(30) NURUL 'A'YUN

43 Karya Tulis/Lagu Nur Amin Bin Abdurrahman:
(1) Kitab Tawassulan Washolatan, (2) Kitab Fawaidurratib Alhaddad, (3) Kitab Wasilatul Fudlola', (4) Kitab Nurul Widad, (5) Kitab Ru'yah Ilal Habib Luthfi bin Yahya, (6) Kitab Manaqib Assayyid Thoyyib Thohir, (7) Kitab Manaqib Assyaikh KH.Syamsuri Menagon, (8) Kitab Sholawat Qur'aniyyah “Annurul Amin”, (9) Kitab al Adillatul Athhar wal Ahyar, (10) Kitab Allu'lu'ul Maknun, (11) Kitab Assirojul Amani, (12) Kitab Nurun Washul, (13) Kitab al Anwarullathifah, (14) Kitab Syajarotul Ashlin Nuroniyyah, (15) Kitab Atthoyyibun Nuroni, (16) Kitab al 'Umdatul Usaro majmu' kitab nikah wal warotsah, (17) Kitab Afdlolul Kholiqotil Insaniyyahala silsilatis sadatil alawiyyah, (18) Kitab al Anwarussathi'ahala silsilatin nasabiyyah, (19) Kitab Nurul Alam ala aqidatil awam (20) Kitab Nurul Muqtafafi washiyyatil musthofa.(21) KITAB QA'IDUL GHURRIL MUCHAJJALIN FI TASHAWWUFIS SHOLIHIN,(22) SHOLAWAT TARBIYAH,(23) TARJAMAH SHOLAWAT ASNAWIYYAH,(24) SYA'IR USTADZ J.ABDURRAHMAN,(25) KITAB NURUSSYAWA'IR(26) KITAB AL IDHOFIYYAH FI TAKALLUMIL ARABIYYAH(27) PENGOBATAN ALTERNATIF(28) KITAB TASHDIRUL MUROD ILAL MURID FI JAUHARUTITTAUHID (29) KITAB NURUL ALIM FI ADABIL ALIM WAL MUTAALLIM (30) NURUL 'A'YUN ALA QURRATIL UYUN (31) NURUL MUQODDAS FI RATIBIL ATTAS (32) INTISARI & HIKMAH RATIB ATTAS (33) NURUL MUMAJJAD fimanaqibi Al Habib Ahmad Al Kaff. (34) MAMLAKAH 1-25 (35) TOMBO TEKO LORO LUNGO. (36) GARAP SARI (37) ALAM GHAIB ( 38 ) PENAGON Menjaga Tradisi Nusantara Menulusuri Ragam Arsitektur Peninggalan Leluhur, Dukuh, Makam AS SAYYID THOYYIB THOHIR Cikal Bakal Dukuh Penagon Nalumsari Penagon (39 ) AS SYIHABUL ALY FI Manaqib Mbah KH. Ma'ruf Asnawi Al Qudusy (40) MACAM-MACAM LAGU SHOLAWAT ASNAWIYYAH (bahar Kamil Majzu' ) ( 41 ) MACAM-MACAM LAGU BAHAR BASITH ( 42 ) KHUTBAH JUM'AT 1998-2016 ( 43 ) Al Jawahirun Naqiyyah Fi Tarjamatil Faroidus Saniyyah Wadduroril Bahiyyah Lis Syaikh M. Sya'roni Ahmadi Al Qudusy.

Sabtu, 30 Januari 2016

Sejarah Buju’ Batu Ampar Pamekasan

Sejarah Buju’ Batu Ampar Pamekasan Di suatu desa di wilayah Bangkalan, tersebutlah seorang ulama bernama Sayyid Husein. Beliau mempunyai banyak pengikut karena ketinggian ilmunya. Selain akhlaknya yang berbudi luhur, beliau juga memiliki banyak karomah, karena kedekatannya dengan Sang Khaliq. Beliau sangat dihormati pengikutnya, dan bahkan pe nduduk di sekitar Bangkalan. Namun bukan berarti beliau terlepas dari orang yang membencinya, lantaran iri hati akan kedudukan beliau di mata masyarakat saat itu. Hingga suatu hari salah seseorang dari mereka yang iri itu berniat mencelakai dan menghancurkan kedudukan Sayyid Husein. Orang tersebut merekayasa berita, bahwa Sayyid Husein bersama pengikutnya telah merencanakan pemberontakan dan ingin menggulingkan kekuasaan Raja Bangkalan. Tentu, berita palsu ini akhirnya sampai ketelinga sang Raja. Mendengar berita itu Raja gelisah dan hawatir, dan tanpa pikir panjang lagi Raja mengutus panglima perang bersama sejumlah pasukannya menuju kediaman Sayyid Husein. Sayyid Husein yang saat itu sedang beristirahat langsung dikepung dan dibunuh secara kejam oleh tentara kerajaan, tanpa pikir panjang dan tanpa disertai bukti yang kuat. Sayyid yang tidak bersalah itupun wafat seketika, dan konon jenazahnya dimakamkan di perkampungan tersebut. Selang beberapa hari dari wafatnya Sayyid Husein, Raja mendapat informasi yang sebenarnya, bahwa Sayyid Husein tidak melalukan sebagai berita yang tersebar di kerajaan. Ia menyesali keputusannya yang sama sekali tidak berdasar pada bukti-bukti kuat. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menebus kesalahan tersebut, hingga Raja berinisiatif memberi gelar kepada Sayyid Husein dengan sebutan Bujuk Banyu Sangkah (Buyut Banyu Sangkah). Sayyid Husein wafat dengan meninggalkan dua orang putra. Yang pertama bernama Abdul Manan dan yang kedua bernama Abdul Rohim. Sejak kejadian yang menimpa Sayyid Husein, Abdul Rohim lari ke Desa Bire (masih dalam kawasan Kabupaten Bangkalan), dan menetap disana sampai akhir hayat beliau. Dan akhirnya beliau terkenal sebagai Bujuk Bire (Buyut Bire). Sementara Abdul Manan, pergi mengasingkan diri, menjauh dari kekuasaan Raja Bangkalan. Hari demi hari dilaluinya dengan sengsara dan penuh penderitaan, hingga akhirnya sampai di sebuah hutan lebat di tengah perbukitan wilayah Batu Ampar (Kabupaten Pamekasan). Di hutan inilah beliau bertapa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pertapaan ini beliau lakukan di bawah pohon kosambih (kesambi) selama 41 tahun, sebelum akhirnya ditemukan seorang anak seorang perempuan yang sedang mencari kayu dihutan. Karena itulah beliau dijuluki Bujuk Kosambih. Singkat cerita Abdul Manan dibawa ke rumahnya, dan menikah dengan putri sulung yang menderita penyakit kulit. Aneh, pada hari ke-41 pernikahan mereka, si sulung sembuh dari penyakitnya. Bahkan kulitnya bertambah putih bersih dan cantik jelita, hingga kecantikannya tersiar kemana-mana. Dari pernikahan ini, beliau dikarunia dua orang putra; pertama bernama Taqihul Muqadam, dan yang kedua adalah Basyaniah. Setelah bertahun-tahun berdakwah, beliau wafat dan dimakamkan di Batu Ampar dan terkenal dengan julukan Bujuk Kosambi. Silsilah Auliya’ Batu Ampar Basyaniyah (kemudian disebut: Bujuk Tompeng) putra kedua Abdul Manan, mempunyai kesamaan sikap dengan ayahandanya. Beliau senang bertapa dan menjauhkan diri dari pergaulan masyarakat. Dalam bertapa, Basyaniyah memilih tempat disebuah bukit yang terkenal dengan nama Gunung Tompeng. Bukit ini terletak kurang lebih 500 meter arah barat daya Batu Ampar. Bujuk Tompeng wafat meninggalkan seorang putra yang bernama Su’adi, dan dimakamkan di dekat makam ayahadanya. Su’adi yang terkenal dengan sebutan Syekh Abu Syamsudin dan mendapat julukan Bujuk Latthong putra tunggal Bujuk Tompeng, tidak berbeda dengan perjalanan hidup ayah dan kakeknya. Dia senang bertapa, menyendiri dan berpindah-pindah tempat. Salah satu tempat pertapaan beliau adalah disebuah hutan di dekat kampung Aeng Nyono’, yaitu sebuah bukit yang terletak di kampung Aeng Nyono’ yang menjadi tempat pertapaan Syekh Syamsudin, hingga saat ini dapat dilihat kejadian alam yang aneh berupa sumber air yang mengalir ke atas bukit pertapaan. Konon Syekh Syamsudin pernah menancapkan tongkatnya ke tanah sampai akhirnya keluar air deras dan mengalir ke atas bukit, kemudian dipergunakan untuk berwudlu’. Atas kejadian inilah kampung tersebut diberi nama Aeng Nyono’. Aeng Nyono’ dalam bahasa Madura berarti air yang mengalir ke atas. Asal usul Buju’ Latthong yang disandangkan kepada beliau, ialah karena karomah beliau berupa keluarnya sinar (cahaya) dari dada beliau. Apabila sinar itu dilihat oleh orang yang berdosa dan belum bertaubat, maka orang tersebut akan pingsan atau tewas. Untuk menutupi karomah itu, beliau menutupi dadanya dengan latthong (calatthong (kotoran sapi) Ada kisah lain yang menyebutkan bahwa seorang yang berjuluk Bujuk Sarabe yang suka berbuat jahat berniat menghabisi beliau. Ketika akan membunuh Syekh Abu Syamsudin, saat Bujuk Sarabe dan anak buahnya mencabut senjata, mendadak senjata itu lenyap dan tinggal kerangkanya saja. Setelah mengaku kalah dan memohon agar senjatanya dikembalikan, Syekh Syamsudin menunjukkan letak senjata tersebut yang berada dalam Latthong. Bujuk Latthong wafat dengan meninggalkan tiga orang putra, yaitu Syekh Husein, Syekh Lukman dan Syekh Syamsudin. Dimakamkan di Batu Ampar. Syeikh Husein sebagaimana para pendahulu lainnya, senang menjalani laku tirakat. Beliau ini terkenal akan kecerdasan pikirannya, serta hafal dan fasih Kitab Ihya Ulumuddin Imam Gazali. Masa pertapaan Syeikh Husein tidak selama sebagaimana para pendahulunya. Akibat perkembangan zaman, tempat tinggal beliau dan daerah sekitar telah menjadi ramai oleh para pendatang. Beliau pun banyak bergaul dan mendidik masyarakat tentang ilmu agama. Syeikh Husein adalah keturunan terakhir Sayyid Husein yang mempunyai kegemaran bertapa dan menjalankan laku tirakat. Keturunan sesudahnya cenderung untuk merantau dan mencari guru untuk menuntut ilmu (dari: http://www.tretans.com} KISAH BUJU’ BATU AMPAR, MADURA Dari Catatan Al-Mukarom KH. Ach.Fauzy Damanhuri ( Shohibu Batu Ampar, Madura ) Sejarah singkat Pesarean Buju’ Batu Ampar Inilah kisah yang meluruskan tentang animo masyarakat akan kebenaran silsilah keturunan Auliya’ / Pemuka agama dilingkungan Buju’ Batu ampar. Semata-mata untuk mengembalikan kesadaran kita tentang nilai kebesaran Allah SWT. Seperti yang terdapat di Pesarean Buju’ Batu ampar ini adalah kekasih-kekasih Allah yang telah mendapatkan karomah atas kemurahan rahmat dan hidayah-NYA. Kisah ini semoga menjadi teladan serta penuntun bagi kaum muslimin dan muslimat dalam sebuah perjalanan menuju cita-cita mulia, guna menjadi INSAN KAMIL yang memegang teguh, menjaga serta memelihara kemurnian islam hingga hari yang dijanjikan ( kiamat ). Wallahu a’lam Bisshawab. KH.Ach.Fauzy Damanhuri. Silsilah Auliya’ Batu Ampar, Madura § Sayyid Husein, berputra : a. Syekh Abdul Manan / Buju’ Kosambi b. Syekh Abdul Rohim / Buju’ Bire § Syekh Abdul manan / Buju’ Kosambi, berputra… § Syekh Basyaniah / Buju’ Tumpeng, berputra… § Syekh Abu Syamsudin ( Su’adi ) / Buju’ Latthong, berputra 3 : a. Syekh Husein, berputra : ( ket. Dibawah ) b. Syekh Lukman berputra : Syekh Muhammad Yasin c. Syekh Syamsudin, berputra : Syekh Buddih § Syekh Husein, berputra… § Syekh Muhammad Ramly, berputra.. § KH. Damanhuri, berputra / putri 10 : 1. KH. Amar Fadli 2. KH. Mukhlis 3. KH. Romli 4. KH. Mahalli 5. KH. Kholil 6. KH. Abdul Qodir 7. KH.Ach. Fauzy Damanhuri 8. KH. Ainul Yaqin 9. Nyai Hasanah 10. Nyai Zubaidah Sayyid Husein Disuatu desa diwilayah Bangkalan, tersebutlah seorang pemuka agama Islam yang bernama Sayyid Husein. Beliau mempunyai banyak pengikut karena ketinggian ilmu Agamanya. Selain akhlaknya yang berbudi luhur, beliau juga memiliki banyak karomah karena kedekatannya dengan sang Kholiq.Beliau sangat dihormati pengikutnya dan semua penduduk disekitar bangkalan.Namun bukan berarti beliau lepas dari orang yang membencinya. Disebabkan karena mereka iri dengan kedudukan beliau dimata masyarakat saat itu.Hingga suatu hari ada seseorang penduduk yang iri dengki dan berniat buruk mencelakai dan menghancurkan kedudukan Sayyid Husein. Orang itu merekayasa cerita fitnah, bahwa Sayyid Husein bersama pengikutnya telah merencanakan pemberontakan dan ingin menggulingkan kekuasaan raja Madura. Alhasil cerita fitnah ini sampai ditelinga sang Raja. Mendengar kabar itu Raja kalang-kabut dan tanpa pikir panjang mengutus panglima perang bersama pasukan untuk menuju kediaman Sayyid Husein.Sayyid Husein yang saat itu sedang beristirahat langsung dikepung dan dibunuh secara kejam oleh prajurit kerajaan.Mereka melakukan hal itu tanpa pikir panjang dan disertai bukti yang kuat. Akhirnya Sayyid Husein yang tidak bersalah itu wafat seketika itu juga dan konon jenazahnya dikebumikan diperkampungan tersebut. Selang beberapa hari dari wafatnya Sayyid Husein, Raja mendapat berita yang mengejutkan dan sungguh mengecewakan, serta menyesali keputusannya yang sama sekali tidak didasari bukti-bukti yang kuat. Berita tadi mengabarkan bahwa sebenarnya Sayyid Husein tidak bersalah, karena sesungguhnya beliau telah difitnah.Karena sangat menyesali perbuatannya, Raja Bangkalan memberikan gelar kepada beliau dengan sebutan Buju’ Banyu Sangkah ( Buyut Banyu Sangkah ). Dan tempat peristirahatan beliau terletak dikawasan Tanjung Bumi, Bangkalan. Sayyid Husein wafat dengan meninggalkan dua orang putra. Yang pertama bernama Abdul Manan dan yang kedua bernama Abdul Rohiim. Kedua putra beliau ini sepakat untuk pergi menghindari keadaan dikampung tersebut. Syekh Abdul Rohim lari menuju Desa Bire ( Kabupaten Bangkalan ), dan menetap disana sampai akhir hayat beliau. Dan akhirnya beliau terkenal sebagai Buju’ Bire ( Buyut Bire ). Wallahu a’lam Syekh Abdul Manan ( Buju’ Kosambi ) Lain halnya dengan Syekh Abdul Manan. Beliau pergi mengasingkan diri dan menjauh dari kekuasaan Raja Bangkalan. Hari demi hari dilaluinya dengan sengsara dan penuh penderitaan. Beliau sangat terpukul sekali kehilangan orang yang sangat dikasihinya.Hingga akhirnya beliau sampai disebuah hutan lebat ditengah perbukitan diwilayah Batu ampar ( Kabupaten Pamekasan ). Dihutan inilah akhirnya beliau bertapa / bertirakat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.Dalam melaksanakan hajatnya beliau memilih tempat dibawah Pohon Kosambi. Syahdan tapa beliau ini berlangsung selama 41 tahun. Saat memulai tapa itu beliau berumur 21 tahun. Hingga akhirnya beliau ditemukan anak seorang penduduk desa ( Wanita ) yang sedang mencari kayu dihutan. Singkat cerita akhirnya Syekh abdul Manan dibawa kerumahnya. Dari hubungan tersebut, timbullah kesepakan antara orang tua si anak tersebut untuk menjodohkan Syekh abdul Manan dengan salah seorang putrinya. Sebagai tanda terima kasih, beliau memilih si sulung sebagai istrinya, walaupun dalam kenyataannya sisulung menderita penyakit kulit. Anehnya terjadi keajaiban di hari ke 41 pernikahan mereka.Saat itu juga sang istri yang semula menderita penyakit kulit tiba-tiba sembuh seketika. Dan bukan hanya itu kulitnya bertambah putih bersih dan cantik jelita, sampai-sampai kecantikannya tersiar kemana-mana.Dan konon kabarnya pula bahwa Raja Sumenep mengagumi dan tertarik akan kecantikan istri Syekh Abdul manan ini. Dari pernikahan ini, beliau dikarunia seorang putra yang bernama Taqihul Muqadam, setelah itu menyusul pula puta kedua yang diberi nama Basyaniah. Setelah bertahun-tahun menjalankan tugasnya sebagai Khalifah, akhirnya beliau wafat dengan meninggalkan dua orang putra. Jenazahnya dimaqamkan di Batu Ampar dan terkenal dengan julukan Buju’ Kosambi. Dan putra pertama beliau juga saat wafat jenazahnya dikebumikan didekat pusaranya. Wallahu a’lam Syekh Basyaniah ( Buju’ Tumpeng ) Putra kedua Syekh Abdul manan yang bernama Basyaniah inilah yang mengikuti jejak ayahanda. Beliau senang bertapa dan cenderung menjauhkan diri dari pergaulan dengan masyarakat. Dan beliau juga selalu menutupi karomahnya.Ketertutupan beliau ini semata-mata bertujuan untuk menjaga keturunannya kelak dikemudian hari agar menjadi insan kamil atau manusia sempurna dan sholeh melebihi diri beliau serta menjadi khalifah yang arif dimuka bumi. Dalam menjalani hajatnya beliau bertapa dan memilih tempat disuatu perbukitan yang terkenal dengan nama Gunung Tompeng yakni suatu bukit sepi dan sunyi yang penuh dengan tanda-tanda kebesaran Illahi. Bukit tersebut terletak kurang lebih 500 m arah barat daya ( antara Barat-Selatan ) dari Desa batu Ampar. Saat wafatnya beliau meninggalkan seorang putra yang bernama Su’adi atau terkenal dengan sebutan Syekh Abu Syamsudin dan mendapat julukan Buju’ Latthong. Sedang jenazah Syekh Basyaniah dikebumikan berdekatan dengan pusara Ayahanda. Beliau akhirnya mendapat julukan Buju’ Tumpeng. Wallahu a’lam Syekh Abu Syamsudin ( Buju’ Latthong ) Kisah hidup putra tunggal Syekh Basyaniah ini tidak berbeda dengan perjalanan hidup yang pernah ditempuh oleh ayahanda dan buyutnya yakni gemar bertapa dan selalu menyendiri bertirakat serta selalu berpindah-pindah dalam melakukan tapanya.Misalnya salah satu tempat pertapaanya yang ditemukan didekat kampung Aeng Nyono’. Wilayah tempat tersebut ada ditengah hutan yang lebat. Karena seringnya tempat tersebut dipergunakan sebagai lokasi tirakat / bertapa, oleh penduduk setempat dinamakan Kampung Pertapaan. Begitu juga bukit yang ada dikampung Aeng Nyono’ yang menjadi tempat bertapanya Syekh Syamsudin. Disana terdapat sebuah kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada manusia sampai sekarang. Tepat disebelah barat tempat beliau bertapa terdapat sumber mata air yang mengalir ke atas Bukit Pertapaan. Konon Syekh Syamsudin mencelupkan tongkatnya sampai akhirnya mengalir ke atas bukit hingga kini. Masya Allah…sungguh merupakan karunia yang besar dan jauh diluar akal manusia. Atas dasar keajaiban itulah yang menjadi asal-usul nama kampung Aeng Nyono’ ( Bahasa Madura ) artinya air yang menyelinap/mengalir ke atas. Dan konon dengan air inilah beliau berwudhu dan bersuci. Asal usul sebutan Buju’ Latthong § Keramat itu muncul karena disebabkan keluarnya sinar dari dada beliau. Apabila sinar itu dilihat oleh orang yang berdosa dan belum bertaubat, maka orang tersebut akan pingsan atau tewas. § Kisah lain menceritakan karena seorang yang berjuluk Buju’ Sarabe yang bertabiat buruk berniat menghabisi beliau. Banyak penduduk desa yang dibunuhnya. Tetapi ketika akan menghabisi Syekh Syamsudin, ketika Buju’ Sarabe dan anak buahnya mencabut senjata, mendadak senjata itu lenyap dan tinggal warangkannya.Setelah mengaku kalah dan memohon agar senjatanya dikembalikan, Syekh Syamsudin menunjukkan letak senjata tersebut yang berada dalam Latthong ( Bahasa madura yang berarti kotoran sapi ). Sebab itulah karena khawatir tentang hal itu, maka beliau menutupi dadanya dengan cara mengoleskan Latthong disekitar dada beliau. Banyak sekali kisah kekeramatan beliau. Setelah cukup menjalani darma baktinya sebagai Khalifah, akhirnya beliau wafat dengan meninggalkan tiga orang putra. Dan dikebumikan di Batu ampar, madura. Wallahu a’lam Syekh Husein Sepeerti halnya pendahulunya, syekh Husein inipun senang menjalani laku tirakat. Selain itu beliau ini terkenal akan kecerdasan pikirannya. Beliau hapal Kitab Ihya Ulumuddin Imam Ghozaly. Bahkan hapalannya sedemikian akurat sampai titik dan baris dikitab itu beliau mengetahuinya. Masa bertapa Syekh Husein ini tidaklah selama pendahulunya. Disebabkan perobahan zaman, maka tempat tinggal dan daerah sekitar telah menjadi ramai oleh pendatang. Beliau banyak bergaul dan menjadi pemuka masyarakat dan tokoh agama yang disegani. Dan beliau adalah keturunan terakhir dari Sayyid Husein yang mempunyai kegemaran bertapa dan menjalankan laku tirakat. Keturunan sesudahnya cenderung untuk merantau dan mencari guru untuk menuntut ilmu. Wallahu a’lam Syekh Muhammad Ramly Putera tunggal Syekh Husein ini sejak kecil senang sekali menuntut ilmu. Hingga menjelang dewasannya beliau pergi menuntut ilmu dan menuju Kabupaten bangkalan. Disana beliau berguru dan menuntut ilmu kepada seorang Waliyullah yang bernama Syaikhona Kholil, Bangkalan. Setelah cukup menimba ilmu dengan sang Waliyullah, beliau menuju ke Saudi Arabia. Dan menetap disana selama 10 tahun. Setelah cukup 10 tahun, akhirnya beliau kembali dan menetap ditanah asal, batu ampar. Beliau menjadi panutan masyarakat dalam kehidupan beragama. Setelah berkeluarga, beliau dikaruniai seorang putra yang diberi nama Damanhuri. Sayang sekali kehidupan beliau sangat singkat. Saat puteranya masih membutuhkan kaih sayangnya, beliau akhirnya wafat dan dimaqamkan dipesarean Batu ampar. Wallahu a’lam Syekh Damanhuri Semasa hidupnya Syekh Damanhuri tidak banyak mendapatkan belaian kasih sayang dari Ayahandanya. Hingga akhirnya beliau di asuh sendiri oleh sang kakek ( Syekh Husein ).Beliau mendapatkan bimbingan dan tuntunan beragama secara langsung dari Syekh Husein. Akhirnya setelah cukup umur, beliau pergi menuntut ilmu ditempat Ayahandanya dahulu belajar. Yaitu ditempat Syaikhona Kholil, Bangkalan. Singkat cerita setelah cukup menimba ilmu di pesantren Syaikhona Kholil, beliau akhirnya kembali ke kampung halaman.Seperti halnya para pendahulu, beliaupun menjadi Tokoh masyarakat di batu Ampar. Syekh Damanhuri mempunyai 2 orang istri. Dari istri pertamanya dikaruniai 2 orang anak ( KH.Umar Fadli dan Nyai Hasanah ) dan bersama istri yang kedua dikaruniai 8 orang putra/putri ( KH.Romli, KH.Mahalli, KH.Ach.Fauzy, KH.Mukhlis, Nyai Zubaidah, KH.Kholil, KH. Abdul Qodir dan KH.’Ainul Yaqin ) Dan diantara putranya yang masih ada itulah, yang menjadi generasi penerusnya. Sebagai panutan dan pembimbing serta kholifah dimuka bumi ini demi terpeliharanya kesucian dan kemurnian Islam untuk masa yang kita tidak ketahui batasnya. Demikianlah sekilas kisah Para Buju’ Batu Ampar. Semoga kisah ini bermanfaat bagi pembaca dan pewaris Ilmu-ilmu Raje. Jadikanlah beliau diatas sebagai teladan dan hikmah. Wallahu a’lam. Wassalamu’alaikum, wr.wb. Jazakumullah bi ahsanal jaza. Al-Mukarom KH.Kholil,Al-Mukarom KH.Abdul Qodir,KH. Zamahsry, KH. Achmad Khoiri, KH. Ahmad Fauzan, KH. Amalul Yaqin dan semua dzuriat serta keturunan Sayyid Husein di Batu Ampar…mohon ridho atas semua Ijazah yang tuan guru wariskan kepada hamba yang dhoif. “ Ya Allah, golongkanlah dan masukkanlah kami bersama kelompok orang-orang yang KAU Ridhoi “ Amiin. @@@ Syekh Abu Syamsudin/Su'adi (Buju' Lathong)" "Syekh Abu Syamsudin" yang bernama asli "Su'adi" adalah putra tunggal dari "Syekh" Basyaniyah (putra kedua dari "Syekh" Abdul Mannan/"Buju" Kosambi)". Jadi "Syekh Abu Syamsudin" adalah cucu dari "Buju'" Kosambi. Kisah hidup "Syekh Abu Syamsudin" tidak berbeda dengan ayahanda dan buyutnya, yakni gemar bertapa dan selalu menyendiri bertirakat serta selalu berpindah-pindah tempat dalam melakukan pertapaannya. Salah satu tempat pertapaan "Syekh Abu Syamsudin" ditemukan di dekat kampung Aeng Nyono' yang berada di tengah hutan yang cukup lebat. Merupakan tempat yang sangat bagus untuk bertapa, karena hutan tersebut memang belum terjamah tangan manusia dan karena tempat itu sering digunakan orang untuk bertapa, maka penduduk sekitar menamakan kampung itu dengan sebutan Kampung Pertapaan. Begitu juga Bukit yang ada di kampung Aeng Nyono', menjadi salah satu tempat bertapanya "Syekh Abu Syamsudin", serta disana terdapat sebuah Kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada manusia hingga sekarang. Tepat di sebelah Barat tempat "Syekh Abu Syamsudin" bertapa terdapat sumber mata air yang mengalir ke atas Bukit Pertapaan. Konon, "Syekh Abu Syamsudin" mencelupkan tongkatnya ke dalam sumber itu, lalu ditariknya tongkat beliau menuju bukit pertapaan dan air sumber itupun mengikuti arah tongkat sampai akhirnya mengakir ke atas bukit hingga kini. Sungguh ini merupakan karunia kebesaran dari Allah dan jauh di luar akal manusia. Allahu Akbar....... Atas dasar keajaiban inilah yang menjadi asal usul nama Kampung Aeng Nyono' (Bahasa Madura) artinya air yang menyelinap/mengalir ke atas dan konon air itu digunakan oleh "Syekh Abu Syamsudin" untuk berwudhu. "Syekh Abu Syamsudin" semasa hidupnya selalu mendapat ujian dan cobaan yang bertubi-tubi, namun "Syekh Abu Syamsudin" menerimanya dengan ikhlas dan sabar. Semakin tinggi iman dan taqwa seseorang semakin berat dan bertambah pula cobaannya, sedang "Syekh Abu Syamsudin" sadar akan hakekat hidup dan fenomena yang ada di dalamnya, sehingga kesadarannya itulah yang membuat iman "Syekh Abu Syamsudin" semakin mengkristal dan menjadikan jiwanya semakin tenang serta kehidupan sehari-harinya begitu tentram bersama keluarganya dan masyarakat di sekitarnya. Hal inilah yang membuat "Syekh Abu Syamsudin" menjadi panutan masyarakat di sekitar serta membuat nama "Syekh Abu Syamsudin" semakin harum dan amat disegani, Selain itu karena ketabahan dan kesabarannya, "Syekh Abu Syamsudin" dianugerahi oleh Sang Khaliq Ilmu Karomah yang tinggi. Namun, betapapun baiknya "Syekh Abu Syamsudin", masih saja ada yang membenci dan memusuhinya karena iri dan dengki terhadap kelebihan yang dimiliki oleh "Syekh Abu Syamsudin". Salah seorang yang sangat membenci "Syekh Abu Syamsudin" adalah "Buju'" Sarabe ("Buju'" Gunung Perahu). Pada suatu saat "Buju'" Sarabe bersama komplotannya merencanakan sebuah misi jahat, yakni akan menghabisi "Buju'" Kalampok, yaitu seorang sesepuh dari Dusun Kalampok yang mungkin menjadi panutan masyarakat setempat. Sesampainya disana mereka langsung mencari "Buju'" Kalampok, dan setelah ditemukan tanpa banyak bicara langsung dibunuhnya, seperti layaknya membunuh binatang. Setelah menghabisi "Buju'" Kalampok dengan keji, mereka putar haluan menuju Batu Ampar dengan tujuan ingin menguji sekaligus berniat membunuh "Syekh Abu Syamsudin". Sesampainya di tempat tujuan, di depan rumah "Syekh Abu Syamsudin" , mereka siap-siap untuk membumi-hanguskan kediaman dan menyeang "Syekh Abu Syamsudin".......... Namun apa yang terjadi? Ketika mereka akan mencabut sebnjata mereka, seperti kering, celurit dan tombak, semua benda itu lenyap tinggal tempat dan rangkangnya. Melihat itu mereka terperanjat bukan main dan seketika itu kawanan pengacau tersebut tunduk bersimpuh seraya mohon ampun di hadapan "Syekh Abu Syamsudin". Mereka mengaku kalah serta memohon agar senjata mereka yang lenyap dikembalikan dan mereka bersumpah untuk tidak mengulangi perbuatan nista itu lagi, jika mereka ingkar, mereka akan celaka sampai tujuh turunan. "Syekh Abu Syamsudin" mengabulkan permintaan mereka atas dasar konsekwensi yang mereka ucapkan. "Syekh Abu Syamsudin" menunjukkan letak senjata "Buju'" Sarabe dan pengikutnya yang berada di dalam "Lathong" (Bahasa Madura) yang artinya kotoran sapi. Maka dari itu "Syekh Abu Syamsudin" mendapat julukan "Buju' Lathong". Namun tidak hanya atas kejadian itu saja "Syekh Abu Syamsudin" mendapat julukan tersebut. Kisah lain menceritakan tentang kelebihan "Syekh Abu Syamsudin", keluarnya pancaran sinar dari dadanya, dam apabila sinar itu terlihat oleh orang yang banyak melkukan dosa serta belum pernah bertaubat, maka orang tersebut akan pingsan atau mati. Karena khawatir tentang hal itu, maka "Syekh Abu Syamsudin" menutupi dadanya dengan cara mengoleskan "Lathong" di sekitar dada beliau. Setelah berkeluarga "Syekh Abu Syamsudin" dikaruniai tiga orang putra, yaitu bernama "Syamsudin", Luqman dan Husen. Dan sebenarnya asal nama beliau diambil dari putra pertamanya. yakni "Syamsudin", "Syekh Abu Syamsudin" berarti Bapaknya "Syamsudin". Ujian dan cobaan silih berganti menghujani "Syekh Abu Syamsudin". setelah ujian satu selesai maka ujian yang lain menyusul seakan tanpa jeda. Pada masa itu wilayah Pamekasan berdirilah sebuah Kerajaan Non Islam yang megah dipimpin seorang Raja yang tidak pernah percaya kepada ajaran agama Islam. Sang Raja juga mendengar tentang kelebihan dalam hal Ilmu Karomah yang dimiliki seseorang di wilayah Batu Ampar. Namun hal itu dianggap pepesan kosong, sebelum Raja tahu dan menyaksikan dengan mata sendiri. Maka timbul niatan untuk menguji tingkat Karomah "Syekh Abu Syamsudin", dengan mengundang "Syekh Abu Syamsudin" pada acara syukuran di kerajaan yang diadakan Raja sendiri. Sang Raja juga mengundang Ulama di seluruh Madura pada masa itu. Pada hari yang ditentukan, Sang Raja mengutus Panglima Istana untuk menjemput "Syekh Abu Syamsudin" di Batu Ampar, saat itu undangan sudah banyak yang datang. Sesampainya di Batu Ampar tepatna di kediaman "Syekh Abu Syamsudin", para pengawal itu disambut oleh "Syekh Abu Syamsudin" dan langsung dipersilahkan masuk, sesudah itu diutarakannya maksud dan tujuan kedtangan Pengawal itu, yakni bermaksud menjemput "Syekh Abu Syamsudin" atas undangan dan perintah dari Raja. "Syekh Abu Syamsudin" menolak untuk berangkat bersama Pengawal, maka dipersilahkannya para Pengawal itu untuk berangkat terlebih dahulu. Jarak antara Batu Ampar dan Kerajaan cukup jauh, tapi dengan mengendarai kuda akan lebih menghmat waktu. Begitulah yang ada di benak para pengawal Kerajaan maksudnya, agar "Syekh Abu Syamsudin" cepat sampai di Kerajaan bila naik kuda besama Pengawal Kerajaan itu, namun niat baik pengawal itu ditolak secara halus. Lalu ada apa di balik ini semua....? Tanpa pikir yang terlalu panjang, berangkatlah para Pengawal itu kembali ke Kerajaan. Sesampainya di Istana Kerajaan, para Pengawal dibuat terkejut dan terheran-heran ketika melihat "Syekh Abu Syamsudin" sudah sampai terlebih dahulu lebih lama sebelum pengawal itu datang dan "Syekh Abu Syamsudin" sudah duduk serta berbincang-bincang dengan undangan yang lain. Sungguh keistimewaan yang luar biasa atas kebesaran Allah SWT..... Begitu acara dimulai, "Syekh Abu Syamsudin" dimohon untuk memimpin do'a, maka dipimpinnya acara syukuran itu dengan membacakan do'a dan mohon perlindungan kpada Allah SWT. Ruangan istana digegerkan oleh sesuatu yang menakubkan, seisi istana tercengang menyaksikan itu, termasuk Raja sendiri yang terbelalak matanya seakan tidak percaya, karena seluruh hidangan mewah dan lezat tampaknya yang tgersaji di hadapan para undangan untuk siap disantap, tiba-tiba berubah ke bentuk asal sebelum dimasak dan diolah sedemikian rupa. Antara lain masakan itu kembali utuh menjadi binatang anjing dan binatang haram lain. Menyaksikan hal itu, maka Raja mengakui seketika tentang ketinggian Ilmu Karonah yang dimiliki "Syekh Abu Syamsudin" atas kebesaran Allah SWT., serta yakin akan kesucian dan kemurnian Islam yang terpelihara oleh Sang Khaliq dan selamatlah orang mukmin untuk yang kesekian kali dari sesuatu yang diharamkan agama, demi kokohnya Syari'at Islam yang tetap terpelihara. Akhirnya terbukalah hati Sang Raja atas kebesaran Allah SWT, yang ditampakkan melalui "Syekh Abu Syamsudin". Raja bersama komponen Kerajaan dan seluruh kerabatnya menemukan jalan yang terang sehingga ditinggalkannya dunia kegelapan yang penuh maksiat serta dibuangnya jauh-jauh seraya mereka semua berbondong-bondong memasuki alam yang baru nun fitrah. Semenjak itu keluarga Kerajaan mendapat bimbingan tentang ajaran Agama Islam secara langsung oleh "Syekh Abu Syamsudin". Dan untuk lebih menguatkan hubungan tali persaudaraan, Raja mengajukan permohonan atas diri "Syekh Abu Syamsudin" untuk menjadikan salah satu dari putra-putra "Syekh Abu Syamsudin" sebagai anak angkat Raja. Permohonan itupun direstui oleh "Syekh Abu Syamsudin" dan dipilihnya putra beliau yang bernama Luqman untuk dijadikan anak angkat Raja, Maka Raja pun sepakat dan diangkatlah Luqmansebagai Putra Raja. Maka semenjak itu semakin eratlah hubungan antara keluarga Kerajaan dengan "Syekh Abu Syamsudin" sekeluarga seperti halnya keluarga sendiri. Demikianlah sebagian kecil dari kisah kehidupan "Syekh Abu Syamsudin" ("Su'adi''/"Buju' Lathong"). Syekh Basyaniyah/Buju' Tompeng. Syekh Abu Syamsuddin/Su'adi/Buju' Latthong. beliau punya putra tiga. 1-Syekh Husein. 2-Syekh Luqman. 3-Syekh Syamsuddin. selanjutnya, penulis hanya akan menulis silsilah dari Syekh Syamsuddin saja dan itupun tidak lengkap, akibat keterbatasan penulis yg kurang mengetahui keturunan2 dari Syekh Syamsuddin yg lain, penulis hanya menulis dari satu jalur saja. Syekh Syamsuddin/Berruk. Syekh Hajar/ Petapan/Aeng Nyono'. Siti Fathimah/Buju' Pacar/Naga Sari Pacar. Siti Maimunah/Buju' Muna/Naga Sari Pacar. Siti Juwairiyah/Buju' Juwa. Noer Hasanah. Noer Azizah. inilah silsilah turun temurun dari keluarga, dan Insyaallah akan terus berlanjut sampai kapanpun.

Tidak ada komentar: