com Diposkan oleh johanes di 09.56 TAHUN Tahun Jawa Berdirinya kerajaan Mataram Islam memberi warna baru dalam sejarah penanggalan di Jawa. Tepatnya ketika pemerintahan Sri Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma, ditetapkanlah pemberlakuan Tahun Jawa. Adapun sistem penanggalan Tahun Jawa adalah mengikuti penanggalan Hijriah, yaitu berdasarkan perputaran bulan, atau disebut Komariah. Sistem penanggalan ini disepakati berlaku di seluruh wilayah Mataram, yaitu pulau Madura dan seluruh Jawa (kecuali Banten yang bukan kekuasaan Mataram). Hari itu Jum’at Legi tanggal 1 Muharram 1043 Hijriah bertepatan dengan tahun Saka 1555, dan tahun 1633 Masehi, ditetapkan sebagai awal Tahun Jawa 1555 (melestarikan peninggalan penanggalan Saka). Ada tiga hal penting dalam pemberlakuan Tahun Jawa: 1. Mempertahankan kebudayaan asli Jawa dengan mewadahi Pawukon dan sebangsanya yang diperlukan dalam memperingati hari kelahiran orang Jawa, mengerti watak dasar manusia dan prediksi peruntungan menurut Primbon Jawa. 2. Melestarikan kebudayaan Hindu yang kaya akan kesusasteraan, kesenian, arsitektur candi dan agama. Hal ini sangat penting karena kebudayaan Hindu telah berhasil menghiasi dan memperindah budaya Jawa selama berabad-abad sebelumnya. 3. Menyelaraskan kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Arab. Sistem penanggalan Tahun Jawa yang serupa dengan penanggalan Hijriah yaitu Komariah, akan memudahkan masyarakat Islam di Jawa untuk menjalankan ibadahnya berkaitan dengan hari-hari suci/besar Islam. Dengan begitu, penanggalan Tahun Jawa mampu mengakomodasi tiga golongan utama masyarakat Jawa ketika itu, yaitu golongan orang Jawa kuno (asli), golongan masyarakat Hindu, dan golongan umat Islam. Tahun Jawa yang berlaku sekarang ini menurut perhitungan tahun Saka, ialah tahun ketika raja Saliwahana (Adji Saka) di Hindustan naik tahta kerajaan. Tahun kenaikan raja itu diperingati tahun 1. Ketika itu tahun masehi kebetulan tahun 78. Ketika tahun masehi 1633, perhitungan tahun Saka disesuaikan dengan tahun Hijriyah (tahun Arab), hanya angka tahun yang masih tetap, ialah tahun 1555. Cara menyesuaikan itu tidak seluruhnya, masih banyak hal-hal yang terus dipakai hingga sekarang. Nama hari dan bulan meniru nama Arab hanya ucapannya yang berubah. Tahun Jawa itu dibagi menjadi kelompok-kelompok. Tiap-tiap kelompok umurnya 8 tahun. Tiap-tiap 8 tahun dinamakan 1 windu. Windu Windu itu ada 4. Satu windu dinamakan: tumbuk satu kali. Empat windu adalah tumbuk 4 kali (32 tahun). Demikian seterusnya. Tumbuk ini biasanya untuk memperingati umur orang. Umpamanya: lahir pada hari Sabtu Pahing tanggal 25 Rajab 1878. Delapan tahun kemudian ialah pada tahun 1886 pada bulan Rajab tanggal 25 tepat pada hari Sabtu Pahing, ialah hari kelahirannya. Windu empat itu mempunyai arti dan watak sendiri-sendiri ialah: 1. Windu Adi = utama (banyak tingkah laku baru). 2. Kunthara = kelakuan (banyak tingkah laku baru). 3. Sengara = banjir (banyak air, sungai banjir). 4. Sanjaya = kekumpulan (banyak teman biasa menjadi teman karib). Nama Tahun Tahun Jawa dalam 1 windu itu ada namanya sendiri-sendiri ialah Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Dalam 1 windu (8 tahun) ada tahunnya Kabisat 3 ialah pada tahun ke 2 (Ehe), ke 4 (Je) dan ke 8 (Jimakir). Oleh karena menurut perhitungan tahun Jawa dalam 1 windu ada tahunya Kabisat 3, dalam 120 tahun (15 x 8 tahun), tahunnya Kabisat ada 15 x 3 = 45. Sedang menurut perhitungan tahun Arab tiap-tiap 30 tahun, tahunnya Kabisat ada 11. Dalam 120 tahun, tahunnya Kabisat ada 11 x 4 = 44. Jadi perhitungan tahun Jawa dalam 120 tahun, tahunnya Kabisat lebih satu dari pada tahun Arab. Agar perhitungan tahun Jawa sama dengan perhitungan tahun Arab, tiap-tiap 15 windu (120 tahun), ada tahunnya kabisat Jawa 1 yang dihilangkan. Hilangnya tahun kabisat 1 itu menyebabkan gantinya huruf, ialah hari pertama pada windu. Jadi huruf itu gantinya tiap-tiap 120 tahun. Perhitungan tahun Jawa 120 tahun itu rupa-rupanya tidak begitu ditaati. Buktinya dalam tahun 1674 (tahun masehi 1748/49) tahun Jawa telah disesuaikan lagi dengan tahun Arab, ialah dengan membuang tahun kabisat 1. Pada tahun 1748 (tahun masehi 1820/210), jadi belum 120 tahun, telah disesuaikan lagi dengan membuang satu hari lagi (hari mulai windu-churup). Pada waktu itu yang berlaku ialah churup Jamngiah. Pada tanggal 11 Desember 1749 churup itu dijadikan churup Kamsiah dan pada tanggal 28 September 1821 disesuaikan lagi jadi churup Arbangiah. Walaupun tahun Jawa telah disesuaikan dengan tahun Arab tiap-tiap 120 tahun sekali, akan tetapi tanggalnya tidak tentu berbarengan. Karena, kecuali beda kelompoknya, tahun Kabisat Jawa itu jalannya tidak berbarengan dengan tahun Kabisat Arab. Lain dari pada itu ada pula yang harus kita ingatkan, ialah umur bulan dalam tahun Je dan Dal. Mulai tahun 1547 (churup Jamngiah) hingga tahun 1674 (akan ganti churup Kamsiah), tahun Je belim dijadikan tahun Kabisat, masih jadi tahun wastu. Umurnya bulan tidak berganti-ganti 30 dengan 29 hari, akan tetapi: 30, 30, 29, 29, 29, 29, 30, 29, 30, 29, 30, 30 hari. Sejak churup Kamsiah, tahun Je baru dijadikan tahun Kabisat. Sebab demikian, agar tanggal 12 Mulud dalam tahun Dal (grebeg Mulud) jatuh pada hari Senin Pon. Adapun tahun Dal dalam churup Jamngiah (1547-1674) dijadikan tahun Kabisat. Akan tetapi mulai churup Kamsiah (1677-1748) tahun Dal lalu dijadikan tahun Wastu. Mulai churup Arbangiah (1749) umur bulan dalam tahun itu dirobah lagi, tidak berganti-ganti 30 dengan 29 hari, akan tetapi: 30, 30, 29, 29, 29, 29, 30, 29, 30, 29, 30, 30 hari. Mulai churup Salasiah (1867), menurut perhitungan, tanggal 12 Mulud dalam tahun Dal sudah tidak jatuh pada hari Senin Pon. Nama tahun Jawa itu kecuali seperti yang tersebut di atas, masih ada namanya lain. Nama tahun seperti yang tersebut dibawah ini adalah untuk mengetahui banyak sedikitnya hujan dalam tahun itu. Untuk mengetahui nama tahun itu, ialah jika tanggal 1 Sura jatuh pada hari: • Jumat, dinamakan tahun Sukraminangkara (tahun udang). Wataknya: sedikit hujan. • Sabtu, dinamakan tahun Tumpak-maenda (tahun kambing). Wataknya: sedikit hujan. • Ahad, dinamakan tahun Ditekalaba (tahun kalabang). Wataknya: sedikit hujan. • Senin, dinamakan tahun Somawertija (tahun cacing). Wataknya: sedikit hujan. • Selasa, dinamakan Anggarawrestija (tahun kodok). Wataknya: banyak hujan. • Rabu, dinamakan Buda-wiseba (tahun kerbau). Wataknya: banyak hujan. • Kamis, dinamakan Respati-mituna (tahun mimi). Wataknya: banyak hujan. Bulan/Mangsa Tarikh Jawa Versi 1 Tarikh Jawa Versi 2 Jawa Saka Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Srawana Bhadrapada Aswina Kartika Margasira Pusya Mukha Phalguna Caitra Waishaka Jyestha Asadha Suro Sapar Mulud Bakdo Mulud Jumadil Awal Jumadil Akhir Rejeb Ruwah Puasa Sawal Hapit Besar Kaso Karo Katigo Kapat Kalimo Kanem Kaptu Kawolu Kasongo Kasadaso Dhestho Sodho Kasa Karo Katiga Kapat Kalima Kanem Kapitu Kawolu Kasanga Kadasa Jesta Sada Tahun Masehi Tahun Masehi dimulai dari lahirnya nabi Yesus Kristus. Perhitungan tahun ini menurut jalannya matahari. Umurnya 365 atau 366 hati. Tahun yang berumur 365 hari dinamakan tahun Wastu (tahun pendek). Bulan Februari umurnya hanya 28 hari. Tahun yang berumur 366 hari dinamakan tahun Wuntu (tahun kabisat). Bulan Februari umurnya 29 hari. Tahun Masehi itu tiap-tiap 4 tahun ada tahunnya kabisat satu. Untuk mengetahui hal ini : jika angka tahun ini ceples dibagi empat, umpamanya tahun 1904, 1908, 1912, dsb. Akan tetapi jika angka satuan dan puluhan berwujud 0, umpamanya tahun 1700, 1800, 1900, dsb, walaupun angka tahun itu ceples dibagi empat, bukan tahun kabisat, akan tetapi tahun Wastu. Tahun Arab Pengaruh kebudayaan Hindu yang sangat kuat di tanah Jawa akhirnya mendapat saingan dengan datangnya kebudayaan Islam. Pengaruh Islam semakin kuat sampai akhirnya pada abad ke-16 masehi Kerajaan Jawa mulai menggunakan sistem penanggalan Arab yang disebut Tahun Hijriah. Sistem penanggalan ini secara resmi digunakan oleh kerajaan Jawa Islam, tetapi sebagian masyarakat masih tetap menggunakan perhitungan Saka. Tahun Hijriah adalah termasuk tahun Komariah, yaitu mengikuti perputaran bulan. Dalam satu tahun Hijriah berarti bulan mengitari bumi sebanyak 12 kali. Jumlah hari dalam sebulan pada tahun Hijriah berjumlah 29 dan 30 hari. Sehingga satu tahun Hijriah berjumlah 354 atau 355 hari (bulan Zulhijjah berumur 29 atau 30 hari). Tahun Hijriah perlu diberlakukan di Jawa pada masa itu karena kerajaan-kerajaan Islam harus menyamakan kalender kerajaan dengan peringatan-peringatan penting dalam agama Islam. Pada masa itu, hari-hari besar Islam diperingati sebagai acara resmi kerajaan, misalnya Idul Fitri setiap tanggal 1 Syawal, Idul Adha setiap tanggal 10 Zulhijjah, dan Mauludan setiap 12 Rabi’ul Awal yang sampai saat ini selalu diperingati secara besar-besaran dalam acara Sekaten. Tahun Arab (Hidjrah) dimulai dari tahun Masehi 622 ialah hijrahnya Nabi Muhammad S.A.W. dari Mekah ke Madinah. Perhitungan tahun Arab itu menurut jalannya bulan. Tahun Wastu umurnya 354 hati. Tahun Kabisat umurnya 355 hari. Tahun Arab itu berkelompok 30 tahun. Tiap-tiap 30 tahun ada tahunnya Kabisat 11, ialah tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29. Bagi hari yang perlu dirayakan, umpamanya hari mulai bulan puasa dan hari Idul Fitri, sering tidak cocok dengan penanggalan, hal ini sering terjadi perbedaan rukjat. Tahun Saka Sejak abad ke-8 masehi, di Jawa sudah ada Kerajaan Hindu-Jawa yang menggunakan perhitungan waktu berdasarkan sistem kebudayaan asli, kebudayaan Hindu, dan kebudayaan baru. Perhitungan waktu pada masa itu telah menggunakan sistem angka tahun menurut Saka, terpengaruh kebudayaan Hindu. Tahun Saka dihitung menurut perputaran matahari. Jumlah hari dalam sebulan pada tahun Saka berjumlah 30, 31, dan 32 atau 33 hari pada bulan terakhir, yaitu bulan Saddha. Sehingga setahun berjumlah 365 dan 366 hari, terbagi dalam 12 bulan.

Tidak ada komentar: