(30) NURUL 'A'YUN

43 Karya Tulis/Lagu Nur Amin Bin Abdurrahman:
(1) Kitab Tawassulan Washolatan, (2) Kitab Fawaidurratib Alhaddad, (3) Kitab Wasilatul Fudlola', (4) Kitab Nurul Widad, (5) Kitab Ru'yah Ilal Habib Luthfi bin Yahya, (6) Kitab Manaqib Assayyid Thoyyib Thohir, (7) Kitab Manaqib Assyaikh KH.Syamsuri Menagon, (8) Kitab Sholawat Qur'aniyyah “Annurul Amin”, (9) Kitab al Adillatul Athhar wal Ahyar, (10) Kitab Allu'lu'ul Maknun, (11) Kitab Assirojul Amani, (12) Kitab Nurun Washul, (13) Kitab al Anwarullathifah, (14) Kitab Syajarotul Ashlin Nuroniyyah, (15) Kitab Atthoyyibun Nuroni, (16) Kitab al 'Umdatul Usaro majmu' kitab nikah wal warotsah, (17) Kitab Afdlolul Kholiqotil Insaniyyahala silsilatis sadatil alawiyyah, (18) Kitab al Anwarussathi'ahala silsilatin nasabiyyah, (19) Kitab Nurul Alam ala aqidatil awam (20) Kitab Nurul Muqtafafi washiyyatil musthofa.(21) KITAB QA'IDUL GHURRIL MUCHAJJALIN FI TASHAWWUFIS SHOLIHIN,(22) SHOLAWAT TARBIYAH,(23) TARJAMAH SHOLAWAT ASNAWIYYAH,(24) SYA'IR USTADZ J.ABDURRAHMAN,(25) KITAB NURUSSYAWA'IR(26) KITAB AL IDHOFIYYAH FI TAKALLUMIL ARABIYYAH(27) PENGOBATAN ALTERNATIF(28) KITAB TASHDIRUL MUROD ILAL MURID FI JAUHARUTITTAUHID (29) KITAB NURUL ALIM FI ADABIL ALIM WAL MUTAALLIM (30) NURUL 'A'YUN ALA QURRATIL UYUN (31) NURUL MUQODDAS FI RATIBIL ATTAS (32) INTISARI & HIKMAH RATIB ATTAS (33) NURUL MUMAJJAD fimanaqibi Al Habib Ahmad Al Kaff. (34) MAMLAKAH 1-25 (35) TOMBO TEKO LORO LUNGO. (36) GARAP SARI (37) ALAM GHAIB ( 38 ) PENAGON Menjaga Tradisi Nusantara Menulusuri Ragam Arsitektur Peninggalan Leluhur, Dukuh, Makam AS SAYYID THOYYIB THOHIR Cikal Bakal Dukuh Penagon Nalumsari Penagon (39 ) AS SYIHABUL ALY FI Manaqib Mbah KH. Ma'ruf Asnawi Al Qudusy (40) MACAM-MACAM LAGU SHOLAWAT ASNAWIYYAH (bahar Kamil Majzu' ) ( 41 ) MACAM-MACAM LAGU BAHAR BASITH ( 42 ) KHUTBAH JUM'AT 1998-2016 ( 43 ) Al Jawahirun Naqiyyah Fi Tarjamatil Faroidus Saniyyah Wadduroril Bahiyyah Lis Syaikh M. Sya'roni Ahmadi Al Qudusy.

Rabu, 19 Juni 2013

INTISARI & HIKMAH RATIB AL ATTAS

INTISARI DAN HIKMAH RATIB AL ATTAS Waktu-Waktu yang tepat untuk membaca Ratib Al Attas sebagaimana yang telah di amalkan salafusshalihin dan shahiburratib ada tiga : 1- Setelah shalat Isya’ 2- Sebelum shalat Isya’ pada hari-hari di bulan Ramadlan dengan maksud agar shalat-shalat sunnah yang ada di bulan Ramadlan untuk tidak disibukkan hal-hal lainnya. 3- Setiap pagi dan sore bagi yang memiliki keinginan keras untuk memperoleh kebajikan dan amal shaleh atau memiliki hajat penting lainnya. MANFA’AT MEMBACA RATIB AL ATTAS Diantara manfa’at membaca ratib secara umum ialah : 1- Dapat mengatasi krisis paceklik, kekurangan pangan dan kesulitan mencari rizqi. 2- Diampuni dosa bagi yang membacanya 3- Tempat, desa atau daerah yang di tempati yang dibacakan ratib akan menjadi pelindung bagi penghuninya dari segala macam kejahatan, bahaya dan malapetaka lainnya. 4- Dapat mencegah kejahatan musuh atau lawan,menghilangi rasa takut dan kekejaman orang-orang yang dhalim. Hendaknya dibaca tidak terlalu keras sepertiyang dilakukan shahiburratib. RAHASIA JUMLAH HITUNGAN DZIKIR Jumlah hitungan dzikir ini berdasarkan referensi dan hadits Rasul saw. Sebagaimana yang telah diriwayatkan sahabat Ibnu mas’ud bahwa rasulullah saw acap sekali berdo’a atau ber istighfar sabanyak tiga kali. Shahiburratib pernah mengatakan “ Bagaimana mungkin saya akan lepas hubungan langsung denagn Rasulullah saw sedangkan beliau adalah sebab keberadaan saya “ maka dapat kita simpulkan bahwa shahiburratib selalu berkomunikasi langsung dengan Rasulullah saw setiap saat karena itu beliau tidak akan berbuat atau berkata sesuatu kecuali telah mendapat bimbingan langsung dari Rasulullah saw. KOMENTAR KITAB AL QIRTHAS “Bila pintu untuk menjadi salah satu auliya’illah(wali-wali Allah) tertutup, maka cukuplah dengan mencintai sekaligus mempercayai mereka.Dengan harapan kelak bisa berkumpul bersama mereka, orang-orang yang di cintai” Diantara ketiga ratib(al haddad, al attas, al idrus) yang paling terkenal adalah ratib al haddad padahal al haddad adalah murid dari al attas ketika ada seseorang minta ijin kepada al habib Abdullah bun Alawi Al haddad untuk membaca ratib haddad maka beliau menyarankan membaca ratib al attas dulu baru ratib al haddad. Dan memang al attas tidak suka masyhur (populer) bila mengunjungi suatu daerah maka orang-orang dekatnya agar tidak memberitaukan kedatangannya pada masyarakat kemudian baru tiga hari masyarakat baru tahu. Tentang mushahabah-musyahadah beliau selalu bersama dan menyaksikan Rasulullah saw. Jika as syaikh ibnu atha’illah pernah mengatatakan “ Kalau saja Rasulullah hilang dari pandanganku walaupun sedetik rasanya diriku ini sudah tidak layak mengaku sebagai muslim “ maka al habib Umar Al Attas mengatakan “ bagaimana mungkin Rasulullah saw hilang dari pandangan kita sedangkan beliau itulah hakekat mata dan keberadaan kita”. KERAMAT-KERAMAT BELIAU Keramat-keramat beliau sangatlah banyak yang paling termasyhur adalah Beliau dan ayahandanya (habib Abdurrahman) dan kakek beliau (habib Aqil) sudah bisa bersin- bersin saat masih dalam kandungan ibundanya. Dari sinilah beliau-beliau diberi gelar marga Al attas (Al Atthos) yang berarti bersin. Menurut cerita “ ketika dalam kandungan habib umar bersin dan ibunya (syarifah muznah binti Muhammad al jufri) lupa membaca hamdalah maka janin itu segera mengingatkan ibundanya” wahai ibu ucapkanlah Alhamdulillah…… بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين........الاية Intisari : surat fatehah merupakan surat yang paling utama dan belum pernah diturunkan pada kitab suci sebelum Al Qur’an dan menjadi inti dalam Al Qur’an dan merupakan pokok dari kandungan Al Qur’an. Khasiat : Menjadi obat segala penyakit dhahir batin dan apabila dibaca bersama ayat kursi maka terbebas dari gangguan jin atau manusia dan apabila dibaca 40x setelah shalat shubuh dan 30x setelah dhuhur dan 20x setelah asar dan 15x setelah maghrib dan 10x setelah Isya’ maka akan mempermudah datangnya rezqi. هو الذي لآاله الا هوعالم الغيب والشهادة هو الرحمن الرحيم .........وهو العزيز الحكيم. Intisari : Nama-Nama Allah swt yang terdapat dalam ayat tersebutmerupakan nama-nama yang paling baik dan agung atau disebut Al Asma’ul Husna. Khasiat : Terampuni dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang. Dan apabila dibaca ketika hendak tidur kemudian meninggal dunia maka menjadi syahid dan masuk surga. Dan apabila ditulis bersama ayat terakhir surat al baqarahdan diletakkan disabuk atau ikat pinggang maka orang yang memakainya bisa berjalan ketempat manapun tanpa diketahui orang lain. أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم Intisari: Ta’awudz ini sering digunakan penduduk haramain, Iraq dan syuriah juga digunakan ketika meminta perlindungan dari gangguan syetan. Khasiat: Apabila membaca As Sami’u pada hari kamis 500 x setelah shalat dhuha maka do’anya akan dikabulkan Allah swt.dan apabila lafadz Al Alim dibaca berulang kali maka akan menjadi wasilah (lantaran) datangnya ilmu dan ma’rifat kepada Allah dengan sempurna. أعوذ بكلمات الله التامات من شر ماخلق Intisari: kalimat ini tiada cela kalimat yang sempurna bermanfa’at dan member syafa’at bagi yang membacanya. Dzikir ini termasuk mustajab jika dibaca terus menerus maka akan sukses segala urusannya. Khasiat: Jika dibaca tengah malam maka yang membaca akan menyaksikan hal-hal yang aneh dan ajaib. Dan dapat dijadikan do’a untuk menaklukan lawan maupun musuh.apabila dibaca 3x maka yang membaca tidak akan terpengaruh oleh gangguan apapun. Apabila dibaca hendak tidur maka tidak akan terganggu pengaruh apapun. Jika dibaca pagi dan sore selamat dari berbagai gangguan. Bila dibaca disuatu tempat maka akan selalu aman hingga dia meninggalkan tempat itu. بسم الله الذي لايضر مع اسمه شيئ فى الارض ولافى السمآء وهو السميع العليم Intisari: Segala Asma Allah yang mulia yang dapat mencegah segala keburukan dan kejahatan baik yang ada dilangit dan bumi . Dan dzikir ini juga terdapat dalam HIZIB ANNUR milik as syaikhAbil Hasan Ali As Syadzili RA. Khasiat: Apabila dibaca disebuah rumah maka rumah dan isinya akan terjaga dari pencuri dan penjahat. Menjadi obat segala penyakit. Penyelamat dari musuh dan kekejaman. Penawar racun dan sesuatu yang mematikan. Diceritakan budak Abu Darda’ RA. Telah meminum racun sebanyak 40x tadi tidak membekas sedikitpun pada tubuhnya karena setiap kali minum membaca dzikir ini. Dan barang siapa membaca 3x pagi dan sore maka akan selamat dari segala sesuatu yang membahayakan dirinya dan tidak akan terkena bencana mendadak serta penyakit stroke. بسم الله الرحمن الرحيم ولاحول ولاقوة الابالله العلي العظيم Intisari: Dzikir ini dibaca 10x lebih banyak dari pada dzikir-dzikir yang lainnya karena tingginya kedudukan dari arti dzikir ini. Rasul saw berkata “ perbanyaklah kalian membaca Lahaula walaquwwata illa billahil aliyyil adhim karena menjadi menjadi harta karun di surga dan menjadikan sebab kekalnya ni’mat dan menjadi pembicaraan penduduk langit dan bumi. Khasiat: Jika dibaca dan ditambah doa” La manja minallahi illa alahi “ maka Allah akan menjauhkan 70 pintu bahaya, paling kecil jauh dari hidup miskin. Dan jika dibaca 3x pagi dan sore maka akan menjauhkan dari 99 penyakit paling ringan dari rasa susah. Dan bila dibaca 10x sehari maka semua dosanya dihapus diampuni Allah swt dan di jaga 70 pintu malapetaka dunia seperti penyakit lepra, belang, stroke, gila, dsb. Dan pahalanya lebih baik daripada 70x ibadah haji dan umrah. Dan Allah swt akan mengabulkan 80 hajat akhirat dan 20 hajat dunia. بسم الله الرحمن الرحيم Intisari: Merupakan kunci Al Qur’an. Merupakan tulisan pertama yang ditulis di lauhil mahfudh. Segala urusan baik jika di dahului baca basmalah maka berkahnya tidak terputus. Merupakan Inti Al Qur’an. Bersuci bisa sah, menyenbelih bisa halal, dan syetan tidak bisa mengganggu. Dan bila dibaca dikuburan maka ahli Qubur tidak disiksa. Khasiat: Jika dibaca bersama HAUQALAH maka dijauhkan 70 pintu malapetaka. Dan kalau dibaca 21x hendak tidur maka Allah menjaganya dari kebakaran, miskin, dan mati mendadak. Jika dibaca 787x dengan shalawat 132x maka segala hajat dikabulkan Allah swt. Dan siapa yang membacanya maka selamat dari neraka Zabaniyyah yang jumlahnya ada 19 sesuai jumlah huruf basmalah. Dan bila dibaca 100x maka menjadi obat akibat terkena sihir. Dan bila dibaca 113x dihari jumu’ah ketika khatib duduk maka doanya dikabulkan Allah swt. Dan bila dibaca 313x bersama shalawat 100x maka mempermudah datangnya rizqi. Dan jika dibaca akan melakukan sesuatu maka mempermudah ketika sakaratul maut, menghadapi malaikat munkar nakir dan himpitan kubur. بسم الله تحصنا بالله بسم الله توكلت على الله Intisari: Dzikir ini termasuk benteng dari Allah siapa yang masuk maka aman dari segala yang mengganggu dan menakutkan baik dunia maupun akhirat dari dzkir ke tujuh sampai sebelas jumlah basmalah ada 6 ini menunjukkan begitu besar arti didalamnya. Khasiat: Rasul saw bersabda “ ada 70.000 dari umatku masuk surga tanpa hisab mereka adalah orang-orang yang bertawakkal. Dan barang siapa membaca Al Qur’an maka ia telah membentengi dirinyd dengan nama Allah maka tidak akan diganggu oleh apapun dan siapapun. Dan barang siapa keluar rumah membaca Bimillah Tawakkaltu Alallah Lahaula Walaquwwata Illa Billah. maka dia Akan selamat dari gangguan syetan.Dan barang siapa membaca Ayat diatas pagi dan sore maka Allah akan menjaganya dari segala wereng dan kutu. بسم الله آمنا بالله ومن يؤ من بالله لاخوف عليه Intisari: Dzikir ini sesuai beberapa ayat Al Qur’an diantaranya Surat Ali Imran ayat 7dan 16 surat Al ma’idah ayat 84. Surat Al Baqarah Ayat 136. Sayyidina Usman Bin Affan ketika dibaiat menjadi khalifah beliau membuat stempel dengan cincinnya yang bertuliskan AAMANTU BILLAHI MUKHLISON. Dalam riwayat lain AAMANTU BILLADZI KHOLAQO FASAWWA. Dzikir ini diambil dari sebuah doa untuk menjaga diri. Khasiat: 1. Diriwayatka Imam Ahmad Ra, Rasulullah SAW bersabda : Apabila seorang muslim ketika hendak keluar rumah mengucapkan: Amantu billah I’tashomtu billah Tawakkaltu alallah lahaula wala quwwata illa billah.. Maka akan diberi kelapangan rizqi oleh Allah swt. Apabila punya penyakit WAS-WAS maka bacalah AMNTU BILLAHI WARUSULIH. (riwayat sayyidatina Aisyah dari Rasulullah saw). سبحان الله عز الله سبحان الله جل الله Intisari: Dzikir ini dibaca setelah membaca basmalah sebanyak 6x hati terasa mantap dengan hakekat iman sesuai arti bacaan. cocok dalam Al qur’an surat (Al An’am ayat 103) dan surat Al jumu’ah ayat 1). Khasiat: 1. Jika dibaca dibaca disertai baca: As aluka bismikal A’ala Al a’azzi Al Ajalli Al Akram maka doanya tidak akan ditolak. 2- bila takut pada pejabat, penguasa maka bacalah: Laailaha Illa Anta Azza jaaruka wajalla tsanaauka. Siapa yang baca: Al Muizzu 140x pada malam senin dan jumuah maka setelah maghrib dan isya’ ,aka akan memiliki HAIBAH/KEWIBAWAAN didepan orang dan tidak akan merasa takut kepada siapapun kecuali Allah awt. Siapa yang baca : Al Mudzillu 75xlalu bersujud dan menyebutkan musuhnya (yang tidak adil dan dzalim) dengan berdo’a” Ya Allah Lindungilah Aku dari si fulan…….” Maka Allah akan menjaga dari kejahatan musuh dan dia tidak akan takut padanya. Bila membaca Asma AL AZIZ setiap hari 41x maka setelah sholat subuh selama 40 hari maka akan diberi kemuliaan dan kekayaan. Bila baca AL JALIL atau DZUL JALALI WAL IKRAM 100x maka segala hajat dikabulkan. سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم Intisari: Dzikir ini merupakan tasbihnya binatang,tanaman dan benda-benda mati lainnya dalam rangka mensucikan Allah swt, dan Dzikir ini mereka diberikan rizqi oleh Allah swt. Seperti yang telah di firmankan Allah swt dalam surat Thaha ayat 130. Dan surat Al Hijr ayat 98. Dan surat Al Mu’min/ghafir ayat 55. Rasulullah saw bersabda ; Dua kalimat yang ringan dimulut, berat dalam timbangan amal dan dicintai Allah swt. Khasiat: Jika dibaca 3x setelah subuh dan maghrib maka nasibnya akan selalu baik dan mujur. Dan bila seseorang membacanya maka akan ditulis baginya 124.000 pahala. Bacaan ini lebih dicintai Allah swt daripada gunung emas yang di infaqkan dijalan Allah swt. Dan akan dihapus dosanya sekalipun bagaikan buih/unthuk air laut. Bila dibaca setelah shalat malam 100x bersama istighfar maka dilapangkan rizqinya dan dibayari hutangnya bisa mengangkat derajatnya. Jika Rasul saw dilanda masalah beliau mengangkat kepalanya SUBHANALLAHIL ‘ADHIM” سبحان الله والحمد لله ولااله الا الله والله اكبر Intisari: Dzikir ini disebut Al baqiyyatusshalihat bila dibaca pahalanya besar. Dan Rasul swa member nama Riyadlul Jannah (Taman Surga). Menjadi Tanaman Disurga dan menjadi penyebab masuk surga dan menjadi pengganti Al qur’an bagi yang tidak mampu membaca Al qur’an. Menjadi bacaan bangsa jin ketika mengangkat benda-benda berat. Dan merupakan bacaan nabi Ibrahim dan nabi Isma’il ketika membangun Ka’bah. Jika dibaca 4x sebagai pengganti sholat Tahiyyatal Masjid dan sebagai tanda benar-benar mensucikan Allah dengan kesempurnaan namanya sifatnya dan prilakunya dan sesuai dalam Al qu’an surat Al kahfi ayat 46. Surat Al fathir ayat 10. Khasiat: Dzikir ini dapat menggugurkan dosa seperti gugurnya daun-daun dari pohonnya. Pahalanya sama memerdekakan budak 100. sede kah 100 kuda sedekah 100 onta dan menjadi benteng dari api neraka dan menjadi timbangan amal lebih berat timbangan langit dan bumi dan setiap huruf menjadi sepuluh kebajikan dan diampuni dosanya sekalipun bagaikan buih air laut dan siapa yang membaca AL KABIR setiap hari 70x sebelum dan sesudah matahari tenggelam maka diberi Allah keamanan. يالطيفا بخلقه ياعليما بخلقه ياخبيرا بخلقه الطف بنا يالطيف ياعليم ياخير Intisari: Dalam dzikir ini ada asma Allah AL LATHIF dan AL KHABIR yang mengandung faedah mubalaghah (sangat) menjadi pengaman dari segala yang menakutkan pencegah segala malapetaka bahaya dan problematika. Dzikir ini seuai dengan surat Al ahzab ayat 34. Dan surat Al Hajj ayat 63. Rasul saw bersabda: Sungguh Allah lebih belas kasih dari seorang ibu pada anaknya. Menurut ibnu Abbas AL LATHIF ialah Allah Dzat yang belas kasih dan lemah lembut terhadap hambanya. Dan arti AL KHABIR ialah ALLAh Dzat yang maha melihat sesuatu dengan teliti. Menurut imam baidlawi AL LATHIF ialah ilmu allah terhadap hal-hal yang bathin dan AL KHABIR ialah terhadap hal-hal yang dhahir. Imam Abul khair Al Aqta’ pernah berkata: janganlah minta pada Allah supaya tahan terhadap malapetaka dan ujian tapi mintalah LUTHFULLAH karena seberat apapun derita tidak akan terasa berat padahal sabar menahan derita merupakan hal yang berat. Khasiat: Dzikir ini dapat mengantar seseorang menunaikan haji dan ziarah Rasulullah saw dengan rizqi yang tidak terduga-duga. Seperti kata imam Al yafi’ dalam bukunya Raudhur Rayyabin. Dibaca ketika mengalami sempit susah dan bencana maka aka nada jalan keluarnya. Siapa yang membaca AL ALIM maka Allah akan memberi dia sifat ma’rifat. Barang siapa baca AL KHABIR dengan khusyu’ maka akan diberi kedudukan tinggi dan terhormat dan dapat mengetahui hal-hal yang ghaib. Dan barang siapa membaca: ياخفي الألطاف نجني مما اخاف يالطيف أدركني بلطفك الخفي meskipun sekali saja maka Allah swt mengabulkan hajatnya. Doa ini adalah doa nabi Khidlir as yang pernah diajarka seorang wali yang terdampar di tengah-tengah padang pasir ketika ia hendak pergi haji dan ziarah ke makam Rasulullah saw sementara ia tidak membawa bekal apapun. Berkat do’a ini ia berhasil. يالطيفا لم يزل الطف بنا فيما نزل إنك لطيف لم تزل الطف بنا والمسلمين Intisari: Bisa jadi yang dimaksud kata ya lathifan adalah Rasulullah saw karena beliau memiliki sifat lathif meskipun berbeda dengan sifat lathif bagi Allah swt. Dalam dzikir ini kita bertawassul kepada Rasulullah saw seorang yang memiliki prilaku lembut supaya segala gerak-gerik langkah tingkah laku serta kehidupan kita dan kaum muslimin sepanjang masa selalu dikasihi Allah swt. Khasiat: Jika Asma Allathif dibaca 129x faedahnya mendatangkan rizqi, ilmu, memudahkan berbicara dan menghilangkan perasaan resah. Untuk mendatangkan rizqi ditambah bacaan: الله لطيف بعباده ( سورة الشورى اية 19) Untuk menambah ilmu ditambah bacaan: ألايعلم من خلق وهو اللطيف الخبير (سورة الملك اية 14) Untuk memudahkan berbicara ditambah bacaan: لاتدركه الابصار وهو يدرك الابصار وهو اللطيف الخبير (سورة الانعام اية 103) Untuk menghilangkan rasa resah ditambah bacaan: إن ربي لطيف لطيف لما يشاء إنه هو العليم الحكيم (سورة يوسف اية 100) Selanjutnya barang siapa dalam bepergian mengalami kesulitan kemudian membaca Ya lathif 100x setelah sholat sunnah wudhu maka akan mendapat kemudahan dari Allah swt. Barang siapa membaca Al lathif 100x keadan suci maka segala hajatnya akan dikabulkan Allah swt. لآاله الاالله *100/70/40 محمدرسول الله صلى الله عليه وسلم Intisari: Nabi bersada: Kalimat ini merupakan tulisan di pintu surga dan tidak akan disiksa orang yang membacanya danmempermudah segala urusan dan menyelamatkan pembacanya dari hisab dan siksa akhirat dan menjadi benteng Allah swt. Dan barang siapa masuk dalam benteng Allah maka dijauhkan dari siksanya. Setiap amal kebajikan ada ukurannya (pahala) kecuali kalimat Lailaha Illallah, karena kalimat ini tidak ada tandingannya sekalipun diukur dengan luasnya langit dan bumi. Dan kalimat ini menjadi harganya surge dan merupakan dzikir yang paling baik dan dalam Al Qur’an disebut ada 37 tempat. Khasiat: Rasulullah saw bersabda: sehari semalam 24 jam dan kalimat Lailaha Illallah muhammadurrasulullah ada 24 huruf bila seseorang membaca sehari semalam sekali saja maka setiap hurufnya dapat melebur dosanya dalam satu jam . dan tidak tersisa dosa sama sekali apabila seseorang membacanya setiap hari. Dan barang siapa akhir hayatnya membaca Lailaha Illallah maka pasti masuk surga. Dan barang siapa mengucapkan laila Illallah dengan dengan ikhlas maka diampuninya 40.000 dosa besar dan jika tidak ditemukan dosa itu maka akan diampuni dosa orang tuanya, keluarganya dan tetangganya. Imam Ibnul Fakihani mengatakan: barang siapa membaca Lailha Illallah ketika masuk rumah maka tidak akan mengalami hidup miskin dan dapat menhilangkan resah, bingung, sulit rizqi dan dapat mempercepat kesuksesan dan menambah cahaya hati. حسبنا الله ونعم الوكيل Intisari: Dzikir ini dibaca Nabi Ibrahim as ketika dilemparkan kedalam api oleh raja Namrudz, maka dengan izin Allah api menjadi dingin dan beliau selamat. Dan dibaca Nabi Muhammad saw ketika mengalami kekalahan dalam perang uhud. Dan sesuai dalam firman Allah surat Ali Imran Ayat 173. Dan surat At thalaq ayat 3. Dan surat Al ahzab ayat 39. Dan merupakan doa Rasulullah ketika tertimpa kesusahan dan kesedihan. Khasiat: Rasulullah saw bersabda: barang siapa membaca فإن تولوا فقل حسبي الله لااله هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم (Attaubah 129). Setiap hari 7x maka Allah akan mencukupi kebutuhannya baik dunia maupun akhirat, baik dia jujur maupun tidak. Rasulullah saw bersabda barang siapa membaca HASBUNALLAH WANI’MAL WAKIL maka dia selalu aman dari gangguan apapun. Dan barang siapa membaca surat attaubah ayat 129 maka dapat meluluhkan hati musuhdan selamat dari tipu muslihat musuh. Barang siapa membacanya 30x pada malam malam jumu’ah dan berdo’a: اللهم انت ربي حسبي على( فلان بن فلانة)......... الطف قلبه اوذله Maka Allah akan melunakkan hati lawan atau musuhnya. Bila dibaca 10x maka akan menghilangkan keresahan dan kesedihan. Dan bila dibaca 3x pada pagi dan sore maka selalu dalam lindungan Allahswt. Asma Allah AL HASIB bermanfa’at untuk menjaga uang dan harta benda. Bila kehilangan kemudian membaca dzikir tersebut maka akan menemukan kembali. Dan bisa menjaga janin yang ada dalam kandungan. Bila bepergian kemudian membaca dzikir ini sambil memegang dadanya maka anak-anaknay dan hartanya akan dijaga oleh Allah swt. اللهم صل على محمد اللهم صل عليه وسلم untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt. Bacaan sholawat ini boleh ditambah kalimat ALAIHI (keluarganya) dan SHAHBIHI (keluarganya). Membaca sholawat 11x seperti rahasia sholat witir . Rasulullah saw bersabda : barang siapa membaca shalawat untukku 1x maka Allah member 10 kebaikan dan menghapus 10 dosa. Bila dibaca 3x maka dihapus dosanya siang dan malam. Bisa menjauhkan dari kemiskinan dan pembersih hati. Hadits Qudsy Allah swt berfirman: barang siapa ummatmu membaca shalawat kepadamu 3x maka aku mengampuni dosa-dosanya bila dibaca berdiri maka diampuni sebelum duduk dan sebaliknya. Bila hamba membaca shalawat maka tidak ada sehelai rambutpun kecuali diampuni Allah swt. Dalam hadits qudsy dikatakan: barang siapa membaca shalawat maka Alllah mengampuni dosa-dosannya walau sebanyak buih air laut. Rasulullah saw bersabda: tiada majlis yang dibacakan shalawat didalamnya kecuali tercium bunga wangi semerbak hingga kelangit. Dalam hadits qudsy diceritakan perbanyaklah shalawat pada malam jumu’ah karena ditunjukkan kepadaku pada saat itu. Rasulullah saw bersabda: barang siapa lupa sesuatu maka bacalah shalawat karena akan mengingat sesuatu itu. Barang siapa membaca shalawat nabi maka memperoleh pahala seperti ikut perang bersama nabi 400x, dimana setiap peperangan itu pahalanya seperti 400x menunaikan haji. Barang siapa baca 100x maka diberi Allah rahmat 1000x dikabulkan 1000x hajatnya paling ringan bebas api neraka. Khasiat: Akan dipenuhi segala urusan dunia dan akhirat, dijauhkan dari rasa takut bingung dan panik. Mendapatkan kesaksian dari Rasulullah saw, dan diberi syafa’atnya diberi ridha Allah selamat dari murka Allah masuk dalam naungan Arsy bisa menambah bobot timbangan amal baik bisa melewati SHIRAT AL MUSTAQIM bagaikan kilat dan bisa menambah dan menumbuhkan keberkahan harta dan kekayaan. Pahalanya berguna pada dirinya, anak-anak dan cucunya. Menjadi penerang dialam quburnya dan dioadang mahsyar. Dan bisa melumpuhkan musuh dan bisa terhindar dari kemunafikan dan bisa dicintai Allah dan sesame mulimdan bisa jadi sebab bertemu dengan baginda Rasulullah saw baik tidur maupun terjaga. استغفر الله Intisari: Anjuran untuk membaca dzikir dalam AL Qur’an ada 40 ayat lebih diantaranya dalam surat An Nisa’ ayat 64. Ayat 110. Surat Hud ayat 3. Dsb. Diriwayatkan Nabi Muhammad Saw dalam sehari tidak kurang 70 sampai 100x . Alasan dzikir dalam ratib ini hanya lafadz TAGHFIRULLAH saja tidak ada tambahan apa-apa karena berdasarkan sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw jika selesai shalat selau membaca ISTIGHFAR sebagaimana kalimat dzikir ASTAGHFIRULLAH sebanyak 3x. Khasiat: Rasulullah saw bersabda: barang siapa banyak membaca istighfar maka Allah akan menentramkan hatinya memudahkan urusannya dan membukakan rizqinya. istighfar merupakan obat segala penyakit, barang siapa membaca ASTAGHFIRULLAHAL ‘ADHIM berarti dia telah menanamkan satu tanaman di surga. Allah mengangkat derajatnya seseorang karena istighfar anaknya. Jika melakukan dosa kecil lalu membaca istighfar maka cepat hilang. Hati bisa berkarat dan pembersihnya adalah istighfar. Dalam catatan amal dapat memancarkan cahaya. Sebagai penghapus dosa . bila kurang rizqinya maka perbanyaklah istighfar. Karena bisa ma memadamkan amarah Allah swt. Dan istighfar termasuk bisa menyelesaikan urusan seseorang baik pekerjaan utang piutang dll. . Khasiat asma Allah AL GHAFIR dapat menyembuhkan tubuh sakit. Barang siapa membaca YA GHAFFARU IGHFIR LI DZUNUBI setelah shalat jum’at 100x maka Allah swt akan mengampuni dosanya. Barang siapa membaca YA TAWWAB 360x setelah shalat dhuha maka Allah swt akan menerima taubatnya. Jika dibaca 10x didepan orang zhalim maka akan dibebaskan oleh Allah swt dari penganiayaannya. تائبون الى الله Intisari: salah satu penyempurna ISTIGHFAR kepada ALLah swt adalah bertaubat kepadanya. Anjuran bertaubat banyak disebut dalam Al Qur’an seperti surat At Tahrim ayat 5. Surat An Nur ayat 31. Surat Al Baqarah ayat 222. Rasulullah bersabda: orang-orang yang bertaubat adalah kekasih Allah swt. Khasiat: Syarat-syarat bertaubat ada 4: Menyesali perbuatannya, berubah sikap dan tingkah lakunya, niat sungguh-sungguh tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Nabi pernah bersabda: barang siapa bertaubat kepada Allah swt maka Allah akan menerima taubatnya. ياالله بها ياالله بها ياالله بحسن الخاتمة Intisari: Dzikir ini menjadi dzikir terakhir, oleh sebab itu isinya do’a mohon husnul khatimah. Diceritakan ada seorang waliyullah yang KASYAF pernah melihat iblis dengan tubuh kurus, warnanya pucat, punggungnya bungkuk sedang menangis. Kemudian waliyullah tadi bertanya apa yang menyebabkan punggungmu bungkuk ? dijawab: karena manusia selalu berdo’a dengan memohon husnul khatimah. Ayat yang berkaitan ini sangat banyak seperti dalam surat Al Anbiya’ ayat 101. Surat Al An’am ayat 124. Surat Al Ma’rij ayat 2-3. Khasiat: Husnul khatimah akan diperoleh seseorang jika dia memang sudah ditetapkan allah swt sebelumnya menjadi orang-orang yang bahagia. Ciri-cirinya adalah 11: 1- ZUHUD (tidak menyukai duniawi dan lebih menyukai akhirat) 2- gemar melakukan ibadah dan membaca Al Qur’an.3- sedikit bicara. 4. Selalu mengerjakan shalat lima waktu dengan berjama’ah. 5. Menjauhi makan yang syubhat dan yang haram. 6. Suka bergaul orang-orang yang shaleh. 7. Selalu rendah diri atau rendah hati. 8. Dermawan. 9. Belas kasih antar sesame mahluk Allah swt. 10. Memberi manfa’at kepada orang lain. 11. Banyak mengingat mati. Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya dan sebaik-baik amal adalah disaat akhir hayatnya. غفرانك ربنا واليك المصير . لايكلف الله نفسا الاوسعها لها ماكسبت وعليها مااكتسبت . ربنا لاتؤاخذنا ان نسينا اواخطأنا , ربنا ولاتحمل علينا اصرا كما حملته على الذين من قبلنا , ربنا ولاتحملنا مالاطاقة لنا به , واعف عنا واغفرلنا وارحمنا انت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين. Intisari: Rasulullah saw bersabda: allah telah mengakhiri surat Al Baqarah dengan dua ayat yang diberikan padaku dari simpanan kekayaan yang berada dibawah Arasy. Keistimewaan ayat ini memiliki fadhilah seperti satu Al Qur’an . ayat ini merupakan ayat yang sangat dicintai Allah swt. Khasiat: menjadikan pembacanya masuk surga. Menjadikan pembacanya ridha pada pembacanya. Dan dapat menyembuhkan penyakit. قبيل الصبح يوم الاربعاء واكي 10 شعبان 1434 / 19 جوني 2013 بيد الفقير : محمد نور امين بن عبدالرحمن

UMUR PARA NABI

Umur 25 Nabi -'Alaihimus Salam- Dan Letak Makam Mereka 1. Nabi Adam ‘Alaihis Salam Umur : 1000 tahun Makam : India, menurut satu pendapat ada di Makkah, dan menurut pendapat lain ada di Baitul Maqdis 2. Nabi Idris ‘Alaihis Salam Umur : 865 tahun Makam : (tidak ada informasi) 3. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam Umur : 950 tahun Makam : Masjid Kufah, , menurut satu pendapat ada di al-Jabal al-Ahmar (Gunung Merah), dan menurut pendapat lain ada di dalam al-Masjid al-Haram Makkah. 4. Nabi Hud ‘Alaihis Salam Umur : 464 tahun Makam : di Timurnya Hadharamaut, Yaman. 5. Nabi Shalih ‘Alaihis Salam Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan masa hidupnya. Makam : di Hadharamaut 6. Nabi Luth ‘Alaihis Salam Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan masa hidupnya. Makam : Shou’ar 7. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam Umur : 200 tahun Kelahiran : Lahir pada 1273 tahun setelah peristiwa banjir dan topan pada masa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Makam : di kota al-Khalil (Palestina), dimakamkan bersama Sarah (isteri pertamanya). 8. Isma’il ‘Alaihis Salam Umur : 137 tahun Makam : dimakamkan di samping Ibunda (yakni Hajar) di Makkah (di sekitar Ka’bah dekat Maqam Ibrahim) 9. Nabi Ishaq ‘Alaihis Salam Umur : 180 tahun Makam : dimakamkan bersama Ayahanda (yakni Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam) di kota al-Khalil (Palestina). 10. Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam Umur : 137 tahun Wafat : di Mesir Makam : untuk memenuhi wasiatnya, oleh sang putra (Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam), jenazahnya dipindah dimakamkan ke kota al-Khalil (Palestina) 11. Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam Umur : 110 tahun Wafat : di Mesir Makam : oleh saudara-saudaranya (untuk memenuhi wasiatnya) jenazahnya kemudian dipindah dimakamkan di Nablus (Palestina) 12. Nabi Syu’ab ‘Alaihis Salam Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan masa hidupnya. Makam : di desa Hathin dekat kota Thabariyah (Syria) 13. Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam Umur : 93 tahun Makam : di desa Syaikh Sa’d (dekat kota Damasykus) Syria. 14. Nabi Dzul Kifli ‘Alaihis Salam Umur : (tidak ada informasi) Lahir : di Mesir Makam : wafat di daerah gunung Thursina, menurut salah satu pendapat di samping Ayahanda di salah satu kota di Syam. 15. Nabi Yunus ‘Alaihis Salam Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan masa hidupnya. Makam : tidak ada informasi sama sekali tentang letak makamnya. 16. Nabi Musa ‘Alaihis Salam Umur : 120 tahun Makam : wafat di daerah gunung Thursina dan di makamkan di sana. 17. Nabi Harun ‘Alaihis Salam Umur : 122 tahun Makam : wafat di daerah gunung Thursina dan di makamkan di sana. 18. Nabi Ilyas ‘Alaihis Salam Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan masa hidupnya. Lahir : dilahirkan setelah masuknya Bani Isra’il ke Palestina. Makam : menurut satu pendapat ada di Ba’labak (Lebanon). (Tapi menurut satu pendapat, beliau belum wafat sampai sekarang –penerjemah) 19. Nabi Ilyasa’ ‘Alaihis Salam Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan tempat tinggalnya dan daerah yang dituju setelah kaumnya ingkar di kota Banyas. 20. Nabi Dawud ‘Alaihis Salam Umur : 100 tahun Kerajaan : bertahan sampai 40 tahun 21. Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam Kerajaan : beliau mewarisi kerajaan Ayahanda (yakni Nabi Dawud ‘Alaihis Salam) ketika umur 12 tahun, kerajaannya bertahan sampai 40 tahun. 22. Nabi Zakariya ‘Alaihis Salam Wafat : beliau dibunuh dengan cara digergaji oleh orang yang telah menyembelih sang putra (Nabi Yahya ‘Alaihis Salam) 23. Nabi Yahya ‘Alaihis Salam Umur : Tidak ada kitab yang menjelaskan masa hidupnya. Lahir : pada tahun yang sama dengan tahun kelahiran Nabi ’Isa al-Masih ‘Alaihis Salam. Wafat : ketika beliau sedang di Mihrab, disembelih oleh sesorang yang disuruh oleh seorang wanita jahat dari pihak raja yang zhalim. Makam : kepalanya dimakamkan di Masjid al-Jami’ al-Amawi (Damasykus-Syria) 24. Nabi ’Isa al-Masih ‘Alaihis Salam Umur : 33 tahun di bumi, kemudian Allah mengangkatnya ke langit setelah tiga tahun diangkat menjadi Nabi. Dituturkan, bahwa Ibunda (yakni Maryam) hidup 6 tahun setelah ’Isa al-Masih ‘Alaihis Salam diangkat ke langit. Maryam wafat dalam umur 53 tahun. 25. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Lahir : di Makkah tahun 570 M. Wafat : umur 63 tahun Makam : di rumah ’Aisyah di Masjid Nabawi Madinah dan dimakamkan di sana.
Foto Makam - makam Para Nabi dan Para Sahabat Diposkan oleh Uc1n Label: sejarah Foto Makam - makam Para Nabi dan Para Sahabat , silahkan buat berikut ini adalah photo makam para nabi yang bisa silahkan anda simak dibawah ini.? langsung saja berikut adalah foto-foto makam Nabi Muhammad Saw,nabi2 yang lain,makam para sahabat dan makam istri Nabi Muhammad Saw.Tempat-tempat dan juga peninggalan-peninggalan bersejarah bagi umat muslim 1.Makam ABU THALIB/Talib, Paman Nabi Allah MUHAMMAD SAW di Mekah Makam ABU THOLIB/Talib, Paman Nabi Allah MUHAMMAD, SAW di Mekah 2.Makam Nabi Allah HARUN As Makam Nabi Allah HARUN As 3.Makam Nabi Allah SALEH As Makam Nabi Allah SALEH AS 4.Makam Nabi Allah YAHYA As Makam Nabi Allah YAHYA As 5.Makam SITI FATIMAH AZ ZAHRA Putri Nabi Muhammad Saw Makam FATIMA AZ ZAHRA 6.Makam ABEEL, anak dari Nabi Allah ADAM As di Arab Saudi Makam ABEEL, Putra Nabi ADAM As di Arab Saudi 7.Makam Khadijah, Istri Nabi Allah MUHAMMAD SAW di kota Mekah Makam Khadijah, Istri Nabi Allah MUHAMMAD SAW di Mekah 8.Jejak Kaki Nabi ADAM As di SriLanka Jejak Kaki Nabi ADAM AS di SriLanka 9.Makam SITI HAWA di Jeddah Makam SITI HAWA Istri Nabi ADAM As di kota Jeddah 10.Makam Nabi Allah SHOAIB As Makam Nabi Allah SHOAIB As 11.Makam Nabi Nabi Allah YUSYA As, di Jordan Makam Nabi Nabi Allah YUSYA As, di Jordan 12.Makam Nabi Allah MUSA As di Israel Makam Nabi Allah MUSA, AS di Israel 13.Makam Nabi Allah ZAKARIA As Makam Nabi Allah ZAKARIA As 14.Makam BILAL HABASHI, di Damaskus Makam BILAL HABASHI, di Damaskus 15.Makam Nabi Allah DAUD, AS di Israel Makam Nabi Allah DAUD, AS di Israel 16.Makam Nabi Allah ADAM As di Jordan Makam Nabi Allah ADAM As di Jordan 17.Makam Nabi Besar MUHAMMAD SAW di Arab Saudi Makam Nabi Besar MUHAMMAD SAW di Arab Saudi

Senin, 13 Mei 2013

MBAH MUNIF GIRI KUSUMO MRANGGEN

سلسلة الشيخ الحج كياهي منيف زهري كيري كوسوما مراغكين الشيخ منيف بن الشيخ محمد زهري بن الشيخ زاهد بن الشيخ محمد هادي بن الشيخ طاهر بن الشيخ صادق بن الشيخ غزالي بن الشيخ ابو وسيدان بن الشيخ عبد الكريم بن الشيخ عبد الرشيد بن الشيخ سيف الدين ثاني الملقب كي اكغ فاندان اران 2 سونان تمبايات بن الشيخ سيف الدين اول الملقب كي اكغ فاندان اران 1 مولانا اسلام السيد عبد القادر بن مولانا اسحاق بن مولانا ابراهيم اسمرقندي بن السيد جمال الدين حسين بن السيد احمد شاة جلال الدين بن السيد عبد الله عظمت خان بن السيد عبد المالك بن السيد علوي بن السيد محمد صاحب مرباط بن السيد علي خالع قسم بن السيد علوي بن السيد محمد بن السيد علوي بن السيد عبيد الله بن السيد احمد المهاجر بن السيد عيسى الرومي بن السيد محمد النقيب بن السيد علي العريضى بن السيد جعفر الصادق بن السيد محمد الباقر بن السيد علي زين العابدين بن سيدنا الحسين بن سيدنا علي بن ابي طالب كرم الله وجه وابن فاطمة الزهراء البتول بنت سيد الرسول محمد صلى الله عليه وسلم بيد الفقير: نورامين بن عبد الرحمن بن محمد شربيني فناكون نالوم ساري جفارا

ANAK DURHAKA

20 Perilaku durhaka anak terhadap orang tua Sebagai anak seorang muslim, apakah yang kita lakukan / katakan terhadap orang tua kita sudah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Berikut ini rangkuman dari buku karangan Drs. M. Thalib yang berjudul ” 20 Perilaku durhaka anak terhadap orang tua” . semoga infomasi ini dapat menambah wawasan dan memperbaiki perilaku kita terhadap setiap orang tua yang kita temui. #Amin 1. Berbicara dengan kata – kata kasar. Tanda seseorang beradab adalah bertutur kata dengan kata – kata yang halus karena hal itu menunjukkan bahwa orangnya berbudi dan tahu kesopanan dan berjiwa halus. Terhadap orang yang lebih tua, seorang anak harus menunjukkan Dari Ibnu ‘Amr, dari Nabi SAW bersabda : “Keridlaan ALLAH ada dalam keridlaan ayah bunda dan kemurkaan-Nya ada dalam kemurkaan mereka ” (HR. Thabarani) Kata – kata kasar dan ucapan yang merendahkan terkadang berupa : • Bersuara tinggi atau keras ketika kita berbicara terhadap orang yang lebih tua • Menyuruh seseorang yang lebih tua dengan kata – kata yang kasar. Ex : meminta tolong tanpa mengatakan tolong “Bu, bukakan pintu” • Menyindir • Mengumpat • Mengata – ngatai seseorang yang lebih tua layaknya mengatai seorang pembantu • Membentak 2. Membuang muka Membuang muka ketika berbicara dengan orang lain merupakan perilaku yang merendahakan lawan bicara dan cerminan dari sifat tinggi hati sang pendengar / pembicara yang memalingkan muka. 3. Duduk mendahului orang tua Mendahulukan orang tua mengambil tempat duduk adalah hak orang tua yang harus dijunjung tinggi oleh anak dimana pun orang tua dan anak berada. 4. Menghardik Menghardik berarti membentak atau melontarkan kata – kata dengan nada suara yang keras. Menghardik dimaksudkan untuk menakut – nakuti atau meluruskan sebuah kesalahan bila yang bersalah lebih muda dalam umur dan statusnya. 5. Berkacak pinggang di depan orang tua Orang beradab tinggi selalu bersikap rendah hati terhadap orang lain. Salah satu tanda dari sikap tinggi hati adalah berkacak pinggang di hadapan orang lain karena merasa dirinya lebih hebat daripada orang lain. Berperasaan orang lain lebih rendah derajatnya atau hina daripada dirinya adalah suatu perbuatan yg sangat tercela dan dimurkai oleh ALLAH. Contoh merendahakan derajat orang lain adalah ” Saudara ini lulusan SD, apakah mungkin saudara mengerti benar dan salah dari perkara yang ada” . 6. Membelakangi Penjelasan sama dengan perilaku “membuaang muka” 7. Merendahkan Merendahkan dalam artian memandang orang lain lebih rendah derajatnya / kurang di mata kita. Merendahkan bisa berupa ucapan maupun perbuatan. Contoh kasus anak yang merendahkan orang tua : “Kalau tidak saya bantu setiap bulan, tentu ibu bapak tidak bisa hidup” Ucapan tersebut jelas – jelas merendahkan martabat orang tua karena memang sudah menjadi tanggung jawab serorang anak untuk membantu kehidupan ibu bapaknya. 8. Memaki 9. Mengingkari Nasab (garis keturunan) Dari Sa’id bin Abu Waqqash, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa menisbatkan dirinya kepada orang lain yang bukan bapaknya, padahal ia tahu bahwa orang itu bukan bapaknya, maka ia diharamkan untuk memasuki surga” (HR Bukhari dan Muslim)” . Nasab adalah Garis keturunan orang tua , anak, dan keturunan yang lainnya. sedangkan yang dimaksud dengan mengingkari Nasab adalah seseorang yang menolak dirinya sebagai keturunan dari orang tuanya atau sebaliknya orang tua yang mengingkari anaknya sebagi keturunannya. Seburuk apapun orang tua , sejahat apapun orang tua berprilaku terhadap anak , kita sebagi garis keturunannya tidak boleh sedikitpun mengingkari Nasab. 10. Mengubah wasiat orang tua QS. Al – Baqarah (2) Ayat 181 : فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ Maka barang siapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 2:181) Wasiat adalah pesan yang diberikan oleh orang tua atau seseorang semasa hidupnya untuk dilaksanakan oleh yang diberi pesan kelas sepeninggal pemberi wasiat. Orang tua sering kali meninggalkan pesan – pesan tertentu kepada anak dan keluarganya untuk kelak dilaksanakan oleh mereka sepeninggalnya. 11. Mengenyampingkan kepentingan orang tua. 12. Mengambil Harta orang tua tanpa hak 13. Menghina agama orang tua 14. Tidak mau mengurus orang tua yang telah lanjut usia 15. Melawan perintahnya 16. Pergi berjihad tanpa izin orang tua 17. Mendendam 18. Memasuki kamar pribadi orang tua pada 3 waktu terlarang tanpa izin Firman Allah dalam QS. An-Nur : 58 dan 59: (58): “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari, dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu[1]. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu[2]. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” 19. Membiarkan orang tua menjadi budak Budak adalah sesorang yang dimiliki oleh orang lain laksana barang atau hewan yang kehilangan kebebasan atas dirinya dan tidak mempunyai kemauan bebas, sehingga dia hanya menjadi alat bagi kepentingan tuannya. 20. Membunuh QS An – Nisaa’ 93 : “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam. Ia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, mengutukinya, dan menyediakan adzab yang besar baginya.” Begitu dahsyatnya azab akibat durhaka kepada orang tua, Allah swt tidak menundanya di akhirat, tetapi azab itu disegerakan di dunia berupa kesengsaraan hidup selain azab itu ditimpakan pada saat sakratul maut dan juga di akhirat kelak. Durhaka tidak hanya terjadi di saat orang tua masih hidup tetapi juga bisa terjadi ketika orang tua telah wafat. Bagaimana seorang anak bisa durhaka kepada orang tua setelah mereka wafat? Mari kita simak sabda Nabi saw! Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya ada orang yang berbakti kepada orang tuanya ketika mereka masih hidup, tetapi ia dicatat sebagai anak yang durhaka kepada mereka, karena ia tidak memohonkan ampunan untuk mereka setelah wafat. Dan sungguh ada orang yang durhaka kepada orang tuanya ketika mereka masih hidup, tapi ia dicatat sebagai anak yang berbakti kepada mereka setelah mereka wafat, karena memperbanyak istighfar (memohonkan ampunan) untuk mereka.” (Mustadrak Al-Wasâil 2: 112) Tolok Ukur durhaka kepada orang tua Allah swt berfirman: “Jika salah seorang di antara mereka telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka, ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al-Isra’: 23). Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw: Apa ukuran durhaka kepada orang tua? Rasulullah saw menjawab: “Ketika mereka menyuruh ia tidak mematuhi mereka, ketika mereka meminta ia tidak memberi mereka, jika memandang mereka ia tidak hormat kepada mereka sebagaimana hak yang telah diwajibkan bagi mereka.” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 195) Rasulullah saw pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (sa): “Wahai Ali, barangsiapa yang membuat sedih kedua orang tuanya, maka ia telah durhaka kepada mereka.” (Al-Wasail 21: 389; Al-Faqîh 4: 371) Tingkatan Dosa durhaka kepada orang tua Rasulullah saw bersabda: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua…” (Al-Mustadrak 17: 416) Rasulullah saw bersabda: “Ada tiga macam dosa yang akibatnya disegerakan, tidak ditunda pada hari kiamat: durhaka kepada orang tua, menzalimi manusia, dan ingkar terhadap kebajikan.” (Al-Mustadrak 12: 360) Rasulullah saw bersabda: “…Di atas setiap durhaka ada durhaka yang lain kecuali durhaka kepada orang tua. Jika seorang anak membunuh di antara kedua orang tuanya, maka tidak ada lagi kedurhakaan yang lain di atasnya.” (At-Tahdzib 6: 122) Akibat-akibat durhaka kepada orang tua Durhaka kepada orang tua memiliki dampak dan akibat yang luar bisa dalam kehidupan di dunia, saat sakratul maut, di alam Barzakh, dan di akhirat. Akibat-akibat durhaka kepara orang tua antara lain: 1. Dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla Dalam hadis Qudsi Allah swt berfirman: “Sesungguhnya yang pertama kali dicatat oleh Allah di Lawhil mahfuzh adalah kalimat: ‘Aku adalah Allah, tiada Tuhan kecuali Aku, barangsiapa yang diridhai oleh kedua orang tuanya, maka Aku meri¬dhainya; dan barangsiapa yang dimurkai oleh keduanya, maka Aku murka kepadanya.” (Jâmi’us Sa’adât, penghimpun kebahagiaan, 2: 263). 2. Menghalangi doa dan Menggelapi kehidupan Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “…Dosa yang mempercepat kematian adalah memutuskan silaturrahmi, dosa yang menghalangi doa dan menggelapi kehidupan adalah durhaka kepada kedua orang tua.” (Al-Kafi 2: 447) 3. Celaka di dunia dan akhirat Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa besar karena Allah Azza wa Jalla menjadikan, dalam firman-Nya, anak yang durhaka sebagai orang yang sombong dan celaka: “Berbakti kepada ibuku serta Dia tidak menjadikanku orang yang sombong dan celaka, (Surat Maryam: 32)” (Man lâ yahdhurul Faqîh 3: 563) 4. Dilaknat oleh Allah swt Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (sa): “Wahai Ali, Allah melaknat kedua orang tua yang melahirkan anak yang durhaka kepada mereka. Wahai Ali, Allah menetapkan akibat pada kedua orang tuanya karena kedurhakaan anaknya sebagaimana akibat yang pasti menimpa pada anaknya karena kedurhakaannya…” (Al-Faqîh 4: 371) 5. Dikeluarkan dari keagungan Allah swt Imam Ali Ar-Ridha (sa) berkata: “Allah mengharamkan durhaka kepada kedua orang tua karena durhaka pada mereka telah keluar dari pengagungan terhadap Allah swt dan penghormatan terhadap kedua orang tua.” (Al-Faqih 3: 565) 6. Amal kebajikannya tidak diterima oleh Allah swt Dalam hadis Qudsi Allah swt berfirman: “Demi Ketinggian-Ku, keagungan-Ku dan kemuliaan kedudukan-Ku, sekiranya anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya mengamalkan amalan semua para Nabi, niscaya Aku tidak akan menerimanya.” (Jâmi’us Sa’adât 2: 263). 7. Shalatnya tidak diterima oleh Allah swt Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang memandang kedua orang tuanya dengan pandangan benci ketika keduanya berbuat zalim kepadanya, maka shalatnya tidak diterima.” (Al-Kafi 2: 349). 8. Tidak melihat Rasulullah saw pada hari kiamat Rasulullah saw bersabda: “Semua muslimin akan melihatku pada hari kiamat kecuali orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, peminum khamer, dan orang yang disebutkan nama¬ku lalu ia tidak bershalawat kepadaku.” (Jâmi’us Sa’adât 2: 263). 9. Diancam dimasukkan ke dalam dua pintu neraka Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membuat kedua orang tuanya murka, maka baginya akan dibukakan dua pintu neraka.” (Jâmi’us Sa’adât 2: 262). 10. Tidak akan mencium aroma surga Rasulullah saw bersabda: “Takutlah kamu berbuat durhaka kepada kedua orang tuamu, karena bau harum surga yang tercium dalam jarak perjalanan seribu tahun, tidak akan tercium oleh orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, memutuskan silaturahmi, dan orang lanjut usia yang berzina…” (Al-Wasâil 21: 501) 11. Penderitaan saat Saktatul maut Penderitaan anak yang durhaka kepada orang tuanya saat sakratul mautnya pernah menimpa pada salah seorang sahabat Nabi saw. Berikut ini kisahnya: Pada suatu hari Rasulullah saw mendatangi seorang pemuda saat menjelang kematiannya. Beliau membimbingnya agar membaca kalimat tauhid, Lâilâha illallâh, tapi pemuda itu lisannya terkunci. Rasulullah saw bertanya kepada seorang ibu yang berada di dekat kepala sang pemuda sedang menghadapi sakratul maut: 'Apakah pemuda ini masih punya ibu?' Sang ibu menjawab: 'Ya, saya ibunya, ya Rasulullah.' Rasulullah saw bertanya lagi: 'Apakah Anda murka padanya?' Sang ibu menjawab: 'Ya, saya tidak berbicara dengannya selama 6 tahun.' Rasulullah saw bersabda: 'Ridhai dia!' Sang ibu berkata: 'Saya ridha padanya karena ridhamu padanya.' Kemudian Rasulullah saw membimbing kembali kalimat tauhid, yaitu Lâilâha illallâh. Kini sang pemuda dapat mengucapkan kalimat Lâilâha illallâh. Rasulullah saw bertanya pemuda itu: 'Apa yang kamu lihat tadi?' Sang pemuda menjawab: 'Aku melihat seorang laki-laki yang berwajah hitam, pandangannya menakutkan, pakaiannya kotor, baunya busuk, ia mendekatiku sehingga membuatku marah padanya.' Lalu Nabi saw membimbingnya untuk mengucapkan doa: 'Yâ May yaqbilul yasîr wa ya’fû ‘anil katsîr, iqbal minnil yasîr wa’fu ‘annil katsîr, innaka Antal Ghafûrur Rahîm.' ('Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan Mengampuni dosa yang banyak, terimalah amalku yang sedikit, dan ampuni dosaku yang banyak, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.' 1) Sang pemuda kini dapat mengucapkannya. Nabi saw bertanya lagi: 'Sekarang lihatlah, apa yang kamu lihat?' Sang pemuda menjawab: 'Sekarang aku melihat seorang laki-laki yang berwajah putih, indah wajahnya, harum dan bagus pakaiannya, ia mendekatiku, dan aku melihat orang yang berwajah hitam itu telah berpaling dariku.' Nabi saw bersabda: 'Perhatikan lagi!' Sang pemuda pun memperhatikannya. Kemudian beliau bertanya: 'Sekarang apa yang kamu lihat?' Sang pemuda menjawab: 'Aku tidak melihat lagi orang yang berwajah hitam itu, aku melihat orang yang berwajah putih, dan cahayanya meliputi keadaanku.' (Bihârul Anwâr 75: 456).

CERPEN KANG AMIN

Cerpen : KANG AMIN Ketika itu siang-siang bolong Ahad pahing 28 april 2013 12 jumadil awwal 1434 para kyai akan menunaikan tugasnya sendiri-sendiri ada yang mengajar ada yang mengimami ada yang menunggu sif-sifan di kantor tiba-tiba kyai Marwoto (kyai ma’had)datang menemui kyai Zulfa (kyai Humas) mereka sekitar lima menit besengak-besengik entah apa yang di bicarakan ech jebulan ada niatan baik yaitu membezuk anak sakit sekaligus menjadi santri madrasah dan ma’had Qudsiyyah MILZAM MUHKTAR anak dari daerah Ungaran semarang. Setelah ada keputusan dan kesepakatan dua kyai tersebut mereka menoleh kepada Kang Amin untuk ikut serta dalam pembezukan kenapa kang Amin disuruh ikut…..ee jebule dia pelayan penggarap raport kenang Milzam dan pelayan ilmu TOTO KROMO di ma’hadnya. Pak slamet di ajak sisan biar selamet kata Kang Amin…monggo kumpul di Aliyah ya…(kata kyai Marwoto) namun kyai slamet pulang dulu untuk mengantar pulang anak beliau sekaligus ada permintaan di ampiri kalau jadi pergi kesemarang. Wong kesepakatan berangkat pukul 11.30 wib Kang Amin tafakkur mosok pergi nyakang lebih baik pulang dulu bilang sama istri dan sholat dhuhur dulu baru berangkat usai sholat kang Amin menuju Aliyah Mobil sudah siap setelah kang Amin memakirkan kendaraannya dalam lokasi disitu sudah ditunggu kyai NI’AM (kyai sopir) dan kyai kharis(kyai boss) sebentar menunggu kyai Zulfa yang belum datang mungkin sholat dulu ech ternyata benar gentewang-gentewang muncullah beliau koq terlambat (tanya kanga amin) lagi bar sholat (jawab kyai Zulfa).berangkatlah sekitar jam 12.30 wib sementara didalam mobil(inventaris yapiq) di depan ada kyai Ni’am dan kyai marwoto di tengah ada kyai Zulfa dan Kang Amin dan dibelakang ada kyai kharis meluncurlah mobil menuju tempat kyai slamet sebenarnya kyai marwoto minta kepada kyai selamet supaya menunggu di pinggir jalan arah jalur tapi kayi slamet minta sampai yang dimaksud…wes jemput wae kyai kan kudu di jemput ( kata kyai Zulfa)kira-kira sampai rumah jam berapa? Tanya kyai zulfa . kira-kira maghrib jawab kyai marwoto. Ooo gak sampai apalagi kalau sampai jember putar balik… jawab kyai Ni’am. sampai ditempat kyai slamet sudah berdiri disana kyai slamet dengan pakaian batik kuning atas dan celana biru bawah kalau kyai zulfa memang masih pakai seragam hari senin kalau kyai marwoto pakai sarung dan koko putih identitas kyai ma’had kalau kyai Ni’am pakain kaos hitam bebas agar leluasa dalam menyetir menekan mengerim tanpa ada kendala adapun kalau kyai kharis pakai celana dan baju putih natural layaknya boss kalau kang Amin juga pakai celana ungu kemeja biru dilengkapi jaket identitas sekolah QUDSIYYAH Bismillah tawakkaltu alallah lahaula wala quwwata illa billah……..berangkat selamat……….baru sampai demak rasanya perut lapar memang tadinya belum makan siang mampir ke rumah makan H. Ismun 2 setelah makan yang donyan rokok diberi rokok yang gak kulino sebagai gantinya adalah permen hexos berangkat lagi diantara ngantuk dan tidur kami udah sampai RSUD ungaran kami masuk keruangan dalam pembezukan kami bisa bercanda ria bersama anak dan keluarga yang sakit setelah selesai kami minta pamit atas nama wakil dari madrasah Kyai Z ulfa dan atasnama Ma’had Kyai Marwoto dipimpin Do’a Kyai slamet priyadi semoga diberi Allah lekas Sembuh…kyai Ni’am sudah siap dengan mobilnya meluncur pulang sampai didemak tiba-tiba kyai marwoto ada usulan mampir makan BEBEK BAKAR langsung semuanya setuju karena Bos kharis sudah siap dalam perjalanan tiba-tiba kyai Zulfa memberikan pertanyaan sebagai bedekan “ BEBEK SING MARAI ENAK APANE ? tebakan ini kyai marwoto menjawab dagingnya ,kyai ni’am menjawab bumbunya dan kang Amin berkata NANTI AJA KALO BENER KITA JADI JAJAN BEBEK BAKAR TANYA PADA YANG JUALAN setelah bener mobil di enggoke ke RM.BEBEK BAKAR PAK SLAMET CABANG SUROKARTO APA KARTOSURO kyai marwoto tanya pada mbak yang melayani di warung itu “ bebek itu yang enak apanya nbak????? Ya enak semuanya jawabnya …ya salahhhhh kata kyai zulfa . semua masih penasaran apa ya jawabannya…… setelah weteng podo wareg koyo wong ngumbe arak kyai zulfa entah sadar apa gak memberitahu tebakannya dengan berkata : BEBEK SING ENAK IKU BE NE KALO GAK ADA HURUF BENE MENJADI EEEEKKKKK……HUUWWEEK…..SEMUANYA KETAWA MUKOOOKKKKK……bos kharis membayar semuanya berangkatlah mobil …baru aja masuk kyai ZULFA celoteh lagi “ ALHAMDULILLAH DURUNG MAGHRIB WES TEKAN OMAH perkiraan beliau kalo terus pulang sampe kudus belum maghrib karena di demak baru jam 4 sore selanjutnya kang Amin menjawab “ojo kesusu durung maghrib wes tuk kudus iki ejeh nok demak” pak amin njaluk shilah ke mbah suna kali kata kyai slamet” ngene lho pak slamet mou kan gak sido ziarah ke mbah hasan munadi mbah hasan dipuro ungaran dadi njaluk ziarah mbah sunan kalijaga kata kang Amin” terus kyai ni’am bingung ziarah apa langsung tancep kekudus tiba-tiba mobil berhenti dibelakang truk dekat lampu merah arah belok ke mbah sunan kali terus kyai marwoto ngomando “ayo zirah disik” jadinya ziarah dulu parkir didekat masjid mbah sunan kali dan sholat asar dulu diimami kyai Zulfa langsung menuju ziarah yang di ngarepi kang Amin dan do’anya kyai slamet setelah ziarah sambil menunggu bos kharis yang rupanya terlambat kami duduk pinggir tempat parkiran kang amin mencoba melihat-lihat sekeliling rumah termasuk rumah mbah sepuh keturunan sunan kali sementara kyai marwoto kyai niam dan bos kharis menyelesaikan minum wedang rondenya jam lima dari demak ALHAMDULILLAH SAMPAI KUDUS USAI MAGHRIB PERSIS…..begitulah dalam cerita pendek kami kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi baik yang kelihatan enak atau musibah selamat atau bahagia susah nan nestapa taqdir sudah ditentukan di AZALI semua tercocokkan dalam kehidupan hambannya di alamnya MANUSO SAK DERMO NGLAKONI PANDUDUME GUSTI KANG MURBENG DUMADI “ WAMAN YATAWAKKAL ALALLAH FAHUWA HASBUH INNALLAHA BALIGHU AMRIH QADJAALALLAH LIKULLI SYAI’IN QADROO………….

ASWAJA

KH As'ad Sayamsul Arifin[1] (KH As’ad Syamsul Arifin adalah pelaku sejarah berdirinya NU, beliaulah yang menjadi media penghubung dari KH Kholil Bangkalan yang memberi isyarat agar KH Hasyim Asyari mendirikan Jamiyah Ulama [akhirnya bernama Nahdlatul Ulama]. Pidato ini awalnya berbahasa Madura dan berikut adalah translit selengkapnya) Assalamualaikum Wr. Wb Yang akan saya sampaikan pada anda tidak bersifat nasehat atau pengarahan, tapi saya mau bercerita kepada anda semua. Anda suka mendengarkan cerita? (Hadirin menjawab: Ya). Kalau suka saya mau bercerita. Begini saudara-saudara. Tentunya yang hadir ini kebanyakan warga NU, ya? Ya? (Hadirin menjawab: Ya). Kalau ada selain warga NU tidak apa-apa ikut mendengarkan. Cuma yang saya sampaikan ini tentang NU, Nahdlatul Ulama. Karena saya ini orang NU, tidak boleh berubah-ubah, sudah NU. Jadi saya mau bercerita kepada anda mengapa ada NU? tentunya muballigh-muballigh yang lain menceritakan isinya kitab. kalau saya tidak. Sekarang saya ingin bercerita tentang kenapa ada NU di Indonesia, apa sebabnya? Tolong didengarkan ya, terutama para pengurus, pengurus Cabang, MWC, Ranting, kenapa ada NU di Indonesia. Begini. Umat Islam di Indonesia ini mulai kira-kira 700 tahun dari sekarang, kurang lebih, para auliya', pelopor-pelopor Rasulullah Saw ini yang masuk ke Indonesia membawa syariat Islam menurut aliran salah satu empat madzhab, yang empat. Jadi, Ulama, para auliya', para pelopor Rasulullah Saw masuk ke Indonesia pertama kali yang dibawa adalah Islam menurut orang sekarang Islam Ahlisunah wal jamaah, syariat Islam dari Rasulullah saw yang beraliran salah satu empat madzhab. Khususnya Madzhab Syafi'i. Ini yang terbesar yang ada di Indonesia. Madzhab-madzhab yang lain juga ada. ini termasuk Islam Ahlisunnah wal jamaah. Termasuk yang dibawa Walisongo, yang dibawa Sunan Ampel, termasuk Raden Asmoro ayahanda Sunan Ampel, termasuk Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati. Semua ini adalah ulama-ulama pelopor yang masuk ke Indonesia, yang membawa syariat Islam Ahlisunnah wal jamaah. Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan (Madura), di pondok Kyai Kholil. Kira-kira tahun 1920, Kyai Muntaha Jengkebuan menantu Kyai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia. Masing-masing ulama melaporkan: "Bagaimana Kyai Muntaha, tolong sampaikan kepada Kyai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya. ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadlratusy Syaikh. Ini tidak ada yang berani kalau bukan anda yang menyampaikannya". Kyai Muntaha berkata: "Apa keperluannya?". Begini, sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang sangat tidak senang dengan ulama Salaf, tidak senang dengan kitab-kitab ulama Salaf. Yang diikuti hanya Quran dan Hadis saja. Yang lain tidak perlu diikuti. Bagaimana pendapat pelopor-pelopor Walisongo karena ini yang sudah berjalan di Indonesia. Sebab rupanya kelompok ini melalui kekuasaan pemerintah Jajahan, Hindia Belanda. tolong disampaikan pada Kyai Kholil." Sebelum para tamu sampai ke kediaman Kyai Kholil dan masih berada di Jengkuban, Kyai Kholil menyuruh Kyai Nasib: "Nasib, Kesini! Bilang kepada Muntaha, di Quran sudah ada, sudah cukup: يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿٣٢﴾ "Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai" (at-Taubat: 32) Jadi kalau sudah dikehendaki oleh Allah Ta'ala, maka kehendaknya yang akan terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya kepada Muntaha". Jadi para tamu belum sowan sudah dijawab oleh Kyai (Kholil). Ini karomah saudara, belum datang sudah dijawab keperluannya. Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-apa, Cuma bersalaman. "Saya puas sekarang" kata Kyai Muntaha. Jadi saya belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini. Tahun 1921-1922 ada musyawarah di Kawatan (Surabaya) di rumah Kyai Mas Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46, bukan 66. Tapi hanya seluruh Jawa, bermusyawarah termasuk Aba saya (KH Syamsul Arifin), termasuk Kyai Sidogiri, termasuk Kyai Hasan almarhum, Genggong, membahas masalah ini, seperti apa, seperti apa… Dari Barat Kyai Asnawi Qudus, Ulama-ulama Jombang semua, Kyai Thohir, para kyai berkata… Tidak ada jadinya, tidak ada kesimpulan. Sampai tahun 1923, kata kyai satu: "Mendirikan Jamiyah (organisasi)", kata yang lain: "Syarikat Islam ini saja diperkuat". Kata yang lain: "Organisasi yang sudah ada saja". Belum ada NU. (Sementara) yang lain sudah merajalela. Tabarruk-tabarruk sudah tidak boleh. Orang minta berkah ke Ampel sudah tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang sudah tidak boleh. Ini sudah tidak dikehendaki. Sudah ditolak semua oleh kelompok-kelompok tadi. Seperti apa bawaan ini… Kemudian ada satu ulama yang matur sama kyai: "Kyai saya menemukan satu sejarah tulisan sunan Ampel. Beliau menulis seperti ini… (Kyai As'ad berkata: Kalau tidak salah ini kertas tebal. Saya masih kanak-kanak. Belum dewasa hanya mendengarkan saja)… : "Waktu saya (Sunan Ampel Raden Rahmatullah) mengaji ke paman saya di Madinah, saya pernah pernah bermimpi bertemu Rasulullah, seraya berkata kepada saya (Raden Rahmat): "Islam Ahlisunnah wal Jamaah ini bawa hijrah ke Indonesia. Karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam Ahlisunnah wal Jamaah. Bawa ke Indonesia". Jadi di Arab sudah tidak mampu melaksanakan syariat Islam Ahlisunnah wal Jamaah. Pada zaman Maulana Ahmad, belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugas melakukan wasiat ini. Kesimpulannya mari Istikharah. Jadi ulama berempat ini melakukannya. Ada yang ke Sunan Ampel. Ada yang ke Sunan Giri. Dan ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40 hari. Ada 4 orang yang ditugas ke Madinah. Akhirnya, tahun 1923 semua berkumpul, sama-sama melaporkan. Hasil laporan ini tidak tahu siapa yang megang. Apa Kyai Wahab, apa Kyai Bisri. Insyaallah ada laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta sama Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf supaya dicari. Sesudah tidak menemukan kesimpulan. Tahun 1924, Kyai (Kholil) memanggil saya. Ya saya ini. Saya tidak bercerita orang lain. Saya sendiri. Saya dipanggil: "As'ad, kesini kamu!" Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ra'. Saya ini pelat (cadal). Arrahman Arrahim… Kyai marah: "Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!". "Tidak saya sengaja Kyai. Saya ini pelat." Kyai kemudian keluar… (Kyai Kholil melakukan sesuatu)… Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya. Kedua, saya dipanggil lagi: "Mana yang cadal itu? Sudah sembuh cadalnya?". "Sudah Kyai". "Kesini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asyari Jombang. Tahu rumahnya?". "Tahu". "Kok tahu? Pernah mondok disana?". "Tidak. Pernah sowan". "Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan". "Ya, kyai". "Kamu punya uang?". "Tidak punya, kyai". "Ini". Saya diberikan uang ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya. Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: "Kesini kamu! Ada ongkosnya?". "Ada, kyai". "Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?". Saya dikasih lagi 1 ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan.Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: "Ini (tongkat) kasihkan ya… (Kyai Kholil membaca surat Thaha: 17-21)… وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾ "Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula" Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel "Orang ini gila. Muda pegang tongkat". Ada yang lain bilang: "Ini wali". Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila. Ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu. Saya hanya disuruh kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu. Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua. yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan. Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): "Siapa ini?". "Saya, Kyai". "Anak mana?". "Dari Madura, Kyai". "Siapa namanya?". "As'ad". "Anaknya siapa?". "Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin". "Anaknya Maimunah kamu?". "Ya, Kyai". "Keponakanku kamu, Nak". "Ada apa?". "Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat". "Tongkat apa?" "Ini, Kyai". "Sebentar, sebentar…" Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). "Bagaimana ceritanya?" Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat…. وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾ "Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula" "Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jamiyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya" Inilah rencana mendirikan Jamiyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jamiyah Ulama. Saya tidak mengerti. Setelah itu saya mau pulang. "Mau pulang kamu?". "Ya, Kyai". "Cukup uang sakunya?" "Cukup, Kyai" "Saya cukup didoakan saj, Kyai". "Ya, mari… Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jamiyah Ulama akan diteruskan". Inilah asalnya Jamiyatul Ulama. Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil. "As'ad, kesini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?" "Tidak, Kyai". "Hasyim Asy'ari?" "Ya, Kyai" "Dimana rumahnya". "Tebuireng". "Darimana asalnya?" "Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asyari Keras". "Ya, benar. Dimana Keras?". "Di baratnya Seblak". "Ya, kok tahu kamu?" "Ya, Kyai". "Ini tasbih hantarkan" "Ya, Kyai". Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya. Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar. "Kesini, makan dulu!" "Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan". "Darimana kamu dapat?" "Saya beli di jalan, Kyai" "Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?" "Ya, Kyai". Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: "Cukup itu?" "Cukup, Kyai" "Tidak!" Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: "Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar". Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir … "Ini" Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. "Kok leher?" "Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh". "Ya, kalau begitu". Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu. "Ini orang yang megang tongkat itu?" "Wah.. Hadza majnun". Ada yang bilang "wali", ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya. Ada yang narik "karcis! karcis!" Saya tidak ditanya. Saya piker ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya kyai. Jadi Auliya' itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin. Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai tanya: "Apa itu?" "Saya mengantarkan tasbih" "MasyaAllah, MasyaAllah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?" "Ini, Kyai" (dengan menjulurkan leher). "Lho?" "Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su'ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik anda". Kemudian diambil oleh Kyai. "Apa kata Kyai?". "Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar". "Siapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada ulama akan hancur". Ini dawuhnya. Pada tahun 1925, Kyai Kholil wafat tanggal 29 Ramadhan. banyak orang berserakan. Akhirnya pada tahun 1926 bulan Rajab diresmikan Jamiyatul Ulama. Ini sudah dibuat, organisasi sudah disusun. Termasuk yang menyusun adalah Kyai Dahlan dari Nganjuk, yang membuat anggaran dasar. Kemudian para ulama sidang lagi untuk mengutus kepada gubernur jenderal. Ya, seperti itulah yang dapat saya ceritakan…

Sabtu, 27 April 2013

HUKUM SEDEKAHAN 3,7,40,100 HARI KEMATIAN

Hukum selamatan hari ke-3, 7, 40, 100, setahun, dan 1000 hari diperbolehkan dalam syari'at Islam. Keterangan diambil dari kitab "Al-Hawi lil Fatawi" karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi jilid 2 halaman 178 sebagai berikut: قال الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه فى كتاب الزهد له : حدثنا هاشم بن القاسم قال: حدثنا الأشجعى عن سفيان قال قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام , قال الحافظ ألو نعيم فى الجنة: حدثنا أبو بكر بن مالك حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثنا أبى حدثنا هاشم بن القاسم حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام Artinya: "Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal ra di dalam kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja'i dari Sufyan sambil berkata: TelaH berkata Imam Thawus (ulama besar zaman Tabi'in, wafat kira-kira tahun 110 H / 729 M): Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut. Telah berkata al-Hafiz Abu Nu'aim di dalam kitab Al-Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ubay, telah menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepadaku al-Asyja'i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut." Selain itu, di dalam kitab yang sama jilid 2 halaman 194 diterangkan sebagai berikut: ان سنة الاطعام سبعة أيام بلغنى أنهامستمر الى الأن بمكة و المدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة الى الأن و انهم أخذوها خلفا عن سلف الى الصدر الأول ِArtinya: "Sesungguhnya, kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku sampai sekarang (yaitu masa Imam Suyuthi abad ke-9 H) di Mekkah dan Madinah. Yang jelas kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang, dan tradisi tersebut diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama, yaitu sahabat." Tambahan: ======= Anjuran Selamatan Kematian: http://www.sarkub.com/2011/anjuran-untuk-tahlilan-7-hari-berturut-turut/ Mengapa para ulama mengajarkan kepada umat Islam agar selalu mendoakan keluarganya yang telah meninggal dunia selama 7 hari berturut-turut ? Telah banyak beredar dari kalangan salafi wahhabi yang menyatakan bahwa tradisi tahlilan sampai tujuh hari diadopsi dari adat kepercayaan agama Hindu. Benarkah anggapan dan asumsi mereka ini? Sungguh anggapan mereka salah besar dan vonis yang tidak berdasar sama sekali. Justru ternyata tradisi tahlilan selama tujuh hari dengan menghidangkan makanan, merupakan tradisi para sahabat Nabi Muhammad Saw dan para tabi’in. Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ahli hadits kenamaan mengatakan bahwa beliau mendapatkan riwayat dari Hasyim bin al-Qasim, yang mana beliau meriwayatkan dari Al-Asyja’i, yang beliau sendiri mendengar dari Sofyan, bahwa Imam Thawus bin Kaisan radliyallahu ‘anhu pernah berkata : إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا، فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام “Sesungguhnya orang mati difitnah (diuji dengan pertanyaan malaikat) didalam quburnya selama 7 hari, dan “mereka” menganjurkan (mensunnahkan) agar memberikan makan (pahalanya) untuk yang meninggal selama 7 hari tersebut”. Riwayat ini sebutkan oleh Imam Ahmad Ahmad bin Hanbal didalam az-Zuhd [1]. Imam Abu Nu’aim al-Ashbahani (w. 430 H) juga menyebutkannya didalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiyah.[2] Sedangkan Thawus bin Kaisan al-Haulani al-Yamani adalah seorang tabi’in (w. 106 H) ahli zuhud, salah satu Imam yang paling luas keilmuannya. [3] Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974) dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubraa dan Imam al-Hafidz as-Suyuthi (w. 911 H) dalam al-Hawil lil-Fatawi mengatakan bahwa dalam riwayat diatas mengandung pengertian bahwa kaum Muslimin telah melakukannya pada masa Rasulullah, sedangkan Rasulullah mengetahui dan taqrir terhadap perkara tersebut. Dikatakan (qil) juga bahwa para sahabat melakukannya namun tidak sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Atas hal ini kemudian dikatakan bahwa khabar ini berasal dari seluruh sahabat maka jadilah itu sebagai Ijma’, dikatakan (qil) hanya sebagian shahabat saja, dan masyhur dimasa mereka tanpa ada yang mengingkarinya. [4] Ini merupakan anjuran (kesunnahan) untuk mengasihi (merahmati) mayyit yang baru meninggal selama dalam ujian didalam kuburnya dengan cara melakukan kenduri shadaqah makan selama 7 hari yang pahalanya untuk mayyit. Kegiatan ini telah dilakukan oleh para sahabat, difatwakan oleh mereka. Sedangkan ulama telah berijma’ bahwa pahala hal semacam itu sampai dan bermanfaat bagi mayyit.[5] Kegiatan semacam ini juga berlangsung pada masa berikutnya, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Hafidz as-Suyuthiy ; “Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai kepadaku (al-Hafidz) bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan sampai sekarang (masa al-Hafidz) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasai awal Islam. Dan didalam kitab-kitab tarikh ketika menuturkan tentang para Imam, mereka mengatakan “manusia (umat Islam) menegakkan amalan diatas kuburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an’. [6] Shadaqah seperti yang dilakukan diatas berlandaskan hadits Nabi yang banyak disebutkan dalam berbagai riwayat. [7] Lebih jauh lagi dalam hadits mauquf dari Sayyidina Umar bin Khaththab, disebutkan dalam al-Mathalib al-‘Aliyah (5/328) lil-Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852) sebagai berikut : قال أحمد بن منيع حدثنا يزيد بن هارون حدثنا حماد بن سلمة عن علي بن زيد عن الحسن عن الحنف بن قيس قال كنت أسمع عمر رَضِيَ الله عَنْه يقول لا يدخل أحد من قريش في باب إلا دخل معه ناس فلا أدري ما تأويل قوله حتى طعن عمر رَضِيَ الله عَنْه فأمر صهيبا رَضِيَ الله عَنْه أن يصلي بالناس ثلاثا وأمر أن يجعل للناس طعاماً فلما رجعوا من الجنازة جاؤوا وقد وضعت الموائد فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه فجاء العباس بن عبد المطلب رَضِيَ الله عَنْه فقال يا أيها الناس قد مات الحديث وسيأتي إن شاء الله تعالى بتمامه في مناقب عمر رَضِيَ الله عَنْه “Ahmad bin Mani’ berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ali bin Zayd, dari al-Hasan, dari al-Ahnaf bin Qays, ia berkata : aku pernah mendengar ‘Umar radliyallahu ‘anh mengatakan, seseorang dari Quraisy tidak akan masuk pada sebuah pintu kecuali seseorang masuk menyertainya, maka aku tidak mengerti apa yang maksud perkataannya sampai ‘Umar radliyallahu ‘anh di tikam, maka beliau memerintahkan Shuhaib radliyallahu ‘anh agar shalat bersama manusia selama tiga hari, dan juga memerintahkan agar membuatkan makanan untuk manusia. Setelah mereka kembali (pulang) dari mengantar jenazah, dan sungguh makanan telah dihidangkan, maka manusia tidak mau memakannya karena sedih mereka pada saat itu, maka sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muththalib radliyallahu ‘anh datang, kemudian berkata ; wahai.. manusia sungguh telah wafat .. (al-hadits), dan InsyaAllah selengkapnya dalam Manaqib ‘Umar radliyallah ‘anh”. Hikmah dari hadits ini adalah bahwa adat-istiadat amalan seperti Tahlilan bukan murni dari bangsa Indonesia, melainkan sudah pernah dicontohkan sejak masa sahabat, serta para masa tabi’in dan seterusnya. Karena sudah pernah dicontohkan inilah maka kebiasaan tersebut masih ada hingga kini. Riwayat diatas juga disebutkan dengan lengkap dalam beberapa kitab antara lain Ithaful Khiyarah (2/509) lil-Imam Syihabuddin Ahmad bin Abi Bakar al-Bushiriy al-Kinani (w. 840). وعن الأحنف بن قيس قال: “كنت أسمع عمر بن الحنطاب- رضي الله عنه- يقول: لا يدخل رجل من قريش في باب إلا دخل معه ناس. فلا أدري ما تأويل قوله، حتى طعن عمر فأمر صهيبا أن يصلي بالناس ثلاثا، وأمر بأن يجعل للناس طعاما، فلما رجعوا من الجنازة جاءوا وقد وضعت الموائد فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه، فجاء العباس بن عبد المطلب قال: يا أيها الناس، قد مات رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فأكلنا بعده وشربنا، ومات أبو بكر فأكلنا بعده وشربنا، أيها الناس كلوا من هذا الطعام. فمد يده ومد الناس أيديهم فأكلوا، فعرفت تأويل قوله “.رواه أحمد بن منيع بسند فيه علي بن زيد بن جدعان “Dan dari al-Ahnaf bin Qays, ia berkata : aku mendengar ‘Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anh mengatakan, seseorang dari Quraisy tidak akan masuk pada sebuah pintu kecuali manusia masuk bersamanya. Maka aku tidak maksud dari perkataannya, sampai ‘Umar di tikam kemudian memerintahkan kepada Shuhaib agar shalat bersama manusia dan membuatkan makanan hidangan makan untuk manusia selama tiga hari. Ketika mereka telah kembali dari mengantar jenazah, mereka datang dan sungguh makanan telah dihidangkan namun mereka tidak menyentuhnya karena kesedihan pada diri mereka. Maka datanglah sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muththalib, seraya berkata : “wahai manusia, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah wafat, dan kita semua makan dan minum setelahnya, Abu Bakar juga telah wafat dan kita makan serta minum setelahnya, wahai manusia.. makanlah oleh kalian dari makanan ini, maka sayyidina ‘Abbas mengulurkan tanggan (mengambil makanan), diikuti oleh yang lainnya kemudian mereka semua makan. Maka aku (al-Ahnaf) mengetahui maksud dari perkataannya. Ahmad bin Mani telah meriwayatkannya dengan sanad didalamnya yakni ‘Ali bin Zayd bin Jud’an”. Disebutkan juga Majma’ az-Zawaid wa Manba’ul Fawaid (5/159) lil-Imam Nuruddin bin ‘Ali al-Haitsami (w. 807 H), dikatakan bahwa Imam ath-Thabrani telah meriwayatkannya, dan didalamnya ada ‘Ali bin Zayd, dan haditsnya hasan serta rijal-rijalnya shahih ; Kanzul ‘Ummal fiy Sunanil Aqwal wa al-Af’al lil-Imam ‘Alauddin ‘Ali al-Qadiriy asy-Syadili (w. 975 H) ; Thabaqat al-Kubra (4/21) lil-Imam Ibni Sa’ad (w. 230 H) ; Ma’rifatu wa at-Tarikh (1/110) lil-Imam Abu Yusuf al-Farisi al-Fasawi (w. 277 H) ; Tarikh Baghdad (14/320) lil-Imam Abu Bakar Ahmad al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H). Imam Suyuthi Rahimahullah dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi-nya mengtakan : قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام “ Thowus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “. Sementara dalam riwayat lain : عن عبيد بن عمير قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق, فاما المؤمن فيفتن سبعا واماالمنافق فيفتن اربعين صباحا “ Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari “. Dalam menjelaskan dua atsar tersebut imam Suyuthi menyatakan bahwa dari sisi riwayat, para perawi atsar Thowus termasuk kategori perawi hadits-hadits shohih. Thowus yang wafat tahun 110 H sendiri dikenal sebagai salah seorang generasi pertama ulama negeri Yaman dan pemuka para tabi’in yang sempat menjumpai lima puluh orang sahabat Nabi Saw. Sedangkan Ubaid bin Umair yang wafat tahun 78 H yang dimaksud adalah al-Laitsi yaitu seorang ahli mauidhoh hasanah pertama di kota Makkah dalam masa pemerintahan Umar bin Khoththob Ra. Menurut imam Muslim beliau dilahirkan di zaman Nabi Saw bahkan menurut versi lain disebutkan bahwa beliau sempat melihat Nabi Saw. Maka berdasarkan pendapat ini beliau termasuk salah seorang sahabat Nabi Saw. Sementara bila ditinjau dalam sisi diroyahnya, sebgaimana kaidah yang diakui ulama ushul dan ulama hadits bahwa: “Setiap riwayat seorang sahabat Nabi Saw yang ma ruwiya mimma la al-majalla ar-ra’yi fiih (yang tidak bisa diijtihadi), semisal alam barzakh dan akherat, maka itu hukumnya adalah Marfu’ (riwayat yang sampai pada Nabi Saw), bukan Mauquf (riwayat yang terhenti pada sahabat dan tidak sampai kepada Nabi Saw). Menurut ulama ushul dan hadits, makna ucapan Thowus ; ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “, adalah para sahabat Nabi Saw telah melakukannya dan dilihat serta diakui keabsahannya oleh Nabi Saw sendiri. (al-Hawi) li al-Fatawi, juz III hlm. 266-273, Imam As-Suyuthi). Maka tradisi bersedekah selama mitung dino / tujuh hari atau empat puluh hari pasca kematian, merupakan warisan budaya dari para tabi’in dan sahabat Nabi Saw, bahkan telah dilihat dan diakui keabsahannya pula oleh beliau Nabi Muhammad Saw. Wallahu A’lam. [1] Lihat : Syarah ash-Shudur bisyarhi Hal al-Mautaa wal Qubur ; Syarah a-Suyuthi ‘alaa Shahih Muslim, Hasyiyah as-Suyuthi ‘alaa Sunan an-Nasaa’i dan al-Hafi lil-Fatawi lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi ; Lawami’ al-Anwar al-Bahiyyah (2/9) lil-Imam Syamsuddin Muhammad as-Safarainy al-Hanbali (w. 1188 H) ; Sairus Salafush Shalihin (1/827) lil-Imam Isma’il bin Muhammad al-Ashbahani (w. 535 H) ; Imam al-Hafidz Hajar al-Asqalani (w. 852 H) didalam al-Mathalibul ‘Aliyah (834). [2] Lihat : Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiyaa’ lil-Imam Abu Nu’aim al-Ashbahaniy : “menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, menceritakan kepada kami ayahku (Ahmad bin Hanbal), menceritakan kepada kami Hisyam bin al-Qasim, menceritakan kepada kami al-Asyja’iy, dari Sufyan, ia berkata : Thawus telah berkata : “sesungguhnya orang mati di fitnah (diuji oleh malaikat) didalam kuburnya selama 7 hari, maka ‘mereka’ menganjurkan untuk melakukan kenduri shadaqah makan yang pahalanya untuk mayyit selama 7 hari tersebut”. [3] Lihat : al-Wafi bil Wafiyaat (16/236) lil-Imam ash-Shafadi (w. 764 H), disebutkan bahwa ‘Amru bin Dinar berkata : “aku tidak pernah melihat yang seperti Thawus”. Dalam at-Thabaqat al-Kubra li-Ibni Sa’ad (w. 230 H), Qays bin Sa’ad berkata ; “Thawus bagi kami seperti Ibnu Siirin (sahabat) bagi kalian”. [4] Lihat ; al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra (2/30-31) lil-Imam Syihabuddin Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami ; al-Hawi al-Fatawi (2/169) lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthiy. [5] Lihat : Syarah Shahih Muslim (3/444) li-Syaikhil Islam Muhyiddin an-Nawawi asy-Syafi’i. [6] Lihat : al-Hawi al-Fatawi (2/179) lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi. (Dikutip dan di tata ulang seperlunya dari Abi Firas dan Ibn Abdillah Al-Katiby) . (Dokumen no.214 Pertanyaan Ani Sumarni): Teman-teman bagaimana pendapat anda tentang kebiasaan masyarakat qt yg suka mengadakan tahlil/membaca yasin di rumah orang yg baru saja mengalami duka krn sanak saudarax meninggal dunia, biasax peringatanx pd hari ke 3 ke 7 atau ke 40 hrx, ada yg mengatakan itu bid'ah mhn pendapatnya! Wahyu Pratama : Budaya selamatan setelah hari kematian seseorang dengan tahlilan dan walimahan—baik dalam 7 hari, 40 hari, 100 hari atau 1000 hari—adalah salah satu budaya masyarakat Nahdhiyyin di Indonesia yang sangat diingkari oleh kaum Wahhabi dan yang sefaham dengannya serta dituduh sebagai budaya bid’ah dan sesat. Berbagai buku yang bermuatan kritik dan hinaan terhadap budaya tersebut banyak ditulis oleh orang-orang menisbatkan dirinya penganut faham salaf atau Wahhabi. Mereka juga mengatakan dan memberi bukti tuduhannya bahwa budaya tersebut adalah warisan budaya agama Hindu, terbukti dengan diadakannya konggres yang dilakukan oleh petinggi-petinggi umat Hindu se-Asia pada tahun 2006 di Lumajang, Jawa Timur. Dan salah satu point pembahasannya adalah membicarakan tentang ungkapan syukur atas keberhasilan menyebarkan budaya acara-acara setelah kematian seperti 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari. (Lihat buku Mantan Kyai NU Menggugat Tahlilan, Istighatsahan dan Ziarah Para Wali, karangan H. Mahrus Ali ) Berikut ini, akan kami kupas hadits dan dalil tentang melaksanakan budaya di atas. Jawaban tentang masalah ini kami ambil dari kitab Qurrah al-’Ain bi Fatawi Isma’il Zain al-Yamani halaman 175 cetakan Maktabah al-Barakah dan kitab al-Hawi lil Fatawi karya al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi juz 2 halaman 179 cetakan Darul Kutub, Bairut. Syaikh Isma’il Zain al-Yamani menulis sebagai berikut (kami kutib secara garis besar): Dalam Sunan Abu Dawud hadits nomer 2894 dituliskan: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ أَخْبَرَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَجُلٍ مِنْ اْلأَنْصَارِ قَالَخَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْقَبْرِ يُوصِي الْحَافِرَ أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَلَمَّا رَجَعَ اسْتَقْبَلَهُ دَاعِي امْرَأَةٍ فَجَاءَ وَجِيءَ بِالطَّعَامِ فَوَضَعَ يَدَهُ ثُمَّ وَضَعَ الْقَوْمُ فَأَكَلُوا فَنَظَرَ آبَاؤُنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلُوكُ لُقْمَةً فِي فَمِهِ ثُمَّ قَالَ أَجِدُ لَحْمَ شَاةٍ أُخِذَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ أَهْلِهَا فَأَرْسَلَتْ الْمَرْأَةُ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَرْسَلْتُ إِلَى الْبَقِيعِ يَشْتَرِي لِي شَاةً فَلَمْ أَجِدْ فَأَرْسَلْتُ إِلَى جَارٍ لِي قَدْ اشْتَرَى شَاةً أَنْ أَرْسِلْ إِلَيَّ بِهَا بِثَمَنِهَا فَلَمْ يُوجَدْ فَأَرْسَلْتُ إِلَى امْرَأَتِهِ فَأَرْسَلَتْ إِلَيَّ بِهَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَطْعِمِيهِ اْلأُسَارَى “Muhammad bin al-‘Ala’ menceritakan dari (Abdullah) bin Idris dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya (Kulaib) dari seorang laki-laki Anshar (shahabat), berkata: ‘Aku keluar bersama Rasulallah berta’ziyah ke salah satu jenazah. Selanjutnya aku melihat Rasulallah di atas kubur berpesan kepada penggali kubur (dengan berkata): ‘Lebarkanlah bagian arah kedua kaki dan lebarkan pula bagian arah kepala!’ Setelah Rasulallah hendak kembali pulang, tiba-tiba seseorang yang menjadi pesuruh wanita (istri mayit) menemui beliau, mengundangnya (untuk datang ke rumah wanita tersebut). Lalu Rasulallah pun datang dan diberi hidangan suguhan makanan. Kemudian Rasulallah pun mengambil makanan tersebut yang juga diikuti oleh para shahabat lain dan memakannya. Ayah-ayah kami melihat Rasulallah mengunyah sesuap makanan di mulut beliau, kemudian Rasulallah berkata: ’Aku merasa menemukan daging kambing yang diambil dengan tanpa izin pemiliknya?!’ Kemudian wanita itu berkata: ’Wahai Rasulallah, sesungguhnya aku telah menyuruh untuk membeli kambing di Baqi,[1] tapi tidak menemukannya, kemudian aku mengutus untuk membeli dari tetangga laki-laki kami dengan uang seharga (kambing tersebut) untuk dikirimkan kepada saya, tapi dia tidak ada dan kemudian saya mengutus untuk membeli dari istrinya dengan uang seharga kambing tersebut lalu oleh dia dikirimkan kepada saya.’ Rasulallah kemudian menjawab: ’Berikanlah makanan ini kepada para tawanan!’” Hadits Abu Dawud tersebut juga tercatat dalam Misykah al-Mashabih karya Mulla Ali al-Qari bab mukjizat halaman 544 dan tercatat juga dalam as-Sunan al-Kubra serta Dala’il an-Nubuwwah, keduanya karya al-Baihaqi. Komentar Syaikh Ismail tentang status sanad hadits di atas, beliau berkata bahwa dalam Sunan Abu Dawud tersebut, Imam Abu Dawud diam tidak memberi komentar mengenai statusnya, yang artinya secara kaidah (yang dianut oleh ulama termasuk an-Nawawi dalam mukaddimah al-Adzkar) bahwa hadits tersebut boleh dibuat hujjah, artinya status haditsnya berkisar antara hasan dan shahih. Al-Hafizh al-Mundziri juga diam tidak berkomentar, yang artinya bahwa hadits tersebut juga boleh dibuat hujjah. Perawi yang bernama Muhammad bin al-‘Ala’ adalah guru Imam al-Bukhari, Muslim dan lain-lain dan jelas termasuk perawi shahih. Abdullah bin Idris dikomentari oleh Ibnu Ma’in sebagai perawi tsiqah dan di katakan oleh Imam Ahmad sebagai orang yang tidak ada duanya (nasiju wahdih). Sementara ‘Ashim, banyak yang komentar dia adalah perawi tsiqah dan terpercaya, haditsnya tidak mengapa diterima, orang shalih dan orang mulia penduduk Kufah. Sedangkan laki-laki penduduk Madinah yang di maksud adalah shahabat Nabi yang semuanya adalah adil tanpa ada curiga sama sekali. Dari keterangan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa hadits di atas adalah hadits hasan yang bisa dibuat hujjah. Sedangkan dari sisi isinya, hadits tersebut mengandung beberapa faidah dan hukum penting, di antaranya: v Menunjukkan mukjizat Rasulallah yang dapat mengetahui haram tidaknya sesuatu tanpa ada seseorang yang memberi tahu. Oleh karena itu, al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah menyebutkan hadits ini dalam bab Mukjizat. v Jual belinya seseorang yang bukan pemilik atau wakil (bai’ fudhuli) adalah tidak sah dan bathil. Oleh karennya, Abu Dawud menyebutkan hadits ini dalam Sunan-nya di bagian bab Jual Beli. v Akad yang mengandung syubhat seyogianya dihindari agar tidak jatuh pada limbah keharaman. v Diperbolehkannya bagi keluarga mayit membuat hidangan atau walimah dan mengundang orang lain untuk hadir memakannya. Bahkan, jika difahami dari hadits tersebut, melakukan walimah tersebut adalah termasuk qurbah (ibadah). Sebab, adakalanya memberi makan bertujuan mengharapkan pahala untuk si mayit -termasuk utama-utamanya qurbah- serta sudah menjadi kesepakatan bahwa pahalanya bisa sampai kepada mayit. Mungkin pula bertujuan menghormati tamu dan niat menghibur keluarga yang sedang mendapat musibah agar tidak lagi larut dalam kesedihan. Baik jamuan tersebut dilakukan saat hari kematian, seperti yang dilakukan oleh istri mayit dalam hadits di atas, atau dilakukan di hari-hari berikutnya. (Mungkin maksud Syaikh Ismail adalah hari ke-7, 40, 100 dan 1000). Hadits di atas juga di nilai tidak bertentangan dengan hadits masyhur berikut: إِصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُنَّ مَا يُشْغِلُهُنَّ أَوْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ “Buatlah makanan untuk keluarga Ja‘far, karena anggota keluarga yang wanita sedang sibuk atau anggota keluarga laki-laki sedang sibuk.” Menurut Syaikh Isma‘il, hadits tersebut (keluarga Ja'far) ada kemungkinan (ihtimal) khusus untuk keluarga Ja‘far, karena Rasulallah melihat keluarga Ja‘far tersebut sedang dirundung duka sehingga anggota keluarganya tidak sempat lagi membuat makanan. Kemudian Rasulallah menyuruh anggota keluarga beliau untuk membuatkan makanan bagi keluarga Ja‘far. Selain itu juga, tidak ada hadits yangsharih (jelas) yang menjelaskan bahwa Rasulallah melarang bagi keluarga mayit membuat hidangan atau walimahan untuk pentakziyah. Pernyataan ini dikuatkan dengan riwayat dalam Shahih al-Bukhari dari Aisyah: عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِينَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِينَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ التَّلْبِينَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيضِ تَذْهَبُ بِبَعْضِ الْحُزْنِ “Dari Aisyah, istri Rasulallah, ketika salah satu keluarganya ada yang meninggal, para wanita-wanita berkumpul dan kemudian pergi kecuali anggota keluarganya dan orang-orang tertentu. Kemudian beliau memerintahkan untuk membawakannya periuk berisi sup yang terbuat dari tepung yang dicampuri dengan madu kemudian dimasak. Kemudian dibuatlah bubur sarid dan sup tadi dimasukkan ke dalam bubur tersebut. Lalu beliau berkata: ‘Makanlah makanan ini karena aku mendengar dari Rasulallah bersabda bahwa bahwa sup dapat melegakan hati orang yang sedang sakit; menghilangkan sebagian kesusahan.” Orang yang mengerti kaidah syari’at berpandangan bahwa walimah yang dibuat oleh keluarga mayit adalah tidak dilarang selama mereka membuat walimah tersebut karena taqarrub kepada Allah, menghibur keluarga yang sedang mendapat musibah dan menghormat para tamu yang datang untuk bertakziyah. Tentunya, semua itu jika harta yang digunakan untuk walimah tersebut tidak milik anak yatim, yakni jika salah satu keluarga yang ditinggalkan mayit ada anak yang masih kecil (belum baligh). Adapun menanggapi perkataan (hadits) al-Jarir bin Abdillah yang mengatakan bahwa berkumpul dengan keluarga mayit dan membuatkan hidangan untuk mereka adalah termasuk niyahah (meratapi mayit) yang diharamkan, Syaikh Isma‘il memberi jawaban: “Maksud dari ucapan Jarir tersebut adalah mereka berkumpul dengan memperlihatkan kesedihan dan meratap. Hal itu terbukti dari redaksi ucapan Jarir yang menggunakan kata niyahah. Hal itu menunjukkan bahwa keharaman tersebut dipandang dari sisi niyahah dan bukan dari berkumpulnya. Sedangkan apabila tidak ada niyahah tentu hal tersebut tidak di haramkan.” Sedangakan menjawab komentar ulama-ulama yang sering digunakan untuk mencela budaya di atas[2] (tentang hukum sunah bagi tetangga keluarga mayit membuat atau menyiapkan makanan bagi keluarga mayit sehari semalam) yang dimaksudkan adalah obyek hukum sunah tersebut adalah bagi keluarga mayit yang sedang kesusahan seperti yang dialami keluarga Ja‘far. Oleh karena itu, tidak ada dalil tentang hukum makruh membuat walimah oleh keluarga mayit secara mutlak kecuali dari (memahami) hadits keluarga Ja‘far dan hadits Jarir di atas. Ada kemungkinan juga ulama-ulama tersebut belum pernah melihat hadits ‘Ashim di atas yang menerangkan tentang bolehnya membuat walimah bagi keluarga mayit. Al-‘Allamah Mulla Ali al-Qari mengatakan: “Zhahir dari hadits ‘Ashim tersebut menentang apa yang diputuskan oleh para ulama kita (ashhabuna) tentang dimakruhkannya membuat walimah di hari pertama, ketiga atau setelah seminggu.” Adapun dalil bahwa pahala shadaqah yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai kepadanya adalah riwayat al-Bukhari dari Aisyah: أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulallah Saw.: ‘Ibu saya telah meninggal, dan aku berprasangka andai dia bisa berbicara pasti dia akan bersedekah, maka apakah dia mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya?’ Rasulallah menjawab: ‘Benar.’” Hadits shahih ini adalah hujjah tentang pahala shadaqah yang sampai kepada mayit. Maka dari itu, pembaca jangan terperdaya dengan ‘pandangan’ H. Mahrus Ali dalam bukunya yang berjudul Mantan Kyai NU Menggugat Tahlilan, Istighatsahan dan Ziarah para Wali. Mahrus Ali mengatakan bahwa hadits-hadits tentang pahala shadaqah tersebut adalah dha‘if dan secara isyarah dia melemahkan hadits shahih al-Bukhari di atas. Sungguh brutal dan ‘ngawur’ sekali! Bukan dalang tapi mendalang. Bukan ahli hadits tapi menilai hadits. Apalagi sampai mendhaifkan hadits dalam shahih Bukhari yang mempunyai sanad (bukan mu’allaq) dan sudah menjadi kesepakatan ulama termasuk hadits shahih. Fatwa as-Suyuthi: Terdapat keterangan ulama bahwa mayit difitnah (ditanya malaikat Munkar dan Nakir) di dalam kuburnya adalah selama 7 hari (setelah hari penguburan) sebagaimana tersirat dalam hadits yang dibawakan oleh beberapa ulama. Hadits yang dibuat landasan tersebut adalah: Hadits riwayat Ahmad dalam az-Zuhd dari Thawus. Hadits riwayat Abu Nu’aim al-Ashbahani dari Thawus. Hadits riwayat Ibnu Juraij dalam al-Mushannaf dari ‘Ubaid bin ‘Umair (sebagian berkomentar dia adalah pembesar tabi’in dan sebagian yang lain mengatakan dia seorang shahabat). Al-Hafizh Ibnu Rajab menisbatkan pada Mujahid dan ‘Ubaid bin ‘Umair. Hadits-hadits tersebut adalah: قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي كِتَابِ الزُّهْدِ لَهُ حَدَّثَنَا هَاشِمٌ بْنُ اْلقَاسِمِ قَالَ ثَنَا اْلأَشْجَعِي عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قَالَ طَاوُوسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعِمُوا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامَ قَالَ الْحَافِظُ أَبُو نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ بْنِ مَالِكٍ ثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ ابْنُ حَنْبَلَ ثَنَا أُبَيُّ ثَنَا هَاشِمٌ بْنُ الْقَاسِمِ ثَنَا اْلأَشْجَعِي عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قاَلَ طَاوُوسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامَ ذِكْرُ الرِّوَايَةِ الْمُسْنَدَةِ عَنْ عُبَيْدٍ بْنِ عُمَيْرٍ: قاَلَ ابْنُ جُرَيْجٍ فِي مَصَنَّفِهِ عَنِ الْحَارِثِ ابْنِ أَبِي الْحَارِثِ عَنْ عُبَيْدٍ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ يُفْتَنُ رَجُلاَنِ مُؤْمِنٌ وَمُنَافِقٌ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا “Imam Ahmad dalam az-Zuhd berkata: ‘Hasyim bin Qasim bercerita kepadaku dari al-Asyja‘i dari Sufyan dari Thawus, dia berkata: Sesungguhnya mayit di dalam kuburnya terfitnah (ditanyai Malaikat Munkar dan Nakir) selama 7 hari. Dan mereka menganjurkan supaya membuat (walimahan) dengan memberi makan (orang-orang), (yang pahalanya dihadiahkan) untuk si mayit tersebut di hari-hari tersebut.”Selanjutnya hadits riwayat berikutnya adalah sama secara makna. Sebelum membahas isi dari hadits ini, marilah kita bahas terlebih dahulu diri sisi sanadnya, sehingga kita akan tahu layak dan tidaknya hadits ini untuk dibuat hujjah. Perawi-perawi hadits yang pertama adalah shahih dan Thawus adalah termasuk pembesar tabi’in. Hadits yang diriwayatkan dan tidak mungkin dari hasil ijtihad shahabat atau tabi’in hukumnya adalah marfu’ bukan mauquf, seperti hadits yang menerangkan tentang alam barzakh, akhirat dan lain-lain sebagaimana yang sudah maklum dalam kaidah ushul hadits. Atsar Thawus tersebut adalah termasuk hadits marfu’ yang mursal dan sanadnya shahih serta boleh dibuat hujjah menurut Abu Hanifah, Malik dan Ahmad secara mutlak tanpa syarat. Sedangkan menurut asy-Syafi‘i juga boleh dibuat hujjah jika ada penguat seperti ada riwayat yang sama atau riwayat dari shahabat yang mencocokinya. Syarat tersebut telah terpenuhi, yaitu dengan adanya riwayat dari Mujahid dan ‘Ubaid bin ‘Umair dan keduanya seorang tabi’in besar (sebagian mengatakan ‘Ubaid adalah shahabat Rasulallah). Dua hadis riwayat selanjutnya adalah hadits mursal yang menguatkan hadits mursal di atas. Menurut kaidah ushul, kata-kata “mereka menganjurkan memberi makan di hari-hari itu” adalah termasuk ucapan tabi’in. Artinya, kata “mereka” berkisar antara shahabat Rasulallah, di zaman Rasulallah, dan beliau taqrir (setuju) terhadap prilaku tersebut atau artinya adalah shahabat tanpa ada penisbatan sama sekali kepada Rasulallah. Ulama juga berselisih apakah hal itu adalah ikhbar (informasi) dari semua shahabat yang berarti menjadi ijma’ atau hanya sebagian dari shahabat saja. Dari hadits di atas dapat difahami dan digunakan sebagai: Dasar tentang i’tiqad bahwa fitnah kubur adalah selama 7 hari. Penetapan hukum syara' tentang disunahkannya bershadaqah dan memberi makan orang lain di hari-hari tersebut. Serta, dapat dijadikan dalil bahwa budaya memberi makan warga Nahdhiyyin saat hari pertama sampai hari ketujuh dari hari kematian adalah terdapat dalil yang mensyariatkannya. As-Suyuthi juga mengatakan: “Sunah memberi makan selama 7 hari tersebut berlaku sampai sekarang di Makkah dan Madinah, dan secara zhahirnya hal itu sudah ada dan tidak pernah ditinggalkan masyarakat sejak zaman shahabat sampai sekarang. Dan mereka mengambilnya dari salaf-salaf terdahulu.” Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Abul Fath Nashrullah bin Muhammad bahwa Nashr al-Maqdisi wafat di hari Selasa tanggal 9 Muharram tahun 490 hijriyyah di Damaskus dan kami menetap di makamnya selama 7 hari membaca al-Qur’an sebanyak 20 khataman. Adapun melakukan acara 40 hari, 100 hari atau 1000 hari dari kematian dengan melakukan tahlilan dan bershadaqah memang tidak ada dalil yang mengatakan sunah. Namun demikian, melakukan budaya tersebut diperbolehkan menurut syariat. Dan seyogianya bagi yang mengadakan acara tersebut tidak mengi’tiqadkan bahwa hal tersebut adalah sunnah dari Rasulallah, tetapi cukup berniat untuk bershadaqah dan membacakan Al-Qur’an, yang mana pahalanya dihadiahkan kepada mayit, sebagaimana keterangan di atas. Sedangkan untuk menanggapi syubhat dari H. Mahrus Ali yang mengatakan bahwa tahlilan kematian dan budaya 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari adalah budaya Hindu dan melakukannya adalah syirik karena menyerupai orang kafir (dia juga membawakan hadits tentang tasyabbuh riwayat ath-Thabarani dan Abu Dawud), kami menjawab sebagai berikut: Sebagian dari pernyataannya tentang acara selamatan 7 hari yang katanya adalah merupakan salah satu dakwah (ajaran syari’at) umat Hindu sudah terbantah dengan hadits-hadits di atas. Andai anggapan tersebut benar adanya, bahwasannya budaya walimah kematian 7 hari, 40 hari dan sebagainya tersebut adalah bermula dari budaya warisan umat Hindu Jawa, sebagaimana yang di yakini oleh bebarapa Kyai dan ahli sejarah babat tanah Jawa, dan di saat ajaran Islam yang di bawa Wali Songo datang, budaya tersebut sudah terlanjur mendarah daging dengan kultur masyarakat Jawa kala itu. Kemudian dengan dakwah yang penuh hikmah dan kearifan dari para wali, budaya yang berisi kemusyrikan tersebut di giring dan di arahkan menjadi budaya yang benar serta sesuai dengan ajaran Islam, yaitu dengan diganti dengan melakukan tahlilan, kirim do’a untuk orang yang telah meninggal atau arwah laluhur dan bersedekah. Maka sebenarnya jika kita kembali membaca sejarah Islam bahwasannya methode dakwah wali 9 yang mengganti budaya Hindu tersebut dengan ajaran yang tidak keluar dari tatanan syariat adalah sesuai dengan apa yang di lakukan oleh Rasulallah yang mengganti budaya Jahiliyyah melumuri kepala bayi yang di lahirkan dengan darah hewan sembelihan dan diganti dengan melumuri kepala bayi dengan minyak zakfaron. Apa yang di lakukan Rasulallah tersebut tersirat dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, Abu Dawud dalam Sunan-nya, Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubrayang semuanya di riwayatkan dari shahabat Abu Buraidah al-Aslami berikut: كُنَّا فِى الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وُلِدَ لأَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَلَطَّخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا فَلَمَّا جَاءَ اللَّهُ بِالإِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَنَحْلِقُ رَأْسَهُ وَنَلْطَخُهُ بِزَعْفَرَانٍ “Saat kami masih hidup di zaman Jahiliyyah; saat salah satu dari kami melahirkan seorang bayi, maka kami menyembelih seekor kambing dan kepala bayi kami lumuri dengan darah kambing tersebut. Namun saat Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, kami cukur rambut kepala bayi dan kami lumuri kepalanya dengan minyak zakfaron”