(30) NURUL 'A'YUN
43 Karya Tulis/Lagu Nur Amin Bin Abdurrahman:
(1) Kitab Tawassulan Washolatan, (2) Kitab Fawaidurratib Alhaddad, (3) Kitab Wasilatul Fudlola', (4) Kitab Nurul Widad, (5) Kitab Ru'yah Ilal Habib Luthfi bin Yahya, (6) Kitab Manaqib Assayyid Thoyyib Thohir, (7) Kitab Manaqib Assyaikh KH.Syamsuri Menagon, (8) Kitab Sholawat Qur'aniyyah “Annurul Amin”, (9) Kitab al Adillatul Athhar wal Ahyar, (10) Kitab Allu'lu'ul Maknun, (11) Kitab Assirojul Amani, (12) Kitab Nurun Washul, (13) Kitab al Anwarullathifah, (14) Kitab Syajarotul Ashlin Nuroniyyah, (15) Kitab Atthoyyibun Nuroni, (16) Kitab al 'Umdatul Usaro majmu' kitab nikah wal warotsah, (17) Kitab Afdlolul Kholiqotil Insaniyyahala silsilatis sadatil alawiyyah, (18) Kitab al Anwarussathi'ahala silsilatin nasabiyyah, (19) Kitab Nurul Alam ala aqidatil awam (20) Kitab Nurul Muqtafafi washiyyatil musthofa.(21) KITAB QA'IDUL GHURRIL MUCHAJJALIN FI TASHAWWUFIS SHOLIHIN,(22) SHOLAWAT TARBIYAH,(23) TARJAMAH SHOLAWAT ASNAWIYYAH,(24) SYA'IR USTADZ J.ABDURRAHMAN,(25) KITAB NURUSSYAWA'IR(26) KITAB AL IDHOFIYYAH FI TAKALLUMIL ARABIYYAH(27) PENGOBATAN ALTERNATIF(28) KITAB TASHDIRUL MUROD ILAL MURID FI JAUHARUTITTAUHID (29) KITAB NURUL ALIM FI ADABIL ALIM WAL MUTAALLIM (30) NURUL 'A'YUN ALA QURRATIL UYUN (31) NURUL MUQODDAS FI RATIBIL ATTAS (32) INTISARI & HIKMAH RATIB ATTAS (33) NURUL MUMAJJAD fimanaqibi Al Habib Ahmad Al Kaff. (34) MAMLAKAH 1-25 (35) TOMBO TEKO LORO LUNGO. (36) GARAP SARI (37) ALAM GHAIB ( 38 ) PENAGON Menjaga Tradisi Nusantara Menulusuri Ragam Arsitektur Peninggalan Leluhur, Dukuh, Makam AS SAYYID THOYYIB THOHIR Cikal Bakal Dukuh Penagon Nalumsari Penagon (39 ) AS SYIHABUL ALY FI Manaqib Mbah KH. Ma'ruf Asnawi Al Qudusy (40) MACAM-MACAM LAGU SHOLAWAT ASNAWIYYAH (bahar Kamil Majzu' ) ( 41 ) MACAM-MACAM LAGU BAHAR BASITH ( 42 ) KHUTBAH JUM'AT 1998-2016 ( 43 ) Al Jawahirun Naqiyyah Fi Tarjamatil Faroidus Saniyyah Wadduroril Bahiyyah Lis Syaikh M. Sya'roni Ahmadi Al Qudusy.
Senin, 04 Agustus 2014
JASAD YANG UTUH
Waktumondoksayamondok di KedungParukPurwkerto.DisanaadatukangkuliangkutbernamaDarjo, pekerjakasar, adaberasyangangkutberas. Biasasetelahsalatsubuhtidursebentar jam 7 keluarkerjakepasar. Pak Darjopekerjakasarwafat. Setelah 9 tahunanaknyakemudianwafat. Karenatempatnyasempit, ditempatpemakamanitubanyak orang salehsepertiayahyaMbahKiai Abdul Malik yaituKiaiIlyas. AkhirnyakuburanpakDarjodibongkar, ternyatakainkapannyamasihutuh, wangiluarbiasasepertibarudimakamkanbeberapa jam.
Setelahkejadianitusayamenghadapke guru sayaMbahKiai Abdul Malik. MbahKiai Abdul Malik sedangduduksantaididepanrumah, tersenyummelihatkedatangansaya. Tiba-tibambah Malik bilang, pie Darjomayiteisihutuh; Darjomayitnyamasihutuh? BelumbicraMbah Malik sudahmenjelaskan. Kata beliau, Darjokuiwongahlishalawatoratahutinggalshalawat, tiapbengidurungturusadurungemocoshalawat 16.000. Darjoituistiqamahtiapmalamtidakpernahmeninggalkanmembacashalawat, sebelummembacashalawat 16.000 Darjotidakakantidur. ShalawatnyaAllahummashalialaMuhamma, AllahummaShaliala Muhammad. Lahirnyakulikasarternyata Pak Darjotemasuk orang saleh.
Kita tidakharusmembaca 16.000, minimal 300 sajasetiapmalamsudahbagus. Siapa yang membacashalawattiapharibuatkeluargadanputra-putrinyatiapmalam 300 kali, Insya Allah putra-putrinyaakandiberkahi, danjikanakalsenakalapapunanaknya, padawaktunyaakanmenjadibaik. Insya Allah. MaulanaHabibLutfi bin Yahyaberpesan. (Tsi)
GUS DUR
BUKTI KECERDASAN GUS DUR
Suatuwaktuadaseseorang yang mengadukanmasalahnyakepada Gus Dur: “Gus, mohonsolusinya, sayasedangpunyamasalahbesar. Usaha sayabangkrut, anak-anakbutuhbiayauntuksekolahmerekadanistrisayaakhirnyamintacerai.”
Gus Durbaliknanya: “Kira-kirabisadiatasiapatidak?”
Dijawab: “Insya Allah bisa Gus!”
“Yasudahndakusahdipikirkanlagi,” jawab Gus Durtenang.
Di harilainnya, datangjugaseseorang yang jugamengadukanmasalahnyakepada Gus Dur. Iaberkata: “Maaf Gus, sayasedangpunyamasalahsangatbesardanbanyak. Usaha sayabangkrut, istrisayaminggat, hutangsayabertumpuk-tumpuk, setiapharisayahanyabisangumpetkalauadapenagihdatangkerumah. Kira-kirasolusinyabagaimana Gus?”
Gus Dur pun baliknanya: “Kira-kirabisadiatasiapatidak?”
Dijawab: “Tidakbisa Gus!”
Gus Dur pun menjawab:“Yasudahndakusahdipikirkanlagi.”
Kang Said mengatakan: “Inilah yang dimaksuddenganMinallahwaIlallahwaBillah.”
Sya’roni As-Samfuriy, CilangkapJaktim 16 Februari 2014
http://www.muslimedianews.com/2014/02/bukti-kecerdasan-gus-dur.html
http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2014/02/bukti-kecerdasan-gus-dur.html
Suka • • Bagikan • 3.376376375 • 17 jam yang lalu •
KemuliaanNabi Muhammad Saw. sepertilautsedangkankitasungai-sungainya. Kita membutuhkanlautuntukmengalirkanhasratkeimanandankecintaankitakelautNabi, agar mendapatsyafaatnya. Kadarnya, tergantungbesarkecilnyasungaihatikitadan yang bisamengukurbesarkecilnyaadalahkitasendiri. Kita bershalawatkepadaNabi Saw. adalahsepertisungaimengalirkan air kelaut, mengharapsyafaatnya.
Shalawatitusebagaialatuntukmembuatbesarkecilnyasungai. Kalaukitamemakaiperalatannyasekadarcangkulmakasungai yang dihasilkankecil. Tapikalaukitamenggunakannyadenganalatbesarsepertitraktortentuakanterbentuksungaibesar. Kita takperluragu, sebabdenganmakinbesaralatatausholawat, makaakanbesar pula sungai yang kitabuat.
Jangantakutakanbesarkecilnyarizki, kalaukitamemilikisungai yang besartentu di dalamsungaiituadaberbagaikandungan mineral rizkki. Termasukdiciptakannyaseisibumidanalamsekitarnya, diciptakan Allah Swt. untukmembuktikankalauNabi Muhammad Saw. sangatmulia. KarenaseluruhnyabershalawatkepadaNabi Muhammad Saw. Sangataneh, kalaukemudianadasekelompok orang mengharam-haramkanperingatanMaulidNabi.
Pantaskahkitamasuksurgakalaufrekuensiibadahkitaberupashalatsangatsedikit? Biladiasumsikanumurkitamencapai 60 tahun, makashalat yang kitajalankanhanya 270 hari. Dalamsehari, paling banter kitashalat 5 menit. Biladikalikan 5 makaada 25 menitdalamsehari. Untuk 1 tahunkitahanyashalat 6 harisaja. Akibatminimnyaibadahkita, makahanyasatuharapankitauntukmemperolehdispensasinilaiibadahberupasyafaatdariNabi Muhammad Saw.
SAHABAT ALI BIN ABI THALIB KWJH
Ali bin Abi Thalib
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
‘Alī bin Abī Thālib (Arab: علي بن أﺑﻲ طالب, Persia: علی پسر ابو طالب) (599 – 661) adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Sedangkan Syi'ah berpendapat bahwa ia adalah Imam sekaligus Khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW. Uniknya meskipun Sunni tidak mengakui konsep Imamah mereka setuju memanggil Ali dengan sebutan Imam, sehingga Ali menjadi satu-satunya Khalifah yang sekaligus juga Imam. Ali adalah sepupu dari Muhammad, dan setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Muhammad.
Perbedaan pandangan mengenai pribadi Ali bin Abi Thalib
Syi'ah
Syi'ah berpendapat bahwa Ali adalah khalifah yang berhak menggantikan Nabi Muhammad, dan sudah ditunjuk oleh Beliau atas perintah Allah di Ghadir Khum. Syi'ah meninggikan kedudukan Ali atas Sahabat Nabi yang lain, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Syi'ah selalu menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Alayhi Salam (AS) atau semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan.
Sunni
Sebagian Sunni yaitu mereka yang menjadi anggota Bani Umayyah dan para pendukungnya memandang Ali sama dengan Sahabat Nabi yang lain.
Sunni menambahkan nama Ali dengan Radhiyallahu Anhu (RA) atau semoga Allah melimpahkan Ridha (ke-suka-an)nya. Tambahan ini sama sebagaimana yang juga diberikan kepada Sahabat Nabi yang lain.
Sufi
Sufi menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Karramallahu Wajhah (KW) atau semoga Allah me-mulia-kan wajahnya. Doa kaum Sufi ini sangat unik, berdasar riwayat bahwa beliau tidak suka menggunakan wajahnya untuk melihat hal-hal buruk bahkan yang kurang sopan sekalipun. Dibuktikan dalam sebagian riwayat bahwa beliau tidak suka memandang ke bawah bila sedang berhubungan intim dengan istri. Sedangkan riwayat-riwayat lain menyebutkan dalam banyak pertempuran (duel-tanding), bila pakaian musuh terbuka bagian bawah terkena sobekan pedang beliau, maka Ali enggan meneruskan duel hingga musuhnya lebih dulu memperbaiki pakaiannya.
Ali bin Abi Thalib dianggap oleh kaum Sufi sebagai Imam dalam ilmu hikmah (divine wisdom) dan futuwwah (spiritual warriorship). Dari beliau bermunculan cabang-cabang tarekat (thoriqoh) atau spiritual-brotherhood. Hampir seluruh pendiri tarekat Sufi, adalah keturunan beliau sesuai dengan catatan nasab yang resmi mereka miliki. Seperti pada tarekat Qadiriyyah dengan pendirinya Syekh Abdul Qadir Jaelani, yang merupakan keturunan langsung dari Ali melalui anaknya Hasan bin Ali seperti yang tercantum dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qadir Jilani (karya Syekh Ja'far Barzanji) dan banyak kitab-kitab lainnya.
Riwayat Hidup
Kelahiran & Kehidupan Keluarga
Kelahiran
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi[1] atau 600[2](perkiraan). Muslim Syi'ah percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka'bah. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.
Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani diantara kalangan Quraisy Mekkah.
Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar,[rujukan?] Nabi SAW memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi(derajat di sisi Allah).
Kehidupan Awal
Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu.
Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi hiburan bagi Nabi SAW karena beliau tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqir nya keluarga Abu Thalib memberi kesempatan bagi Nabi SAW bersama istri beliau Khadijah untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Nabi sejak beliau kecil hingga dewasa, sehingga sedari kecil Ali sudah bersama dengan Muhammad.
Dalam biografi asing (Barat), hubungan Ali kepada Nabi Muhammad SAW dilukiskan seperti Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) kepada Yesus (Nabi Isa). Dalam riwayat-riwayat Syi'ah dan sebagian riwayat Sunni, hubungan tersebut dilukiskan seperti Nabi Harun kepada Nabi Musa.
Masa Remaja
Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, riwayat-riwayat lama seperti Ibnu Ishaq menjelaskan Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tersebut atau orang ke 2 yang percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.
Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi menantu Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani (spirituality dalam bahasa Inggris atau kaum Salaf lebih suka menyebut istilah 'Ihsan') atau yang kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf yang diajarkan Nabi khusus kepada beliau tapi tidak kepada Murid-murid atau Sahabat-sahabat yang lain.
Karena bila ilmu Syari'ah atau hukum-hukum agama Islam baik yang mengatur ibadah maupun kemasyarakatan semua yang diterima Nabi harus disampaikan dan diajarkan kepada umatnya, sementara masalah ruhani hanya bisa diberikan kepada orang-orang tertentu dengan kapasitas masing-masing.
Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek zhahir (exterior)atau syariah dan bathin (interior) atau tasawuf menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak.
Kehidupan di Mekkah sampai Hijrah ke Madinah
Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy yang akan menggagalkan hijrah Nabi. Beliau tidur menampakkan kesan Nabi yang tidur sehingga masuk waktu menjelang pagi mereka mengetahui Ali yang tidur, sudah tertinggal satu malam perjalanan oleh Nabi yang telah meloloskan diri ke Madinah bersama Abu Bakar.
Kehidupan di Madinah
Perkawinan
Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra yang banyak dinanti para pemuda. Nabi menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga yang se-rumpun (Bani Hasyim), yang paling dulu mempercayai ke-nabi-an Muhammad (setelah Khadijah), yang selalu belajar di bawah Nabi dan banyak hal lain.
Julukan
Ketika Muhammad mencari Ali menantunya, ternyata Ali sedang tidur. Bagian atas pakaiannya tersingkap dan debu mengotori punggungnya. Melihat itu Muhammad pun lalu duduk dan membersihkan punggung Ali sambil berkata, "Duduklah wahai Abu Turab, duduklah." Turab yang berarti debu atau tanah dalam bahasa Arab. Julukan tersebut adalah julukan yang paling disukai oleh Ali.
Pertempuran yang diikuti pada masa Nabi saw
Perang Badar
Beberapa saat setelah menikah, pecahlah perang Badar, perang pertama dalam sejarah Islam. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping Hamzah, paman Nabi. Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas di tangan Ali masih dalam perselisihan, tapi semua sepakat beliau menjadi bintang lapangan dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 tahun.
Perang Khandaq
Perang Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika memerangi Amar bin Abdi Wud . Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.
Perang Khaibar
Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng Khaibar yang sangat kokoh, biasa disebut dengan perang Khaibar. Di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi saw bersabda:
"Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya".
Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, temyata Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian.
Peperangan lainnya
Hampir semua peperangan beliau ikuti kecuali perang Tabuk karena mewakili nabi Muhammad untuk menjaga kota Madinah.
Setelah Nabi wafat
Sampai disini hampir semua pihak sepakat tentang riwayat Ali bin Abi Thalib, perbedaan pendapat mulai tampak ketika Nabi Muhammad wafat. Syi'ah berpendapat sudah ada wasiat (berdasar riwayat Ghadir Khum) bahwa Ali harus menjadi Khalifah bila Nabi SAW wafat. Tetapi Sunni tidak sependapat, sehingga pada saat Ali dan Fatimah masih berada dalam suasana duka orang-orang Quraisy bersepakat untuk membaiat Abu Bakar.
Menurut riwayat dari Al-Ya'qubi dalam kitab Tarikh-nya Jilid II Menyebutkan suatu peristiwa sebagai berikut. Dalam perjalan pulang ke Madinah seusai menunaikan ibadah haji ( Hijjatul-Wada'),malam hari Rasulullah saw bersama rombongan tiba di suatu tempat dekat Jifrah yang dikenal denagan nama "GHADIR KHUM." Hari itu adalah hari ke-18 bulan Dzulhijah. Ia keluar dari kemahnya kemudia berkhutbah di depan jamaah sambil memegang tangan Imam Ali Bin Abi Tholib r.a.Dalam khutbahnya itu antara lain beliau berkata : "Barang siapa menanggap aku ini pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.Ya Allah, pimpinlah orang yang mengakui kepemimpinannya dan musuhilah orang yang memusuhinya"
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga Nabi Ahlul Baitdan pengikutnya. Beberapa riwayat berbeda pendapat waktu pem-bai'at-an Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah. Ada yang meriwayatkan setelah Nabi dimakamkan, ada yang beberapa hari setelah itu, riwayat yang terbanyak adalah Ali mem-bai'at Abu Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat
Ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.
Sebagai khalifah
Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai'at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai'at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.
Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu'minin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.
Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut.
Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya. Ia meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami shalat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.
Didahului oleh:
Utsman bin Affan
Khalifah (Sunni) tahun 656–661
Digantikan oleh:
Muawiyah I
Didahului oleh:
Muhammad
Imam Syi'ah (Syi'ah) tahun 632–661
Digantikan oleh:
Hasan bin Ali
Keturunan
Ali memiliki delapan istri setelah meninggalnya Fatimah az-Zahra[3] dan memiliki keseluruhan 36 orang anak. Dua anak laki-lakinya yang terkenal, lahir dari anak Nabi Muhammad, Fatimah, adalah Hasan dan Husain.
Keturunan Ali melalui Fatimah dikenal dengan Syarif atau Sayyid, yang merupakan gelar kehormatan dalam Bahasa Arab, Syarif berarti bangsawan dan Sayyed berarti tuan. Sebagai keturunan langsung dari Muhammad, mereka dihormati oleh Sunni dan Syi'ah.
Menurut riwayat, Ali bin Abi Thalib memiliki 36 orang anak yang terdiri dari 18 anak laki-laki dan 18 anak perempuan. Sampai saat ini keturunan itu masih tersebar, dan dikenal dengan Alawiyin atau Alawiyah. Sampai saat ini keturunan Ali bin Abi Thalib kerap digelari Sayyid.
Anak laki-laki Anak perempuan
Hasan al-Mujtaba
Zainab al-Kubra
Husain asy-Syahid
Zainab al-Sughra
Muhammad bin al-Hanafiah
Ummu Kaltsum
Abbas al-Akbar (dijuluki Abu Fadl) Ramlah al-Kubra
Abdullah al-Akbar Ramlah al-Sughra
Ja'far al-Akbar Nafisah
Utsman al-Akbar Ruqaiyah al-Sughra
Muhammad al-Ashghar Ruqaiyah al-Kubra
Abdullah al-Ashghar Maimunah
Abdullah (yang dijuluki Abu Ali) Zainab al-Sughra
‘Aun Ummu Hani
Yahya Fathimah al-Sughra
Muhammad al-Ausath Umamah
Utsman al-Ashghar Khadijah al-Sughra
Abbas al-Ashghar Ummu al-Hasan
Ja'far al-Ashghar Ummu Salamah
Umar al-Ashghar Hamamah
Umar al-Akbar Ummu Kiram
http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib
APAKAH ANDA HABIB ?
ANDA HABIB?
Pernah salah seorang Kyai matur kepada
Ndoro Habib Muhammad Luthfi bin Yahya:
"Bib, saya pernah mukalamah (bercakap-
cakap secara langsung) dengan abah saya
yang suidah meninggal. Abah saya
membacakan nasabnya yang tersambung
hingga Rasulullah Saw. Apakah benar saya
termasuk Habaib, sedangkan selama ini
dikenal hanya sebagai seorang Kyai?"
Setidaknya ada 2 poin jawaban Ndoro Habib
Luthfi bin Yahya:
_______________ __
1. Mukalamah atau bermimpi jumpa dengan
Nabi Saw. itu lebih mudah ketimbang
mukalamah atau bermimpi jumpa dengan
wali. Pasalnya setan tidak mungkin dapat
menyerupai beliau Saw., sedangkan para wali
masih ada kemungkinan diserupai oleh setan.
2. Hakikat tidak bisa menghukumi syariat.
Walau secara hakikat nasabnya tersambung
kepada Rasulullah Saw., namun kalau secara
tertulis belum atau tidak ada di Rabithah
Alawiyyah maka tidak bisa dipaksakan diri
untuk disebut sebagai Habib (keturunan
Rasulullah Saw.).
_______________ ___
Bisa saja Sampean itu seorang Habib. Hanya
saja mungkin Sampean belum tahu nasab
Sampean sendiri, atau nasab Sampean belum
tercatat di Rabithah Alawiyyah. Maka ada
istilah Habib Mastur, yakni Habib yang
nasabnya sengaja ia sembunyikan atau Habib
yang nasabnya tidak ia ketahui dan atau
nasabnya belum tercatat di Rabithah
Alawiyyah.
Namun yang jelas, Habib ya Habib, baik yang
tercatat maupun belum dan atau tidak
tercatat di Rabithah Alawiyyah. Maka
seyogyanya Habib yang tercatat di Rabithah
tidak mengusungkan dadanya di depan Habib
yang belum atau tidak tercatat di Rabithah.
Dan seyogyanya bagi Habib yang nasabnya
belum atau tidak tercatat di Rabithah, tak
perlu ngotot-ngotot untuk dipersamakan. Dan
yang lebih penting lagi adalah, mengaku-aku
menjadi seorang Habib (keturunan Rasulullah
Saw.) bisa menjadi bumerang yang amat
mematikan bagi dirimu sendiri, setidaknya
ancaman: "Man kadzdzaba 'alayya
muta'ammidan falyatabawwa' maq'adahau
minannar."
Yang terpenting diantara yang penting
adalah, jangan permalukan Datukmu dengan
nasabmu. Orang lain membawa amal yang
banyak, namun hanya nasab yang kau bawa-
andalkan. "Man abtha-a 'amaluh lam yusri'
nasabuh."
KHR. AS'AD SYAMSUL ARIFIN
KH As'ad Sayamsul Arifin[1]
(KH As’ad Syamsul Arifin adalah pelaku sejarah berdirinya NU, beliaulah yang menjadi media penghubung dari KH Kholil Bangkalan yang memberi isyarat agar KH Hasyim Asyari mendirikan Jamiyah Ulama [akhirnya bernama Nahdlatul Ulama]. Pidato ini awalnya berbahasa Madura dan berikut adalah translit selengkapnya)
Assalamualaikum Wr. Wb
Yang akan saya sampaikan pada anda tidak bersifat nasehat atau pengarahan, tapi saya mau bercerita kepada anda semua. Anda suka mendengarkan cerita? (Hadirin menjawab: Ya). Kalau suka saya mau bercerita. Begini saudara-saudara. Tentunya yang hadir ini kebanyakan warga NU, ya? Ya? (Hadirin menjawab: Ya). Kalau ada selain warga NU tidak apa-apa ikut mendengarkan. Cuma yang saya sampaikan ini tentang NU, Nahdlatul Ulama. Karena saya ini orang NU, tidak boleh berubah-ubah, sudah NU. Jadi saya mau bercerita kepada anda mengapa ada NU? tentunya muballigh-muballigh yang lain menceritakan isinya kitab. kalau saya tidak. Sekarang saya ingin bercerita tentang kenapa ada NU di Indonesia, apa sebabnya? Tolong didengarkan ya, terutama para pengurus, pengurus Cabang, MWC, Ranting, kenapa ada NU di Indonesia.
Begini. Umat Islam di Indonesia ini mulai kira-kira 700 tahun dari sekarang, kurang lebih, para auliya', pelopor-pelopor Rasulullah Saw ini yang masuk ke Indonesia membawa syariat Islam menurut aliran salah satu empat madzhab, yang empat. Jadi, Ulama, para auliya', para pelopor Rasulullah Saw masuk ke Indonesia pertama kali yang dibawa adalah Islam menurut orang sekarang Islam Ahlisunah wal jamaah, syariat Islam dari Rasulullah saw yang beraliran salah satu empat madzhab. Khususnya Madzhab Syafi'i. Ini yang terbesar yang ada di Indonesia. Madzhab-madzhab yang lain juga ada. ini termasuk Islam Ahlisunnah wal jamaah. Termasuk yang dibawa Walisongo, yang dibawa Sunan Ampel, termasuk Raden Asmoro ayahanda Sunan Ampel, termasuk Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati. Semua ini adalah ulama-ulama pelopor yang masuk ke Indonesia, yang membawa syariat Islam Ahlisunnah wal jamaah.
Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan (Madura), di pondok Kyai Kholil. Kira-kira tahun 1920, Kyai Muntaha Jengkebuan menantu Kyai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia. Masing-masing ulama melaporkan: "Bagaimana Kyai Muntaha, tolong sampaikan kepada Kyai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya. ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadlratusy Syaikh. Ini tidak ada yang berani kalau bukan anda yang menyampaikannya". Kyai Muntaha berkata: "Apa keperluannya?". Begini, sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang sangat tidak senang dengan ulama Salaf, tidak senang dengan kitab-kitab ulama Salaf. Yang diikuti hanya Quran dan Hadis saja. Yang lain tidak perlu diikuti. Bagaimana pendapat pelopor-pelopor Walisongo karena ini yang sudah berjalan di Indonesia. Sebab rupanya kelompok ini melalui kekuasaan pemerintah Jajahan, Hindia Belanda. tolong disampaikan pada Kyai Kholil." Sebelum para tamu sampai ke kediaman Kyai Kholil dan masih berada di Jengkuban, Kyai Kholil menyuruh Kyai Nasib: "Nasib, Kesini! Bilang kepada Muntaha, di Quran sudah ada, sudah cukup:
يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿٣٢﴾
"Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai" (at-Taubat: 32)
Jadi kalau sudah dikehendaki oleh Allah Ta'ala, maka kehendaknya yang akan terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya kepada Muntaha".
Jadi para tamu belum sowan sudah dijawab oleh Kyai (Kholil). Ini karomah saudara, belum datang sudah dijawab keperluannya. Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-apa, Cuma bersalaman. "Saya puas sekarang" kata Kyai Muntaha. Jadi saya belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini.
Tahun 1921-1922 ada musyawarah di Kawatan (Surabaya) di rumah Kyai Mas Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46, bukan 66. Tapi hanya seluruh Jawa, bermusyawarah termasuk Aba saya (KH Syamsul Arifin), termasuk Kyai Sidogiri, termasuk Kyai Hasan almarhum, Genggong, membahas masalah ini, seperti apa, seperti apa… Dari Barat Kyai Asnawi Qudus, Ulama-ulama Jombang semua, Kyai Thohir, para kyai berkata… Tidak ada jadinya, tidak ada kesimpulan. Sampai tahun 1923, kata kyai satu: "Mendirikan Jamiyah (organisasi)", kata yang lain: "Syarikat Islam ini saja diperkuat". Kata yang lain: "Organisasi yang sudah ada saja". Belum ada NU. (Sementara) yang lain sudah merajalela. Tabarruk-tabarruk sudah tidak boleh. Orang minta berkah ke Ampel sudah tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang sudah tidak boleh. Ini sudah tidak dikehendaki. Sudah ditolak semua oleh kelompok-kelompok tadi. Seperti apa bawaan ini… Kemudian ada satu ulama yang matur sama kyai: "Kyai saya menemukan satu sejarah tulisan sunan Ampel. Beliau menulis seperti ini… (Kyai As'ad berkata: Kalau tidak salah ini kertas tebal. Saya masih kanak-kanak. Belum dewasa hanya mendengarkan saja)… : "Waktu saya (Sunan Ampel Raden Rahmatullah) mengaji ke paman saya di Madinah, saya pernah pernah bermimpi bertemu Rasulullah, seraya berkata kepada saya (Raden Rahmat): "Islam Ahlisunnah wal Jamaah ini bawa hijrah ke Indonesia. Karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam Ahlisunnah wal Jamaah. Bawa ke Indonesia". Jadi di Arab sudah tidak mampu melaksanakan syariat Islam Ahlisunnah wal Jamaah. Pada zaman Maulana Ahmad, belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugas melakukan wasiat ini. Kesimpulannya mari Istikharah. Jadi ulama berempat ini melakukannya. Ada yang ke Sunan Ampel. Ada yang ke Sunan Giri. Dan ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40 hari. Ada 4 orang yang ditugas ke Madinah.
Akhirnya, tahun 1923 semua berkumpul, sama-sama melaporkan. Hasil laporan ini tidak tahu siapa yang megang. Apa Kyai Wahab, apa Kyai Bisri. Insyaallah ada laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta sama Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf supaya dicari.
Sesudah tidak menemukan kesimpulan. Tahun 1924, Kyai (Kholil) memanggil saya. Ya saya ini. Saya tidak bercerita orang lain. Saya sendiri. Saya dipanggil: "As'ad, kesini kamu!" Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ra'. Saya ini pelat (cadal). Arrahman Arrahim… Kyai marah: "Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!". "Tidak saya sengaja Kyai. Saya ini pelat." Kyai kemudian keluar… (Kyai Kholil melakukan sesuatu)… Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.
Kedua, saya dipanggil lagi: "Mana yang cadal itu? Sudah sembuh cadalnya?". "Sudah Kyai". "Kesini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asyari Jombang. Tahu rumahnya?". "Tahu". "Kok tahu? Pernah mondok disana?". "Tidak. Pernah sowan". "Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan". "Ya, kyai". "Kamu punya uang?". "Tidak punya, kyai". "Ini". Saya diberikan uang ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.
Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: "Kesini kamu! Ada ongkosnya?". "Ada, kyai". "Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?". Saya dikasih lagi 1 ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan.Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: "Ini (tongkat) kasihkan ya… (Kyai Kholil membaca surat Thaha: 17-21)…
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula"
Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel "Orang ini gila. Muda pegang tongkat". Ada yang lain bilang: "Ini wali". Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila. Ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu. Saya hanya disuruh kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu. Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua. yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan. Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): "Siapa ini?". "Saya, Kyai". "Anak mana?". "Dari Madura, Kyai". "Siapa namanya?". "As'ad". "Anaknya siapa?". "Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin". "Anaknya Maimunah kamu?". "Ya, Kyai". "Keponakanku kamu, Nak". "Ada apa?". "Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat". "Tongkat apa?" "Ini, Kyai". "Sebentar, sebentar…"
Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). "Bagaimana ceritanya?" Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat….
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula"
"Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jamiyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya"
Inilah rencana mendirikan Jamiyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jamiyah Ulama. Saya tidak mengerti.
Setelah itu saya mau pulang. "Mau pulang kamu?". "Ya, Kyai". "Cukup uang sakunya?" "Cukup, Kyai" "Saya cukup didoakan saj, Kyai". "Ya, mari… Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jamiyah Ulama akan diteruskan". Inilah asalnya Jamiyatul Ulama.
Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil. "As'ad, kesini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?" "Tidak, Kyai". "Hasyim Asy'ari?" "Ya, Kyai" "Dimana rumahnya". "Tebuireng". "Darimana asalnya?" "Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asyari Keras". "Ya, benar. Dimana Keras?". "Di baratnya Seblak". "Ya, kok tahu kamu?" "Ya, Kyai". "Ini tasbih hantarkan" "Ya, Kyai". Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.
Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar. "Kesini, makan dulu!" "Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan". "Darimana kamu dapat?" "Saya beli di jalan, Kyai" "Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?" "Ya, Kyai". Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: "Cukup itu?" "Cukup, Kyai" "Tidak!" Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi.
Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: "Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar". Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir …
"Ini" Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. "Kok leher?" "Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh". "Ya, kalau begitu". Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu. "Ini orang yang megang tongkat itu?" "Wah.. Hadza majnun". Ada yang bilang "wali", ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya. Ada yang narik "karcis! karcis!" Saya tidak ditanya. Saya piker ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya kyai. Jadi Auliya' itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin. Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai tanya: "Apa itu?" "Saya mengantarkan tasbih" "MasyaAllah, MasyaAllah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?" "Ini, Kyai" (dengan menjulurkan leher). "Lho?" "Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su'ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik anda". Kemudian diambil oleh Kyai. "Apa kata Kyai?". "Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar". "Siapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada ulama akan hancur". Ini dawuhnya.
Pada tahun 1925, Kyai Kholil wafat tanggal 29 Ramadhan. banyak orang berserakan. Akhirnya pada tahun 1926 bulan Rajab diresmikan Jamiyatul Ulama. Ini sudah dibuat, organisasi sudah disusun. Termasuk yang menyusun adalah Kyai Dahlan dari Nganjuk, yang membuat anggaran dasar. Kemudian para ulama sidang lagi untuk mengutus kepada gubernur jenderal.
Ya, seperti itulah yang dapat saya ceritakan…
ULAMA SHODIQUN WAS SHOLIHUN
Ulama Sodoqun dan Ulama Solihun
Ada dua kelompok ulama. Ada as sodiqun mislu rusul ada as solihun. Maksud mitslu Rusul itu dalam pengertian as Sodikun adalah ulama yang oleh Allah dikuatkan dengan karamat yang dzahir sebagaimana para Rasul yang dikuatkan oleh Allah dengan mu’jizat. Seperti ada orang yang mau beriman berkata; tandanya anda rusul apa, saya mau buktinya, saya minta mu’jizatnya. Nah rasul di sini wajib menunjukkan mu’jizatnya.
Demikian pula auliya’-auliya’ itu. Seperti Syekh Abdul Qodir Al Jaelani. Beliau ditanya apa buktinya kalau Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati. Syekh Abdul Qodir al Jaelani menjawab, ‘Terlalu tinggi kalau Nabi saya. Bagaimana dengan Nabimu?’ Orang yang bertanya berkata, “Nabiku bisa menghidupkan orang yang telah mati.” “Caranya bagaimana?,” lanjut Syekh Abdul Qadir. “Nabiku mengatakan, ‘Qum bi idzinillah,’ hiduplah dengan seijin Allah,” jawab orang itu. “Oke carikan saya orang mati,” pinta Syekh Abdul Qadir.
Syekh Abdul Qodir al Jaelani langsung meng¬hidupkan orang mati itu dengan berkata; ‘Qum Bi Idzni,’ hidup¬lah dengan seijinku. Jangankan Nabi-ku, aku saja bisa. Nabi terlalu tinggi, kata Syekh Abdul Qodir al Jaelani. ‘Qum bi idzni”, bukan bi idznillah lagi karena apa, untuk melemahkan orang yang meremeh¬kan Nabi, atau yang tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW. Syekh Abdul Qadir Al Jailani tidak memakai kata-kata ‘Bi Idznillah’, tapi ‘Qum Bi Idzni’ hakikatnya Syekh Abdul Qodir al Jaelani tetap memohon kepada Allah SWT. Seperti juga karomah Habib Umar bin Thoha Indaramayu waktu bertandang ke Sultan Alaudin, Palembang. Dan seperti Al Habib Alwi bin Hasyim bisa menghidupkan orang mati, tentu saja atas seijin dan kuasa Allah SWT.
Para ulama dan para auliya’ menolong kepercayaan kita atas kebenaran yang dibawa Al Quran; seperti bagaimana ashabul kafi. Ashabul kahfi bukan rasul, mereka adalah wali. mereka tidur sampai 360 tahun. Bayangkan saja. Terus karamat Juraij, karamat Luqmanul Hakim dan banyak lagi yang dicaritakan al Al Quran. Seperti juga Nabi Allah Sulaiman. Dikisahkan dalam al Qur’an beliau bisa berbicara dengan burung.
Wali Allah di Indonesia pun ada yang bisa berbicara bahasa hewan, seperti Mbah Adam dari Krapyak, Pekalongan. Auliya-auliya kita itu dulu begitu. Banyak lagi cerita auliya-auliya ulama-ulama di Indonesia. Ulama Jawa yang karamatnya luar biasa, seperti Mbah Sholeh Semarang, Mbah Kholil Bangkalan, banyak kalau kita ceritakan. Akhirnya dengan adanya yang demikian, kita percanya mantap dengan apa yang disebutkan oleh Al Quran;
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS: Yunus:62) Dari perilaku, sikap, dan karamat-karamat mereka kita tahu juga bagaimana gambaran dari;
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS: Fathir: 28). Kita sudah tidak heran lagi kanapa yang disebut dalam ayat itu adalah ulama. Nah itulah hebatnya auliya-auliya terdahulu, luar biasa, mem¬punyai karamat yang top-top. Banyak lagi kalau diceritakan. Dan kita akan menemukan auliya-auliya yang ada di Indonesia ini luar biasa-luar biasa karamat¬nya. Nah tujuan dari semua ini adalah menolong kita, yang awalnya kepercayaan terhadap sahabat sangat tipis, suudzon, berburuk sangka dan sebagainya, ditolong oleh para ulama dan para wali-wali Allah SWT.
Kembali kepada para sahabat Nabi. Sahabat Nabi adalah orang atau generasi pertama yang menerima tongkat estafet dan mewarisi apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Ada banyak hal yang membuat saya kagum ketika saya ber¬bicara tentang keutamaan para sahabat Nabi itu.
Di antaranya saja; kehebatan dan kuatnya keimanan mereka. Saya tidak akan menyebut¬kan yang lain-lain, kita tidak sampai. Dalam istilah jawa itu; kali sak dodo. Sekarang kita lihat bagaimana banyaknya tafsir-tafsir yang menjelaskan maksud Al Qur’an ada ribuan bahkan mungkin jutaan. Satu judul tafsir saja ada yang 50 jilid, 60 jilid. Seperti At Thabari, Fakhru Razi, atau juga yang baru-baru seperti tafsir Syekh Thanthawi. Banyak sekali. Belum lagi yang mem¬bahas fiqih, tauhid dan lain-lain.
Semenatara pada jaman sahabat dulu tidak ada kitab yang menumpuk seperti saat ini. Jangankan kitab, menulis pun tidak, karena banyak di antara mereka yang umiy’; tidak bisa baca-tulis. Begitu ada wahyu disampaikan oleh Rasulullah SAW pada sahabat, dihapal¬kan, dan mereka langsung hapal, langsung percaya, langsung yakin.
Ilmu mereka adalah apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Baik berupa wahyu atau hadits yang disampaikan oleh Rasullah. Tapi dengan kesederhanaan itu dapat menghasilkan satu keyakinan yang luar biasa yang terpatri dalam hati mereka. Keyakinan yang hebat itu mewarnai dalam ijtihadnya dalam mujahadahnya dan sebagainya. Banyak hadits yang menceritrakan bagaimana kekuatan dan kehebatan keimanan mereka yang luar biasa, bagaimana kecintaan mereka kapada Rasulullah, juga bagaimana kecintaan mereka kepada satu sama lain diantara para sahabat, kecintaan sahabat kepada ahlu bait-nya Rasulullah SAW.
Contohnya sahabat Bilal, bagaimana kecintaan beliau kepada Rasulullah. Pada waktu Rasulullah meninggal, langsung sahabat Bilal mengundurkan diri sebagai muadzin, sebab tidak sampai hati beliau mendengungkan kalimat Allahu akbar. Biasanya dilihat oleh Rasulullah dan sahabat lainnya, sementara pada saat itu Rasul telah mangkat. Sehingga bagaimana mungkin beliau bisa mengeluar¬kan suara sementara Rasulullah SAW yang selalu mendengar adzannya sudah tidak ada. Ketika mau adzan suaranya tidak mau keluar suaranya hilang. Karena apa? Sayidina Bilal Shock, karena mahabbah, kecintaan yang luar biasa kepada Rasulullah SAW. Sahabat Bilal bungkam, diam di Madinah sampai Rasulullah dimakamkan. Setelah Rasulullah SAW dimakamkan sahabat Bilal tidak betah. Lalu sahabat Bilal pindah ke Syam (Syiria).
Di Syam tadinya sahabat Bilal membayangkan akan mendapatkan sedikit ketenangan, tapi malah sebaliknya yang terjadi, terbayang wajahnya Rasulullah di mukanya terus, ahirnya ditemui oleh Rasulullah dalam mimpi. Ditanya oleh Rasulullah, ‘Bilal mengapa engkau tinggal ditempat yang jauh betul dari Aku, katanya engkau ingin dekat dengan Aku, mengapa kamu pundah ke Syam?’ Langsung hari itu juga Sahabat Bilal pulang ke Madinah Al Munawroh, begitu sahabat Bilal ziarah ke makam Rasulullah, Sayidina Abu Bakar mendengar Sayidina Umar mendengar, mereka langsung menemui sahabat Bilal. Dan ziarah bersama. Sayidina Abu Bakar menangis. ‘Hai Bilal kapan datang?’ Tanya Khalifah Abu Bakar.
Mereka menangis rangkul-rangkulan. Kemudain Sahabat Abu Bakar meminta sayidina Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan di Madinah; ‘tolong dengung¬kan kembali adzanmu sebagaimana zaman Rasulullah.’ ‘Mulutku tidak bisa di buka,’ jawab Sayidina Bilal. Sayidina Umar yang juga meminta ke¬sediaan sahabat Bilal mendapat jawaban yang sama.
Akhirnya di sana ada 2 anak. Yang satu umurnya 9 tahun, yang satu umurnya 8 tahun, siapa mereka? Mereka adalah Imam Hasan dan Husain; dua orang cucu Nabi. Imam hasan dan Husain datang kepada Sahabat Bilal, begitu sahabat Bilal tahu, langsung menjemput kedatangan Imam Hasan dan Imam Husain. langsung dirangkul, begitu mencium kedua cucu Nabi, tambah sedih lagi sahabat Bilal, beliau kembali menangis. Karena apa? Keringat kedua anak ini tadi seperti keringat datuknya; baginda Nabi SAW. Luar biasa.
Akhirnya dua orang ini berbicara. ‘Ya Bilal’ kata Sayidina Hasan yang saat itu ditemani adiknya; Imam Husain; ‘Tolong kumandangkan kembali adzan, sebagaimana engkau lakukan pada zaman datukku baginda Rasulullah SAW’. Dari situlah sahabat Bilal luluh. ‘Kalau yang memerintah adalah dua anak ini, mana mungkin aku bisa menolak. Karena ini adalah sempalan dari darah daging Rasulullah SAW. Kalau saya menolak, nanti di akherat bagaimana bertemu dengan baginda Rasul SAW,’ pikir sahabat Bilal.
Kemudian sahabat Bilal naik ke menara menunaikan adzan, ketika sahabat Bilal adzan seluruh penduduk Madinah, tidak anak kecilnya, tidak orang dewasanya, semua keluar dari rumahnya masing-masing sambil mengatakan Rasulullah hidup kembali-Rasulullah hidup kembali. Karena apa, mendengar suaranya Bilal. Sebab ketika sahabat Bilal adzan selalu selalu pas dengan baginda Rasulullah SAW. Mereka semua keluar berduyun duyun mendengar suaranya Bilal ra.
Sumber : Al Habib Muhammad Luthfi bin Yahya
ULAMA AMILUN
Mulia Ulama
Kita menjadi manusia yang beriman adalah karena hidayah Allah, kita menjadi seorang muslim tidak bisa lepas dari jasa rosululah, para sohabat, tabiin, tabiit tabiin dan para ulama’. Di zaman akhir ini ulama’ ibarat lampu yang menerangi di kegelapan.
Seandainya tidak ada ulama’, pastilah manusia hidup dalam kegelapan, kesesatan dan bergelimang dalam dosa. Mereka yang kaya akan menguasi yang miskin, yang kuat menindas yang lemah dengan tanpa memperdulikan rasa perikemanusiaan. Itu semua terjadi manakala bimbingan ulama’ sudah tidak dihiraukan lagi.
Sejarah membuktikan, di zaman jahiliyyah, zaman kebodohan, zaman jauhnya manusia dari para ulama’, banyak manusia yang berbuat di luar kewajaran. Sering terjadi saling membunuh hanya karena perbedaan suku, ada pula yang malu memiliki anak perempuan karena dianggap tidak membawa keberuntungan, sehingga tega menguburnya hidup-hidup, dan masih banyak kebatilan yang lain. Keadaan itu berlangsung terus hingga kedatangan ajaran Islam, agama yang dibawa oleh nabi kita Muhammad Rosulullah saw. Maka barulah keadaan berubah 180 derajat, kegelapan semakin sirna berganti dengan kecemerlangan, dari yang jelek menjadi baik dan seterusnya.
Kemudian tuntunan yang suci ini diteruskan oleh para shohabat, tabiin, tabiit tabiin, dan para ulama’ hingga akhir zaman. Berkat perjuangan merekalah, dengan ridlo Allah, kita bisa memebedakan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq dan mana yang bathil. Itulah sebabnya rosulullah bersabda
اَلْعُلَمَاءُ مَصَابِيْحُ اْلاَرْضِ وَخُلَفَاءُ اْلاَنْبِيَاءِ وَوَرَثَتِيْ وَوَرَثَهُ اْلاَنْبِيَاءِ
Ulama’ itu sebagai lampu-lampu di bumi, sebagai pengganti para nabi, mereka adalah pewarisku dan pewaris para nabi.
Dari uraian di atas kiranya cukup jelas bahwa keberadaan ulama’ cukup penting posisinya bagi kehidupan umat manusia. Sebagai pewaris para nabi mereka bertanggung jawab kepada Allah, sehingga mereka berani berkata kepada siapa saja, dimana saja, termasuk apapun resiko yang mereka hadapi. Karena tugas utamanya adalah amar ma’ruf nahi munkar.
Begitu beratnya tugas mereka maka seyogjanyalah kita muliakan para ulama’, sebagaimana pesan rosul
اَكْرِمُوا الْعُلَمَاءَ فَاِنَّهُمْ عِنْدَ اللهِ كُرَمَاءُ مُكْرَمُوْنَ
Muliakanlah ulama’. Maka sesungguhnya mereka itu di sisi Allah adalah orang-orang yang mulia dan dihormati.
Dalam hadits lain rosulullah bersabda
سَاَلْتُ جِبْرِيْلَ عَنْ اَصْحَابِ الْعِلْمِ فَقَالَ: هُمْ سُرُحُ اُمَّتِكَ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ, طُوْبَى لِمَنْ عَرَفَهُمْ وَالْوَيْلُ لِمَنْ اَنْكَرَهُمْ وَاَبْغَضَهُمْ
Aku bertanya kepada Jibril tentang para ahli ilmu (ulama’) Jibril menjawab: Mereka adalah pelita bagi umatmu di dunia dan akhirat. Berbahagialah orang yang mau mengerti tentang mereka, dan celakalah orang yang ingkar dan membenci mereka
Dari dua hadits di atas maka sudah sepantasnya bila kita menghormati para ulama’ melebihi hormat kita terhadap para pejabat ataupun raja sekalipun. Tetapi kenyataannya di zaman akhir ini, banyak yang sudah tidak mengerti tentang mereka, banyak yang sudah mulai ingkar, bahkan banyak pula yang mulai membenci sehingga tidak lagi menghormati para ulama’, padahal ancamannya cukup jelas.
Jika terjadi di suatu daerah, yang penduduknya sudah tidak lagi memperdulikan ulama’ dan fuqoha’ atau hanya pura-pura menghormati dan mencintai ulama’ padahal ada maksud tertentu, memanfaatkannya demi kepentingan pribadi atau golongan, maka tunggulah saatnya siksa dan cobaan Allah yang bakal terjadi.
Coba kita amati keadaan di sekitar kita, saat ini nampaknya fatwa-fatwa para ulama’ sudah diabaikan. Ketika mereka mengharamkan pornografi dan pornoaksi muncul pendapat berseberangan dari para selebritis, kenyataannya banyak yang lebih percaya pendapat selebritis daripada pendapat ulama’. Ketika terjadi masalah berkaitan dengan hukum beragama yang diwawancarai bukan lagi para ulama’ melainkan para selebritis dan masyarakat. Hal itu menandakan bahwa fatwa para ulama’ sudah diabaikan.
Yang lebih memprihatinkan lagi, saat ini ajaran-ajaran yang dibawa para ulama’ mulai ditinggalkan. Kegiatan pembacaan solawat nabi yang mengiringi peristiwa-peristiwa penting seperti kelahiran dan pernikahan sudah digantikan oleh musik-musik modern atau tradisional. Yang memilih musik modern beralasan mengikuti kemajuan jaman, yang memilih musik tradisional beralasan melestarikan budaya bangsa. Padahal para ulama’ mengajarkan bahwa dalam peringatan kelahiran dan pernikahan yang lebih kita butuhkan adalah doa dari segenap sanak kerabat. Dan doa tidak bisa diterima kecuali diiringi dengan sholawat.
Rosulullah bersabda
مَامِنْ دُعَآءٍ اِلاَّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ حِجَابٌ حَتَّى يُصَلِّى عَلَى النَّبْيِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ فَاِذَا صَلَّى عَلَيْهِ يَخْرُجُ ذَالِكَ الْحِجَابُ وَيَدْخُلُ الدُّعَاءُ وَاِذَا اَلَمْ يَفْعَلْ ذَالِكَ رَجَعُ دُعَاؤُهُ
Setiap doa terhalang dinding (penghalang) yang tidak dapat ditembus kecuali dengan sholawat atas Nabi Muhammad saw. Jika dibacakan sholawat hilanglah penghalang itu dan masuklah doanya, jika tidak diiringi maka kembalilah doa itu.
Jika benar manusia sekarang sudah lari dan menjauhi ulama’ maka ada tiga adzab yang menimpa umat ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits
سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى اُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيْهِمُ اللهُ تَعَالَى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ:
Akan datang kepada umatku suatu masa dimana mereka lari menjauhi ulama’ dan fuqoha’ (ahli fiqih), maka Allah menurunkan tiga bala’ untuk mereka
اُوْلاَهَا يَرْفَعُ بَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ
Allah menghilangkan barokah dari usaha mereka
Benarkah saat ini mencari harta yang barokah sulit? Kalau tidak benar kenapa para konglomerat nakal, para pejabat korup yang sudah berharta trilyunan masih gila harta, masih memakan harta rakyat? Jawabnya Karena hartanya sudah tidak barokah. Hasil usaha yang tidak barokah pasti membawa dampak negatif, bila dimakan tidak menambah kenyang tapi malah kurang dan semakin rakus. Makanan yang masuk menyebabkan tubuh malas beribadah, dan kebanyakan berakhir menjadi suatu penyakit. Harta yang tidak barokah bila digunakan untuk biaya pendidikan anak bukannya menjadikan anak semakin baik melainkan malah menjadi semakin buruk, digunakan berfoya-foya, zina, narkoba, setidaknya menyebabkan anak berani terhadap orang tua. Lantas jika ingin selamat dari harta yang tidak barokah jalan satu-satunya adalah mendekat pada para ulama’
وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا
Allah mengangkat penguasa untuk mereka, penguasa yang dlolim
Akibat jauh dari para ulama’, banyak diantara kita memilih pemimpin, pejabat, anggota dewan bukan lagi atas dasar kemampuannya berbuat adil tetapi karena ketenarannya, atau karena obral janjinya, atau karena obral hartanya. Sehingga ketika menjabat mereka bukannya menjadi pengayom rakyat, pembawa suara rakyat, malah memakan harta rakyat.
وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ اِيْمَانٍ
Mereka keluar dari dunia (mati) dalam keadaan tanpa iman
Yang paling ditakutkan adalah adzab ketiga yaitu mati dalam keadaan tanpa iman, naudzu billahi min dzalik, jika hal ini terjadi maka kesengsaraan yang dialami bukan tahunan melainkan kekal selama-lamanya disiksa di api neraka.
Saat ini sebagaian adzab tersebut sudah melanda kita, atau bahkan banyak pula yang sudah merasakan ketiganya. Untuk itu agar bisa menghindarinya, maka marilah kita muliakan para ulama’, tidak cukup hanya dengan menghormatinya, melainkan dengan mematuhi fatwanya dan melaksanakan ajaran yang dibawanya serta menjauhi hal-hal yang dilarangnya.
Di zaman akhir ini banyak orang yang berpenampilan ala ulama’, maka kita harus bisa mengenal mana yang ulama’ dan mana yang bukan. Ada sementara orang karena penampilannya yang selalu memakai gamis dan bersurban bahkan dipanggil syeh dianggap ulama’, padahal perilakunya ada yang tidak mencerminkan posisinya sebagai ulama’. Ada pula orang yang pandai berceramah sehingga dianggap ulama’, padahal kesehariannya tidak sesuai antara ucapan yang diamalkan. Ada pula orang yang diberi kelebihan Allah bisa menyembuhkan berbagai penyakit, bisa menebak hal-hal yang belum terjadi, lantas kita anggap ulama’ bahkan ada yang mengangapnya wali atau yang kebablasan ada yang menganggapnya nabi. Padahal dia membawa ajaran yang menyesatkan. Buktinya sekarang banyak aliran-aliran yang menyimpang, banyak orang-orang yang mengaku nabi dan anehnya banyak pula pengikutnya.
Lantas apa definisinya ulama’ yang akan kita anut? Ulama’ adalah manusia yang takut pada Allah sehingga nampak dalam pribadinya yang bertaqwa menjalankan perintah Allah, meninggalkan larangan Allah serta memiliki akhlaq luhur yang patut diteladani. Jika ingin tahu sesorang ulama’ atau bukan, jangan mengukur dari luasnya ilmunya saja, tapi ukurlah ketaqwaannya, dan ketakwaan akan nampak dalam akhlaq atau perilakunya dengan keluarga dengan tetangga sangat baik, bahkan akhlaq dan perilaku anak istrinya juga patut diteladani.
Dalam surat Al-Fathir ayat 28 Allah berfirman
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
Langganan:
Postingan (Atom)