(30) NURUL 'A'YUN

43 Karya Tulis/Lagu Nur Amin Bin Abdurrahman:
(1) Kitab Tawassulan Washolatan, (2) Kitab Fawaidurratib Alhaddad, (3) Kitab Wasilatul Fudlola', (4) Kitab Nurul Widad, (5) Kitab Ru'yah Ilal Habib Luthfi bin Yahya, (6) Kitab Manaqib Assayyid Thoyyib Thohir, (7) Kitab Manaqib Assyaikh KH.Syamsuri Menagon, (8) Kitab Sholawat Qur'aniyyah “Annurul Amin”, (9) Kitab al Adillatul Athhar wal Ahyar, (10) Kitab Allu'lu'ul Maknun, (11) Kitab Assirojul Amani, (12) Kitab Nurun Washul, (13) Kitab al Anwarullathifah, (14) Kitab Syajarotul Ashlin Nuroniyyah, (15) Kitab Atthoyyibun Nuroni, (16) Kitab al 'Umdatul Usaro majmu' kitab nikah wal warotsah, (17) Kitab Afdlolul Kholiqotil Insaniyyahala silsilatis sadatil alawiyyah, (18) Kitab al Anwarussathi'ahala silsilatin nasabiyyah, (19) Kitab Nurul Alam ala aqidatil awam (20) Kitab Nurul Muqtafafi washiyyatil musthofa.(21) KITAB QA'IDUL GHURRIL MUCHAJJALIN FI TASHAWWUFIS SHOLIHIN,(22) SHOLAWAT TARBIYAH,(23) TARJAMAH SHOLAWAT ASNAWIYYAH,(24) SYA'IR USTADZ J.ABDURRAHMAN,(25) KITAB NURUSSYAWA'IR(26) KITAB AL IDHOFIYYAH FI TAKALLUMIL ARABIYYAH(27) PENGOBATAN ALTERNATIF(28) KITAB TASHDIRUL MUROD ILAL MURID FI JAUHARUTITTAUHID (29) KITAB NURUL ALIM FI ADABIL ALIM WAL MUTAALLIM (30) NURUL 'A'YUN ALA QURRATIL UYUN (31) NURUL MUQODDAS FI RATIBIL ATTAS (32) INTISARI & HIKMAH RATIB ATTAS (33) NURUL MUMAJJAD fimanaqibi Al Habib Ahmad Al Kaff. (34) MAMLAKAH 1-25 (35) TOMBO TEKO LORO LUNGO. (36) GARAP SARI (37) ALAM GHAIB ( 38 ) PENAGON Menjaga Tradisi Nusantara Menulusuri Ragam Arsitektur Peninggalan Leluhur, Dukuh, Makam AS SAYYID THOYYIB THOHIR Cikal Bakal Dukuh Penagon Nalumsari Penagon (39 ) AS SYIHABUL ALY FI Manaqib Mbah KH. Ma'ruf Asnawi Al Qudusy (40) MACAM-MACAM LAGU SHOLAWAT ASNAWIYYAH (bahar Kamil Majzu' ) ( 41 ) MACAM-MACAM LAGU BAHAR BASITH ( 42 ) KHUTBAH JUM'AT 1998-2016 ( 43 ) Al Jawahirun Naqiyyah Fi Tarjamatil Faroidus Saniyyah Wadduroril Bahiyyah Lis Syaikh M. Sya'roni Ahmadi Al Qudusy.

Rabu, 06 Agustus 2014

Cerita tentang Karomah Gus Dur (sebagai bukti-bukti tanda-tanda kewalian) ________________________________________ Artikel ini saya tulis sendiri , bagi Anda sebagai pembaca yang tidak menyukai tulisan/ketikan saya ini dilarang keras untuk mengumpat karena itu bukan akhlaq Rasulullah !!!. Menurut keterangan Kyai Agil siraj (Ketua PBNU) – SCTV dalam acara Mengenang 7 Hari Gus Dur tanggal 6 Januari 2010 jam 10.58 1. Kisah Makam Surya Memesa dan Ziarah Syekh Ali Uraidi bin Imam Ja’far Shadiq Di sela-sela acara tahlilan hari ke-7 wafatnya Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa (5/1), Said Agil pernah diajak ziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan. Gus Dur membawanya ke sebuah kuburan yang sepi. Untuk mencapai lokasi saja, harus menyebrang sebuah situ (danau). Saat tiba, Gus Dur menuju sebuah makam. Saat ditanya Said Agil, siapa jenazah yang telah dikebumikan di tanah ini? Gus Dur tidak langsung menjawab. “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan,” ujar Said Agil meniru ucapan Gus Dur. Orang sakti yang dimaksud Gus Dur, sambung Said Agil, ternyata bernama Surya Mesesa, seorang penyebar agama Islam di pulau Jawa. Gus Dur memberitahukan kepada Said Agil, mengapa Surya Mesesa bisa masuk Islam. “Untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syeikh Ali. Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujarnya. Ceritanya, Gus Dur bersama Said Aqil ingin membacakan surat Al-Fatihah untuk Syekh Ali sebanyak seribu kali. Namun ketika mereka baru membacakan al-Fatihah sebanyak 30 kali tiba-tiba seorang polisi datang mengusir mereka dan mengatakan, “Musyrik, haram!” Untung saja mereka bukan penduduk setempat, sehingga tidak dihukum berat, karena bagi mereka ziarah kubur adalah larangan berat. Namun Gus Dur sempat marah kepada polisi itu, “Kamu musuh Allah, Wahabi,” kata Gus Dur seperti dikutip Said Aqil saat memberikan testimoninya usai memimpin tahlilal 7 hari di Ciganjur, Selasa (5/1) malam. Said Aqil bercerita, Gus Dur berziarah ke makam Syekh Ali al-Uraidhi karena Syekh ini konon sempat mengalahkan seorang yang hebat bernama Surya Mesesa. Ia merasa tak terkalahkan. Bahkan untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syekh Ali al-Uraidhi. “Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujar Said Aqil. Cerita ini diperolehnya dari Gus Dur saat ia diajak berziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan. Said Aqil bertanya, “Makam siapa Gus?” Gus Dur menjawab, “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan.” Karena itulah Gus Dur berziarah ke makam tersebut dan kemudian ke makam Syekh Ali al-Uraidhi. Menurut Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siradj, Gus Dur memang gemar berziarah ke makam para ulama dan sesepuh. Selain mendoakan mereka, dengan cara itu Gus Dur merangkai sejarah peristiwa yang terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, yang bahkan tidak tertulis dalam buku-buku sejarah. Namun ada yang yang menarik ketika Gus Dur berziarah kesuatu makam, kata Kang Said. ”Kalau ada makam yang diziarahi Gus Dur, pasti kemudian makam itu ramai diziarahi orang. Gus Dur memang tidak hanya memberkahi orang yang hidup, tapi juga orang yang sudah mati,” katanya disambut tawa hadirin. (nam) (sumber 1 , sumber 2) 2. Bertemu dan didoakan wali di madinah setelah berziarah (point 1) , beliau berdoa di raudah, malamnya gus dur ngajak kyai agil jalan2 ke masjid untuk mencari seorang wali setelah muter2 dimasjid, kyai agil ketemu sm orang pake surban tinggi, lagi ngajar santrinya banyak, bilang sm gus dur ‘apa ini wali gus ?’ gus dur bilang, ‘bukan’ akhirnya cari lagi,ketemu sm orang yg pake surban dengan jidat hitam , gus dur bilang ‘bukan ini’ kemudian gus dur menghentikan langkah di dekat orang yg pake surban kecil biasa, duduk diatas sajadah, baru gus dur bilang, ‘ini adalah wali’ kemudian kyai agil memperkenalkan pada wali tersebut, dalam bahasa arab, dan terjemahannya seperti ini ‘Syekh, ini sy perkenalkan namanya ustad Abdurrahman Wahid, ketua organisasi islam terbesar di asia’, tujuan dari mencari wali ini ialah ingin didoakan oleh seorang wali. akhirnya wali ini berdoa untuk gus dur semoga di ridloi, di ampuni , hidupnya sukses. setelah itu wali tersebut pergi sambil menyeret sajadahnya dan mengatakan ‘dosa apa saya? sampai2 maqom/kedudukan saya diketahui oleh orang’… dalam sebuah atsar (perkataan ulama2) menyatakan bahwa ‘yang mengetahui kedudukan seorang wali adalah sesama wali itu sendiri’ 3. Weruh sak durunge wineruh. Artikel ini sy ambil dari http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/index/72/Selamat-Jalan-Gusdur Kiayi Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI yang ke-4 sudah lama saya kenal melalui siaran televisi, koran-koran dan buku-buku yang memuat pemikiran beliau. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah saat kami berdua pernah duduk bersama seharian penuh dari pukul 07.00 pagi hari sampai 19.00 malam hari. Kebersamaan kami berlangsung di Riau, tepatnya di kediaman Gubernur Riau, H. M. Rusli Zainal. Ketika itu Gubernur Riau sendiri yang meminta saya untuk menemani Gusdur sebagai ‘pengganti’ tuan rumah, karena Gubernur Riau tidak dapat terus menerus menemani Gusdur. Jadilah pertemuan kami itu berlangsung aman, tanpa ada gangguan sedikitpun. Saya masih ingat rombongan Gusdur saat itu lumayan ramai juga, di antaranya adalah Muhaimin Iskandar (sekarang menjadi Menteri Tenaga Kerja RI), dan saudara Lukman Edi (seorang anggota DPR RI). Sepanjang hari itu, kami duduk bersebelahan dan berbicara panjang lebar mulai dari masalah agama, masalah negara, masalah pemimpin-pemimpin Indonesia. Ketika membicarakan masalah agama kami terlibat dalam pembicaraan sangat serius. Saat itu kami berkesempatan untuk membuktikan secara langsung kata-kata orang yang banyak saya dengar, yang menyatakan bahwa Gusdur menguasai banyak kitab-kitab klasik. Maka kami membuka dialog dengan mencuplik kitab-kitab klasik yang pernah kami baca mulai dari karangan Imam As Syafi’i, Imam Harmaini, Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Katsir, dan lain-lain. Apa yang terjadi…? Gusdur ternyata bukan hanya mahir mengimbangi pembicaraan mengenai berbagai permasalahan yang kami kemukakan, namun dengan mahir beliau malah membacakan matan-matan semua persoalan tersebut dalam bahasa Arab yang asli, tepat seperti isi kitab yang asli. Tidak dapat kami pungkiri bahwa saat itu hati kami bergetar, kagum, heran, juga bahagia. Yakinlah kami bahwa Allah benar-benar Maha Kuasa dan telah menciptakan hamba-hambaNya dengan berbagai kelebihan. Subhanallah… Ketika membahas kepemimpinan nasional, Gusdur dengan disertai humor-humor kocak sana sini menjelaskan dan berdiskusi dengan kami tentang banyak hal. Satu yang sangat kami catat kuat dalam ingatan kami bahwa tidak pernah sekalipun terucap kata-kata jelek yang bersifat mempersalahkan seorangpun dari pemimpin nasional kita. Ketika membahas Pak Harto, nada ucapan beliau berubah menjadi sangat lembut dan serius. Saat itu Gusdur berkata dan kami masih ingat benar, beliau berucap begini: “Pak Harto sebagai seorang pemimpin nasional telah memberikan contoh sebuah pekerjaan yang terencana dan terukur. Program beliau direncanakan rapi dan diukur setelah waktu pelaksanaan berakhir.” Kemudian beliau berdiam berapa saat. Kemudian beliau tertawa kecil seraya berkata sambil tertawa: “laahha kalo saya, kerja kapan inget, terus saya buat saja..” Kesan saya saat itu muncul, sebagai orang Jawa asli, Gusdur terbiasa dengan sikap dan adab orang Jawa, mikul nduwur yaitu menghormati orang yang lebih tua. Beliau jujur dan humoris. Jujur dalam arti tidak menyembunyikan kelemahan dirinya. Pertemuan kami berjalan manis. Kami hanya berpisah beberapa menit saat waktu sholat Dzuhur dan Ashar tiba, untuk kemudian duduk kembali di meja yang sama. Ada beberapa keistimewaan Gusdur yang saya yakin muncul dari indera keenam beliau. Ketika beliau bertanya kepada kami: “Sampeyan itu kan orang Medan, kok kata Gubernur tadi, sampeyan orang Riau?” Kemudian kami menjelaskan bahwa ibu kami adalah orang Riau dari Rokan Hilir, Bagan Siapi-api. Namun kemudian beliau berkata: “Rumah sampeyan di Klender, sampeyan buat pengajian malam senin di Klender, terus sampeyan begini…sampeyan begitu..” yang kesemuanya tepat dan benar. Paling aneh adalah saat kami katakan bahwa kami akan pulang pukul 17.00 dengan pesawat Mandala, saat itu beliau berkata kepada saya dengan tegas: “Ndak, sampeyan pulang dengan saya naek Garuda jam 7 (malam).” Menanggapi ucapan itu kami diam saja sebab di tangan kami sudah ada tiket Mandala pukul 5 sore rute Pekanbaru-Jakarta. Ternyata pesawat Mandala delay sampai pukul 21.00, maka jadilah kami bertukar pesawat naik Garuda Indonesia bersama dengan Gusdur. Ada satu nasehat beliau kepada kami yang akan tetap kami ingat. “Negeri Riau adalah negerinya orang-orang Naqsyabandi. Dan dari sini telah muncul seorang wali besar Syaikh Abdul Wahab Rokan. Sampeyan musti jaga negeri ini, jangan dibiarkan begitu saja apalagi ibunya sampeyan orang asli negeri ini.” Saat itu beliau pegang tangan saya dan saya pun menjawab dengan rasa haru: “Iya Gus, saya pasti akan menjaga negeri saya ini.” Sekarang Gusdur telah berpulang bertemu dengan Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Setelah sebelumnya memandang dengan bashirah beliau kedatangan sang kakek tercinta, Ulama Besar pendiri NU untuk mendampingi beliau di alam barzakh. Kami berdoa semoga beliau nyaman berdekatan dengan Kakek dan Bapak beliau di tanah Jombang, Pesantren keluarga besar Syaikh Asy’ari. Selamat jalan Gusdur…Nasehat panjenengan senantiasa akan kami ingat sebagai kenangan manis antara orangtua kepada anaknya. Assalamu’alaika… Download MP3 Gus Dur disini Kebenaran Ramalan Gus Dur Dalam Diri KH. Said Aqil Siradj 23.48 kisah gusdur No comments Gus Dur dan Kang Said Gus Dur Ramalkan Said Aqil Jadi Ketua Umum PBNU Setelah Umur 55 Tahun Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sempat meramalkan KH. Said Aqil Siradj terpilih menjadi ketua umum PBNU setelah berusia 55 tahun. Ternyata ramalan itu benar. Said Aqil Terpilih pada Muktamar ke-32 NU di Makassar pada usia 56 tahun. Cerita ini disampaikan sendiri oleh Said Aqil dalam acara Tasyakuran Sukses Muktamar di kantor PP. GP. Ansor, Jakarta, Kamis (1/4/10) malam. ”Saya tidak menceritakan ini sebelum Muktamar, nanti dikira kampanye,” kata Said Aqil bergurau. Ceritanya, pada Muktamar ke-30 NU di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Said Aqil yang bertugas sebagai ketua panitia pusat berniat mengajukan diri sebagai calon ketua umum PBNU, dan Gus Dur tidak setuju. ”Nanti sampeyan itu baru jadi ketua umum PBNU setelah umur 55,” kata Gus Dur seperti ditirukan Said Aqil. ”Saya tidak mengada-ngada, ada saksinya santri-santri saya di Ciganjur,” tambahnya. Namun pada waktu itu Said Aqil tetap bersikeras mencalonkan diri, dan ternyata ia kalah bersaing dengan KH Hasyim Muzadi. Pada Muktamar ke-31 NU di Solo, Said masih berusia 50 tahun dan tidak ukut dalam bursa pencalonan. ”Pada Muktamar Makassar saya tenang saja karena Gus Dur sudah bilang begitu. Kalau saya tidak jadi berarti kewalian Gus Dur diragukan,” katanya disambut tawa hadirin. Dalam kesempatan itu Said Aqil mengajak warga Nahdliyin yang hadir untuk membacakan surat Al-Fatihah khusus untuk Gus Dur. ”Saya ini tidak belajar kitab kuning dari Gus Dur, kalau belajar kitab kuning ya ke Kyai Mahrus Ali Lirboyo dan Kyai Ali Maksum Krapyak. Saya belajar dari Gus Dur ilmu ahwal, ilmu tentang perilaku,” katanya sebelum memimpin doa. Doa dan bacaan surat Al-Fatihah malam itu juga ditujukann kepada para pendiri NU antara Lain KH Hasyim Asy’ari. KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Ridwan Abdullah dan KH Mas Alwi Abdul Aziz. Gus Dur dan Gus Miek Redaksi Lain Salah satu tanda orang sholeh adalah ia memiliki pandangan batin yang sangat kuat sehingga mampu melintasi ruang dan waktu. Ia bisa mengetahui kejadian-kejadian di masa mendatang. KH Said Aqil Siradj mengaku dirinya telah diramalkan menjadi ketua umum PBNU oleh Gus Dur setelah usianya mencapai 55 tahun. Kiai Said menyatakan dirinya tidak meminta Gus Dur untuk melihat masa depannya, tetapi ramalan Gus Dur itu pun terucap begitu saja saat ia berkunjung ke rumahnya, yang masih satu kompleks di Ciganjur. Cerita ini bermula ketika Gus Dur pagi-pagi berolah raga dengan diiringi para pengawal, saat itu posisinya sudah sebagai mantan presiden. Lalu ia mampir ke rumah Kang Said, yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari kediamannya. Pada pagi yang cerah itu, Gus Dur minta disediakan air putih dan sarapan roti tawar, juga meminta Kang Said untuk membacakan kitab Ihya Ulumuddin, bab sabar dan tawakkal. Baru membaca dua baris, Gus Dur ternyata sudah tertidur sehingga ia menghentikan sementara membaca kitab tasawwuf karangan Imam Ghozali ini. Lima menit kemudian Gus Dur bangun dan langsung berujar, “Sampeyan (kamu) jadi ketua umum PBNU sesudah umur 55 tahun.” Ucapan Gus Dur itu terbukti benar, Kang Said terpilih menjadi ketua umum PBNU pada muktamar NU ke-32 yang berlangsung di Makassar Maret, 2010 lalu pada usia 56 tahun. Kiai Said dilahirkan di Cirebon, 03 Juli 1953. Saifurroyya Sumber : www.nu.or.id Mr. Windu dot Com Cerita tentang Gus Dur Menurut keterangan Kyai Agil siraj (Ketua PBNU) - SCTV dalam acara Mengenang 7 Hari Gus Dur tanggal 6 Januari 2010 jam 10.58 1. Kisah Makam Surya Memesa dan Ziarah Syekh Ali Uraidi bin Imam Ja’far Shadiq Di sela-sela acara tahlilan hari ke-7 wafatnya Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa (5/1), Said Agil pernah diajak ziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan. Gus Dur membawanya ke sebuah kuburan yang sepi. Untuk mencapai lokasi saja, harus menyebrang sebuah situ (danau). Saat tiba, Gus Dur menuju sebuah makam. Saat ditanya Said Agil, siapa jenazah yang telah dikebumikan di tanah ini? Gus Dur tidak langsung menjawab. “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan,” ujar Said Agil meniru ucapan Gus Dur. Orang sakti yang dimaksud Gus Dur, sambung Said Agil, ternyata bernama Surya Mesesa, seorang penyebar agama Islam di pulau Jawa. Gus Dur memberitahukan kepada Said Agil, mengapa Surya Mesesa bisa masuk Islam. “Untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syeikh Ali. Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujarnya. Ceritanya, Gus Dur bersama Said Aqil ingin membacakan surat Al-Fatihah untuk Syekh Ali sebanyak seribu kali. Namun ketika mereka baru membacakan al-Fatihah sebanyak 30 kali tiba-tiba seorang polisi datang mengusir mereka dan mengatakan, “Musyrik, haram!” Untung saja mereka bukan penduduk setempat, sehingga tidak dihukum berat, karena bagi mereka ziarah kubur adalah larangan berat. Namun Gus Dur sempat marah kepada polisi itu, “Kamu musuh Allah, Wahabi,” kata Gus Dur seperti dikutip Said Aqil saat memberikan testimoninya usai memimpin tahlilal 7 hari di Ciganjur, Selasa (5/1) malam. Said Aqil bercerita, Gus Dur berziarah ke makam Syekh Ali al-Uraidhi karena Syekh ini konon sempat mengalahkan seorang yang hebat bernama Surya Mesesa. Ia merasa tak terkalahkan. Bahkan untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syekh Ali al-Uraidhi. “Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujar Said Aqil. Cerita ini diperolehnya dari Gus Dur saat ia diajak berziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan. Said Aqil bertanya, “Makam siapa Gus?” Gus Dur menjawab, “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan.” Karena itulah Gus Dur berziarah ke makam tersebut dan kemudian ke makam Syekh Ali al-Uraidhi. Menurut Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siradj, Gus Dur memang gemar berziarah ke makam para ulama dan sesepuh. Selain mendoakan mereka, dengan cara itu Gus Dur merangkai sejarah peristiwa yang terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, yang bahkan tidak tertulis dalam buku-buku sejarah. Namun ada yang yang menarik ketika Gus Dur berziarah kesuatu makam, kata Kang Said. ”Kalau ada makam yang diziarahi Gus Dur, pasti kemudian makam itu ramai diziarahi orang. Gus Dur memang tidak hanya memberkahi orang yang hidup, tapi juga orang yang sudah mati,” katanya disambut tawa hadirin. (nam) (sumber 1 , sumber 2) 2. Bertemu dan didoakan wali di madinah setelah berziarah (point 1) , beliau berdoa di raudah, malamnya gus dur ngajak kyai agil jalan2 ke masjid untuk mencari seorang wali setelah muter2 dimasjid, kyai agil ketemu sm orang pake surban tinggi, lagi ngajar santrinya banyak, bilang sm gus dur ‘apa ini wali gus ?’ gus dur bilang, ‘bukan’ akhirnya cari lagi,ketemu sm orang yg pake surban dengan jidat hitam , gus dur bilang ‘bukan ini’ kemudian gus dur menghentikan langkah di dekat orang yg pake surban kecil biasa, duduk diatas sajadah, baru gus dur bilang, ‘ini adalah wali’ kemudian kyai agil memperkenalkan pada wali tersebut, dalam bahasa arab, dan terjemahannya seperti ini ‘Syekh, ini sy perkenalkan namanya ustad Abdurrahman Wahid, ketua organisasi islam terbesar di asia’, tujuan dari mencari wali ini ialah ingin didoakan oleh seorang wali. akhirnya wali ini berdoa untuk gus dur semoga di ridloi, di ampuni , hidupnya sukses. setelah itu wali tersebut pergi sambil menyeret sajadahnya dan mengatakan ‘dosa apa saya? sampai2 maqom/kedudukan saya diketahui oleh orang’… dalam sebuah atsar (perkataan ulama2) menyatakan bahwa ‘yang mengetahui kedudukan seorang wali adalah sesama wali itu sendiri’ 3. Weruh sak durunge wineruh. Artikel ini sy ambil dari http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/index/72/Selamat-Jalan-Gusdur Kiayi Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI yang ke-4 sudah lama saya kenal melalui siaran televisi, koran-koran dan buku-buku yang memuat pemikiran beliau. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah saat kami berdua pernah duduk bersama seharian penuh dari pukul 07.00 pagi hari sampai 19.00 malam hari. Kebersamaan kami berlangsung di Riau, tepatnya di kediaman Gubernur Riau, H. M. Rusli Zainal. Ketika itu Gubernur Riau sendiri yang meminta saya untuk menemani Gusdur sebagai ‘pengganti’ tuan rumah, karena Gubernur Riau tidak dapat terus menerus menemani Gusdur. Jadilah pertemuan kami itu berlangsung aman, tanpa ada gangguan sedikitpun. Saya masih ingat rombongan Gusdur saat itu lumayan ramai juga, di antaranya adalah Muhaimin Iskandar (sekarang menjadi Menteri Tenaga Kerja RI), dan saudara Lukman Edi (seorang anggota DPR RI). Sepanjang hari itu, kami duduk bersebelahan dan berbicara panjang lebar mulai dari masalah agama, masalah negara, masalah pemimpin-pemimpin Indonesia. Ketika membicarakan masalah agama kami terlibat dalam pembicaraan sangat serius. Saat itu kami berkesempatan untuk membuktikan secara langsung kata-kata orang yang banyak saya dengar, yang menyatakan bahwa Gusdur menguasai banyak kitab-kitab klasik. Maka kami membuka dialog dengan mencuplik kitab-kitab klasik yang pernah kami baca mulai dari karangan Imam As Syafi’i, Imam Harmaini, Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Katsir, dan lain-lain. Apa yang terjadi…? Gusdur ternyata bukan hanya mahir mengimbangi pembicaraan mengenai berbagai permasalahan yang kami kemukakan, namun dengan mahir beliau malah membacakan matan-matan semua persoalan tersebut dalam bahasa Arab yang asli, tepat seperti isi kitab yang asli. Tidak dapat kami pungkiri bahwa saat itu hati kami bergetar, kagum, heran, juga bahagia. Yakinlah kami bahwa Allah benar-benar Maha Kuasa dan telah menciptakan hamba-hambaNya dengan berbagai kelebihan. Subhanallah… Ketika membahas kepemimpinan nasional, Gusdur dengan disertai humor-humor kocak sana sini menjelaskan dan berdiskusi dengan kami tentang banyak hal. Satu yang sangat kami catat kuat dalam ingatan kami bahwa tidak pernah sekalipun terucap kata-kata jelek yang bersifat mempersalahkan seorangpun dari pemimpin nasional kita. Ketika membahas Pak Harto, nada ucapan beliau berubah menjadi sangat lembut dan serius. Saat itu Gusdur berkata dan kami masih ingat benar, beliau berucap begini: “Pak Harto sebagai seorang pemimpin nasional telah memberikan contoh sebuah pekerjaan yang terencana dan terukur. Program beliau direncanakan rapi dan diukur setelah waktu pelaksanaan berakhir.” Kemudian beliau berdiam berapa saat. Kemudian beliau tertawa kecil seraya berkata sambil tertawa: “laahha kalo saya, kerja kapan inget, terus saya buat saja..” Kesan saya saat itu muncul, sebagai orang Jawa asli, Gusdur terbiasa dengan sikap dan adab orang Jawa, mikul nduwur yaitu menghormati orang yang lebih tua. Beliau jujur dan humoris. Jujur dalam arti tidak menyembunyikan kelemahan dirinya. Pertemuan kami berjalan manis. Kami hanya berpisah beberapa menit saat waktu sholat Dzuhur dan Ashar tiba, untuk kemudian duduk kembali di meja yang sama. Ada beberapa keistimewaan Gusdur yang saya yakin muncul dari indera keenam beliau. Ketika beliau bertanya kepada kami: “Sampeyan itu kan orang Medan, kok kata Gubernur tadi, sampeyan orang Riau?” Kemudian kami menjelaskan bahwa ibu kami adalah orang Riau dari Rokan Hilir, Bagan Siapi-api. Namun kemudian beliau berkata: “Rumah sampeyan di Klender, sampeyan buat pengajian malam senin di Klender, terus sampeyan begini…sampeyan begitu..” yang kesemuanya tepat dan benar. Paling aneh adalah saat kami katakan bahwa kami akan pulang pukul 17.00 dengan pesawat Mandala, saat itu beliau berkata kepada saya dengan tegas: “Ndak, sampeyan pulang dengan saya naek Garuda jam 7 (malam).” Menanggapi ucapan itu kami diam saja sebab di tangan kami sudah ada tiket Mandala pukul 5 sore rute Pekanbaru-Jakarta. Ternyata pesawat Mandala delay sampai pukul 21.00, maka jadilah kami bertukar pesawat naik Garuda Indonesia bersama dengan Gusdur. Ada satu nasehat beliau kepada kami yang akan tetap kami ingat. “Negeri Riau adalah negerinya orang-orang Naqsyabandi. Dan dari sini telah muncul seorang wali besar Syaikh Abdul Wahab Rokan. Sampeyan musti jaga negeri ini, jangan dibiarkan begitu saja apalagi ibunya sampeyan orang asli negeri ini.” Saat itu beliau pegang tangan saya dan saya pun menjawab dengan rasa haru: “Iya Gus, saya pasti akan menjaga negeri saya ini.” Sekarang Gusdur telah berpulang bertemu dengan Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Setelah sebelumnya memandang dengan bashirah beliau kedatangan sang kakek tercinta, Ulama Besar pendiri NU untuk mendampingi beliau di alam barzakh. Kami berdoa semoga beliau nyaman berdekatan dengan Kakek dan Bapak beliau di tanah Jombang, Pesantren keluarga besar Syaikh Asy’ari. Selamat jalan Gusdur…Nasehat panjenengan senantiasa akan kami ingat sebagai kenangan manis antara orangtua kepada anaknya. Assalamu’alaika… [Dikutip dari dinding sebelah li ridoillahi ta'ala ] Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest Ramalan Gus Dur Tentang Said Aqil Terbukti Jitu Oleh lawupos on 3 April 2010 Dilihat sebanyak : 248 Kali Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sempat meramalkan KH Said Aqil Siradj terpilih menjadi ketua umum PBNU setelah berusia 55 tahun. Ternyata ramalan itu benar. Said Aqil Terpilih pada Muktamar ke-32 NU di Makassar pada usia 56 tahun. Cerita ini disampaikan sendiri oleh Said Aqil alam acara Tasyakuran Sukses Muktamar di kantor PP GP Ansor, Jakarta, Kamis (1/4) malam. ”Saya tidak menceritakan ini sebelum Muktamar, nanti dikira kampanye,” kata Said Aqil bergurau, seperti diberitakan situs resmi PBNU. Ceritanya, pada Muktamar ke-30 NU di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Said Aqil yang bertugas sebagai ketua panitia pusat berniat mengajukan diri sebagai calon ketua umum PBNU, dan Gus Dur tidak setuju. ”Nanti sampean itu baru jadi ketua umum PBNU setelah umur 55,” kata Gus Dur seperti ditirukan Said Aqil. ”Saya tidak mengada-ngada, ada saksinya santri-santri saya di Ciganjur,” tambahnya. Namun pada waktu itu Said Aqil tetap bersikeras mencalonkan diri, dan ternyata ia kalah bersaing dengan KH Hasyim Muzadi. Pada Muktamar ke-31 NU di Solo, Said masih berusia 50 tahun dan tidak ukut dalam bursa pencalonan. ”Pada Muktamar Makassar saya tenang saja karena Gus Dur sudah bilang begitu. Kalau saya tidak jadi berarti kewalian Gus Dur diragukan,” katanya disambut tawa hadirin. Dalam kesempatan itu Said Aqil mengajak warga Nahdliyin yang hadir untuk membacakan surat Al-Fatihah khusus untuk Gus Dur. ”Saya ini tidak belajar kitab kuning dari Gus Dur, kalau belajar kitab kuning ya ke Kiai Mahrus Lirboyo dan Kiai Ali Maksum Krapyak. Saya belajar dari Gus Dur ilmu ahwal, ilmu tentang prilaku,” katanya sebelum memimpin doa. Doa dan bacaan surat Al-Fatihah malam itu juga ditujukann kepada para pendiri NU antara Lain KH Hasyim Asy’ari. KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Ridlwan Abudllah dan KH Mas Alwi Abdul Aziz.(elpos) Said Aqil Siraj: Arab Saudi Masih Dalam Masa Jahiliyah 29 Jun 2011 Komentar Dimatikan by Raka yusna Wiryawan dalam Gus Dur, Opini Publik Said Aqil Siraj: Arab Saudi Masih Dalam Masa Jahiliyah RIMANEWS – Ketua Nahdhatul Ulama Indonesia, Said Aqil Siraj, mengecam hukuman pancung terhadap seorang TKI perempuan di Arab Saudi, yang divonis tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Sayid Aqil menyatakan, “Arab Saudi sampai saat ini masih berada di masa Jahiliyah.” Sebagaimana dilaporkan IRNA, Ketua PBNU itu menegaskan, “Bagaimana mungkin seorang tersangka divonis dan dipancung tanpa pembelaan.” Ia juga menilai orang-orang Saudi tidak beradab dan tidak memiliki jiwa kemanusiaan. Ditambahkannya bahwa masalah ini kembali pada budaya rakyat di negara itu dan bahwa mereka hingga kini masih berada di masa Jahiliyah. Menurutnya, para pegawai Indonesia di banyak negara bahkan yang non-Muslim, tidak memiliki masalah seperti yang dihadapi di Arab Saudi, dan mereka diperlakukan secara manusiawi. Namun sayangnya di Arab Saudi tidak ada perliaku seperti itu. Said menjelaskan bahwa orang-orang Saudi tidak dapat menjalin hubungan afektif dan persahabatan seraya menegaskan bahwa dirinya pernah studi di Arab Saudi selama bertahun-tahun, namun selama itu pula, dia tidak mampu menjalin hubungan yang adil dan bersahabat dengan mereka. Menyinggung perilaku buruk dan penyalahgunaan orang-orang Saudi terhadap para TKI, Said mengatakan bahwa orang-orang Saudi ketika berbicara mereka selalu menggunakan kata-kata yang tidak tepat dan kasar serta sama sekali tidak memperhatikan kesopanan. Ketua PBNU menilai pengiriman TKI perempuan ke Arab Saudi sebagai kekeliruan mengingat sebagian besar masyarakat Saudi memiliki pemikiran kolot dan Jahiliyah, serta perilaku buruk mereka sangat terkait dengan budaya dan cara berpikir mereka. Pemerintah Saudi menghukum pancung Ruyati dengan tuduhan membunuh istri majikannya di kota Mekkah. NU beberapa hari lalu berniat mengeluarkan fatwa haram pengiriman TKI ke Arab Saudi. (ian/irb) sumber : http://rimanews.com/read/20110629/33176/said-aqil-siraj-arab-saudi-masih-dalam-masa-jahiliyah Sabtu, 05 Juni 2010 Cerita tentang Karomah Gus Dur (sebagai bukti-bukti tanda-tanda kewalian) Published on January 6, 2010 in Foto-foto, Mencintai Rasullullah dan Ahlul Bait, Artikel Islam and Renungan. Artikel ini saya tulis sendiri , bagi Anda sebagai pembaca yang tidak menyukai tulisan/ketikan saya ini dilarang keras untuk mengumpat karena itu bukan akhlaq Rasulullah !!!. Menurut keterangan Kyai Agil siraj (Ketua PBNU) - SCTV dalam acara Mengenang 7 Hari Gus Dur tanggal 6 Januari 2010 jam 10.58 1. Kisah Makam Surya Memesa dan Ziarah Syekh Ali Uraidi bin Imam Ja’far Shadiq Di sela-sela acara tahlilan hari ke-7 wafatnya Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa (5/1), Said Agil pernah diajak ziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan. Gus Dur membawanya ke sebuah kuburan yang sepi. Untuk mencapai lokasi saja, harus menyebrang sebuah situ (danau). Saat tiba, Gus Dur menuju sebuah makam. Saat ditanya Said Agil, siapa jenazah yang telah dikebumikan di tanah ini? Gus Dur tidak langsung menjawab. “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan,” ujar Said Agil meniru ucapan Gus Dur. Orang sakti yang dimaksud Gus Dur, sambung Said Agil, ternyata bernama Surya Mesesa, seorang penyebar agama Islam di pulau Jawa. Gus Dur memberitahukan kepada Said Agil, mengapa Surya Mesesa bisa masuk Islam. “Untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syeikh Ali. Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujarnya. Ceritanya, Gus Dur bersama Said Aqil ingin membacakan surat Al-Fatihah untuk Syekh Ali sebanyak seribu kali. Namun ketika mereka baru membacakan al-Fatihah sebanyak 30 kali tiba-tiba seorang polisi datang mengusir mereka dan mengatakan, “Musyrik, haram!” Untung saja mereka bukan penduduk setempat, sehingga tidak dihukum berat, karena bagi mereka ziarah kubur adalah larangan berat. Namun Gus Dur sempat marah kepada polisi itu, “Kamu musuh Allah, Wahabi,” kata Gus Dur seperti dikutip Said Aqil saat memberikan testimoninya usai memimpin tahlilal 7 hari di Ciganjur, Selasa (5/1) malam. Said Aqil bercerita, Gus Dur berziarah ke makam Syekh Ali al-Uraidhi karena Syekh ini konon sempat mengalahkan seorang yang hebat bernama Surya Mesesa. Ia merasa tak terkalahkan. Bahkan untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syekh Ali al-Uraidhi. “Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujar Said Aqil. Cerita ini diperolehnya dari Gus Dur saat ia diajak berziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan. Said Aqil bertanya, “Makam siapa Gus?” Gus Dur menjawab, “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan.” Karena itulah Gus Dur berziarah ke makam tersebut dan kemudian ke makam Syekh Ali al-Uraidhi. Menurut Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siradj, Gus Dur memang gemar berziarah ke makam para ulama dan sesepuh. Selain mendoakan mereka, dengan cara itu Gus Dur merangkai sejarah peristiwa yang terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, yang bahkan tidak tertulis dalam buku-buku sejarah. Namun ada yang yang menarik ketika Gus Dur berziarah kesuatu makam, kata Kang Said. ”Kalau ada makam yang diziarahi Gus Dur, pasti kemudian makam itu ramai diziarahi orang. Gus Dur memang tidak hanya memberkahi orang yang hidup, tapi juga orang yang sudah mati,” katanya disambut tawa hadirin. (nam) (sumber 1 , sumber 2) 2. Bertemu dan didoakan wali di madinah setelah berziarah (point 1) , beliau berdoa di raudah, malamnya gus dur ngajak kyai agil jalan2 ke masjid untuk mencari seorang wali setelah muter2 dimasjid, kyai agil ketemu sm orang pake surban tinggi, lagi ngajar santrinya banyak, bilang sm gus dur ‘apa ini wali gus ?’ gus dur bilang, ‘bukan’ akhirnya cari lagi,ketemu sm orang yg pake surban dengan jidat hitam , gus dur bilang ‘bukan ini’ kemudian gus dur menghentikan langkah di dekat orang yg pake surban kecil biasa, duduk diatas sajadah, baru gus dur bilang, ‘ini adalah wali’ kemudian kyai agil memperkenalkan pada wali tersebut, dalam bahasa arab, dan terjemahannya seperti ini ‘Syekh, ini sy perkenalkan namanya ustad Abdurrahman Wahid, ketua organisasi islam terbesar di asia’, tujuan dari mencari wali ini ialah ingin didoakan oleh seorang wali. akhirnya wali ini berdoa untuk gus dur semoga di ridloi, di ampuni , hidupnya sukses. setelah itu wali tersebut pergi sambil menyeret sajadahnya dan mengatakan ‘dosa apa saya? sampai2 maqom/kedudukan saya diketahui oleh orang’… dalam sebuah atsar (perkataan ulama2) menyatakan bahwa ‘yang mengetahui kedudukan seorang wali adalah sesama wali itu sendiri’ 3. Weruh sak durunge wineruh. Artikel ini sy ambil dari http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/index/72/Selamat-Jalan-Gusdur Kiayi Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI yang ke-4 sudah lama saya kenal melalui siaran televisi, koran-koran dan buku-buku yang memuat pemikiran beliau. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah saat kami berdua pernah duduk bersama seharian penuh dari pukul 07.00 pagi hari sampai 19.00 malam hari. Kebersamaan kami berlangsung di Riau, tepatnya di kediaman Gubernur Riau, H. M. Rusli Zainal. Ketika itu Gubernur Riau sendiri yang meminta saya untuk menemani Gusdur sebagai ‘pengganti’ tuan rumah, karena Gubernur Riau tidak dapat terus menerus menemani Gusdur. Jadilah pertemuan kami itu berlangsung aman, tanpa ada gangguan sedikitpun. Saya masih ingat rombongan Gusdur saat itu lumayan ramai juga, di antaranya adalah Muhaimin Iskandar (sekarang menjadi Menteri Tenaga Kerja RI), dan saudara Lukman Edi (seorang anggota DPR RI). Sepanjang hari itu, kami duduk bersebelahan dan berbicara panjang lebar mulai dari masalah agama, masalah negara, masalah pemimpin-pemimpin Indonesia. Ketika membicarakan masalah agama kami terlibat dalam pembicaraan sangat serius. Saat itu kami berkesempatan untuk membuktikan secara langsung kata-kata orang yang banyak saya dengar, yang menyatakan bahwa Gusdur menguasai banyak kitab-kitab klasik. Maka kami membuka dialog dengan mencuplik kitab-kitab klasik yang pernah kami baca mulai dari karangan Imam As Syafi’i, Imam Harmaini, Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Katsir, dan lain-lain. Apa yang terjadi…? Gusdur ternyata bukan hanya mahir mengimbangi pembicaraan mengenai berbagai permasalahan yang kami kemukakan, namun dengan mahir beliau malah membacakan matan-matan semua persoalan tersebut dalam bahasa Arab yang asli, tepat seperti isi kitab yang asli. Tidak dapat kami pungkiri bahwa saat itu hati kami bergetar, kagum, heran, juga bahagia. Yakinlah kami bahwa Allah benar-benar Maha Kuasa dan telah menciptakan hamba-hambaNya dengan berbagai kelebihan. Subhanallah… Ketika membahas kepemimpinan nasional, Gusdur dengan disertai humor-humor kocak sana sini menjelaskan dan berdiskusi dengan kami tentang banyak hal. Satu yang sangat kami catat kuat dalam ingatan kami bahwa tidak pernah sekalipun terucap kata-kata jelek yang bersifat mempersalahkan seorangpun dari pemimpin nasional kita. Ketika membahas Pak Harto, nada ucapan beliau berubah menjadi sangat lembut dan serius. Saat itu Gusdur berkata dan kami masih ingat benar, beliau berucap begini: “Pak Harto sebagai seorang pemimpin nasional telah memberikan contoh sebuah pekerjaan yang terencana dan terukur. Program beliau direncanakan rapi dan diukur setelah waktu pelaksanaan berakhir.” Kemudian beliau berdiam berapa saat. Kemudian beliau tertawa kecil seraya berkata sambil tertawa: “laahha kalo saya, kerja kapan inget, terus saya buat saja..” Kesan saya saat itu muncul, sebagai orang Jawa asli, Gusdur terbiasa dengan sikap dan adab orang Jawa, mikul nduwur yaitu menghormati orang yang lebih tua. Beliau jujur dan humoris. Jujur dalam arti tidak menyembunyikan kelemahan dirinya. Pertemuan kami berjalan manis. Kami hanya berpisah beberapa menit saat waktu sholat Dzuhur dan Ashar tiba, untuk kemudian duduk kembali di meja yang sama. Ada beberapa keistimewaan Gusdur yang saya yakin muncul dari indera keenam beliau. Ketika beliau bertanya kepada kami: “Sampeyan itu kan orang Medan, kok kata Gubernur tadi, sampeyan orang Riau?” Kemudian kami menjelaskan bahwa ibu kami adalah orang Riau dari Rokan Hilir, Bagan Siapi-api. Namun kemudian beliau berkata: “Rumah sampeyan di Klender, sampeyan buat pengajian malam senin di Klender, terus sampeyan begini…sampeyan begitu..” yang kesemuanya tepat dan benar. Paling aneh adalah saat kami katakan bahwa kami akan pulang pukul 17.00 dengan pesawat Mandala, saat itu beliau berkata kepada saya dengan tegas: “Ndak, sampeyan pulang dengan saya naek Garuda jam 7 (malam).” Menanggapi ucapan itu kami diam saja sebab di tangan kami sudah ada tiket Mandala pukul 5 sore rute Pekanbaru-Jakarta. Ternyata pesawat Mandala delay sampai pukul 21.00, maka jadilah kami bertukar pesawat naik Garuda Indonesia bersama dengan Gusdur. Ada satu nasehat beliau kepada kami yang akan tetap kami ingat. “Negeri Riau adalah negerinya orang-orang Naqsyabandi. Dan dari sini telah muncul seorang wali besar Syaikh Abdul Wahab Rokan. Sampeyan musti jaga negeri ini, jangan dibiarkan begitu saja apalagi ibunya sampeyan orang asli negeri ini.” Saat itu beliau pegang tangan saya dan saya pun menjawab dengan rasa haru: “Iya Gus, saya pasti akan menjaga negeri saya ini.” Sekarang Gusdur telah berpulang bertemu dengan Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Setelah sebelumnya memandang dengan bashirah beliau kedatangan sang kakek tercinta, Ulama Besar pendiri NU untuk mendampingi beliau di alam barzakh. Kami berdoa semoga beliau nyaman berdekatan dengan Kakek dan Bapak beliau di tanah Jombang, Pesantren keluarga besar Syaikh Asy’ari. Selamat jalan Gusdur…Nasehat panjenengan senantiasa akan kami ingat sebagai kenangan manis antara orangtua kepada anaknya. Assalamu’alaika… Diposkan oleh Robert Tajuddin di 07.43 Selasa, 05 April 2011 13:12 Haul Buntet Hormati Gusdur, Sesepuh Buntet Gandeng Alissa Sesepuh Pondok Pesantren Buntet KH Nahduddin Royandi Abbas (Mbah Din), mengajak puteri Mantan Presiden KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) Allisa Abdurrahman Wahid naik ke atas panggung pengajian akbar haul almarhumin di pondok Buntet, Sabtu malam (2/4). Hal itu terjadi ketika Mbah Din diminta panitia memberikan kata sambutan pada acara puncak haul. Acara tersebut dihadiri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Ketua Umum Pengurus Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siradj dan dihadiri puluhan ribu warga. "Saya menghormati Gus Dur dan keluarganya. Kehadiran puteri sulung Almarhum Gus Dur di Buntet merupakan kebahagiaan tersendiri. Saya mengucapkan selamat datang dan doa senantiasa tercurah kepada keluarga Gus Dur," tutur Mbah Din. Mbah Din yang baru lima hari di Indonesia mengatakan kesehatannya belum pulih sepulangnya dari London, Inggris. "Saya masih kurang sehat. Saya serahkan sambutan kepada KH Hasanuddin Kriyani," ujarnya. Sementara itu, dalam sambutannya KH Said Aqil menyatakan, NU baru saja rapat pleno di Ponpes Krapyak, Yogyakarta. Salah satunya mengenai deradikalisasi yang akhir-akhir ini cara pikir radikal banyak muncul. "Di Manis Lor, Kuningan, ada aksi kekerasan. Menurut NU tidak benar. Tidak ada kekerasan dalam Islam. Tindak kekerasan adalah musuh agama," katanya. Tuesday, July 2, 2013 Kiai Said Yakin 100 persen Gus Dur Wali Gus Dur memiliki pergaulan yang sangat luas, tetapi tak banyak yang turut menyaksikan karomah yang dimilikinya. Diantara sedikit orang itu adalah KH Said Aqil Siroj yang sekarang menjabat sebagai ketua umum PBNU. Dengan melihat secara langsung karomah Gus Dur, tak heran Kiai Said yakin 100 persen Gus Dur merupakan seorang wali atau kekasih Allah. Pengalaman spiritual Kang Said bersama Gus Dur ini akan dimuat secara bersambung di NU Online. ; Kang Said yang mengambil disertasi soal tasawwuf ini menjelaskan, terdapat dua kategori wali, yaitu waliyullah dan wali hukukillah. Waliyullah merupakan wali yang pencapaian kewaliannya tidak malalui prosedur normatif, tetapi Allah langsung mengangkatnya menjadi seorang wali. Beberapa wali yang masuk kategori ini diantaranya adalah Rabiah Adawiyah, dari seorang pernyanyi, kemudian taubat dan menjadi wali dengan tingkatan yang sangat tinggi. Kemudian Ibrahim bin Adham, seorang pangeran kerajaan, kemudian taubat dan pindah haluan dengan menekuni kehidupan keagamaan, terus diangkat menjadi wali. Sementara itu, wali dalam arti normatif atau berproses melalui kehidupan sufi, ia harus melalui berbagai tahapan sebelum akhirnya menjadi wali, dari taubat, wara, menjadi lebih selektif, terus zuhud atau menganggap kecil dunia, sabar, tawakkal, ridho, syukur, tahalli, tajalli, sampai akhirnya mencapai makrifat. “Gus Dur termasuk yang waliyullah, yang loncat. Terserah Allah, yang dia maui yang dijadikan,” terangnya. Proses menuju kesufian juga bisa ditinjau dari aspek metafisik dan tasawwuf. Pendekatan tasawwuf menekankan latihan, sementara metafisik menekankan renungan. Wali yang memulai dari kajian filsafat diantaranya Ibnu Sina dan Ibnu Arobi, dari filsafat kemudian masuk ke dunia sufi dan melakukan riyadhoh dan mujahadah. Para sufi yang melakukan keduanya, adalah Imam Ghozali dan Imam Junaidi al Bagdadi. “Imam Junaidi termasuk juga filosof, tetapi mungkin jarang orang membaca tulisan-tulisannya,” jelasnya. Gus Dur menurutnya, memiliki banyak kelebihan, diantaranya, memiliki gen yang baik karena berlatar belakang keluarga ulama yang disegani masyarakat, kedua, otaknya cerdas dan ketiga setelah bosan dengan analisis rasional, Gus Dur berusaha mengembangkan instuisinya. Kiai Said juga menegaskan, sufisme hanya hanya milik Islam, tetapi merupakan nilai universal yang ada pada setiap agama. Agama Nasrani, Hindu, Konghucu, Budha, bahkan para filosof Yunani kuno juga pengikut sufi seperti Pytagoras dan Platinus. Dijelaskannya, agama yang paling sedikit dalam aspek kesufian adalah Yahudi, yang sangat menonjol aspek materialismenya. Yang menganut sufi adalah sekte Kabbala (kapalistik). (mkf) Posted by event namnam at 3:37 AM Perkataan Gus Dur dalam buku Douglas E Ramage Posted: May 2, 2012 in Tentang Gus Dur Tags: Douglas E. Ramage, Gus Dur, ICMI, NU, Pancasila 0 Buku yang ditulis oleh Douglas E. Ramage berjudul Percaturan Politik di Indonesia, diterbitkan Mata Bangsa, mengutip perkataan-perkataan Gus Dur, terutama didasarkan atas wawancaranya dengan Gus Dur. Di antara kutipan-kutipan itu saya susun kembali dalam tiga bagian penting, yaitu: Negara Pancasila, NU, dan ICMI. Selanjutnya bisa dlihat dan dibaca di bawah ini: (more…) Gus Dur Tentang Tradisi dan Modernitas Posted: April 26, 2012 in Tentang Gus Dur Tags: Dinamisasi, Gus Dur, Modernisasi, Pribumisasi, Tradisi 0 Berbicara tentang tradisi dan modernitas dalam pandangan Gus Dur, mesti dimulai dengan pengertian tentang kebudayaan atau budaya. Menurut Gus Dur kebudayaan adalah “seni hidup yang mengatur kelangsungan hidup dan menjadi pilar-pilar untuk menjaga tatanan sosial. Dengan kata lain kebudayaan adalah suatu yang luas mencakup inti hidup dari kehidupan suatu masyarakat”; atau “penemuan suatu masyarakat dalam arti buah yang hidup dari interaksi sosial antara manusia dan manusia, kelompok dan kelompok, dan kebudayaan hanya menjadi kebudayaan kalau ia hidup dan mengacu pada kehidupan.” Pengertin ini adalah pengertian budaya secara luas. Karena kebudayaan berhubungan dengan masyarakat, maka kebudayaan juga dimaksudkan Gus Dur dengan “kolektivitas dari pengalaman lahir dan batin seluruh warga masyarakat, baik didasarkan pada metabolisme biologis atau kebutuhan psikologis, dan kecanggihan pemikiran.” Akan tetapi Gus Dur juga menyebutkan: “Budaya adalah kegiatan berpikir, bertindak dan merasa yang dilakukan masyarakat yang menampilkan identitasnya sebagai suatu kesatuan.” Definisi ini menjembatani arti luas dan sempit yang berkembang tentang budaya: pertama, yang luas berarti “keseluruhan pola perilaku sosial dan individual manusia di suatu kawasan (atau dalam pengertian di atas); kedua, pengertian sempit, yaitu “buah penalaran dan pandangan belaka, sehingga mengarah pada hasil seni dan sastra.” (more…) Gus Dur dan Dzikir/Wirid Posted: April 24, 2012 in Tentang Gus Dur Tags: al-Fatihah, Dzikir, Gus Dur, Wirid 0 KH. Husein Muhammad mengatakan: “Orang-orang yang dekat dengan Gus Dur bercerita bahwa jika tidak ada teman yang diajak bicara dan beliau sedang sendiri, maka dalam waktu yang sepi itu beliau membaca surah al-Fatihah, entah berapa kali, lalu tawassul kepada Nabi dan berdoa untuk dirinya sendiri, untuk para wali dan ulama yang telah wafat. Itulah jalan (tarekat) spiritualnya” (dalam Gus Dur Bertahta di Sanubari, hlm. 177). Penuturan KH. Husein Muhammad ini dapat dirujuk dan dikonfirmasi juga oleh apa yang dinyatakan oleh KH. Said Aqil Siraj. Ketika di Mekkah, cerita KH. Said Aqil Siraj, dia diajak Gus Dur untuk berkunjung dan mencari makam Imam Ali al-Uraidhi (termasuk sesepuh keturunan Nabi Muhammad), dan mencari seorang waskita di sebuah masjid. Gus Dur mengatakan: “Nanti kita membaca al-Fatihah seribu kali…” Mereka akhirnya menemukan makam Imam `Ali al-Uradhi di tengah perkebunan kurma. Cerita ini dikemukakan oleh KH. Said Aqil Siraj di berbagai tempat, termasuk di beberapa acara televisi pasca meninggalnya Gus Dur. (more…) Gus Dur dan Shalat Malam Posted: April 14, 2012 in Tentang Gus Dur Tags: Gus Dur, shalat, shalat malam 0 Alissa Qatrunnada, sang anak sulung Gus Dur mengungkapkan: “…terus bapak juga kalau shalat malam itu di kamar saya, karena kamar bapak memang lebih sempit daripada kamar saya. Setiap saya ngelilir (bangun) saya tahu bapak itu shalat di kamar saya. Kemudian kembali ke ruang tamu…Tapi dia tidak mewajibkan anak-anaknya harus shalat malam. Bapak itu hatinya lembut sekali. Jadi tidak tega kalau memaksakan anak-anaknya. Itu bangun malam bagiannya ibu…” (Gus Dur di Mata Keluarga dan Sahabat, hlm. 48). Dari penuturan Alissa Qatrunnada ini, penulis memahami kaitannya dengan Gus Dur ada dua hal penting: dalam ber- suluk shalat adalah cara yang penting untuk menuju hadirat-Nya; dan Gus Dur membiasakan shalat malam, karena laku ini telah dibuktikan secara ampuh oleh bergenerasi-generasi di kalangan para sufi dan orang-orang shalih-shalihah. Shalat malam membeningkan hati dan salah satu sarana untuk bisa dekat di sisi-Nya, untuk mencapai futuh dan kasyâf. (more…) Gus Dur dan Guru Rohani Posted: April 10, 2012 in Tentang Gus Dur Tags: Gus Dur, Hasyim Asy`ari, Uwaisyiyah 0 Mahfud MD mengatakan ketika Gus Dur diminta untuk mundur dari Fordem (Forum Demokrasi) oleh Marsillam Saimanjuntak, Gus Dur menjawab bahwa orang yang lebih pantas memimpun Fordem memang orang yang tekun dan teliti seperti Marsillam, lalu Gus Dur mengatakan: “Saya sendiri sudah sangat sibuk. Kata Mbah Hasyim, saya akan segera jadi presiden” (Mahfud MD, Gus Dur: Islam, Politik, dan Kebangsaan, hlm. 254). Di bagian lain Mahfud MD mengatakan: “Kalau sedang berbincang dengan saya, Gus Dur sering bercerita bahwa “tadi malam saya ditemui Mbah Mahdum (Sunan Bonang) atau “Mbah Hasyim berpesan begini…” (Ibid., hlm. 255). (more…) Gus Dur dan Pengosongan Diri Posted: April 10, 2012 in Tentang Gus Dur Tags: Fana', Gus Dur, Ibnu Atha'illah, Pengosongan Diri 0 Gus Dur mengutip Ibnu Atha’illah as-Sakandari: “Idfin wujûdaka fî ardhi al-humûl. Famâ nabata mimmâ lam yudfan lâ yatimmu natâ’ijuhu (tanamlah keberadaan dirimu di tanah yang rendah/tidak dikenal, sebab sesuatu yang tumbuh dari sesuatu yang tidak ditanam tidak akan sempurna buahnya)” (Ibnu Atha`illah as-Sakandari, al-Hikâm, hikmah No. 11). (more…) Gus Dur dan Jalan Taubat Posted: April 10, 2012 in Tentang Gus Dur Tags: Gus Dur, taubat 0 Gus Dur sering melantunkan munâjat taubat atau permohonan kepada Allah agar diampuni segala kesalahannya, dengan qashîdah yang sangat terkenal: Ilâhî lastu li al-firdausi ahlân, walâ aqwâ `alâ an-nâri al-jahîmi. Fahablî taubatan waghfir dzunûbî, fa’innaka ghâfiru dzanbi al-azhîmi. Artinya: “Wahai Tuhanku, aku bukanlah orang yang pantas masuk surga, tetapi aku juga tidak kuat dengan api neraka, karena itu berikan kepadaku kemampuan bertaubat dan ampuni dosa-dosaku, karena hanya Engkaulah yang bisa memberi maaf atas dosa-dosa yang besar.” Munâjat taubat itu, dapat dijumpai di berbagai CD yang beredar secara luas, ketika Gus Dur sedang berbicara dalam sebuah acara di Malang. Beberapa kesaksian juga dapat dilihat dalam versi MP3 munâjat Gus Dur tentang qashîdah di atas, yang juga sudah beredar luas di masyarakat. KH. Husein Muhammad juga menuturkan itu dalam buku Gus Dur Bertahta di Sanubari (hlm. 178). (more…) • Aplikasi Nomao for android Aplikasi ini adalah aplikasi unik yang tidak sengaja saya temukan di Internet..cara kerja aplikasi ini mungkin seperti X-ray yang dapat me... • KH.MAKSUM JAUHARI (GUS MAKSUM SANG PENDEKAR) Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan dunia persilatan, tentu kita tidak asing lagi dengan Nama “PAGAR NUSA” yaitu ikatan pencak ... • SEMUA TENTANG GUS DUR ILMU LADUNI GUS DUR Adalah ilmu yang langsung diperoleh dari Allah, bisa berupa ilham, sehingga jika seseorang memiliki ilmu ini, i... • Fakta Bung Tomo yang Jarang Diulas Sutomo lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920. Ia melewati masa kecil hingga dewasa di Surabaya. Arek Suroboyo asli. Tapi, nama masyhurnya... • Camfrog 6.0 Pro + Activation Hai semua! Kali ini krisna akan bagikan software camfrog terbaru . Yaitu Camfrog 6.0 Pro + Activation Code ! Temen-temen bisa download sof... • Billing Hotspot License Gratis Billing Hotspot License Gratis Pasti ini yang Sampeyan cari... Udah ubek-ubek google gak ketemu2 Billing Hotspot bener-bener Gratis ... • Gus Miek Bertemu KH. Mubasyir Mundzir KH. Mubasyir Mundzir Gus Miek Biasa dikatakan bahwa KH. Munbasyir Mundzir adalah orang nomor satu yang berdiri di belakang... • Karomah KH. Abdul Hamid Pasuruan Suatu saat dimasa orde baru ingin mengajak kyai Hamid masuk partai pemerintah. kyai Hamid menyambut... • Syekh Maulana Malik Ibrahim Jauh sebelum Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa, sebenarnya sudah ada masyarakat Islam di daerah-daerah pantai utara. Term... • Download game gratiss Gan.. Dengan main game semua stres bisa jadi ilang bukan, setidaknya mengurangi suntuk setelah beraktifitas. download free pc gameBahkan dengan ... Categories • Album Pribadi (7) • Antivirus (8) • Artikel (11) • Bacaan (14) • Billing Free (4) • Converter (3) • Crack (10) • Design (19) • Games (19) • Golf (24) • Internet tool (46) • Kisah Poro Wali Songo dan Ulama (34) • Memorial (1) • Multimedia (27) • OS Windows (6) • Printer (8) • Recovery (1) • Rental Multimedia (5) • Swimmingpool (5) • Tips & Trik (9) • Traveling (2) • Ultilities (58) • Warnet (1) PAYPAL yahoo messeger AGENTS SMS Free Send Free SMS to Indonesia Phone Numbers huruf lagi Categori Copyright Text Sabtu, 15 Juni 2013 SEMUA TENTANG GUS DUR 6/15/2013 03:17:00 PM | Diposkan oleh Sugi Anto | ILMU LADUNI GUS DUR Adalah ilmu yang langsung diperoleh dari Allah, bisa berupa ilham, sehingga jika seseorang memiliki ilmu ini, ia tak perlu belajar, karena Allah telah memberikan pengetahuan secara langsung kepada orang yang hatinya bersih. Jiwa yang bersih dapat berkomunikasi langsung dengan sumber ilmu, yaitu Allah. Istilah ilmu ladunni berasal dari sebuah ayat Qur’an, diambil dari kalimat ‘min ladunna ilman’, … ilmu yang berasal dari sisi Kami (Allah) tercantum dalam QS Al-Kahfi : 65. “… lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. Ayat ini menceritakan kisah pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam sebuah perjalanan. Dan Khidir menunjukkan sejumlah rahasia dan hikmah dibalik sebuah peristiwa yang tidak diketahui oleh Musa. Jika seorang mukmin telah diberi ilmu ini, maka ia dapat mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, baik pada masa sekarang atau yang akan datang, dengan firasat tajam yang dimilikinya. Sebagian kiai di lingkungan Nahdlatul Ulama percaya bahwa Gus Dur merupakan orang yang diberi keberkahan oleh Allah dengan ilmu ladunni, sehingga bisa memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas tanpa susah-susah belajar atau mampu meramalkan masa depan. Keyakinan para kiai akan ilmu ladunni Gus Dur ini diungkapkan oleh mantan ketua PBNU H Mustofa Zuhad Mughni, karena Gus Dur memiliki keikhlasan yang luar biasa dan tidak menjalankan maksiat. Akan kemampuan otak Gus Dur, ia sering membuktikan sendiri. Seringkali sehabis pulang dari luar negeri, Gus Dur membawa buku-buku baru, yang masih terbungkus rapi. Kemudian, buku tersebut diserahkan kepadanya untuk dibaca. Seminggu kemudian, ia mengembalikan buku tersebut, dan hanya dengan melihat daftar isi, referensi dan kesimpulan, Gus Dur sudah mampu mengajak diskusi isi buku tersebut. “Gus Dur sudah paham isinya semua, padahal kita harus baca penuh,” katanya. Menurutnya, kamampuan ilmu Gus Dur ini lebih dari jenius, karena gabungan dari daya ingat yang kuat dan analisa yang tajam. “Bacaannya banyak, ingatannya juga kuat,” jelasnya. Salah satu bukti kuatnya ingatan Gus Dur adalah ia mampu mengingat lebih dari 2000 nomor telepon. Saat sekretaris pribadinya masih mencari sebuah nomor telepon di buku catatan, Gus Dur dengan enteng langsung menyebutkan nomornya. Daya ingat Gus Dur ini mulai menurun ketika kapalanya harus di opeasi akibat stroke. Mustofa Zuhad juga menuturkan, dalam pertemuannya dengan Duta Besar Iran untuk Indonesia tahun 1991, sayangnya ia lupa namanya. Sang Dubes berpendapat orang yang memiliki kelemahan fisik di inderanya, maka ia memiliki kelebihan di tempat lain. Indra penglihatan Gus Dur sejak lama sudah lemah, dengan ukuran minus 23. Gus Dur Wali ???? Polling yang dilakukan NU Online (30/12/10 – 11/2/11) tentang kewalian Gus Dur menunjukkan hasil 49% percaya Gus Dur seorang wali, 27% mempercayai Gus Dur orang cerdas dan multibakat, 18% menganggap Gus Dur orang biasa dan 6% mengaku tidak tahu. Wakil Sekjen PBNU, Enceng Sobirin Najd mengaku tidak heran terhadap persepsi masyarakat tersebut, karena kewalian Gus Dur sangat masuk akal. “Gus Dur memiliki banyak keistimewaan, tak hanya terlihat saat hidup, tetapi juga setelah meninggal dan kelebihannya ini tak hanya diakui oleh para pengikutnya, tetapi juga musuh-musuhnya,” katanya, Jum’at lalu. Ia menjelaskan banyak sekali pernyataan dan ungkapan Gus Dur yang terbukti setelah ia meninggal, salah satu yang sering dirujuk orang adalah tentang sikap DPR yang seperti taman kanak-kanak. Masyarakat Indonesia, kata Enceng yang berkarir lama di lembaga penelitian LP3ES, meyakini bahwa semuanya yang bisa dipercaya tak harus inderawi,. Fenomena wali merupakan salah satu wujud keyakinan adanya hal-hal yang sifatnya spiritual dan diluar kemampuan manusia biasa. “Menurut ajaran Islam, yang tahu seorang wali diantara sesama wali itu sendiri. Kewalian akan dipercaya orang kalau sudah meninggal. Gus Dur masuk kriteria seperti itu,” katanya. Kalangan yang mengikuti pendekatan saintis, hanya percaya apa saja yang bisa dinalar, sehingga tidak percaya adanya fenomena kewalian. Tetapi mereka tetap percaya bahwa seseorang memiliki kelebihan tertentu diatas kemampuan rata-rata manusia. Adanya kewalian Gus Dur, melalui sebuah polling melalu jaringan internet juga menunjukkan, kalangan yang memiliki akses luas terhadap intenet dan informasi secara global tetap meyakini fenomena kewalian, termasuk pada Gus Dur. Gus Ipul: Keberanian Gus Dur Tanda Kewalian Tak ada orang yang tahu seseorang telah menjadi wali atau kekasih Allah kecuali wali lainnya. Meskipun demikian H Saifullah Yusuf, wakil gubernur Jawa Timur juga yakin akan kewalian yang ada pada Gus Dur. Ia merujuk pada sebuah ayat Qur’an, Ala inna aulia allahi la khoufun alaihim wala hum yahzanuun, yang dalam arti bebasnya, para wali merupakan orang yang tidak punya rasa takut kecuali pada Allah. “Gus Dur pada batas tertentu diatas rata-rata keberaniannya, ketakutannya terhadap urusannya dunia terbukti tak pernah menghalangi perjuangan dia untuk, katakanlah menolong ummat, membantu masyarakat, maka ia tak punya rasa takut kepada apa pun kecuali Allah,” katanya, Mengenai aspek mistis dari Gus Dur Saifullah Yusuf yang masih keponakan ini mengaku tak pernah melihat sesuatu yang di luar nalar dari Gus Dur. “Ndak ada mistis dari Gus Dur, tetapi beliau ahli silaturrahmi, baik pada yang hidup atau pun yang mati. Al ahyak minhum wal amwat. Wong NU kalau ketemunya yang urip (hidup) saja, kurang NU. Diparani kabeh (didatangi semua), ini ciri khas NU,” tuturnya. Tentang hubungan pribadinya yang ngak selalu cocok, ia menjelaskan, Gus Dur yang ngajarkan perbedaan. “Gus Dur ngerti ini konsekuensi apa yang selama ini diyakini. Dia membesarkan orang yang suatu ketika berhadapan dengan dirinya, baik dari sisi pemikiran dan politik, itu biasa, baginya. Dan ini dibawa sampai meninggal,” paparnya. Ia menambahkan kembali bahwa seorang wali memiliki keunggulan komparatif dibanding manusia biasa, melampaui umumnya manusia, baik dalam akidahnya atau ketaqwaannya. “Saya menganggap Gus Dur di atas rata-rata, karena diberi di atas rata-rata berarti kekasih Allah. Gus Dur ora nduwe wedi,” tandasnya. Para Waliyullah memiliki berbagai karomah yang menunjukkan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Selain kejadian-kejadian aneh, karomah (keutama- an) ini seringkali berupa pengetahuan tentang hal-hal yang akan terjadi pada masa-masa yang akan datang. Salah satu alasan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering disebut-sebut sebagai waliyullah adalah pengetahuan Gus Dur mengenai peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Masyarakat Jawa biasa menyebut kemampuan ini dengan istilah “weruh sak durunge winarah.” Beberapa ulama dan Kiai banyak menceritakan tentang kemampuan Gus Dur yang satu ini. Selain cerita kebiasaan tidur di kala seminar yang kemudian terbangun dan bicara dengan sempurna mengenai isi pembicaraan sebelumnya, Gus Dur juga memiliki cerita kemampuan “weruh sak durunge winarah” ini di dunia nyata. Kisah berikut ini diceritakan oleh Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Jakarta Utara, KH Miftakhul Falah, tatkala turut menunggui Gus Dur yang dirawat di Rumah Sakit Umum Koja Jakarta Utara, sekitar tahun 1994-an. KH Miftakhul Falah menceritakan, sewaktu Gus Dur sedang dirawat di RS Koja, beliau menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Habib Hasan di Koja. Dalam berziarah ini, Gus Dur selalu ditemani oleh beberapa orang sambil mendengarkan ceritanya. “Kalau di kemudian hari makam ini dibongkar, maka akan terjadi kerusuhan,” kata Kyai Miftakhul Falah menirukan kata-kata Gus Dur kala itu. Menurut Miftah, tidak seorang pun yang mengerti dan akan membayangkan kalimat Gus Dur tersebut akan menjadi kenyataan pada suatu ketika. Namun rupanya, zamanlah yang kelak membuktikan kata-kata Gus Dur tersebut. “Terbukti. Ketika makam tersebut akan dibongkar, benar-benar terjadi kerusuhan pada bulan April 2010 lalu,” tutur Miftakhul Falah. Menurutnya, banyak kini di antara teman-temannya yang menjadikan kalimat tersebut sebagai bukti kewalian Gus Dur Ketika orang-orang lain bahkan belum bisa membayang kan, Gus Dur telah mengungkapkannya. Kisah tentang Gus Dur yang ada di beberapa lokasi muncul dari testimoni beberapa orang dekatnya, sehingga seringkali mereka malah bertengkar, karena dua-duanya berkomunikasi dengan Gus Dur di tempat yang berbeda dalam waktu yang sama. Kiai Said Aqil Siroj juga pernah mengalami hal yang sama. Dia pernah “dikerjai” oleh Gus Dur, sehingga sampai harus berdebat dengan temannya, karena masig-masing merasa benar. Kisahnya bermula ketika itu malam-malam, sehabis mengimami sholat isya, Kiai Said bertandang ke rumah Gus Dur, yang merupakan tetangga sebelah rumah di Ciganjur. Karena Gus Dur belum datang, ia duduk-duduk di teras rumahnya. Tak lama kemudian, datang Suparta, salah satu pejabat BKKBN, yang juga bertamu ke rumah Gus Dur untuk mengundang ceramah. Suparta mengaku baru saja menelepon Gus Dur. Waktu itu belum ada HP, sehingga telepon yang digunakan adalah telepon rumah, dan yang menjawab Gus Dur sendiri. Dalam pembicaraan telepon tersebut, Gus Dur mengatakan tak bisa menghadiri undangan BKKBN, karena harus menghadiri haulnya Kiai Ali Maksum di Krapyak, Suparta menegaskan, yang menerima dan menjawab telepon benar-benar Gus Dur sendiri, karena ia sudah hapal nada dan suaranya. Tentu saja Kang Said yang sudah cukup lama menunggu di rumahnya membahntah, Gus Dur tidak ada di rumahnya, dan saat itu ia sedang menunggu kedatangannya. Akhirnya perdebatan di antara keduanya selesai setelah mobil Gus Dur muncul bersama tuannya di dalam kendaraan tersebut. Keduanya lalu dipersilahkan masuk oleh Gus Dur masuk ke dalam rumah. Pada kesempatan tatap muka itu, Suparta kembali menyampaikan keinginannya untuk mengundang Gus Dur, yang waktu itu masih menjadi ketua umum PBNU, untuk ceramah dalam sebuah acara BKKBN. Dan jawaban yang diterima sama seperti yang disampaikan dalam pembicaraan lewat telepon, bahwa ia ada haul KH Ali Maksum di Krapyak, sehingga tak bisa menghadiri undangan BKKBN. Lalu siapa sebenarnya yang menjawab lewat telepon dengan suara persis seperti Gus Dur, dan jawaban yang disampaikan juga sama persis dengan jawaban Gus Dur ketika bertatap muka, bahwa ia tidak bisa memenuhi undangan BKKBN? Wallahu a’lam. Dunia kewalian adalah dunia yang memiliki banyak dimensi. Dunia kewalian seringkali tidak dapat diterima nalar sehat manusia normal. Karena itu dunia kewalian sering pula diidentikkan dengan dunia mistis. Biasanya para santri (penganut agama yang taat), sejak zaman Hindu, Budha hingga zaman Islam di Indonesia membedakan kepemilikan dan perilaku keilmuan mistik ke dalam dua kategori, yakni kategori ilmu putih dan ilmu hitam. Ilmu hitam biasa disebut untuk mensifati (mengidentifikasi) keunggulan-keunggulan para tokoh penjahat. Sedangkan kemampuan dan keistimewaan-keistimewaan para tokoh kebaikan, para pahlawan dan para manusia suci termasuk kategori ilmu putih. Kelebihan-kelebihan (maziyyah) ini ibarat “piranti lunak” yang wajib dimiliki oleh bukan hanya tokoh spiritual, namun juga para pemimpin di dalam masyarakat. Begitulah keyakinan masyarakat terpatri dengan kuat, dari yang masih berpola tradisional hingga mereka yang telah menjadi manusia modern. Mantan Ketua Umum PBNU tiga kali berturut-turut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai salah seorang tokoh dan pemimpin bangsa, diyakini oleh banyak kalangan memiliki berbagai “piranti lunak” yang dapat dijadikan salah satu alasan untuk mengkategorikannya ke dalam lingkungan para wali Salah satunya adalah kemampuannya untuk meraga sukma, yakni sebuah kemampuan berada di banyak tempat dalam waktu bersamaan. Beberapa orang mengaku pernah melihat bukti ilmu Raga Sukma Gus Dur. Berbagai cerita menyebutkan bahwa pada waktu yang sama, banyak orang mengaku bertemu dan bercengkerama dengan Gus Dur pada waktu yang sama. Salah satunya adalah cerita para Banser yang menjaga Gus Dur ketika terbaring sakit di Rumah Sakit Koja Jakarta Utara. Sekitar tahun 1994-an, Gus Dur Sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Koja, yang saat itu dipimpin oleh adik kandungnya, Umar Wahid. Gus Dur sedang terbaring di kamar dijaga oleh dua orang Banser. Yang seorang banser bertindak sebagai komandan. Bila malam hari, keduanya jaga bergiliran, salah satu tidur dan seorang lainnya terjaga. Hingga pada suatu ketika, seorang yang menjadi komandan berkata pada temannya, “Saya keluar sebentar, tolong jaga Pak Kyai dengan baik. Tidak lama, saya segera kembali.” Dia pun segera berlalu. “Siap!” Jawab sang Banser dengan bersemangat. Sepeninggal temannya, dia pun segera masuk ke kamar perawatan dan duduk di sebelah Gus Dur yang sedang terbaring di atas tempat tidur. Tidak berapa lama, Gus Dur terbangun dari tidurnya dan mengajaknya keluar mencari udara segar. Dengan tertatih Gus Dur mengajaknya berziarah ke Makam Habib Husein al-Haddad di dekat pintu Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Letak makam tersebut hanya berjarak sekitar 400 meter di seberang Jalan Raya Pelabuhan di depan Rumah Sakit Koja. Sang Banser pun dengan setia mengikuti Gus Dur yang berjalan tertatih-tatih. Seusai berziarah dan memanjatkan doa, sang Banser pun mengiringkan Gus Dur untuk kembali ke kamarnya. Setelah Gus Dur kembali beristirahat dan tidur, dia pun keluar ruangan. Namun alangkah kagetnya ketika dia keluar ruangan. Dia mendapati temannya yang tadi keluar sedang menunggunya dengan muka masam, laksana komandan yang menunggu laporan kekalahan dari bawahannya. Dengan menghardik, sang komandan ini berkata, “Dari mana saja kamu, disuruh jaga kok malah keluyuran seenaknya.” Dengan gelagapan sang banser menjawab, “Siap Dan. Dari Mengantar Pak Kyai berziarah.” “Jangan buat alasan yang aneh-aneh. Saya hanya pergi sebentar, lalu kembali. Dari tadi saya lihat Pak Kyai tidur di dalam. Sementara kamu tidak ada,” katanya. Mereka pun kemudian saling berdebat dan bersitegang tentang penglihatan dan pengalamannya masing-masing. “Cerita ini adalah ceritanya nyata yang dialami oleh temen-temen Banser di Jakarta Utara,” tutur KH Mistakhul Falah salah seorang tokoh NU Jakarta Utara. Setahun Dikubur, Jasad Gus Dur Masih Utuh? Makam Gus Dur yang sudah ditembok Makam KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ambles pada Jumat dini hari. Amblesnya tanah makam tersebut dikabarkan hingga menyentuh bagian dasar makam. Benarkah jasad Gus Dur terlihat? “Konon jasad Gus Dur yang sudah setahun lebih dimakamkan masih tetap terlihat utuh dan terbungkus kafan,” kata Adi Santoso, salah satu peziarah di lokasi makam Gus Dur, Pondok Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang, kepada okezone, Jumat (18/2/2011). Dia menceritakan, amblesnya tanah makam tersebut pertama kali diketahui pedaagang VCD yang berada di kawasan makam Gus Dur. Saat itu, dia orang pertama yang melihat tanah makam tersebut ambles. Mendapat informasi itu, petugas keamanan pondok langsung lari menuju makam. Dia bersama pedagang VCD tersebut langsung menutupi makam Gus Dur dengan ala kadarnya. Bahkan sejumlah pengurus pondok yang mengetahui langsung membuat barikade agar para peziarah tidak dapat mengambil gambar. Saat ini, kata Adi, selain dibangun tembok penahan disisi utara pusara Gus Dur juga disediakan pasir. "Kemungkinan dimaksudkan kalau sewaktu-waktu hujan deras, dan tanah ambles lagi pasir itu untuk menutup lubang dengan segera," jelas Adi yang mengaku sering berziarah ke makam Gus Dur sejak satu tahun lalu. Apa kata Emha Tentang Gus dur Budayawan Emha Ainun Najib menilai, Gus Dur tak hanya layak disebut sebagai pahlawan. Karena selama hidup, Gus Dur banyak memberikan buah pikiran dan perjuangannya untuk segala lapisan masyarakat. Cak Nun, sapaan akrab Emha Ainun Najib yakin, Gus Dur tak butuh gelar pahlawan. Karena selama ini, dia menganggap jika perjuangan Gus Dur tak memerlukan pamrih. Kalau hanya pahlawan, itu gelar yang diberikan manusia. “Selama ini, perjungan Gus Dur hanya ingin mendapatkan ridha dari Alah,” ungkap Cak Nun saat menghadiri tahlilan tujuh hari wafatnya Gus Dur di Ponpes Tebuireng, Jombang, Selesa (05/01/2010) malam. Namun, kata dia, jika memang banyak pihak, termasuk pemerintah yang akan memberi gelar pahlawan kepada Gus Dur, ia tak berkeberatan. Menurutnya, Gus Dur memang layak menyandang gelar itu. “Silahkan saja pak SBY memberikan gelar itu. Yang jelas, tanpa diberi gelar pahlawan oleh pemerintah, Gus Dur di mata masyarakat lebih dari pahlawan,” ungkapnya. Cak Nun sempat menitikkan air mata saat berziarah ke makam Gus Dur. Usai berdoa, Cak Nun sempat mencium makam mantan Presiden RI ke-4 itu. “Yang saya tangisi adalah, mampukan kita menerjemahkan pemikiran Gus Dur yang luar biasa itu untuk anak cucu kita nantinya. Gus Dur adalah mutiara dan kita adalah batu. Batu tak akan bisa memahami mutiara,” cetusnya. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki adalah ulama yang sangat dihormati di Saudi Arabia, dalam satu nega ra yang menganut faham Wahabi. Muridnya tersebar di seluruh dunia. Dia memberi penghormatan pribadi kepa da Gus Dur ketika berkunjung ke kediamannya. Besarnya pengaruh ulama yang mendalami mazhab Maliki ini telah berlangsung sejak dahulu. Lima orang kakek pendahulunya merupakan pemuka mazhab Imam Maliki di Makkah. Raja Saudi Arabia Faishal, tak akan membuat kebijakan terkait dengan Masjidil Haram sebelum berkonsultasi dengannya. Ia belajar di Al-Azhar Mesir dan memperoleh gelar Doktor pada usia 25 tahun, yang merupakan orang Saudi pertama yang mencapai gelar akademik tertinggi pada usia termuda. Sebagai seorang akademisi, ia telah mengarang lebih dari 100 kitab. Muridnya tersebar di seluruh dunia, terutama berasal dari Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman dan Dubai. Mereka yang belajar di pesantrennya difasilitasi penuh olehnya. Alawi Al Maliki meninggal tahun 2004, dan upacara penguburannya merupakan yang terbesar dalam 100 tahun belakangan. Radio Arab Saudi selama tiga hari penuh hanya memutar ayat-ayat al-Qur’an untuk menghormatinya. Ayahnya, Sayid Alwi Al Maliki adalah guru dari pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Dia juga pernah menjadi guru besar di Masjidil Haram pada 1930-an dan 40-an dan merupakan ulama terbesar pada zamannya. Banyak ulama sepuh dari NU yang menimba ilmu dari Sayid Alwi Al-Maliki yang merupakan ahli hadist. Penghormatan kepada Gus Dur yang waktu itu masih menjabat sebagai ketua umum PBNU, oleh orang terhormat ini dituturkan oleh KH Said Aqil S. Kyai Said waktu itu menemani Gus Dur bersama Ghofar Rahman, sekjen PBNU, dalam satu kunjungan ke Mekkah. Sebagai ulama terkemuka, Sayyid Maliki selalu dikunjungi oleh tamu dari berbagai negara. Waktu Gus Dur datang ke kediamannya, di ruang tamu sudah banyak sekali orang yang mengantri. Begitu Gus Dur datang, ia langsung dipersilahkan masuk, bahkan diajak berbincang di kamar tidur pribadinya, bukan di ruang tamu. Gus Dur dikasih uang, arloji mewah dan barang berharga lainnya sebagai tanda penghormatan. Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said mengggambarkan, “Begitu hormatnya mereka berdua. Dan mereka bukan orang sembarangan.” Suatu ketika , ketika Gus Dur masih menjabat sebagai presiden Republik Indonesia. Bertepatan di bulan suci Ramadhan, berdatanganlah para pejabat pemerintah untuk bersilahturahmi menyambut hari pertama bulan puasa. Salah seorang pejabat dengan sikap menjilat dan sok akrab menegur Gus Dur diselingi dengan celotehan. "Gus, Gusdur hari ini puasa atau tidak ?" Jawab Gus Dur dengan gaya santai dan nyelenehnya "TIDAK....." "Lor, koq seorang Kiai terhormat seperti Gusdur tidak puasa ?" tanya sipejabat lagi kebingungan. Gus Dur Pernah Ramal Said Aqil Jadi Ketua NU Gus Dur pernah bilang KH Said Aqil baru bisa jadi ketua PBNU kalau umur sudah 55 tahun. ddd Jum'at, 2 April 2010, 14:40 Amril Amarullah Foto Gus Dur - Abdurrahman Wahid (VivaNews/ Nurcholis Anhari Lubis) Follow us on VIVAnews -- Mendiang mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sempat meramalkan KH Said Aqil Siradj terpilih menjadi ketua umum PBNU setelah berusia 55 tahun. Ternyata ramalan itu benar. Said Aqil Terpilih pada Muktamar ke-32 NU di Makassar pada usia 56 tahun. Cerita ini disampaikan sendiri oleh Said Aqil alam acara Tasyakuran Sukses Muktamar di kantor PP GP Ansor, Jakarta, kemarin malam. "Saya tidak menceritakan ini sebelum Muktamar, nanti dikira kampanye," kata Said Aqil bergurau seperti yang dilansir laman Nahdlatul Ulama, Jumat 2 April 2010. Ceritanya, pada Muktamar ke-30 NU di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Said Aqil yang bertugas sebagai ketua panitia pusat berniat mengajukan diri sebagai calon ketua umum PBNU, dan Gus Dur tidak setuju. "Nanti sampean itu baru jadi ketua umum PBNU setelah umur 55," kata Gus Dur seperti ditirukan Said Aqil. "Saya tidak mengada-ngada, ada saksinya santri-santri saya di Ciganjur," tambahnya. Namun pada waktu itu Said Aqil tetap bersikeras mencalonkan diri, dan ternyata ia kalah bersaing dengan KH Hasyim Muzadi. Pada Muktamar ke-31 NU di Solo, Said masih berusia 50 tahun dan tidak ukut dalam bursa pencalonan. "Pada Muktamar Makassar saya tenang saja karena Gus Dur sudah bilang begitu. Kalau saya tidak jadi berarti kewalian Gus Dur diragukan," katanya disambut tawa hadirin. Dalam kesempatan itu Said Aqil mengajak warga Nahdliyin yang hadir untuk membacakan surat Al-Fatihah khusus untuk Gus Dur. ”Saya ini tidak belajar kitab kuning dari Gus Dur, kalau belajar kitab kuning ya ke Kiai Mahrus Lirboyo dan Kiai Ali Maksum Krapyak. Saya belajar dari Gus Dur ilmu ahwal, ilmu tentang prilaku,” katanya sebelum memimpin doa. Doa dan bacaan surat Al-Fatihah malam itu juga ditujukann kepada para pendiri NU antara Lain KH Hasyim Asy’ari. KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Ridlwan Abudllah dan KH Mas Alwi Abdul Aziz. Tuesday, July 2, 2013 Santri yang Menguji Kewalian Gus Dur Dalam sebuah forum Gusdurian, seorang santri asal pesantren Ploso Kediri mengaku kepada Allisa Wahid, putri Gus Dur, bahwa ia pernah menguji kewalian Gus Dur. Santri yang memiliki sikap kritis ini mengisahkan, suatu hari ia datang ke Jakarta untuk suatu keperluan. Hajatnya di Jakarta pun berjalan baik, sayangnya ada masalah baru, yaitu kehabisan uang saku untuk kembali ke Kediri. Ia pun berfikir untuk menemui KH Said Aqil Siroj di Ciganjur Jakarta Selatan untuk menyampaikan persoalannya ini, tetapi sesampai disana ternyata Kang Said sedang pergi. "Wah bisa gawat ini kalau sampai ngak bisa pulang,“ pikiranya dalam hati. Ia pun terdiam, berusaha mencari solusi lain bagaimana agar bisa pulang ke Pesantren. Tiba-tiba terbersit pikirannya, “Mengapa ngak bersilaturrahmi ke Gus Dur di rumah sebelah. Katanya orang-orang, beliau kan wali, coba saja ah, diuji sekalian, benar apa ngak dia seorang wali, mumpung lagi dekat” Ia pun segera memutar langkahnya menuju rumah Gus Dur yang jaraknya hanya sepelemparan batu saja dari rumah Kang Said. Beruntung, Gus Dur sedang di rumah dan ia segera antri untuk bisa bertemu Gus Dur yang hari itu sedang banyak tamu. Ketika sudah tiba gilirannya, ia pun masuk, mencium tangan Gus Dur sebagaimana etika seorang santri kepada kiainya. Menyampaikan bahwa ia santri dari Ploso Kediri, ingin bersilaturrahmi sebelum pulang, tapi ia tak menyampaikan sedang tak punya ongkos. Gus Dur rupanya tahu persoalan yang sedang dialaminya, begitu pamit, ia diberi ongkos yang cukup untuk membeli tiket kereta api kelas bisnis. Ia pun senang sekali, karena ketika berangkat hanya naik kereta kelas ekonomi. Barulah ia percaya kalau Gus Dur itu seorang wali. Posted by event namnam at 2:53 AM PN Jakarta Pusat Sahkan PKB Muktamar Ancol Satukan Visi, Sejumlah Parpol Adakan Shilaturrahmi Gus Dur Ramalkan Said Aqil Ketua Umum PBNU Setelah 55 Tahun April 2, 2010 hayangseuri Indeks, Nasional Tinggalkan komentar Jakarta, NU Online Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sempat meramalkan KH Said Aqil Siradj terpilih menjadi ketua umum PBNU setelah berusia 55 tahun. Ternyata ramalan itu benar. Said Aqil Terpilih pada Muktamar ke-32 NU di Makassar pada usia 56 tahun. Cerita ini disampaikan sendiri oleh Said Aqil alam acara Tasyakuran Sukses Muktamar di kantor PP GP Ansor, Jakarta, Kamis (1/4) malam. ”Saya tidak menceritakan ini sebelum Muktamar, nanti dikira kampanye,” kata Said Aqil bergurau. Ceritanya, pada Muktamar ke-30 NU di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Said Aqil yang bertugas sebagai ketua panitia pusat berniat mengajukan diri sebagai calon ketua umum PBNU, dan Gus Dur tidak setuju. ”Nanti sampean itu baru jadi ketua umum PBNU setelah umur 55,” kata Gus Dur seperti ditirukan Said Aqil. ”Saya tidak mengada-ngada, ada saksinya santri-santri saya di Ciganjur,” tambahnya. Namun pada waktu itu Said Aqil tetap bersikeras mencalonkan diri, dan ternyata ia kalah bersaing dengan KH Hasyim Muzadi. Pada Muktamar ke-31 NU di Solo, Said masih berusia 50 tahun dan tidak ukut dalam bursa pencalonan. ”Pada Muktamar Makassar saya tenang saja karena Gus Dur sudah bilang begitu. Kalau saya tidak jadi berarti kewalian Gus Dur diragukan,” katanya disambut tawa hadirin. Dalam kesempatan itu Said Aqil mengajak warga Nahdliyin yang hadir untuk membacakan surat Al-Fatihah khusus untuk Gus Dur. ”Saya ini tidak belajar kitab kuning dari Gus Dur, kalau belajar kitab kuning ya ke Kiai Mahrus Lirboyo dan Kiai Ali Maksum Krapyak. Saya belajar dari Gus Dur ilmu ahwal, ilmu tentang prilaku,” katanya sebelum memimpin doa. Doa dan bacaan surat Al-Fatihah malam itu juga ditujukann kepada para pendiri NU antara Lain KH Hasyim Asy’ari. KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Ridlwan Abudllah dan KH Mas Alwi Abdul Aziz. (nam) Gus Dur → Humor Guss Dur Posted on September 23, 2012 by gendroyonosikudabesi Humor Gus Dur – Internet dan Kakek Tua Kisah Humor ini berasal dari Ketua PBNU Said Aqil Siraj. Dulu, saat Internet baru marak di Indonesia, seseorang bertanya ke Gus Dur mengenai sah atau tidaknya menikah melalui Internet. Mendapat pertanyaan begitu, dengan ringan Gus Dur menjawab, “Menikah lewat Internet boleh, asal bertemunya juga di Internet saja, ciuman lewat Internet.” Jawaban yang sederhana, kata Aqil, tapi mengandung makna dalam, yaitu tidak memperumit masalah. Kepada Aqil, Gus Dur juga pernah menceritakan humor tentang kesabaran. Dikisahkan tentang seorang pemuda gagah yang tengah berusaha memecahkan batu besar. Dicoba 50 pukulan, batu tak pecah. Dicoba 70 hingga 100 pukulan, batu tidak kunjung pecah. Lalu lewat seorang kakek tua renta, dipukulnya batu itu sebanyak lima kali. Eh, langsung pecah. Si pemuda bingung, pikirnya begitu sakti kakek ini. Tapi kakek itu cuma bilang, batu tersebut bisa pecah dengan 105 pukulan. Mungkin pesan yang bisa dipetik dari kisah humor seorang pemuda dan kakek tua adalah kita jangan gampang menyerah dalam berusaha! Sumber: http://forum.tempo.co/showthread.php?1663-Humor-Gusdur-Edisi-Bandara-Abdurrahman-Wahid-!! Stay updated via RSS • Latest Posts o Sang Nabi: Titah Menyebarkan Perdamaian o Teks Ratib al-Athas o Perkataan Gus Dur dalam buku Douglas E Ramage o Teks Ratib al-Haddad o Gus Dur Tentang Tradisi dan Modernitas o Gus Dur dan Dzikir/Wirid o Gus Dur dan Shalat Malam o Gus Dur dan Guru Rohani o Pancasila dan Keragaman o Gus Dur dan Pengosongan Diri • Categories o Dinamisasi Bangsa (1) o Tasawuf (2) o Tentang Gus Dur (7) o Titah Sang Nabi (1) Gus Dur dan Dzikir/Wirid Posted: April 24, 2012 in Tentang Gus Dur Tags: al-Fatihah, Dzikir, Gus Dur, Wirid 0 2 Votes KH. Husein Muhammad mengatakan: “Orang-orang yang dekat dengan Gus Dur bercerita bahwa jika tidak ada teman yang diajak bicara dan beliau sedang sendiri, maka dalam waktu yang sepi itu beliau membaca surah al-Fatihah, entah berapa kali, lalu tawassul kepada Nabi dan berdoa untuk dirinya sendiri, untuk para wali dan ulama yang telah wafat. Itulah jalan (tarekat) spiritualnya” (dalam Gus Dur Bertahta di Sanubari, hlm. 177). Penuturan KH. Husein Muhammad ini dapat dirujuk dan dikonfirmasi juga oleh apa yang dinyatakan oleh KH. Said Aqil Siraj. Ketika di Mekkah, cerita KH. Said Aqil Siraj, dia diajak Gus Dur untuk berkunjung dan mencari makam Imam Ali al-Uraidhi (termasuk sesepuh keturunan Nabi Muhammad), dan mencari seorang waskita di sebuah masjid. Gus Dur mengatakan: “Nanti kita membaca al-Fatihah seribu kali…” Mereka akhirnya menemukan makam Imam `Ali al-Uradhi di tengah perkebunan kurma. Cerita ini dikemukakan oleh KH. Said Aqil Siraj di berbagai tempat, termasuk di beberapa acara televisi pasca meninggalnya Gus Dur. Ada lagi cerita KH. Said Aqil Siraj sebagaimana dimuat dalam Republika (21 November 2007), pada waktu haji di Mekkah Gus Dur memisahan diri dari rombongan. Ketika ditemukan oleh KH. Said Aqil Siraj, Gus Dur tengah berdoa di suatu daerah lapang. Ketika ditanya doa apa yang dibaca, Gus Dur menjawab: “Sedang membaca doa al-Fatihah 1000 kali.” Tampaknya Gus Dur mendawamkan bacaan dzikir surat al-Fatihah ini. Memang, setiap sâlik memiliki andalan amalan-amalan dan wirid-wirid. Wirid-wirid ini diperoleh dari ijazah para guru, baik secara rohani atau secara fisik. Biasanya mereka ketika masih muda, datang kepada guru-guru di pesantren lalu diberi ijazah untuk membaca ini dan itu. Ijazah-ijazah ini ada yang dilanggengkan oleh para murid, dan ada yang terputus di tengah jalan. Murid yang dianugrahi, ada yang kemudian meramu beberapa ijazah untuk menjadi rangkaian wirid-wirid yang dilanggengkan untuk dirinya dan komunitasnya. Gus Miek dengan wirid-wirid dalam dzikru al-ghâfilîn adalah contoh dari sejenis proses ini. Gus Dur sendiri tentang amalan wirid mengatakan: “‘Itu biasa, sesuai kebutuhan, kan kiai-kiai suka bilang kepada saya, tolong baca surat ini, tolong baca surat itu dengan puasa sekian hari sebelumnya” (dalam Tabayun Gus Dur, hlm. 174). Apa yang dikemukakan Gus Dur ini merupakan konfirmasi tentang adanya ijazah beberapa laku wirid, meski tidak dijelaskan surat yang dibaca, tetapi penjelasan itu sudah cukup menggambarkan bahwa Gus Dur menjalankan wirid-wirid juga, sebagaimana guru-guru sempurna di kalangan pesantren Nahdliyin. Wirid membaca surat al-Fatihah dan mengirim al-Fatihah merupakan tradisi yang berkembang di kalangan Alussunnah Waljama’ah, terutama di kalangan masyarakat Nahdliyin. Di desa-desa dan di pesantren-pesantren, saya menemukan dan menyelami praktik ini dilanggengakan oleh bergenerasi-generasi di kalangan Nadhliyin. Dalam tradisi tarekat, membaca surat al-Fatihah juga dilakukan sebelum membaca wirid-wirid tertentu sebagai bagian dari tawassulân. Variasi membacanya tergantung guru-guru yang dijadikan persambungan sanad, yang dijadikan objek untuk dikirimi al-Fatihah. Nabi Muhammad, dalam semua tarekat selalu disebut dan dikirimi al-Fatihah dalam rangkaian tawassulân praktik laku tarekat. Gus Dur menjadikan bacaan al-Fatihah tidak semata untuk rangkaian tawassulân saja, tetapi sebagai wiridnya itu sendiri. Oleh karena itu, seperti diceritakan di atas, Gus Dur membaca surat al-Fatihah dalam jumlah-jumlah tertentu. Selain tawassulân kepada Nabi Muhammad dan guru-guru sufi lain, kemudian Gus Dur membaca surat al-Fatihah sebagai wirid. Tradisi membaca al-Fatihah sebagai wirid ini, pernah dilakukan konon oleh Imam al-Ghazali dan dijadikan rujukan di dalam tradisi pesantren tertentu, misalnya dalam sehari membaca 100 kali al-Fatihah. Tradisi ini, juga dilakukan dalam bagian dzikru al-ghâfilîn, yaitu rangkaian wirid-wirid yang dilanggengkan di antaranya oleh Gus Miek dan KH. Achmad Shidiq beserta komunitas dzikru al-ghâfilîn. Para guru sufi mengaitkan pelanggengan wirid-wirid yang dilakukannya sebagai silâh al-mu’min (pedangnya kaum mukmin). Oleh karena itu Nabi Muhammad sendiri mengajarkan wirid-wirid tertentu kepada umum dan khusus, karena begitu pentingnya wirid-wirid itu bagi kaum muslimin. Kata “umum” di sini maksudnya adalah Rasulullah kadang mengajarkan dzikir tertentu ketika ada orang banyak atau para sahabat, sehingga dimaksudkan untuk umum kaum muslimin. Sedangkan yang dimaksud khusus adalah kadang Nabi Muhammad mengajarkan dzikir tertentu kepada sahabat-sahabat tertentu, tidak dihadiri oleh umum, sehingga para sahabat ini mengamalkannya sendiri-sendiri, sebagai amalan dzikir khususnya. Mereka yang memiliki persambungan sanad tarekat yang sambung menyambung sampai kepada Nabi misalnya, hanya mungkin dipahami dalam kerangka ini, yaitu diajarkan secara khusus oleh Nabi kepada sahabat tertentu, dan kemudian diajarkan sampai kepada generasi-generasi sesudahnya. Al-Qur’an memberikan anjuran agar kaum muslimin mengingat Allah, termasuk dengan mendawamkan dzikir-dzikir tertentu, semampunya, sebanyak-banyaknya, dan di mana saja. Al-Qur’an menyebutkan demikian: “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali `Imran [3]: 191); dan “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang” (QS. Al-Ahzab [33]: 41-42). Masih banyak lagi anjuran-anjuran untuk berdzikir kepada Allah di dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad. Dalam menjalankan wirid-wiridnya Gus Dur tidak menggunakan ucapan yang keras, tetapi dengan ucapan lembut dan lirih. Meski begitu, di kalangan tarekat hal seperti ini dipilah: mereka yang lebih bisa menyelami dengan menggunakan wirid yang jahr (keras), maka utama menggunakan wirid jahr; sedangkan mereka yang lebih bisa menyelami dengan wirid sirr, maka dia lebih utama dengan menggunakan wirid sirr. Karena perbedaan afiliasi tarekat, kondisi sang sâlik, pencapaian, jenis wirid, dan anugrah Allah diberikan tidak sama, maka setiap sâlik ada perbedaan-perbedaan dalam dzikir yang dibaca. Ini menegaskan jalan menuju Allah berbilang dan beragam. Yang terpenting dari praktik dzikir adalah menyelami makna dzikir itu sendiri. Makna dzikir dalam suluk adalah ibarat sebuah perahu (atau sejenisnya) yang akan menghantarkan sang sâlik ke tengah lautan/samudra, bila diumpamakan seorang yang mencari mutiara di dasar lautan. Mutiara di dasar lautan di sini adalah perumpamaan cahaya-Nya; dan menemukaan mutiara itu adalah musyâhadah dan mukâsyafah berjumpa dan dianugrahi cahaya-Nya. Perahu itu dibutukan untuk menghantarkan sang sâlik. Dalam perjalanan sang sâlik, dia harus bisa mengatasi segala godaan, kebimbangan, ketakutan, angin kencang yang menderanya, gelombang lautan yang menerpanya, dan lain-lain. Posisi dzikir bisa juga digambarkan sebagai air yang menyirami pohon mahabbah kalangan sufi kepada Allah. Seorang guru sufi bernama Ahmad bin Masruq mengatakan: “Pohon ma’rifat harus disiram dengan air pikiran, dan pohon kelengahan disiram dengan air kebodohan. Pohon tobat disiram dengan air penyesalan, dan pohon mahabbah, disiram dengan dzikir dan ibadah” (dalam ar-Risalah al-Qusyairiyah, hlm. 635). Dengan demikian, dzikir adalah salah satu jalan untuk mencapai ma’rifat dan wushul. KH. Muslih Mranggen dalam al-Futuhât ar-Rabbâniyah (hlm. 78), menyebutkan ada 3 jalan mencapai wushûl kepada Allah, dan salah satunya adalah dzikir khafî, dzikir lembut dalam hati. Amalan-amalan seperti shalat, puasa, haji, dan lain-lain, adalah salah satu yang bisa memperbarui upaya terus menerus dalam meneguhkan dzikir khafî. Dzikir khafi akan mengantarkan sang sâlik pada peleburan diri, setelah diikuti oleh upaya yang keras mengatasi berbagai godaan, gelombang panas dan dingin, dan angin kecang kehidupan nafsu, disertai pengisian dengan akhlak-akhlak yang baik. Peleburan diri ini adalah peleburan ke dalam Dzat yang dijadikan tujuan, yang dirumuskan di kalangan tarekat Qadiriyan-Naqsyabandiyah dengan munajat “ilâhî anta maqshûdî wa ridhâka mathlûbî a’thinî mahabbataka wa ma’rifataka” (Ya Allah, Engkau adalah tujuanku dan Ridha-Mu adalah yang kucari, berikanlah kepadaku kecintaan-Mu dan kemarifatan-Mu). Meski begitu, menurut William Chittik, sebagian sufi ada yang menempuh cara meninggalkan dzikir atau wirid, karena menganggap masuk dalam kategori untuk meninggalkan “kecuali Allah”. Pada akhirnya, ketika sudah lebur kepada yang diingat dan yang dituju dzikir itu sendiri hilang, atau ketika tabir diangkat dan sirr sang salik mencapai tingkat sufi untuk bisa menyaksikan dan wushûl kepada-Nya, dzikir itu sendiri lenyap ke dalam keleburan dengan Allah. Mereka yang meninggalkan dzikir adalah mencari kekosongan total, atau kehampaan total untuk lebur, dan mereka berupaya terus untuk mencari keleburan ini. Menurut penulis, bagi mereka yang bisa menemukan musyâhadah dengan keleburan dengan meninggalkan wirid, haruslah dipahami seperti dikatakan Ibnu `Arabi, dcan ini juga dikutip Chittik: “Dzikir tetap lebih baik daripada meninggalkannya, karena orang hanya bisa meninggalkannya selama terjadi penyaksian; sedangkan penyaksian tidak bisa dicapai secara mutlak (Futuhât al-Makkiyah, II: 229.24.). Di sini, peninggalan dzikir itu muncul setelah adanya peleburan dan diangkatnya tabir/hijâb; dan karena momen seperti itu tidak mutlak sepanjang waktu, maka dzikir dianggap lebih baik, karena akan menjadi sarana untuk terus berdekat-dekat dengan-Nya. Secara lahir mereka yang melanggengkan dzikir khafî, bagi orang awam akan tampak mereka yang menjalaninya: pendiam dan memiliki ketenangan; dan karena diam, tampaknya secara lahir bagi awam tertentu, dianggap tidak berdzkir, karena bagi mereka ini dzikir adalah gerakan fisik, dan komat-kamit-nya mulut. Pandangan ini, sangat berbahaya kalau dimiliki orang berilmu. Sementara seorang `ârif, akan bisa merasakannya tanpa perlu dalil dan bukti, bahwa dengan dzikir khafî itu akan bisa menjadi pengantar menuju-Nya. Dzikir khafî, sebagaimana Gus Dur menggunakan metode ini dalam wiridnya, hanya mungkin dilakukan dengan perjuangan keras: menghilangkan ingatan dan ketergantungan kepada selain Allah, dan ini tidak mudah karena orang harus berjuang hebat, bisa memakan waktu cepat atau lambat (tergantung kondisi dan anugrah Allah yang diberikan kepada sâlik) untuk mencapai tahap kelanggengan dan penetapan dzikir khafî ini; dan anugrah Allah bagi penetapan dzikir khafî seperti ini, merupakan kata kunci yang berbarengan dengan perjuangan keras tadi. Ini disebabkan, karena dalam pencapaian jenjang-jenjang pendakian maqâmât, bagi sufi tidak ada yang murni hasil dari kekuatan sendiri; dan amal-amal semata bukanlah yang menyebabkan perkenan Allah. Sebaliknya, anugrah dan rahmat Allah kepada sang sâlik-lah yang menentukan. Oleh karena itu, memohon pertolongan kepada Allah mutlak untuk menepuh jalan ini, bagi penetapan untuk bisa mendapatkan praktik dan amalan wirid sampai pada Gus Dur dan Dzikir/Wirid KH. Husein Muhammad mengatakan: “Orang-orang yang dekat dengan Gus Dur bercerita bahwa jika tidak ada teman yang diajak bicara dan beliau sedang sendiri, maka dalam waktu yang sepi itu beliau membaca surah al-Fatihah, entah berapa kali, lalu tawassul kepada Nabi dan berdoa untuk dirinya sendiri, untuk para wali dan ulama yang telah wafat. Itulah jalan (tarekat) spiritualnya” (dalam Gus Dur Bertahta di Sanubari, hlm. 177). Penuturan KH. Husein Muhammad ini dapat dirujuk dan dikonfirmasi juga oleh apa yang dinyatakan oleh KH. Said Aqil Siraj. Ketika di Mekkah, cerita KH. Said Aqil Siraj, dia diajak Gus Dur untuk berkunjung dan mencari makam Imam Ali al-Uraidhi (termasuk sesepuh keturunan Nabi Muhammad), dan mencari seorang waskita di sebuah masjid. Gus Dur mengatakan: “Nanti kita membaca al-Fatihah seribu kali…” Mereka akhirnya menemukan makam Imam `Ali al-Uradhi di tengah perkebunan kurma. Cerita ini dikemukakan oleh KH. Said Aqil Siraj di berbagai tempat, termasuk di beberapa acara televisi pasca meninggalnya Gus Dur. Ada lagi cerita KH. Said Aqil Siraj sebagaimana dimuat dalam Republika (21 November 2007), pada waktu haji di Mekkah Gus Dur memisahan diri dari rombongan. Ketika ditemukan oleh KH. Said Aqil Siraj, Gus Dur tengah berdoa di suatu daerah lapang. Ketika ditanya doa apa yang dibaca, Gus Dur menjawab: “Sedang membaca doa al-Fatihah 1000 kali.” Tampaknya Gus Dur mendawamkan bacaan dzikir surat al-Fatihah ini. Memang, setiap sâlik memiliki andalan amalan-amalan dan wirid-wirid. Wirid-wirid ini diperoleh dari ijazah para guru, baik secara rohani atau secara fisik. Biasanya mereka ketika masih muda, datang kepada guru-guru di pesantren lalu diberi ijazah untuk membaca ini dan itu. Ijazah-ijazah ini ada yang dilanggengkan oleh para murid, dan ada yang terputus di tengah jalan. Murid yang dianugrahi, ada yang kemudian meramu beberapa ijazah untuk menjadi rangkaian wirid-wirid yang dilanggengkan untuk dirinya dan komunitasnya. Gus Miek dengan wirid-wirid dalam dzikru al-ghâfilîn adalah contoh dari sejenis proses ini. Gus Dur sendiri tentang amalan wirid mengatakan: “‘Itu biasa, sesuai kebutuhan, kan kiai-kiai suka bilang kepada saya, tolong baca surat ini, tolong baca surat itu dengan puasa sekian hari sebelumnya” (dalam Tabayun Gus Dur, hlm. 174). Apa yang dikemukakan Gus Dur ini merupakan konfirmasi tentang adanya ijazah beberapa laku wirid, meski tidak dijelaskan surat yang dibaca, tetapi penjelasan itu sudah cukup menggambarkan bahwa Gus Dur menjalankan wirid-wirid juga, sebagaimana guru-guru sempurna di kalangan pesantren Nahdliyin. Wirid membaca surat al-Fatihah dan mengirim al-Fatihah merupakan tradisi yang berkembang di kalangan Alussunnah Waljama’ah, terutama di kalangan masyarakat Nahdliyin. Di desa-desa dan di pesantren-pesantren, saya menemukan dan menyelami praktik ini dilanggengakan oleh bergenerasi-generasi di kalangan Nadhliyin. Dalam tradisi tarekat, membaca surat al-Fatihah juga dilakukan sebelum membaca wirid-wirid tertentu sebagai bagian dari tawassulân. Variasi membacanya tergantung guru-guru yang dijadikan persambungan sanad, yang dijadikan objek untuk dikirimi al-Fatihah. Nabi Muhammad, dalam semua tarekat selalu disebut dan dikirimi al-Fatihah dalam rangkaian tawassulân praktik laku tarekat. Gus Dur menjadikan bacaan al-Fatihah tidak semata untuk rangkaian tawassulân saja, tetapi sebagai wiridnya itu sendiri. Oleh karena itu, seperti diceritakan di atas, Gus Dur membaca surat al-Fatihah dalam jumlah-jumlah tertentu. Selain tawassulân kepada Nabi Muhammad dan guru-guru sufi lain, kemudian Gus Dur membaca surat al-Fatihah sebagai wirid. Tradisi membaca al-Fatihah sebagai wirid ini, pernah dilakukan konon oleh Imam al-Ghazali dan dijadikan rujukan di dalam tradisi pesantren tertentu, misalnya dalam sehari membaca 100 kali al-Fatihah. Tradisi ini, juga dilakukan dalam bagian dzikru al-ghâfilîn, yaitu rangkaian wirid-wirid yang dilanggengkan di antaranya oleh Gus Miek dan KH. Achmad Shidiq beserta komunitas dzikru al-ghâfilîn. Para guru sufi mengaitkan pelanggengan wirid-wirid yang dilakukannya sebagai silâh al-mu’min (pedangnya kaum mukmin). Oleh karena itu Nabi Muhammad sendiri mengajarkan wirid-wirid tertentu kepada umum dan khusus, karena begitu pentingnya wirid-wirid itu bagi kaum muslimin. Kata “umum” di sini maksudnya adalah Rasulullah kadang mengajarkan dzikir tertentu ketika ada orang banyak atau para sahabat, sehingga dimaksudkan untuk umum kaum muslimin. Sedangkan yang dimaksud khusus adalah kadang Nabi Muhammad mengajarkan dzikir tertentu kepada sahabat-sahabat tertentu, tidak dihadiri oleh umum, sehingga para sahabat ini mengamalkannya sendiri-sendiri, sebagai amalan dzikir khususnya. Mereka yang memiliki persambungan sanad tarekat yang sambung menyambung sampai kepada Nabi misalnya, hanya mungkin dipahami dalam kerangka ini, yaitu diajarkan secara khusus oleh Nabi kepada sahabat tertentu, dan kemudian diajarkan sampai kepada generasi-generasi sesudahnya. Al-Qur’an memberikan anjuran agar kaum muslimin mengingat Allah, termasuk dengan mendawamkan dzikir-dzikir tertentu, semampunya, sebanyak-banyaknya, dan di mana saja. Al-Qur’an menyebutkan demikian: “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali `Imran [3]: 191); dan “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang” (QS. Al-Ahzab [33]: 41-42). Masih banyak lagi anjuran-anjuran untuk berdzikir kepada Allah di dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad. Dalam menjalankan wirid-wiridnya Gus Dur tidak menggunakan ucapan yang keras, tetapi dengan ucapan lembut dan lirih. Meski begitu, di kalangan tarekat hal seperti ini dipilah: mereka yang lebih bisa menyelami dengan menggunakan wirid yang jahr (keras), maka utama menggunakan wirid jahr; sedangkan mereka yang lebih bisa menyelami dengan wirid sirr, maka dia lebih utama dengan menggunakan wirid sirr. Karena perbedaan afiliasi tarekat, kondisi sang sâlik, pencapaian, jenis wirid, dan anugrah Allah diberikan tidak sama, maka setiap sâlik ada perbedaan-perbedaan dalam dzikir yang dibaca. Ini menegaskan jalan menuju Allah berbilang dan beragam. Yang terpenting dari praktik dzikir adalah menyelami makna dzikir itu sendiri. Makna dzikir dalam suluk adalah ibarat sebuah perahu (atau sejenisnya) yang akan menghantarkan sang sâlik ke tengah lautan/samudra, bila diumpamakan seorang yang mencari mutiara di dasar lautan. Mutiara di dasar lautan di sini adalah perumpamaan cahaya-Nya; dan menemukaan mutiara itu adalah musyâhadah dan mukâsyafah berjumpa dan dianugrahi cahaya-Nya. Perahu itu dibutukan untuk menghantarkan sang sâlik. Dalam perjalanan sang sâlik, dia harus bisa mengatasi segala godaan, kebimbangan, ketakutan, angin kencang yang menderanya, gelombang lautan yang menerpanya, dan lain-lain. Posisi dzikir bisa juga digambarkan sebagai air yang menyirami pohon mahabbah kalangan sufi kepada Allah. Seorang guru sufi bernama Ahmad bin Masruq mengatakan: “Pohon ma’rifat harus disiram dengan air pikiran, dan pohon kelengahan disiram dengan air kebodohan. Pohon tobat disiram dengan air penyesalan, dan pohon mahabbah, disiram dengan dzikir dan ibadah” (dalam ar-Risalah al-Qusyairiyah, hlm. 635). Dengan demikian, dzikir adalah salah satu jalan untuk mencapai ma’rifat dan wushul. KH. Muslih Mranggen dalam al-Futuhât ar-Rabbâniyah (hlm. 78), menyebutkan ada 3 jalan mencapai wushûl kepada Allah, dan salah satunya adalah dzikir khafî, dzikir lembut dalam hati. Amalan-amalan seperti shalat, puasa, haji, dan lain-lain, adalah salah satu yang bisa memperbarui upaya terus menerus dalam meneguhkan dzikir khafî. Dzikir khafi akan mengantarkan sang sâlik pada peleburan diri, setelah diikuti oleh upaya yang keras mengatasi berbagai godaan, gelombang panas dan dingin, dan angin kecang kehidupan nafsu, disertai pengisian dengan akhlak-akhlak yang baik. Peleburan diri ini adalah peleburan ke dalam Dzat yang dijadikan tujuan, yang dirumuskan di kalangan tarekat Qadiriyan-Naqsyabandiyah dengan munajat “ilâhî anta maqshûdî wa ridhâka mathlûbî a’thinî mahabbataka wa ma’rifataka” (Ya Allah, Engkau adalah tujuanku dan Ridha-Mu adalah yang kucari, berikanlah kepadaku kecintaan-Mu dan kemarifatan-Mu). Meski begitu, menurut William Chittik, sebagian sufi ada yang menempuh cara meninggalkan dzikir atau wirid, karena menganggap masuk dalam kategori untuk meninggalkan “kecuali Allah”. Pada akhirnya, ketika sudah lebur kepada yang diingat dan yang dituju dzikir itu sendiri hilang, atau ketika tabir diangkat dan sirr sang salik mencapai tingkat sufi untuk bisa menyaksikan dan wushûl kepada-Nya, dzikir itu sendiri lenyap ke dalam keleburan dengan Allah. Mereka yang meninggalkan dzikir adalah mencari kekosongan total, atau kehampaan total untuk lebur, dan mereka berupaya terus untuk mencari keleburan ini. Menurut penulis, bagi mereka yang bisa menemukan musyâhadah dengan keleburan dengan meninggalkan wirid, haruslah dipahami seperti dikatakan Ibnu `Arabi, dcan ini juga dikutip Chittik: “Dzikir tetap lebih baik daripada meninggalkannya, karena orang hanya bisa meninggalkannya selama terjadi penyaksian; sedangkan penyaksian tidak bisa dicapai secara mutlak (Futuhât al-Makkiyah, II: 229.24.). Di sini, peninggalan dzikir itu muncul setelah adanya peleburan dan diangkatnya tabir/hijâb; dan karena momen seperti itu tidak mutlak sepanjang waktu, maka dzikir dianggap lebih baik, karena akan menjadi sarana untuk terus berdekat-dekat dengan-Nya. Secara lahir mereka yang melanggengkan dzikir khafî, bagi orang awam akan tampak mereka yang menjalaninya: pendiam dan memiliki ketenangan; dan karena diam, tampaknya secara lahir bagi awam tertentu, dianggap tidak berdzkir, karena bagi mereka ini dzikir adalah gerakan fisik, dan komat-kamit-nya mulut. Pandangan ini, sangat berbahaya kalau dimiliki orang berilmu. Sementara seorang `ârif, akan bisa merasakannya tanpa perlu dalil dan bukti, bahwa dengan dzikir khafî itu akan bisa menjadi pengantar menuju-Nya. Dzikir khafî, sebagaimana Gus Dur menggunakan metode ini dalam wiridnya, hanya mungkin dilakukan dengan perjuangan keras: menghilangkan ingatan dan ketergantungan kepada selain Allah, dan ini tidak mudah karena orang harus berjuang hebat, bisa memakan waktu cepat atau lambat (tergantung kondisi dan anugrah Allah yang diberikan kepada sâlik) untuk mencapai tahap kelanggengan dan penetapan dzikir khafî ini; dan anugrah Allah bagi penetapan dzikir khafî seperti ini, merupakan kata kunci yang berbarengan dengan perjuangan keras tadi. Ini disebabkan, karena dalam pencapaian jenjang-jenjang pendakian maqâmât, bagi sufi tidak ada yang murni hasil dari kekuatan sendiri; dan amal-amal semata bukanlah yang menyebabkan perkenan Allah. Sebaliknya, anugrah dan rahmat Allah kepada sang sâlik-lah yang menentukan. Oleh karena itu, memohon pertolongan kepada Allah mutlak untuk menepuh jalan ini, bagi penetapan untuk bisa mendapatkan praktik dan amalan wirid sampai pada tingkat dzikir khafî, dan karenanya tidak ada waktu baginya kecuali mengingat-Nya. [nur khalik ridwan] bersambung. Diposkan oleh tijani pangandaran di 05.38 KH. Said Aqil Siraj):Usus besar> "tempat penyakit, sesekali dibersihkan lewat puasa" Puasa Bisa Sehatkan Badan dan Pikiran =================== Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siraj, meminta seluruh umat Islam, khususnya Nahdliyin agar menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan benar. Kang Said, demikian Kiai Said biasa disapa, mengutip ayat Al Quran, Hadist dan pendapat pakar sebagai dasar anjurannya, dimana puasa akan berdampak positif bagi tubuh manusia. Anjuran tersebut disampaikan Kang Said saat menghadiri rapat kerja Lembaga Kesehatan Nasional, Sabtu, 13 Agustus 2011 lalu. "Kesehatan sangat diperhatikan oleh Islam, makanya ada perintah puasa dalam Al Quran. Hadist juga ada perintahnya, yaitu agar kita ini tidak makan dan minum secara berlebihan," kata Kang Said. Puasa, masih menurut Kang Said, dapat menyehatkan tubuh karena memberikan kesempatan pembersihan organ tubuh. Melalui puasa organ tubuh akan dibersihkan, karena terdapat waktu-waktu tertentu diliburkan sesaat dari aktifitas mencerna makanan. "Ada hadistnya itu. Jadi Al Ma'idah atau usus besar itu tempatnya penyakit yang harus sesekali dibersihkan, salah satunya lewat puasa. Dulu sahabat Harun Al Rasyid kalau terlalu berlebihan makan, oleh anak buahnya disarankan jalan kaki seribu lima ratus langkah, karena timbunan makanan yang berlebihan memang tidak menyehatkan. Makanya berpuasalah, agar tubuh dan pikiran kita menjadi sehat," tegas Kang Said. Perhatian besar Islam terhadap kesehatan juga dibuktikan dengan lahirnya sejumlah ulama yang juga dikenal sebagai ahli kesehatan. Salah satunya Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar Razi, orang pertama yang menemukan penyakit cacar, sekaligus bagaimana cara menyembuhkannya. Keberhasilan tersebut layak dibanggakan oleh umat Islam, karena orang non muslim juga mengakui penemuan tersebut. "Penemuan Abu Bakar Ar Razi itu dituangkan dalam kitabnya Al Qaawi Fiddin. Gambarnya (Abu Bakar Ar Razi) itu juga terpampang di Sobron University Perancis, yang artinya jasanya sangat diakui, bahkan oleh orang non muslim," pungkas Kang Said. sumber:http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/33472/Warta/Puasa_Bisa_Sehatkan_Badan_dan_Pikiran_.html me » Indonesian » KH. Said Aqil Siraj : NU Tegas Menolak Wahabi dan Sejenisnya KH. Said Aqil Siraj : NU Tegas Menolak Wahabi dan Sejenisnya Tuesday, 1 October 2013 08:37 Indonesian Muslimedianews, Jakarta ~ NU berkomitmen menjadi penguat NKRI. Nilai-nilai Islam yang dikembangkan NU dekat dengan nilai keindonesiaan yang ramah dan toleran. Terkait dengan paham luar semisal Wahabi, NU mengambil garis tegas menolaknya. Demikian ditegaskankan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj dalam diskusi Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU di Tebet, Jakarta, Senin (30/9) Kang Said, sapaan akrabnya, menjelaskan, tak hanya Wahabi, terhadap gerakan Islam lain semisal MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an) dan kelompok sejenis yang mudah memvonis salah dan sesat kelompok Islam lainnya, sikap NU tetap sama, yakni menolak tegas ide tersebut. Menurut dia, kelompok semacam ini tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang bersumber pada ajaran dan teladan Nabi Muhammad SAW. “Bagi NU, wahabi itu hanya sampai pada peringkat ahlussunnah (pengikut sunnah) saja, tetapi tidak wal jamaah (pengikut sahabat dan ulama penerusnya),” terang Kang Said. Dinilai tidak wal Jamaah karena Wahabi dan kelompok eksklusif sejenis mudah memvonis kafir sejumlah kelompok tak sepaham, termasuk para ulama besar, seperti Imam al-Ghazali, Abu Hasan Al-Asy’ari, Abdul Qadir al-Jailani, hingga beberapa ulama Al-Azhar. “NU mesti hati-hati. Kalau mereka besar dan kuat, sehingga berkuasa secara politik, maka wajah intoleran dan anarkis mereka semakin nampak,” tegas Kang Said. Di akhir sesi, Kang Said berharap Lakpesdam NU bekerja penuh menyikapi kondisi ini dengan berbagai upaya menyebarkan ide-ide NU yang khas Indonesia, berwajah ramah dan toleran. (Imam Ma’ruf/Mahbib) Kunjungi www.facebook.com/muslimedianews Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2013/10/kh-said-aqil-siraj-nu-tegas-menolak.html#ixzz2zlHDvbgP Menikah via Internet Ala Gus Dur Melihat kecerdasan sesorang bisa dari kecepatan dan kesigapannya dalam menghadapi dan menyelesaikan serta mengatasi masalah, tapi lain halnya dengan Gus Dur, melihat kecerdasan Gus Dur cukup lewat humor-humornya. Kalau ada pemimpin yang lamban dan tidak tegas dalam mengatasi masalah, itu bukan berarti tidak cerdas, hanya saja kurang tanggap, sehingga menutupi kecerdasannya. Sosok almarhum Gus Dur tetaplah menjadi fenomenal, terlepas dari segala kekurangannya. Kepemimpinannya yang singkat namun banyak memberikan manfaat bagi masyarakat, kedekatannya dengan rakyat merubah kesakralan istana merubah istana tidak lagi menjadi simbol-simbol feodal. Rakyat menjadi mudah untuk bertemu dengan pemimpinnya, demikian juga sebaliknya. Humor-humor Gus Dur yang cerdas dan bernas, sangat melekat dalam ingatan orang yang pernah mendengarnya, dalam acara memperingati 2 tahun wafatnya Gus Dur, dikediaman dinas Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, dibilangan Wisma Chandra, Jakarta Selatan, Senin (2/1/2012), beberapa tokoh diminta untuk menceritakan pengalamannya tentang Humor Gus Dur yang pernah didengar. Ide ini adalah merupakan ide nyeleneh dari Mahfud MD, yang ingin mengenang Gus Dur lewat humornya. Seperti yang diceritakan Ketua PBNU Said Aqil Siraj, Dulu, saat Internet baru marak di Indonesia, seseorang bertanya ke Gus Dur mengenai sah atau tidaknya menikah melalui Internet. Mendapat pertanyaan begitu, dengan ringan Gus Dur menjawab, “Menikah lewat Internet boleh, asal bertemunya juga di Internet saja, ciuman lewat Internet.” Kepada Aqil, Gus Dur juga pernah menceritakan humor tentang kesabaran. Dikisahkan tentang seorang pemuda gagah yang tengah berusaha memecahkan batu besar. Dicoba 50 pukulan, batu tak pecah. Dicoba 70 hingga 100 pukulan, batu tidak kunjung pecah. Lalu lewat seorang kakek tua renta, dipukulnya batu itu sebanyak lima kali. Eh, langsung pecah. Si pemuda bingung, pikirnya begitu sakti kakek ini. Tapi kakek itu cuma bilang, batu tersebut bisa pecah dengan 105 pukulan. Cerita Gus Dur yang disampaikan lewat humor tersebut sangat sarat makna dan pesan, begitulah cara Gus Dur memberikan pengajaran pada orang-orang terdekatnya. Pesan yang disampaikan terkesan sangat cerdas dan mengena. Jadi wajar saja kalau ide mengangkat cerita humor Gus Dur digelar oleh Mahfud MD dalam mengenang 2 tahun wafatnya Gus Dur, sehingga cerita-cerita tersebut meninggalkan kesan tersendiri bagi orang-orang yang pernah mendengarkannya. Sebagian cerita humor Gus Dur ini dikutip dari berbagai media online.

Tidak ada komentar: